MHBB - CH 8

2329 Kata
“Rava sudah boleh pulang ya. 3 hari lagi kembali ke sini untuk kontrol. Tapi kalau sakitnya tidak tertahankan, Rava boleh ya langsung ke sini.” Ucap Lavly setelah memeriksa kondisi Rava setelah diobservasi selama beberapa jam. “Baik Dok, terima kasih banyak Dokter Cantik!” ucap Rava yang langsung mengembangkan senyuman karna sudah diperbolehkan pulang. Mendengar pujian dari bocah kecil itu, pipi Lavly langsung merona dibuatnya. Davka yang sedari tadi memperhatikan Lavly malah jadi semakin gemas melihat Lavly yang kini malah jadi merona karna pujian dari Rava. Lavly juga sempat menyentuh pipinya yang memanas akibat ulah anak kecil itu. “Kalau boleh saya tau, apa Rava tidak perlu diCT scan Dok?” tanya Davka yang kini menatap Lavly dengan dalam. Wajah ke khawatiran mulai hilang dari wajah lelaki itu. Sekarang berganti dengan kelegaan yang diperlihatkan di wajahnya yang tampan. Lavly langsung mengalihkan perhatiannya menuju Davka ketika lelaki itu bertanya. Ia berusaha untuk menghilangkan rona merah dari pipinya. “Saya rasa tidak perlu untuk saat ini Pa.” Lavly tersenyum ramah menanggapi ucapan Davka. “Baiklah, ayo Jagoan kita pulang ya.” Ajak Davka pada Rava yang kini masih betah memandang wajah Lavly yang masih belum hilang rona merahnya. “Sampai bertemu lagi ya, Anak Ganteng. Lain kali hati-hati jika sedang bermain ya,” Lavly mengingatkan anak itu sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rava. “Iya Dok, kali ini saja. Rava kapok dimarahi sama Bang Davka. Rava juga kapok dijahit keningnya seperti ini, sakit sekali Dok.” Anak lelaki itu kemudian sedikit merintih. Lavly dan Davka saling bertatapan lagi setelah mendengarkan anak lelaki itu berceloteh panjang lebar. “Jangan dimarahi, kasian Ravanya.” Ucap Lavly yang langsung memprotes aduan Rava barusan. “Ti-tidak Dok, saya hanya menasehatinya.” Davka langsung membantah ucapan Lavly yang menurutnya sedikit banyak mempengaruhinya. “Iya, kemarin Bang Dav … ka … hummp … hummpp …” Rava tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karna nyatanya Davka menutup mulut anak lelaki itu agar tak mengadu dan melebih-lebihkan ucapannya pada wanita yang sedang berdiri di depannya itu. “Saya ga marahi Rava, Dok. Hanya menasehatinya. Iyakan Rava, Anak Ganteng yang Pintar?” kata Davka yang kini memberikan isyarat agar Rava tidak mengadu yang macem-macem pada Lavly. “I-iya kok, Dokter Cantik! Bang Davka hanya menasehati Rava. Yang tadi, Rava hanya bercanda jadi jangan dibawa serius, ya.” Rava kini mendukung ucapan Davka. Anak lelaki itu kini memberikan senyum lebar untuk meyakinkan Lavly jika dirinya memang benar. “Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu ya.” Ucap Lavly yang kemudian melihat jam berwarna rose gold yang melingkar di pergelangan tangannya. “Baik Dokter, terima kasih sekali lagi.” Ucap Davka yang kini mengulurkan tangannya pada wanita yang kini berada di depannya. Mau tidak mau, Lavly membalas uluran tangan Davka dan memberikan senyuman ramahnya pada lelaki itu. Untuk beberapa saat, mereka kemudian saling pandang dan Rava sepertinya mengerti dengan arti tatapan Rava dan Lavly saat ini. “Ciee … Ciee … Bu Dokter dan Bang Davka saling liat-liatan. Ciee …” Rava langsung meledek dua sejoli yang masih saling mengagumi satu sama lainnya. Karna perkataan Rava barusan, membuat tatapan mereka berdua jadi teralihkan. Lavly langsung melerai uluran tangan Davka dan tersenyum canggung kepada anak lelaki yang masih duduk di ranjang rumah sakit itu. Lavly juga mengelus tangan Rava dan benar-benar pergi dari hadapan Davka dan Rava setelah berpamitan untuk yang kesekian kalinya. Setelah kepergian Lavly dari bilik UGD tempat Rava dirawat, Davka langsung memprotes tindakan Rava yang sudah mengganggunya bersama dengan Lavly barusan. Rava hanya tersenyum mendapati protesnya Davka barusan. *** “Memangnya Abang dan istri Abang masih bersama?” tanya Rava yang langsung to the point pada lelaki yang sedang fokus menyetir di sebelahnya itu. “Iya, memangnya kenapa?” tanya Davka yang langsung menoleh pada anak lelaki yang sedang fokus padanya. “Tidak, Rava hanya tanya saja. Sepertinya jika dilihat-lihat, Bang Davka dan dokter cantik memang serasi. Dokter cantik itu keibuan, tutur katanya lembut banget, Rava suka banget sama dokter cantik tadi. Seandainya saja Bang Davka belum memiliki ka Larissa, Rava sangat mendukung sekali jika Bang Davka memiliki perasaan lebih pada dokter cantik tadi.” Rava kini memuji-muji Lavly di depan Davka. “Dokter Lavani sudah punya kekasih, Rava. Lagi pula, Larissa baik sama abang. Jadi jangan banding-bandingkan Larissa dengan dokter Lavani ya.” Di awal kalimatnya, nada suara Davka nampak kecewa mengetahui jika Lavly sudah memiliki seorang kekasih. “Kekasih? Abang tau darimana?” tanya Rava semakin penasaran dengan ucapan yang baru saja diungkapkan oleh Davka. “Tadi abang lihat pas mau ke cafetaria!” kata Davka yang semakin terdengar kecewa ketika mengingat kejadian yang ia lihat di lobby Hospi Hospital. “Abang cemburu?” tanya Rava dengan wajah dibuat sangat penasaran dan tak luput memandang Davka yang masih berkonsentrasi menyetir. “Ya … sedikit!” kata Davka dengan tanpa sadar. “Huss … apaan sih kamu nanyanya kok begitu?” Davka langsung tersadar dengan ucapannya. “Hahahaha … tuh kan benar. Abang tuh punya perasaan lebih sama dokter cantik tadi!” Rava langsung bertepuk tangan sambil tertawa karna nyatanya analisa yang sedari tadi ia lakukan benar adanya. “Rava!” Davka sedikit geram pada anak lelaki itu. Rava tersenyum sambil menyatukan tangannya seperti sedang memohon ampunan pada lelaki yang sudah sangat baik padanya itu. “Kalau ka Larissa baik sama Abang?” tanya Rava lagi masih penasaran. “Baik, dia sangat baik sama abang, Rav.” Ucap Davka dengan nada datarnya. “Baik? Abang yakin?” Rava kini semakin memberendel Davka lagi dengan pertanyaan keingin tahuannya. “Ya, Rava. Ka Larissa baik kok sama abang.” Davka kini mengelus kepala Rava dengan sayang. “Tapii …” Rava tidak melanjutkan ucapannya. “Tapi apa?” tanya Davka pada anak lelaki itu yang kemudian menoleh lagi pada anak lelaki itu. “Gak lah … Rava seneng aja kalau Bang Davka bahagia. Pokoknya Abang harus selalu bahagia, ga boleh sedih.” Rava tersenyum pada Davka. “Memangnya kalau abang sedih kamu bakalan sedih juga?” tanya Davka pada Rava. Menyelidiki hati anak lelaki itu padanya. Biar bagaimanapun, Davka begitu menyayangi Rava dengan segenap perasaannya. “Iya Bang, di dunia ini Bang Davka yang paling Rava sayangi. Sekalipun Bang Davka bukan siapa-siapanya Rava, tapi sumpah demi Tuhan. Rava sayang sekali sama Abang.” Rava langsung mengamit lengan berotot Davka dan menempelkan kepalanya pada lengan lelaki itu. “Kamu juga ga boleh nakal, kalau kamu sakit lagi bang Davka bakalan ngomel beneran.” Ancam Davka pada anak lelaki itu. “Siap Boss!” Rava langsung memberikan hormat pada Davka dan tersenyum lebar pada lelaki itu. ‘Maafkan abang ya, Rav. Abang berbohong jika Larissa adalah wanita yang baik untuk abang. Padahal, jika kamu tau bagaimana Larissa memperlakukan abang sebagai suaminya. Kamu pasti tidak akan setuju abang menikah dengan Larissa.’ Celoteh Davka dalam hati. *** Lavly sudah sampai di apart milik Vasant. Lelaki itu sudah mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama dengan Lavly ke Night Sky malam ini. Sudah lama sekali lelaki itu tidak memeriksa salah satu bisnis clubnya yang hanya ia percayakan pada salah satu temannya. Semenjak Ammar melarang dirinya dan Lavly miliki hubungan, Vasant jadi jarang sekali pegi ke Night Sky dan lebih mempercayakannya pada sahabatnya itu. Vasant mulai kehilangan kepercayaan dirinya ketika lelaki yang memiliki hak penuh terhadap Lavly itu jadi berbalik arah, menentang hubungannya dengan Lavly secara terang-terangan. Bahkan hanya untuk sekedar makan malam saja, Lavly tidak diperbolehkan melakukannya bersama dengan Vasant. Ditambah lagi, ketika kaka Lavly yang bernama Leela dan sang suami mengetahui bisnis haramnya yang lainnya. Sudah pasti membuat Vasant semakin dibenci oleh Ammar, papa dari wanita yang sangat ia cintai itu. Pernah Vasant diusir dari mansion keluarga Lavly karna Ammar tak mau jika anaknya berhubungan dengan anak yang tidak bisa diatur seperti Vasant. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, tangan Lavly langsung ditarik masuk oleh Vasant. Lelaki itu langsung menarik tengkuk Lavly dan menempelkan bibirnya pada bibir wanita yang sangat ia cintai itu. Lavly benar-benar dibuat mabuk kepayang dengan perlakuan Vasant. Padahal jika papanya tau kalau Lavly diperlakukan sangat baik oleh Vasant, mungkin papanya akan berfikir ulang untuk menentang hubungannya dengan Vasant dan malah mungkin langsung memberikan restu pada hubungannya dan Vasant. “Sejak tadi aku sudah ingin sekali melumatt bibirmu, Lav.” Celoteh Vasant ketika mereka berdua sudah selesai dengan ciuman panas yang beberapa menit lalu mereka lewati bersama. Lavly hanya tertawa mendengar ucapan Vasant sambil terus memandang lelaki yang takkan bisa ia hilangkan begitu saja dari hatinya. “Aku mandi dulu ya,” kata Lavly yang kemudian membuka kancing kemeja biru mudanya yang ia lepaskan satu persatu di depan Vasant. Mereka berdua masih saling bertatapan tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Jarak antara tubuh mereka satu sama lainnya masih terbilang sangat dekat. “Kamu mencoba menggodaku?” bisik Vasant yang langsung mengambil tengkuk Lavly lagi dan sedikt bermain di kulit leher wanita itu. “Tidak, aku hanyahhh … berniat untukhhh mandi …” kata Lavly dengan nafas yang mulai tersengal karna gejolak yang Vasant berikan padanya sudah semakin menyala di dalam tubuh wanitanya. “Sepertinya kamu sudah sangat ingin, Lav.” Ledek Vasant yang sudah hafal betul dengan gelagat yang diberikan Lavly saat ini. Tubuh Lavly bahkan sudah menyender di tembok di belakangnya karna kakinya sudah seperti agar-agar yang tidak bisa lagi menopang tubuhnya karna sudah terlalu lemass dengan perlakuan kekasihnya itu. Lavly sudah memejamkan matanya dan sepertinya sudah berpasrah dengan apa yang dilakukan kekasihnya selanjutnya. “Kamu tau apa yang aku inginkan, Vasant. Jadi lakukan sesukamu, Sayang!” titah Lavly dengan nafas yang sudah memburu akibat godaan yang Vasant lakukan di bawah sana pada tubuh wanitanya. *** Setelah mereka saling mendapatkan pelepasan satu sama lainnya. Lavly kemudian beranjak untuk membersihkan dirinya dan segera berdandan untuk pergi ke Night Sky Club milik Vasant. Ia akan membiarkan Vasant untuk tidur sejenak sambil menunggunya bersiap. Lavly keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe putih untuk menutupi tubuhnya. Lavly langsung menuju walk in closet milik Vasant yang memang tidak jauh dari kamar mandi yang tadi dipakainya. Ketika sedang merias wajahnya, Vasant datang dan memeluknya dari belakang. Lelaki itu menatap sebentar Lavly yang sedang menggerakkan tangannya untuk membubuhkan eye shadow dengan sangat lihai. Vasant masih tak bicara apapun. Yang ia lakukan hanya melihat pantulan wajah cantik Lavly dari cermin yang berada di depannya ketika sedang di rias. “Mandi sana, kamu harus mandi dan bersiap sebelum kita berangkat ke Night Sky.” Titah Lavly yang langsung mengalungkan tangannya pada leher lelaki itu. “Kalau agak terlambat sedikit Arsyla tidak akan marahkan padamu?” tanya Vasant yang sudah memeluk pinggang Lavly dengan sangat erat. “Aku rasa tidak, cuma jangan terlalu ngaret juga. Aku merindukannya, aku ingin punya banyak waktu untuk mengobrol dengannya.” Kata Lavly yang sedikit mengerucutkan bibirnya karna tak setuju jika mereka harus terlambat bertemu dengan sahabatnya itu. Sepertinya Lavly sudah mengetahui apa yang menjadi keinginan Vasant jika sudah meminta izin untuk terlambat bertemu seseorang ketika sedang bersama dengannya. “Tapi aku ingin sekali lagi, Lav. Boleh ya?” Vasant mengecup bibir Lavly kilas dan beralih turun ke lehernya. “Tapi aku sudah mandi, besok aku janji akan ke sini lagi dan menghabiskan waktu bersamamu. Besok weekend Babe. Kamu tenang saja.” Lavly memberikan janjinya pada sang kekasih sambil menahan gejolak yang akan timbul dalam dirinya. “Baiklah … kalau begitu besok aku tidak akan ke kantor.” Vasant tersenyum lalu mendaratkan bibirnya lagi tepat di bibir sang kekasih dan melumatt sebentar bibir ranum kekasihnya. *** “Lavly!” sapa Arsyla yang sedang duduk di pangkuan Andreas ketika Lavly dan Vasant datang ke ruang private milik Vasant. Andreas yang merasa tidak enak pada Vasant dan Lavly tentunya. Karna nyatanya ia ke sana seharusnya untuk bekerja. Ini malah jadi harus terlibat dengan Arsyla yang notabene adalah seorang wanita kaya raya yang merupakan sahabat dari bossnya sendiri. Sekalipun tak dipungkiri memang ada ketertarikan antara dirinya dengan Arsyla. Tapi tetap saja, Andreas merasa tidak enak pada dua sejoli yang sudah sangat baik padanya itu. “Maaf Tuan,” ucap Andreas yang langsung berdiri di samping Vasant ketika mereka sudah berada di luar ruangan dan meninggalkan Arsyla dan Lavly di dalamnya. “Ada apa Andreas?” tanya Vasant yang langsung mengerutkan keningnya karna ucapan Andreas yang tidak seperti biasanya. Arsyla dan Lavly sekarang sudah sibuk sendiri di dalam ruangan private milik Vasant yang sengaja ia sediakan untuk dua wanita cantik itu mengobrol dengan bebas. Vasant langsung keluar lagi dari ruangan itu setelah menyapa Arsyla yang sudah diambil alih oleh Lavly. “Apa yang barusan Tuan lihat, nona Arsyla yang memintanya.” Ucap Andreas sambil menundukkan wajahnya. Hanya kalimat itu yang bisa ia katakan untuk Vasant. Itu saja, Andreas sudah sangat ketakutan kalau saja Vasant marah padanya karna sudah berani bermain-main dengan sahabat dari kekasihnya. “Tidak usah difikirkan. Jika memang kalian memiliki hubunganpun, saya dan Lavly akan mendukung kalian. Layani dia dengan baik. Dia sahabat Lavly yang sangat dia sayangi.” Vasant menepuk bahu kekar milik Andreas dan langsung mengangkat wajahnya. Lelaki itu bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari bossnya itu. “A-apa Tuan tidak salah bicara?” tanya Andreas yang masih bingung dengan apa yang baru saja di dengarnya. Padahal, Andreas sangat ketakutan dengan reaksi yang Vasant berikan. Andreas terlihat tidak percaya dengan ucapan lelaki yang sudah ia anggap seperti kakanya sendiri itu. “Saya tau kalian saling memiliki ketertarikan. Maka lakukanlah And. Tentunya, dengan hatimu And. Jangan kamu bohongi hatimu. Aku percayakan Arysla bersamamu. Perjuangkan hubungan kalian.” Ucap Vasant pada orang kepercayaannya itu. “Terima kasih, Tuan!” Andreas langsung melebarkan senyuman dan menatap dengan penuh rasa terima kasih pada Vasant. “Mulai sekarang, jika hanya sedang berdua saja dengan saya seperti ini. Kamu boleh panggil saya dengan sebutan kaka atau abang. Terserah yang kamu nyaman saja.” “Siap Bang!” Andreas langsung memberikan hormat pada Vasant dengan senyuman lebar tentunya. “Mari kita berkeliling!” pinta Vasant pada Andreas setelah lelaki itu menepuk bahu Andreas. Andreas langsung menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab permintaan Vasant. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN