MHBB - CH 7

2418 Kata
Lavly baru saja turun dari ruangannya ketika seorang lelaki bertubuh tinggi yang terlihat tampan itu menarik tangannya. Awalnya Lavly terkejut karna nyatanya lelaki itu meminta bantuannya. Kaos putih yang terbalut dengan jaket kulit hitam yang dikenakan lelaki tampan itu sedikit terlihat merah. Mungkin sisa darahh yang menodainya. “Dok! Tolong segera periksa anak itu Dok!” ucap seorang lelaki bertubuh tinggi dengan jaket kulit yang melapisi kaos putihnya. Lavly yang awalnya terpesona oleh ketampanan lelaki itu langsung berusaha segera tersadar dengan apa yang baru saja ia lihat. Tak seberapa jauh dari tempatnya berdiri, terdapat ruang UGD. Dari arah lelaki itu menunjuk ke salah bilik di UGD, ada seorang anak kecil yang mengaduh kesakitan dan terlihat beberapa lebam dan juga darah yang ada di beberapa bagian di tubuhnya. Tidak ada dokter jaga saat itu, Lavly membeliakkan matanya dan langsung berlari. Meminta beberapa suster untuk mendampinginya. “Tolong Bapa tunggu di luar dulu ya. Kami akan melakukan pemeriksaan.” Ucap Lavly pada lelaki tampan yang tadi memanggilnya. Lelaki yang terlihat membawa anak lelaki itu hanya mengangguk. Wajahnya terlihat khawatir. Entah ia mengenal anak lelaki itu atau tidak. Tapi yang jelas lelaki itu begitu menurut ketika Lavly memintanya untuk menunggu di ruang tunggu ruang UGD. Padahal, seharusnya Lavly akan keluar untuk makan siang. Tapi karna ada yang perlu ia tolong, jadi ia mengurungkan niatnya. *** “Bagaimana keadaannya Dok?” tanya lelaki itu ketika melihat Lavly keluar dari ruang UGD. “Maaf kalau saya boleh tau, Bapa ini siapanya pasien ya?” tanya Lavly ketika dihampiri oleh lelaki berjaket kulit itu. “Saya keluarganya. Omnya,” kata lelaki itu. “Dimana orangtuanya?” tanya Lavly langsung menanyakan pada lelaki itu. “Orangtuanya tidak ada Dok. Dia salah satu anak di panti yang saya besarkan.” Ucap lelaki itu. “Perkenalkan nama saya Davka, saya omnya Rava.” Katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. “Oh, ya perkenalkan saya Lavani. Dokter anak yang menangani pasien.” Ucap Lavani membalas uluran tangan Davka. “Lalu bagaimana kondisinya Dok? Apa Rava baik-baik saja?” tanya Davka dengan wajah yang masih terlihat sangat khawatir. “Kondisi Rava baik-baik saja untuk saat ini. Luka di keningnya sudah kami jahit. Hanya tinggal penyembuhan untuk lebamnya. Kalau boleh saya tau, kenapa Rava sampai bisa terjatuh?” tanya Lavly dengan wajah menyelidik. “Rava tadi sedang bermain, mungkin bercanda juga ketika sedang bermain ayunan dengan teman-temannya yang lain. Untungnya saya sedang berada tidak jauh dari sana. Jadi saya bisa sesegera mungkin untuk membawanya ke sini.” Davka menerangkan sedikit kronologi yang dialami oleh Rava sampai bisa terluka seperti itu. “Baiklah, saya akan meresepkan beberapa obat. Termasuk anti biotik dan juga pereda nyeri untuk luka-lukanya. Nanti akan ada suster yang akan memberikan Bapa resep.” Lavly tersenyum ramah untuk mengatakan hal ini pada lelaki tampan di depannya itu. “Apa saya sudah boleh bertemu dengan Rava?” tanya Davka lagi. “Ya, silahkan. Nanti saya akan minta suster mengantarkannya ke tempat Rava dirawat.” Jawab Lavly kemudian. Mereka berdua sama-sama terdiam dan saling bertatapan satu sama lainnya. ‘Astaga matanya indah banget ya Tuhan,’ imbuh Davka dalam hati. ‘Ya Tuhan, kenapa dia tampan sekali!’ ucap Lavly dalam hati. “Dok, Dokter Lavly!” panggil salah satu suster yang baru saja keluar dari ruang administrasi. Suster itu memanggil Lavly yang tengah saling bertatapan dengan Davka sampai tidak sadar jika ada seseorang yang sedari tadi memanggil-manggilnya. “I-iya Sus, ada apa?” tanya Lavly yang langsung tersadar ketika suster tadi masih berusaha menyadarkan sepasang anak manusia yang saling mengagumi satu sama lainnya. “Dok, jadwal operasi untuk pasien di kamar 515 sudah keluar. Dokter diminta bersiap ya,” ucap suster tadi. Lavly langsung menerima map putih yang berisi beberapa dokumen untuk pasien yang tadi disebutkan. Ia juga meneliti sedikit lembaran kertas yang berada paling atas di map itu. “Sebentar ya Pa,” ucap Lavly yang kemudian melangkah sedikit menjauh ke meja yang berada di dekatnya. Ia kemudian membubuhkan tanda tangannya dan memberikan map putih yang berisi record pasien itu kepada suster yang masih setia berdiri di dekatnya. “Baiklah, ini saya sudah tanda tangani ya. Kamu tolong untuk siapkan keperluan saya.” Lavly kemudian menyerahkan map putih tadi. “Baik Dok, terima kasih. Saya tunggu di ruang tunggu dokter di lantai 5 ya.” Suster itu mengangguk kemudian mulai melangkah meninggalkannya. “Ehmm … karna saya ada jadwal operasi yang harus segera saya laksanakan. Saya akan segera urus resep untuk Rava ya.” Kata Lavly sambil menghampiri Davka yang diam-diam masih memperhatikan Lavly sejak dari tadi berbicara dengan suster yang menghampirinya. “Baik Dok, saya akan tunggu. Terima kasih banyak,” Davka tersenyum ramah pada Lavly. *** Lavly dan Davka berpisah di depan pintu ruang UGD. Davka langsung masuk ke ruang UGD, tepat di mana Rava sedang terbaring setelah dilakukan tindakan oleh Lavly. Ia menghampiri Rava yang nampaknya sedang beristirahat. Karna nyatanya luka yang diakibatkan karna kecerobohannya sendiri membuatnya sesekali terlihat meringis walaupun bocah lelaki itu sedang memejamkan matanya. Davka sedikit tersenyum meledek melihat anak lelaki yang sejak dulu sudah ia besarkan di panti yang kakenya khususkan untuk anak-anak terlantar. Rava adalah salah satu anak yang dibuang oleh kedua orangtuanya di depan panti asuhannya itu. Rava kini sudah berusia 10 tahun. Anak lelaki itu paling disayang oleh Davka. Kenapa tidak diadopsi saja oleh Davka? Tentu saja Davka sangat menginginkannya. Namun, adopsi bukanlah hal yang mudah untuk ia jalani. Terlebih lagi, ia juga harus mendapatkan persetujuan dari Larissa selaku istrinya untuknya membawa anak lelaki itu untuk tinggal bersama dengan mereka. Tentu Larissa takkan mau melakukannya, apalagi Larissa sangatlah tidak menyukai anak kecil. Dan tentunya, Davka takkan membiarkan Rava merasakan tidak nyaman di dalam rumahnya bersama dengan Larissa. Walaupun, sepertinya untuk Larissa berada di rumah kemungkinannya 1:1.000 setiap bulannya. Davka memang bukan salah satu pengurus di panti asuhan itu, ia hanya sesekali datang berkunjung untuk melihat mereka. Apalagi dirinya dan Larissa memang belum memiliki anak. Jadi, jika sedang ke sana, pasti membuatnya sedikit banyak terhibur oleh anak-anak yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Tak jarang pula anak-anak itu diajak bermain dan tak ingin berpisah dengan Davka jika lelaki itu berpamitan pulang. Terutama Rava yang memang secara pribadi, sangat dekat dengan Davka. Davka pulalah yang turut campur dalam mengambil segala keputusan tentang anak itu hingga sebesar sekarang ini. “Besok-besok mau bercanda lagi sambil naik ayunan?” tanya Davka ketika baru sampai di bilik yang Rava tempati. Anak lelaki itu kini terlihat sedang memejamkan matanya. “Bang Davka,” Rava membuka matanya dan segera mengenali suara Davka yang sangat ia hafal itu. “Kamu itu sudah besar Rav. Masa masih bercanda di ayunan? Lagi pula sudah besar masa tidak tau kalau itu bahaya untuk kamu? kalau sampai kepalamu yang pecah bagaimana?” Davka kini memperlihatkan wajah sangarnya dan sedikit menyentil kening Rava yang tidak terluka dengan pelan. Sebagai pelajaran untuk Rava jika Davka tidak menyukai hal itu. Davka jadi malah membrendel pertanyaan untuk anak lelaki itu karna saking khawatirnya. “Au … sakit Bang,” Rava sedikit merintih karna apa yang dilakukan Davka. “Nah, mangkanya kalau tau sakit. Jangan dilakukan lagi ya! Abang tuh khawatir sekali sama kamu. Jangan begitu lagi ya!” Davka kini membawa Rava ke pelukan lelaki itu. Tanpa terasa tetesan air matanya jatuh membasahi pipinya. Iapun merasakan kesakitan yang Rava derita saat ini. Davka hanya tidak ingin anak lelaki itu terluka. Walaupun sangat wajar jika anak laki-laki akan terluka dan merasakan sakit di tubuhnya. Tapi sebisa mungkin Davka tidak menginginkan itu terjadi. “Iya Bang, maafin Rava ya.” Ucap Rava yang langsung membalas pelukan Davka yang selalu membuatnya tenang. “Kali ini abang maafin Rava. Tapi kalau besok-besok kamu nakal lagi. Abang ga mau ikut campur dan ga akan belain kamu kalau kamu diomelin sama ibu,” ucap Davka yang langsung melepaskan pelukannya. “Iya Bang. Rava janji ga akan nakal lagi,” Rava menghapus tetesan air mata yang membasahi pipinya sendiri. “Kalau gitu, kamu istirahat. Abang beli minum dulu ya buat kamu. Sepertinya habis ini kamu harus minum obat.” Davka langsung berdiri dari kursi yang di dudukinya. Rava hanya tersenyum menanggapi ucapan Davka. *** “Habis ini aku ada operasi. Terima kasih ya, kamu tau sekali makanan kesukaanku.” Ucap Lavly pada lelaki tampan yang sedang berada di hadapannya. “Akukan mencintaimu, Lav. Jadi aku tau apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka.” Lelaki itu membelai pipi Lavly dengan sayang sambil menatapnya dalam. “Aku tau itu. Akupun mencintaimu, Vasant!” Lavly semakin mengembangkan senyuman di wajahnya. Ia tau hanya Vasant yang mengerti dirinya untuk saat ini. Kalau saja Vasant mengajaknya untuk kawin lari, maka ia akan melakukannya. Mereka berdua benar-benar sudah tidak bisa lagi melepaskan satu sama lainnya, sekalipun berjarak sangat jauh. “Malam ini aku akan pergi untuk memeriksa Night Sky. Apa kamu mau ikut?” tanya Vasant yang langsung mengambil tangan Lavly untuk ia genggam. “Ehmm … kalau kamu mau menjemputku kenapa tida! Lagi pula besok aku libur, jadi kita bisa pergi malam ini.” Lavly menampakkan puppy eyes berharap Vasant mau mengabulkan permintaannya kali ini. Wajahnya terlihat sangat imut dan menggemaskan. Vasant langsung tersenyum dan mencubit pelan pipi kekasihnya itu. “Baiklah, aku akan menjemputmu. Mobilmu akan aku minta anak buahku untuk membawanya. Aku juga akan membawakanmu baju untuk pergi ke Night Sky bersamaku malam ini,” kata Vasant dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya. “Ok, aku tunggu. Kamu jemput aku di sini ya.” Lavly tersenyum senang. “Tentu!” Vasant mengelus lagi pipinya. Di sisi lain, sepasang mata tampak sedang memperhatikan Lavly dan Vasant yang sedang berbincang di lobby Hospi Hospital. Tatapannya agak sedikit cemburu dengan perlakuan sepasang sejoli itu. Tentu saja, seharusnya ia tidak melakukan hal itu karna pastinya bukan haknya untuk cemburu. Tapi wajah Lavly tentu saja takkan bisa membuat dirinya tenang untuk malam ini. Entah kenapa wajah Lavly terus saja merasuk ke dalam otaknya. Tentu hal ini tak boleh terus berlanjut. Masih ada Larissa yang perlu ia jaga hatinya. Karna takut semakin menjadi-jadi rasa cemburu di dalam dirinya. Davka kemudian pergi dari sana dan segera melangkahkan kakinya menuju cafetaria untuk membeli beberapa makanan dan minuman untuk Rava dan dirinya. *** Selesai operasi, Lavly langsung menuju ruangannya dan sedikit merenggangkan otot-ototnya. Lavly kemudian memeriksa beberapa notifikasi yang masuk di dalam ponselnya. Tak berapa lama sebuah panggilan video masuk ke dalam ponselnya dan langsung membuat Lavly memasang senyuman. “Hai, Ars …” sapa Lavly pada seorang sahabatnya yang sudah ia nantikan kabarnya. “Hai, Lav! Aku baru sampai di Jakarta nih, Lav. Nanti malem jadi ke Night Sky?” tanya wanita berparas cantik yang sekarang sedang mengenakan perona bibir berwarna red vampire. “Jadi, aku baru mau kabari kamu jam berapanya. Aku baru selesai dengan operasi. Jadi maaf tidak menjawab telponmu tadi,” Lavly langsung bersandar pada badan kursi berwarna hitam yang berada di ruangannya. “Tidak masalah, aku tau Sahabatku yang satu ini pasti sibuk sekali.” Kata wanita itu lagi dengan senyuman yang khas di bibirnya. “Bisa saja kamu ini Ars …” Lavly tersenyum. “Lalu, jam berapa kita akan ke Night Sky?” tanya Arsyla. Wanita yang biasa disapa dengan Lala atau Arsy itu adalah sahabat Lavly sejak wanita itu SMA. Arsyla jugalah yang menjadi saksi kisah cinta Lavly dengan Vasant. Arsyla adalah seorang pengusaha di perhiasan yang sekarang sedang naik daun. Toko perhiasannya sudah ada beberapa cabang di Indonesia dan beberapa di negara-negara tetangga. Ia merintisnya sejak lulus kuliah. Karna ia menyukai design perhiasan akhirnya ia mendalaminya hingga terbukalah jalan untuknya menjadi pengusaha di bidang perhiasan. Hal itu tak luput dari dukungan kedua orangtuanya yang begitu menyayanginya. Arsyla baru saja putus dari kekasihnya. Padahal, mereka sudah merencanakan pernikahan tahun ini. Namun, sayangnya keputusan mereka untuk berpisah lebih besar daripada mereka saling menyakiti ketika mereka berdua bersama-sama. Untungnya, hubungan mereka masih tetap baik sekalipun mereka sudah berpisah dan tetap saling berteman. Bahkan mereka masih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. “Bagaimana kalau bertemu jam 11 saja,” usul Lavly pada sahabatnya itu. Arsyla terlihat sedang menyetir mobilnya sendiri. Entah darimana wanita itu, tapi yang pasti dua hari yang lalu Arysla mengatakan jika dirinya pergi ke Singapura. “Boleh, nanti aku minta supirku untuk mengantarkanku.” Ucap Arsyla. “Baiklah! Jika kamu butuh tumpangan telpon aku ya. Aku akan minta orang Vasant untuk menjemputmu,” “Jangan! tidak perlu Lav. Aku bisa sendiri. Kamu tidak perlu khawatir. Aku takut jatuh cinta pada asisten Vasant yang tampan itu,” Arsyla terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Apa? kamu menyukai Andreas?” Lavly menggeleng-gelengkan kepalanya sambil ikut terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. Lavly masih tak percaya karna nyatanya sahabatnya malah menyukai asisten kekasihnya, Vasant. Tak dipungkiri asisten Vasant yang bernama Andreas memang bisa dibilang sangat tampan. Ia memiliki tubuh yang sangat menarik, rahangnya yang ditumbuhi dengan rambut-rambut halus yang sangat rapi dan terawat, hidungnya juga mancung, dan matanya begitu indah. “Ya, aku pernah bertemu dengan Vasant di Singapura beberapa waktu yang lalu saat aku patah hati karna keputusanku dengan Orlando. Dan Vasant tau aku sedang tidak baik-baik saja. Dia meminta Andreas mengantarku ke apart setelah pulang dari Night Sky. Dan … kamiii …” Arsyla tidak melanjutkan kata-katanya. “OMG, jangan bilang kalian …” Lavly langsung membulatkan matanya. “Ya, Lavly … sepertinya aku ini sudah menjadi jalangg ketika bersamanya. Andreas begitu menakjubkan!” seru Arsyla dengan wajah yang berbinar. Lavly membekap mulutnya sendiri yang terbuka. Ia benar-benar tak menyangka jika Arsyla menyukai asisten Vasant yang paling tampan itu. “Kalau kamu bersedia, aku akan minta Vasant untuk mengatur kencan kalian.” Usul Lavly kali ini. “Kencan? Tidak Lavly … aku hanya ingin bersenang-senang dengan Andreas. Aku tidak ingin berkencan dengannya. Aku masih trauma ditinggalkan oleh Orlando.” Arsyla langsung menggelengkan kepalanya. Membantah usulan sahabatnya kali ini. “Baiklah jika kamu tidak menginginkannya. Aku akan berikan waktu untuk kalian bisa saling mengenal. Sampai ketemu di Night Sky nanti malam, Ars …” kata Lavly yang langsung mematikan sambungan videonya. Terlihat jelas jika Arsyla malah curiga dengan keputusan Lavly yang langsung mematikan sambungan videonya sementara dirinya masih ingin bicara dengan sahabatnya itu. Lavly langsung buru-buru menelpon kekasihnya dan meminta Vasant mengatur Andreas untuk menjemput Arsyla di mansionnya. Vasant awalnya sedikit terkejut dengan permintaan sang kekasih. Namun, sepertinya Vasant tau arah pembicaraan Lavly ke mana arahnya. Hingga akhirnya lelaki itu menyetujui keinginan Lavly. Ia tau, Arsyla pasti akan sedikit merajuk padanya. Tapi tidak masalah, yang penting sahabatnya itu bisa senang dengan rencananya dan lebih mengenal Andreas lebih dekat lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN