MHBB - CH 9

1711 Kata
“Lav, kenapa kamu suruh Andreas menjemputku?” tanya Arsyla pada sahabatnya itu dengan mengerucutkan bibirnya. Lavly terkekeh sebelum menjawab ucapan sahabatnya. “Aku tau kalian punya perasaan yang sama. Kalau tidak, mana mau dia melakukannya denganmu, Ars?” Lavly meneguk orange juice yang sudah disediakan Vasant untuk Lavly. Walaupun Lavly sering datang ke sana bersama dengan Vasant. Tapi tetap saja, Vasant sama sekali tidak mengizinkan Lavly untuk menyentuh minuman-minuman beralkohol yang ada di sana. Vasant selalu meminta staffnya menyiapkan minuman yang Lavly inginkan tentunya tanpa alkohol di dalamnya. “Tapi Lav, aku tidak yakin jika papaku akan menerima Andreas sebagai calon menantunya.” Arsyla langsung menundukkan wajahnya sedih. “Hei! Memangnya kamu sudah menginginkan pernikahan dengannya?” Lavly mengangkat wajah Arsyla dengan telunjuknya. “Ya … aku sudah lelah berpacaran, on night stand, atau apalah itu namanya. Yang aku inginkan hanyalah hubungan yang serius dengan seorang lelaki yang bisa mencintaiku apa adanya. Aku tidak perduli dengan hartanya atau apapun kedudukan. Yang penting kami berdua saling mencintai. Tapi, aku masih punya orangtua yang tentunya kamu tau sendirikan Lav bagaimana papaku menginginkan menantu seperti Orlando yang akan mendampingiku.” Jelas Arsyla pada Lavly dengan wajah sedihnya. Bahkan tanpa sadar, air matanya mulai menetes begitu saja dari pelupuk matanya. “Kamu fikir, aku sudah mendapatkan restu?” tanya Lavly yang juga mengganti raut wajahnya menjadi sedih. “ASTAGA! Aku lupa! Maafkan aku, Lav.” Arsyla langsung memeluk Lavly dari samping. “Malangnya kita yang belum dapat restu dari orangtua,” tambah wanita itu. “Sudah lebih baik kita bersenang-senang Ars.” Ucap Lavly yang langsung mengangkat gelas berkaki ramping dan berdiri dari sofanya. Wanita itu menunggu Arsyla mengangkat gelasnya juga dan melakukan tos dengan gelasnya. “Have fun, Baby!” ucap mereka berdua berbarengan sambil menyesap cairan yang ada di gelas masing-masing. Setelahnya, mereka berdua langsung menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama musik yang sedang dimainkan oleh seorang DJ yang berdiri di bawah sana. Dentuman musik yang bertalu-talu terdengar dari ruangan mereka dan mereka berdua takkan lelah untuk menggerakkan tubuh mereka masing-masing. Di sisi lain, seorang lelaki yang sedang menyesap rokok di kursi bar terlihat memperhatikan dua wanita yang sedang asyik berjoget mengikuti irama musik. Lelaki itu tampaknya sedikit terkejut karna nyatanya wanita yang sedang asyik bersama dengan salah satu teman wanitanya itu adalah wanita yang tadi sempat mencuri perhatiannya ketika mengantarkan anak asuhnya ke Hospi Hospital. “Jangan perhatikan dia Tuan,” ucap seorang bartender yang sedang memperhatikan Davka. Davka yang mendapatkan teguran itu langsung menoleh pada lelaki yang berada tepat di depannya. “Dia itu kekasih pemilik Night Sky ini. Jadi jangan cari masalah,” ucap lelaki yang sedang menguncir rambutnya itu seperti ekor kuda. Davka tersenyum lebar ketika lelaki itu memperingatkannya. Memang benar, jika lelaki itu tertarik pada wanita yang berprofesi sebagai dokter anak itu. Tapi ia harus banyak-banyak mengingatkan dirinya jika masih ada Larissa yang perlu ia jaga hatinya. Sekalipun wanita itu mungkin saja sudah tidak menganggapnya ada. “Tambah 1 vodka lagi!” titah Davka pada lelaki itu. Tentunya dengan seringaian di wajahnya. Tanpa menggubris omongan lelaki yang berprofesi sebagai bartender itu. *** Lavly baru saja menyelesaikan hajatnya di toilet yang berada tak jauh dari private room yang ditempatinya bersama dengan Vasant, Arsyla, dan Andreas. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ada seorang lelaki berdiri menghalangi langkahnya. Lavly yang masih memiliki kesadaran penuh karna tidak ada sama sekali alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya, membuat dirinya tau siapa lelaki yang sedang menghalangi jalannya tersebut. Lavly melipat tangannya di depan daada sambil terus memperhatikan lelaki itu tanpa berkata apapun. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan tajam dan berusaha membuat Lavly sepertinya takut akan dirinya. Walaupun sesungguhnya Lavly memang sedikit banyak agak takut dengan tatapannya itu. Tapi tetap saja, ia berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya. Dalam hati ia meruntuki kebodohannya karna seharusnya tadi ia mau menerima penawaran dari Vasant untuk mengantarkannya ke toilet. Karna nyatanya di sana banyak sekali orang mabuk yang mungkin berkeliaran dan akan mengancam dirinya sendiri. “Hi Bu Dokter!” sapa lelaki itu pada Lavly yang sekarang sedang melipat tangannya di depan dadaanya. “Hi!” balas Lavly pada lelaki yang berada di hadapannya itu. “Sama siapa kamu ke sini? Aku rindu sekali padamu, Lav. Sudah lama tidak bertemu, nyatanya kamu malah datang menemuiku.” Ucap lelaki itu sambil mendekat ke arah Lavly. Lavly yang awalnya terdiam, langsung mundur teratur. Aroma alkohol langsung mengoar begitu saja dari lelaki itu. Tentunya Lavly sangat tidak menyukainya. “Kamu mabuk Stevan!” ucap Lavly yang merasa dirinya sudah terancam oleh lelaki itu. “Mabuk? Tidak! aku tidak mabuk!” bantah lelaki itu sambil menyeringai. “Lav, mau ya ke apartku sekarang. Aku rindu sekali padamu.” Tambah Stevan lagi setelah membantah ucapan Lavly barusan. “Ga! Aku ga mau!” Tolak Lavly pada lelaki yang sudah menghimpit tubuhnya diantara tangan dan juga tembok yang tepat berada di belakangnya. “Kalau kamu ga mau, berarti kita harus melakukannya di sini!” katanya sambil menyeringai. “Aku bakalan teriak kalau kamu berani macam-macam, Stevan!” ancam Lavly yang berusaha mendapatkan pertolongan dari siapapun. Tapi sayangnya, di sana benar-benar sangat sepi dan Lavly mulai ketakutan karna ia harus menghadapi lelaki yang sedang mabuk saat ini. “TOLOOOONGGG!” teriak Lavly pada seseorang yang mungkin saja melintas di sana dan bisa menyelamatkannya. Namun sepertinya usahanya gagal karna tidak akan ada orang yang mungkin menyelamatkannya. Stevan yang merasa Lavly sedang berani membantahnya langsung segera mensejajarkan wajahnya dengan wajah wanita itu. Mendekatkan sedikit demi sedikit wajahnya dan Lavly langsung memejamkan matanya karna terlalu takut. Di dalam hatinya ia merapalkan doa agar ada seseorang yang menolongnya dengan segera sebelum Stevan melakukan hal yang tidak diinginkannya. “Ga akan ada yang akan menyelematkanmu, Lav.” Ucap Stevan. Air mata Lavly langsung mengalir begitu saja dan membuat Stevan sedikit banyak malah jadi menyeringai. “Kamu ga akan pernah lepas dariku lagi, Lav. Dan kekasihmu itu tidak akan pernah menyelematkanmu!” ancam Stevan pada Lavly yang sudah berhasil menangis karna ancamannya. Tubuh Lavly semakin bergetar karna ucapan Stevan barusan. “Aku mohon lepasin aku!” mohon Lavly lagi. Tapi sepertinya Stevan sudah menulikan telinganya. “Dengar aku! kalau sampai kamu berani berteriak, maka aku tidak akan segan-segan membawamu pergi jauh, Lav!” ancam Stevan lagi. “Sekarang ikut denganku!” Stevan langsung mencengkram tangan Lavly. Stevan menarik tangan Lavly dan membawanya keluar dari koridor itu. Lavly sudah memberontak namun, sayangnya cengkraman tangan Stevan terlalu kuat untuk ia lawan sekalipun lelaki itu dalam pengaruh alkohol. Lavly melewati beberapa orang yang sedang berkumpul. Tapi sayangnya, teriakannya kalah dengan ritme musik yang sedang diputar oleh DJ yang masih setia di atas panggung untuk menghibur orang-orang yang berada di sana. “Lavani?” gerutu seorang lelaki yang baru saja ia lewati. Wanita yang sejak tadi menjadi pusat perhatian baginya ternyata melewatinya dan ia tau betul jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi dengan lelaki yang menggandengnya. Terlihat jelas jika lelaki itu bukanlah lelaki yang sempat ia lihat bersama dengan Lavly tadi ketika berada di lobby Hospi Hospital. Davka memutuskan untuk mengikuti Lavly yang sedang berada di bawah kuasa lelaki yang sedang membawanya. *** “Stevan! Please lepasin aku!” Lavly memohon lagi dengan suara yang sudah sangat ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar karna dirinya yang sedang dalam bahaya. “Ga akan aku sia-siakan kesempatan ini untuk milikin kamu, Lav! Ga akan pernah!” kata lelaki itu dengan suara yang ditinggikan. Tentu saja hal itu membuat Lavly semakin ketakutan. Lavlypun merasa heran kenapa di sekitaran Night Sky begitu sepi. Padahal biasanya tidak seperti itu. Bahkan beberapa orang yang biasanya berjaga saja hanya ada beberapa orang. Tentunya, Lavly mengingat ucapan Stevan tadi. Ia sungguh masih ketakutan jadi ia mengurungkan niatnya untuk berteriak meminta pertolongan pada siapapun yang ia temui ketika sedang berada di jalan menuju mobil Stevan. “Lav! Lavly!” panggil seorang lelaki yang tentu saja suaranya masih agak asing di telinga Lavly. Tapi Lavly terus merapalkan doa agar Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolongnya. “Davka!” seru Lavly. “Mau kemana?” tanya Davka yang langsung mendekat pada Lavly dan Stevan. “Aku mau …” Lavly tidak bisa melanjutkan kata-katanya karna melihat isyarat yang Stevan berikan padanya untuk tidak memberi tahu siapapun. Stevan yang tau jika lelaki itu mengenal Lavly langsung membiarkan Lavly untuk berbincang sebentar agar tidak menimbulkan kecurigaan pada lelaki yang mengenal Lavly ini. “Bukan urusan Anda sepertinya!” Stevan langsung menghentikan kalimat yang mungkin Lavly akan ucapkan dan membuat lelaki di depannya itu malah semakin curiga kepadanya. Lavly langsung melepaskan cengkraman tangan Stevan dan berlari ke belakang Davka. “Davka tolong aku, dia ingin membawaku pergi!” kata Lavly yang langsung meminta perlindungan pada Davka. “Lavly, jangan macam-macam kamu ya!” sentak Stevan pada Lavly. Lelaki itu bahkan ingin meraih tangan Lavly lagi dan ingin membawanya segera pergi dari sana. “Dav, tolong aku. Aku mohon!” kata Lavly yang kini benar-benar ketakutan dan memegang tangan Davka dengan erat. Air matanya bahkan sudah menganak sungai. Sudah dapat dipastikan jika Lavly benar-benar ketakutan pada lelaki di depan mereka ini. “Jangan kasar pada wanita. Lagipula sudah Lavly bilang juga kan dia tidak ingin ikut bersamamu!” cegah Davka pada lelaki yang ia tau sedang berada dalam pengaruh alkohol itu. “BREENGGGSEEEKK!” Stevan langsung melayangkan tinjuannya pada wajah Davka. Namun, sayangnya karna Stevan dalam pengaruh alkohol yang sangat berat membuat lelaki itu jadi malah terhuyung. Davka tentu bisa membawa Lavly sedikit menyingkir dan membiarkan lelaki itu terjerembab di tanah beraspal. “Kamu tunggu di sini!” kata Davka yang mencoba menenangkan Lavly yang malah semakin bergetar dan menangis karna ketakutan. Stevan, sepertinya tidak mau menyerah begitu saja. Lelaki itu langsung berusaha berdiri lagi dan memberikan tinjuan tepat di punggung Davka. Davka langsung membalasnya. Hingga terjadilah baku hantam yang membuat Stevan akhirnya malah terkulai lemah di tanah beraspal itu lagi. Karna tau jika Stevan sudah tidak bisa lagi membalas Davka, Davka langsung berjalan ke arah Lavly. Saat itulah beberapa orang yang sedang berjaga diminta Davka untuk mengamankan Stevan. “Terima kasih, Davka!” kata Lavly yang langsung memeluk tubuh lelaki itu secara tiba-tiba. “Sama-sama Lav,” Davka terlhat tersenyum karna nyatanya wanita yang ia kagumi malah memeluk tubuhnya kali ini. Ia takkan sanggup menolaknya. Walaupun di dalam dirinya jantungnya sedang bertalu-talu dan seperti ingin berlarian dari tempatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN