“Lavly!” sapa Vasant dengan senyuman ketika ia baru saja membuka pintu ruangan itu.
Lavly langsung menghampiri Vasant dan langsung masuk ke dalam pelukannya. Tentu saja, Lavly melakukan ini hanya untuk membuat dirinya menyangkal perasaannya pada Davka. Ia hanya tidak ingin berpaling dari Vasant pada sosok lelaki yang baru beberapa jam ini ia kenal.
“Hi! Kamu dari mana saja?” tanya Lavly yang langsung bertingkah manja pada lelaki yang sudah hampir 6 tahun itu ia pacari.
“Aku tadi habis meeting dengan anak buahku, apa kamu mau pulang sekarang? Sudah selesai dengan Davka kan?” tanya Vasant di akhir kalimatnya.
“Iya, kami sudah selesai.” Kata Lavly dengan arti kalimat yang membuat Vasant sedikit mengerutkan keningnya.
“Maksudku, aku sudah selesai mengobatinya.” Lavly tersenyum dan membuang pandangannya ke arah lain.
Takut-takut jika lelaki itu akan mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya dan Davka tadi.
“Baiklah, kita pulang. Davka, apa Anda membawa mobil? Atau mau saya antarkan Anda ke rumah?” tanya Vasant yang melihat Davka berjalan ke arahnya.
“Saya akan pulang sendiri saja. Terima kasih karna Dokter Lavly sudah membantu saya untuk mengobati luka saya,” di akhir kalimatnya Davka menatap ke mata Lavly yang juga sedang menatapnya.
Tentu saja Lavly masih berada di pelukan Vasant, kekasihnya.
“Tidak perlu sungkan. Saya yang seharusnya berterimakasih atas bantuan Anda,” Vasant tersenyum.
Ia mengerti dan seolah tau situasi apa yang sedang terjadi dengan Davka dan Lavly saat ini.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter Lavly dan Tuan Vasant.” Kata Davka yang langsung meninggalkan Vasant dan Lavly di ruangan itu.
Vasant mengangguk untuk menanggapi kata-kata berpamitan dari Davka. Setelah kepergian Davka, hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Vasant langsung menyambar bibir Lavly dengan sangat terburu-buru. Ia ingin menghapuskan jejak bibir Davka di atas bibir wanitanya itu. Ciuman yang sangat terburu-buru membuat Lavly sedikit banyak jadi terhuyung ke belakang. Namun tentunya Vasant sudah mempersiapkan segala kemungkinan. Sehingga, dengan sigapnya lelaki itu memeluk pinggang Lavly untuk ia tetap bisa menguasai diri wanitanya.
Vasant langsung menempelkan Lavly di kaca besar yang menjadi muka ruangan itu. Tentunya agar Davka bisa melihat jika wanita yang tadi sempat ia kuasai adalah wanitanya. Miliknya, bukan milik lelaki itu. Vasant sengaja membuat Lavly semakin relax dan mengalungkan tangannya di lehernya. Dan ya, ketika sedang menaiki tangga di sebrang ruangannya bersama dengan Lavly. Davka bisa melihat dengan jelas adegan apa yang sedang dilakukan oleh Vasant pada wanita yang tadi ia kecup bibirnya.
Davka terdiam sebentar. Tatapannya beradu pandang dengan Vasant yang masih dengan mesranya memeluk pinggang ramping Lavly. Dari kaca besar itu terlihat jelas jika Lavly dan Vasant saling menginginkan satu sama lainnya. Tentunya, Vasant memang sengaja membiarkan kaca itu bisa terlihat dari tempat Davka berdiri saat ini. Lelaki itu memang sengaja membuat kaca besar di ruangan itu agar ia bisa mengontrol keadaan di clubnya dari segala arah. Namun jika ia menginginkannya, ia tentu bisa membuat kaca berukuran besar itu menjadi gelap dan tidak bisa terlihat kegiatannya di dalamnya.
Tentu saja, ia ingin memarmerkan pada Davka jika ia adalah pemilik Lavly seutuhnya, bukan dirinya. Dadaa Davka kembali sakit karna melihat adegan yang lagi-lagi seharusnya tidak perlu ia lihat. Rasa cemburunya bahkan semakin memuncak kala melihat ciuman Vasant yang sudah turun ke leher Lavly dan membuat wanita itu sepertinya sudah tidak bisa lagi berdiri dengan benar. Tatapan Vasant tentu saja masih ke arah Davka. Walaupun ia masih sangat bisa menguasai Lavly. Tatapan Davka dan Vasant sangat tajam dan menusuk. Vasant kemudian mengambil remote dari dalam kantung jasnya dan mengubah kaca besar itu menjadi gelap dan tidak dapat terlihat oleh siapapun. Kali ini Vasant sudah merasa sangat puas karna nyatanya ia bisa sangat mengetahui jika Davka memang benar memiliki ketertarikan pada Lavly, kekasihnya. Davka juga sudah berhasil ia buat cemburu dengan memperlihatkan adegan mesranya antara dirinya dan Lavly.
“Aku takut sekali kehilanganmu, Lav.” Bisik Vasant yang langsung memulai lagi permainan bibirnya di leher wanita itu dan meninggalkan beberapa kissmark.
Lavly sudah tidak bisa membalas ucapannya. Yang hanya ia bisa lakukan hanya menikmati segala sentuhan yang Vasant lakukan padanya.
***
“Hai Sayang, kamu baru pulang?” tanya Larissa yang langsung menyapa Davka ketika lelaki itu baru saja memasuki ruang keluarga di mansion mereka.
“Loh, kamu juga baru pulang?” tanya Davka balik yang nampaknya terkejut dengan wanita yang sudah dinikahinya itu kini sudah berada di rumah.
Walaupun sekarang ini sudah terbilang dini hari. Davka mendekat ke arah Larissa yang masih sibuk dengan mengeluarkan beberapa barang-barang dari kopernya. Davka juga langsung mengecup pipi Larissa yang masih terlihat sibuk mengeluarkan barang-barangnya. Davka duduk di sofa berbentuk L dan langsung mengambil remote tv untuk mengisi kekosongannya sambil menunggu Larissa yang sedang membereskan entah apa itu.
“Nih, sale pisang kesukaan kamu. Tadi ada temanku memberikan ini.” Kata Larissa yang membawakan sebungkus sale pisang dan duduk di sebelah Davka.
Begitu Davka menoleh ke arahnya, Larissa langsung membulatkan matanya.
“Kamu habis baku hantam sama siapa?” tanya Larissa yang menangkup wajah suaminya itu.
Walaupun sesungguhnya, Davka masih tidak mengetahui apakah kekhawatirannya sungguhan atau hanya akting belaka. Tapi itu cukup membuat hati Davka sedikit tenang karna nyatanya Larissa masih memiliki rasa kekhawatiran untuknya.
“Tadi ada seorang wanita yang dikasari kekasihnya. Kasihan sekali, dia tampak ketakutan. Jadi aku bantu.” Ujar Davka berbohong.
“Kamu habis minum?” Larissa mengibas tangannya karna dari Davka langsung mengoar wangi minuman beralkohol.
“Heeh, sedikit.” Davka langsung meraih pinggang Larissa dan menaruh dagunya di bahu wanitanya.
“Memangnya kamu lagi ada masalah? kenapa sampai minum-minum segala?” tanya Larissa kini yang dengan lembut menanyakan hal itu pada suaminya.
Wanita itu jika sedang datang mood bagusnya pasti terlihat sangat manis dengan Davka. Tapi jika sedang tidak mood maka ia bisa saja pergi menjauh dari lelaki itu.
“Aku hanya merasa kesepian saja karna nyatanya kamu sering tidak berada di sisiku, Sa. Kamu memangnya tidak rindu padaku jika tidak pulang berhari-hari?” Davka kini mulai mengeluarkan isi hatinya.
Larissa tersenyum, ia sepertinya sudah tau jika Davka sedang merasa tidak baik-baik saja. Ia kemudian membawa Davka ke dalam pelukannya.
“Tentu aku merindukanmu, Davka. Tapi kamu kan tau aku harus bekerja dan memenuhi semuanya.” Kata Larissa.
“Aku bisa memenuhi semua keinginanmu, Sa. Tapi kenapa kamu tidak pernah mau berhenti dari perkerjaanmu?” tanya Davka yang kini melepaskan pelukannya.
Lelaki itu tampak kesal dengan ucapan istrinya. Seolah ia tidak dianggap oleh Larissa.
“Karna aku takut semua kemewahan yang aku miliki hilang begitu saja. Aku jelas masih menginginkan ini semua Davka. Aku rasa gaji yang kamu miliki tidak akan bisa memberikan semua yang aku inginkan.” Larissa kini bertingkah sangat menyebalkan.
Deg, jantung Davka seperti ingin mencelos keluar dari tempatnya. Davka tak menyangka jika Larissa akan mengatakan ini padanya. Ia sungguh tidak terima jika Larissa mengatakan hal yang begitu menyakitkan untuknya. Ia merasa sangat diinjak-injak harga dirinya sebagai seorang laki-laki oleh istrinya itu.
“Larissa! Kamu itu!” Sentak Davka langsung pada istrinya.
Davka bahkan langsung berdiri dari sofa yang tadi di dudukinya dan menatap Larissa yang sedang membesarkan kelopak matanya karna tak mau kalah disentak oleh suaminya sendiri.
“Kamu itu jadi Istri pembangkang ya? Kamu itu tidak tau terima kasih, Larissa.” Davka benar-benar tak terima dengan ucapan sang istri padanya.
“Loh, memang benarkan kenyataannya. Kamu itu hanya bawahan dari ayah angkatmu. Kalau kamu itu sudah jadi Jendral, baru kamu boleh bicara seperti itu sama aku!” kata Larissa lagi dengan nada tak kalah tinggi.
“Keterlaluan sekali kamu itu, Sa? Kamu ga ada bersyukurnya sekali jadi istri, selama ini semua yang kamu inginkan selalu aku penuhi. Kamu minta apapun selalu aku berikan. Kamu bahkan meminta untuk menunda momongan sampai bertahun-tahun seperti ini aku berikan padamu. Apalagi yang kamu bilang aku tidak bisa memenuhi keinginanmu?” Davka bahkan kini sudah mengangkat tangannya ke udara, bersiap untuk mendaratkan tamparan pada pipi istrinya itu.
“Tampar aku! memang kenyataannya seperti itu asal kamu tau. Bahkan banyak lelaki di luar sana yang mau memberikanku kemewahan. Tapi aku masih menghormatimu sebagai seorang suami.” Tantang Larissa pada suaminya yang terlihat tidak terima pada semua ucapannya.
“Lalu apa maumu?” tanya Davka kali ini dengan nada yang tak kalah ia tinggikan dari yang Larissa ucapkan.
“Mau ku …”
Tak lama bi Onah datang dengan langkah yang tergopoh-gopoh. Mungkin tidurnya terganggu karna percakapan suami istri itu yang mengganggunya dini hari ini.
“Tuan jangan Tuan! Non sudah jangan memancing kemarahan Tuan terus.” Ucap bi Onah menengahi pertengkaran Davka dan Larissa.
Bi Onah bahkan terlihat mengeluarkan tangisannya karna terlalu sedih dengan sikap Larissa yang tidak bisa menghormati Davka sama sekali.
“Jangan ikut campur urusan saya dengan Davka, Bi! Bibi itu hanya pembantuu di sini!” cerca Larissa kali ini berkata dengan kasar.
“Larissa! Kamu!” Davka semakin kesal dengan ucapan yang baru saja Larissa ucapkan pada bi Onah yang jelas-jelas sudah sangat baik padanya.
Davka langsung melebarkan matanya. Larissa kini malah pergi ke kamarnya dan meninggalkan Davka dan bi Onah di ruang keluarga tanpa mengucapkan sepatah katapun pada mereka berdua.
“Maafkan Larissa ya Bi,” ucap Davka yang menyampaikan maafnya pada wanita yang sudah membuat hidupnya nyaman di rumah itu.
“Saya tidak apa-apa Davka. Saya memang hanya pembantuu di sini. Saya tau diri.” Ucap bi Onah dengan wajah sedihnya.
“Bukan Bu, Ibu adalah Ibu asuhku. Tolong jangan bicara seperti itu ya,” pinta Davka yang semakin merasa tidak enak pada bi Onah.
“Sudah, saya tidak apa-apa, Davka. Ibu hanya berpesan padamu, jika kamu dan Larissa bertengkar lagi. Jangan pernah kasar padanya. Dia itu wanita yang tetap harus kamu hormati sekalipun dia itu tidak pernah menghormati kamu sebagai suaminya.” Pesan bi Onah pada Davka yang sedang menahan kekesalannya pada sang istri.
Davka hanya bisa mengangguk. Bi Onah memang benar. Davka memang seharusnya tidak melakukan hal kasar sekalipun lelaki itu dipancing untuk melakukan kekerasan pada istrinya sendiri. Tapi Larissa juga sudah sangat keterlaluan.
“Saya kembali dulu ke kamar ya, Davka. Kamu bicarakan baik-baik dengan istrimu dengan kepala dingin. Jangan menggunakan kekerasan,” Bi Onah kemudian pergi dari sana.
“Terima kasih, Bi.” Ucap Davka kemudian memberikan senyuman di wajahnya.
Walaupun senyuman itu sangat terpaksa untuk ia perlihatkan pada bi Onah.
***
Davka berjalan dengan gontai menuju kamar tamu di mansionnya. Ia benar-benar tak menyangka jika pembahasan bersama dengan Larissa, kembali membuatnya terluka. Davka hanya ingin istirahat saja. Tiba-tiba ia rindu pada ibunya. Kebetulan besok ia lepas dinas dan bisa mengunjungi ibunya yang tinggal di Pangalengan untuk sedikit menyegarkan otaknya karna masalahnya dengan Larissa yang tidak pernah menemui titik temu.
“Ibu!” sapa Davka pada ibunya melalui sambungan telpon.
“Davka? Ada apa Nak? Kenapa kamu menelpon ibu malam-malam begini? Kamu baik-baik sajakan?” Ibu Davka langsung membrendel Davka dengan berbagai pertanyaan.
Sepertinya ia mengetahui jika sedang terjadi sesuatu dengan anak sulungnya itu. Davka tak langsung menjawabnya. Ia memijit sedikit keningnya yang terasa pening karna pengaruh minuman dan juga perkataan Larissa yang sudah cukup melukai hatinya.
“Davka? Kamu baik-baik saja Nak? Jangan buat ibu khawatir.” Ibu terus berusaha untuk menemukan jawaban dari segala pertanyaannya.
“Ibu besok tidak ke mana-mana kan?” tanya lelaki itu akhirnya mau membuka suara setelah cukup lama terdiam.
“Tidak, ibu di rumah saja. Istirahat. Kenapa? Apa kamu akan ke mari bersama istrimu?” tanya ibu Davka dengan penuh kelembutan.
Dari nada bicaranya, ada pengharapan yang ingin sekali ia capai. Ia mungkin juga rindu pada anak sulungnya itu.
“Iya, besok Davka ke sana. Tapi mungkin tidak dengan Larissa. Aku rindu sekali pada Ibu.” Ucap Davka yang menahan isakkannya.
“Ibu juga rindu, Nak padamu. Baiklah, ibu tunggu ya Nak. Kamu hati-hati jangan ngebut ya bawa mobilnya.” Kata sang ibu yang terdengar lega karna anaknya besok akan menemuinya.
Mungkin sudah 5 bulan yang lalu Davka memang tidak bertatap muka langsung dengan sang ibu. Terakhir kali juga ia ke sana, tentunya tanpa Larissa, istrinya. Dan kali ini, sudah pasti wanita itu takkan ikut bersamanya lagi. Karna Larissa pasti tidak akan mau mengunjungi ibu mertuanya. Bahkan sejak menikah saja, Larissa mungkin hanya bertemu dengan ibu Davka hanya 3 kali. Itupun tidak pernah banyak menghabiskan waktu dengan wanita yang sudah melahirkan suaminya itu. Tapi begitulah, ibu Davka tetap memaklumi menantunya sekalipun ia tidak tau bagaimana perlakuan Larissa pada Davka selama ini.
Davka selalu menutupinya. Hanya saja yang ibunya sangat tau, Larissa adalah wanita yang sangat boros dan tidak pernah bisa memegang uang sedikitpun. Wanita itu selalu membeli barang-barang yang tidak pernah ada fungsinya dan sesuai dengan keperluannya. Yang ia tau, bagaimana caranya menghabiskan uang tanpa harus terlihat jelek di mata orang lain. Yang ia inginkan, orang lain harus melihatnya serba mewah dan glamour.
“Aku tutup ya Bu, maaf mengganggu istirahat Ibu.” Pamit Davka pada sang ibu.
“Iya, Nak. Kamu istirahat ya,” kata ibu Davka yang langsung mematikan sambungan telponnya.
Davka kemudian merebahkan tubuhnya pada ranjang dan mencoba untuk segera tertidur pulas agar ia dapat melupakan masalahnya dengan sang istri yang sedikit banyak mengganggunya.
***