Begitu tersadar, Lavly langsung buru-buru melepaskan pelukannya. Tubuhnya yang bergetar mulai berangsur mereda karna pelukan Davka yang nyatanya membuat dirinya nyaman.
“Kamu terluka, Davka!” Lavly langsung mengkoreksi wajah Davka yang sedikit banyak juga ikut lebam karna ulah Stevan yang ikut melawannya.
Bibir Davka juga terlihat pecah akibat hantaman yang Stevan berikan pada lelaki itu. Tapi Stevan lebih parah lagi. Wajahnya benar-benar babak belur dan dirinya sampai tidak bisa melawan lagi apa yang Davka lakukan padanya. Lavly terlihat menangkup wajah Davka dan matanya membulat mengetahui luka-luka yang ada pada wajahnya.
“Tidak apa-apa yang penting kamu tidak dibawa oleh lelaki pemabuk itu!” Davka mengelus lengan Lavly.
Lavly mengangguk dan memberikan senyuman agar lelaki itu tidak semakin khawatir.
“Lavly!” panggil seorang lelaki yang berada tak jauh dari mereka yang tentunya Lavly hafal dengan suara baritonnya.
Lelaki itu terlihat berlari agar segera sampai pada wanita yang sedang dicarinya. Tentu saja, Vasant pasti mencari keberadaannya setelah beberapa waktu tidak kembali padanya.
“Vasant!” Lavly langsung menghambur kepelukan lelaki itu.
Lelaki itu tampak khawatir dengan keadaan Lavly. Andreas dan beberapa orang yang berpakaian serba hitam ikut berlari mengejar Vasant untuk segera sampai pada orang yang sedang dicarinya. Tak ketinggalan juga dengan Arsyla yang tampak begitu khawatir pada sahabatnya itu ikut berlari begitu melihat keberadaan Lavly yang terlihat kacau.
“Kamu darimana? kenapa keluar tanpa memberitahukan padaku?” tanya Vasant yang masih memeluk erat tubuh wanitanya.
Vasant benar-benar khawatir pada wanitanya itu. Ia tak menyangka jika apa yang selama ini ditakutkannya kembali terjadi. Sedangkan, Davka hanya bisa menatap pemandangan yang sepertinya tidak perlu ia lihat. Rongga dadaanya tiba-tiba menghangat mendapati dirinya yang mengakui jika ia sangat cemburu pada sepasang manusia yang kini sedang berpelukan di depannya itu.
“Stevan, Vasant! Stevan! Dia yang memaksaku untuk ikut dengannya!” kata Lavly yang menangis sejadi-jadinya di pelukan Vasant, kekasihnya.
“Apa Stevan?!” Vasant sedikit banyak terkejut dengan nama yang baru saja diucapkan oleh kekasihnya itu.
Vasant kini menangkup wajah Lavly yang sudah sangat basah akibat air matanya yang sudah menganak sungai.
“Ya, Stevan yang sudah memaksaku untuk ikut. Untungnya Davka menyelamatkanku!” kata Lavly.
Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya pada Davka yang berdiri di samping Vasant. Lelaki itu tampak membuang tatapannya ke arah lain. Seolah tak ingin melihat kekakraban dua sejoli yang benar-benar membuat hatinya terasa tertikam oleh ribuan pisau.
“Terima kasih,” kata Vasant yang langsung melepaskan tangannya di dua belah pipi Lavly.
Ia kemudian mengulurkan tangannya pada Davka. Sebelum mengulurkan tangannya, Vasant membawa Lavly ke pelukannya. Memeluk wanita itu dari samping dan Lavly tampak memeluk pinggang lelaki di sebelahnya dengan sangat possessive.
“Sama-sama,” Davka mengulurkan tangannya sambil membalas senyuman ramah yang Vasant lakukan padanya.
“Terima kasih karna sudah menyelamatkan Calon Istri saya!” Vasant kali ini menambahkan kalimatnya.
Dan secara tidak langsung ia seperti sedang memperkenalkan dirinya pada Davka yang nyatanya sedang terkejut mendengar ucapan lelaki itu.
“Saya hanya membantu yang saya bisa. Kebetulan saya memang mengenal Lavly. Jadi sudah memang seharusnya saya membantunya,” Davka masih belum menurunkan garis bibirnya ketika mengatakan hal itu pada lelaki yang kini sedang memeluk wanita yang dikaguminya.
“Anda juga terluka. Mari kita masuk dan obati luka-luka Anda. Saya akan memberikan jamuan untuk Anda!” Vasant langsung meminta anak buahnya untuk mengawal Davka dan menjamunya sebagai ucapan terima kasih.
Namun, belum saja Vasant mengatakan sepatah katapun pada anak buahnya, Davka mencoba untuk mencegahnya.
“Tidak usah, terima kasih. Saya memang ingin segera pulang. Tidak perlu repot.” Tolak Davka kali ini.
“Kalau Anda menolak saya, saya merasa semakin tidak enak. Ayo, tidak baik juga membiarkan tamu kehormatan saya sampai terluka seperti ini. Apalagi, Anda sudah menyelamatkan Calon Istri saya. Iyakan Lav?” Ungkap Vasant yang di akhir kalimatnya meminta dukungan dari Lavly, kekasihnya.
“Iya, Dav. Aku bantu untuk mengobati luka-lukamu dulu ya. Setelahnya kalau kamu mau pulang, silahkan.” Lavly kini ikut berbicara, membujuk lelaki itu agar mau masuk terlebih dahulu.
“Baiklah, terima kasih Lav …” Davka berusaha mengulas senyuman di wajahnya walaupun akhirnya sedikit merintih lagi.
Davka tidak bisa menolak karna nyatanya Lavlylah yang membuatnya luluh dan ingin sedikit menghabiskan waktunya lebih lama lagi bersama dengan wanita itu. Akhirnya, Davka menurut untuk ikut bergabung bersama dengan mereka.
***
Davka diminta berbaring pada sebuah sofa berbentuk L yang berada di private room yang tadi mereka tempati. Davka tampak seperti orang yang sedang sakit. Di ruangan itu hanya tinggal Davka dan Lavly saja. Lavly sedang mengobati luka-luka Davka yang Stevan lakukan pada tubuh dan wajahnya. Andreas dan Arsyla sudah berpamitan pulang padahal Lavly tak ingin berpisah dengan Arsyla dulu. Tapi wanita itu berjanji akan menemuinya minggu depan setelah Arsyla pulang dari perjalanan bisnisnya ke USA.
“Auuu … sakit, Dok! Pelan-pelan Dok,” ucap Davka yang sedang merintih menahan sakitnya.
Ia juga sepertinya tampak sengaja membuat Lavly sedikit khawatir padanya kali ini.
“Maaf ya … bisa tahan sebentar?” tanya Lalvy yang langsung berhenti membubuhkan alkohol pada luka Davka.
“Sebentar Dok, sebentar …” Davka berusaha untuk memberikan isyarat agar Lavly menghentikan sejenak kegiatannya untuk membersihkan luka-luka yang ada di wajahnya.
Lavly menatap wajah Davka yang sedang merintih dan berusaha mentralkan wajahnya. Kali ini, wajah Davka yang terlihat memerah karna ditatap dalam-dalam oleh wanita yang sudah membuatnya merasa cemburu hari ini.
“Bi-bisa kita mulai lagi, Dok?” tanya Davka yang sepertinya malah jadi gugup karna tatapan Lalvy.
Lavly menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk berkonsentrasi dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan lelaki tampan yang sudah menyelamatkan hidupnya. Lelaki itu bahkan tampak berusaha menahan rasa sakitnya sambil terus menatap wajah Lavly yang sedang berkonsentrasi itu. Dan ternyata berhasil membuat dirinya memang terhipnotis dengan tatapan Lavly yang membuatnya nyaman.
“Mata Dokter bagus juga,” puji Davka pada Lavly yang sedang berkonsentrasi dengan luka-luka di wajah Davka.
“Terima kasih,” Lavly langsung tersenyum dan mengucapkan rasa terima kasihnya karna dipuji oleh Davka.
‘Kalau saja kita sama-sama tidak memiliki pasangan. Aku pastikan akan mengejar kamu Lav! Bahkan baru saja aku bertemu denganmu, aku sudah mulai memiliki rasa cemburu padamu. Padahal tadinya yang aku tau, hanya Larissa yang dapat membuatku cemburu seperti yang kamu lakukan dengan calon suamimu itu.’ Katanya dalam hati sambil terus menahan rasa sakit akibat luka yang sedang dibubuhkan cream untuk meredakan rasa sakitnya.
“Apa di dadaa atau di punggung kamu juga ada yang terluka?” tanya Lavly pada Davka.
“Saya ga tau, tapi sepertinya ada sedikit rasa sakit di sini!” Davka menunjuk bagian dadaa sebelah kirinya.
“Boleh aku lihat?” tanya Lavly yang sepertinya sedikit ragu untuk melihat pada bagian luka yang tadi Davka tunjuk.
“Apa tidak apa-apa?” tanya Davka balik pada wanita di depannya itu.
“Seharusnya, tidak masalah … aku pastikan hanya memeriksanya. Tapi jika kamu keberatan, tidak masalah.” Ucap Lavly yang tidak ingin mengganggu bagian dari privacy Davka.
Davka yang mendengar perkataan itu langsung mencoba untuk membuka kaos biru muda yang dikenakannya.
“Auuu …” Davka merintih ketika baru saja ingin meloloskan kaosnya yang dikenakannya.
“Boleh aku bantu?” tanya Lavly yang langsung berinisiatif untuk membantu lelaki itu untuk membuka kaos birunya.
Davka yang sepertinya mengerti jika dirinya memang tidak bisa membukanya seorang diri langsung menganggukkan kepalanya. Menyetujui penawaran yang Lavly berikan padanya. Terlihat dari tatapan matanya, lelaki itu memang sedikit ragu. Lavly langsung berdiri di depan Davka. Sedangkan Davka sendiri sudah merubah posisinya menjadi duduk menghadap Lavly. Tentunya, jangan lupakan tatapan mata mereka yang saling beradu satu sama lainnya. Seolah tidak ingin melepaskan tatapan satu sama lainnya. Lavly langsung membantu untuk membuka kaos Davka perlahan-lahan. Tidak ada rintihan yang diperdengarkan oleh Davka sampai wanita itu meloloskan kaos biru muda yang dikenakan Davka.
“Di mana yang sakit tadi?” tanya Lavly pada Davka.
“Di sini!” Davka langsung menunjuk luka pada dadaanya.
Dan benar saja jika memang terdapat lebam di bagian dadaa kirinya.
“Lebam,” ucap Lavly yang langsung memberikan cream pereda nyeri untuk Davka.
Setelahnya, Davka membawa tatapan Lavly tepat sejajar dengan matanya. Lavly tidak menolaknya. Dan entah dari mana keberanian itu berasal, Davka mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Lavly dan tak lama kemudian bibir mereka saling menyatu. Mereka mencecap rasa dari bibir masing-masing. Padahal Lavly tau, ada luka yang tadi Stevan buat pada bibir Davka membuat bibirnya berdarah. Rasa anyir dari bibir Davka yang terluka langsung terasa begitu saja. Lavly tidak keberatan dengan ciumannya. Bahkan ciuman itu membuat Lavly sedikit banyak jadi terbawa suasana dan malah menikmatinya. Ia bahkan memejamkan matanya dan membalas setiap cecapan yang diberikan oleh Davka.
“Maaf, Dok … saya terbawa suasana.” Davka langsung melepaskan ciumannya pada Lavly.
Lavly tampak kecewa karna ciumannya dengan Davka malah terlepas begitu saja. Jantung Lavly langsung mencelos begitu saja karna nyatanya, Davka meminta maaf dan membuat wajahnya bersemu merah.
“I-iya …” Lavly langsung membuang tatapannya ke arah lain. “Kamu minum obatnya dulu ya,” Lavly langsung berjalan menjauh untuk mengambil sebuah obat yang tadi ia taruh diatas meja yang berada di belakang Davka.
Davka hanya memperhatikan Lavly tanpa berkata apapun. Biar bagaimanapun, ia salah. Jelas sangat salah jika perasaan ini ia teruskan pada wanita yang sudah sangat baik padanya. Ada rasa bersalah yang muncul pada Larissa dan juga Vasant yang memiliki ikatan dengan dirinya dan Lavly. Tapi, ia tentu harus membuang jauh perasaan yang ia mungkin punya untuk Lavly sebelum berkembang lebih dalam lagi dan menyakiti perasaannya, Lavly, dan juga pasangan mereka masing-masing. Tentu ia tidak ingin melakukannya.
***
“Bagaimana kalian bisa kecolongan seperti itu? memangnya kalian tidak tau jika wanita itu adalah calon istri saya?” hardik Vasant pada seluruh anak buahnya yang bertugas untuk menjaga keamanan di Night Sky malam itu.
Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam tanpa ada satupun yang berani mengatakan sepatah katapun untuk menjawab kekesalan lelaki itu.
“Dalam hitungan kelima, jika kalian tidak mau mengakui kelalaian kalian. Maka saya akan memotong gaji kalian bulan ini!” sentak Vasant sekali lagi pada semua orang yang hadir di dalam ruangan itu.
“Siap kami salah!” ucap mereka serentak yang langsung membuat Vasant langsung terdiam.
“Lain kali, saya tidak mau lagi mendengar ada kesalahan seperti ini. Jangan sampai berita ini tersebar ke luar. Kalian mengerti?” cerca Vasant pada anak buahnya.
“Siap kami mengerti, Tuan!” kata mereka lagi dengan serentak.
Vasant langsung meninggalkan tempatnya setelah mendengarkan apa yang mereka katakan. Lelaki itu langsung ke luar dari ruangan itu dan segera ingin menemui Lavly yang ia tinggalkan untuk mengobati Davka. Namun, belum sampai ia ke ruangan itu, rasanya seperti tersambar petir. Karna nyatanya, ia melihat Davka dan Lavly sedang bercumbuu mesra di ruangan private yang ia sediakan untuk mereka berdua. Vasant bisa melihatnya dari kaca besar yang terpasang di muka ruangan itu. Dan ruangan itu bisa melihat ke bawah. Begitu juga sebaliknya. Vasant biasanya menggunakan ruangan itu untuk mengontrol keadaan Night Sky jika sedang berkunjung. Lelaki itu langsung mengepalkan tangannya hingga buku-buku tangannya memutih. Ia benar-benar tak terima jika ada lelaki lain yang dengan sengaja ingin menyentuh kekasihnya.
Setelah berapa detik menenangkan dirinya, Vasant akhirnya berjalan kembali ke ruangan private tempat Davka dan Lavly berada. Ia akan berusaha menyembunyikan rasa cemburunya tadi dari Davka dan Lavly. Ia masih tidak mengerti kenapa Lavly sama sekali tidak menolak ciuman dari lelaki lain? Atau mungkin mereka berdua ada hubungan khusus di belakangnya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di otaknya. Entahlah, ia berusaha untuk tidak terlalu befikiran negatif pada Lavly. Biar bagaimanapun, ia dan Lavly saling mencintai. Lavly juga takkan mungkin mengkhianatinya dengan lelaki lain yang baru saja ia kenal. Setelah ini tentu saja, ia harus meminta Andreas untuk mencari tau tentang latar belakang lelaki bernama Davka yang sedang mencoba mendekati kekasihnya itu.
***