“Hi Sayang, kamu sudah sampai rumah?” sapa seorang lelaki yang terdengar begitu senang mendapatkan telpon darinya.
“Hi, kamu dimana?” tanyanya balik pada sosok lelaki yang selalu menjadi penyemangatnya akhir-akhir ini.
“Aku baru sampai di penthouse, kamu udah sampai rumah? Kok bisa telpon aku? memangnya Davka belum sampai rumah?” tanya lelaki itu pada wanita yang sepertinya sedang tidak ingin mendengar nama suaminya disebutkan.
“Aku sudah sampai di rumah. Davka malah cari masalah sama aku. Jadilah mengunci diriku di kamar. Biar saja dia tidur di luar. Aku tidak perduli!” ucapnya terdengar sangat acuh.
“Loh, kenapa lagi dengan suamimu itu, Sa?” tanya Divyant yang mencoba mencari tau tentang apa yang sedang terjadi dengan kekasihnya.
“Biasalah cari gara-gara terus sama aku. Atau aku ke penthousemu saja?” tanya Larissa yang sepertinya sudah malas jika besok pagi malah bertemu dengan suaminya itu.
“Jangan, Sa. Sudah malam, kalau kamu ada apa-apa gimana? Aku juga yang akan khawatir sama kamu. Besok pagi aja ya kita ketemuan,” ucap Divyant lagi sambil berusaha menenangkan Larissa yang memang tidak betah jika satu atap dengan Davka, suaminya sendiri.
“Ahh, ya. Kamu benar, ini sudah larut malam. Aku juga tidak berani jika harus menyetir sendiri semalam ini,” Larissa terdengar mengurungkan niatnya untuk menysul Divyant ke penthouse lelaki itu.
“Coba, sekarang kamu ceritakan dengan rinci, kenapa kamu dan Davka bertengkar lagi? Dia itu sayang sekali padamu, Sa. Aku lihat kalian ketika makan malam bersama dengan adiknya. Kalian seperti pasangan yang sangat bahagia, kenapa sekarang malah bertengkar lagi?” Divyant mengungkapkan apa yang sudah beberapa hari ini ia pendam karna cemburu pada wanitanya.
“Kamu melihat kami? Dimana?” tanya Larissa yang langsung membulatkan matanya.
“Di Tasty Resto, saat itu aku baru saja selesai dengan clientku. Aku melihat Davka masuk. Tak lama, seorang lelaki mendatangi kalian dan aku sangat yakin sekali jika itu adalah adik dari suamimu.” Divyant tersenyum.
“Ah … ya benar sekali, kami memang makan malam saat itu.” Larissa yang kemudian mengingat detail kejadian yang terjadi saat itu dengan Davka dan Dipta.
“Sekarang, kamu sudah mau cerita ada masalah apa kamu dengan Davka?” tanya Divyant sekali lagi.
***
Larissa turun dari kamarnya. Wanita itu sudah siap akan berangkat dengan koper yang sudah ia bawa bersamaan dengannya. Tidak biasanya wanita itu menyiapkan keperluan shootingnya sendiri. Biasanya selalu ada dua orang asistennya yang selalu memperlakukan wanita itu layaknya seorang ratu. Tak lupa Larissa menyampirkan tas branded berwarna hitam yang talinya terbuat dari rantai berwarna gold. Mala kemudian datang dan membawakan koper berwarna pink mudanya itu ke mobil. Larissa melangkah ke meja makan dan langsung duduk di tempatnya.
Sudah ada beberapa menu makanan yang tersaji di sana. Kalau biasanya Larissa hanya memakan beberapa lembar roti gandum dan susuu hangat, kali ini wanita itu meminta soup cream dan juga roti gandum yang sudah dipanggang untuk segera dihidangkan di mejanya. Untung saja, soup cream yang biasa Larissa makan tidak pernah sulit untuk membuatnya. Jadilah, bi Onah langsung membuatkan untuknya walaupun wanita itu memerlukan waktu beberapa menit untuk menunggu. Selagi menunggu, Larissa menyesap jus jeruk dan juga mengecek akun medsosnya.
Ketika Larissa sedang menunggu makanannya siap untuk dihidangkan oleh bi Onah, Davka keluar dari kamar tamu dan sudah siap dengan jaket denim berwarna biru dongker dan kaos putih polos yang melengkapi penampilannya hari ini. Lelaki itu berjalan ke meja makan dan mendaratkan bokonggnya tepat dikursi di depan Larissa. Wanita yang sedang menekuri ponselnya itu nyatanya sedikit terganggu dengan kehadiran lelaki yang berstatus suaminya itu.
“Ngapain sih? Bukannya biasanya kamu udah berangkat?” tegur Larissa yang nyatanya protes dengan kehadiran Davka di depannya.
“Memangnya ga boleh? Aku lepas dinas hari ini. Jadi aku mau pergi ke rumah Ibu. Kamu mau ke mana pagi-pagi udah rapi?” tanya Davka yang tentu saja masih ingin tau ke mana istrinya itu akan pergi.
“Ya mau shootinglah,” jawabnya acuh lalu kemudian kembali menekuri ponselnya.
Davka tak bicara apapun lagi setelahnya. Ia langsung mengambil kopi yang baru saja dihidangkan oleh bi Onah dan menyesap kopi hangatnya.
“Aku berangkat,” kata Davka yang langsung berdiri dari tempat duduknya setelah menghabiskan kopi hangatnya buru-buru.
“Hemmm …” Larissa hanya berdehem dan tak mengatakan apapun lagi.
Davka juga sempat mengulurkan tangannya di depan wajah Larissa. Sekalipun sedang ngambek, tapi Larissa selalu mau untuk mencium tangan Davka, suaminya jika lelaki itu menyodorkan tangannya padanya.
*** “Davka!” panggil Mala ketika melihat Davka keluar dari pintu mansionnya.
“Hi Mala, apa kabar? Lama tidak bertemu.” Ucap Davka ramah dan tersenyum pada asisten Larissa yang memang paling lama ikut dengan istrinya itu.
“Baik, Dav. Larissa biasanya langsung menyuruhku untuk menunggu di lokasi shooting. Jadi aku tidak pernah ke sini bertemu denganmu.” Mala membalas keramahan yang Davka tampilkan padanya.
Davka hanya membulatkan bibirnya, memberikan isyarat bahwa dirinya mengerti apa yang dikatakan oleh Mala barusan. Lelaki itu juga menganggukkan kepalanya perlahan.
“Mau ke mana? Sepertinya ga dinas ya hari ini?” tanya Mala lagi yang menyadari jika Davka tidak mengenakan seragam kebesarannya seperti biasanya.
Memang sih, di hari-hari tertentu Davka memang tidak mengenakan baju seragamnya. Namun kali ini, Davka tampak semakin berbeda karna mengenakan jaket denim yang baru Larissa belikan beberapa hari yang lalu.
“Iya, aku mau ke Pangalengan Mal. Kalau begitu aku duluan ya. Takutnya nanti malah macet dan kesiangan.” Ucap Davka sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
“Baiklah, hati-hati Dav. Salam pada Ibu dan eyang kakungmu. Semoga beliau sehat semuanya ya. ” Mala tersenyum.
“Nanti akan aku sampaikan,” Davka tersenyum lalu memasukkan tas ranselnya ke bangku penumpang di samping kursi pengemudi.
Tak lupa, lelaki itu mengenakan sneakers dari brand favoritenya lalu melaju dengan mobilnya yang sudah dibersihkan oleh pengurus rumah tadi pagi. Setelah 5 menit Davka berangkat, Larissa baru saja keluar dan menegur Mala yang tadi asyik berbincang dengan suaminya.
“Jangan terlalu akrab dengan suami orang, apa Mba mau dibilang pelakor?” Sinis Larissa pada Mala yang sedang duduk di teras mansionnya setelah bertegur sapa dengan Davka tadi.
“Apa sih kamu? mangkanya kalau punya suami tuh dijaga, jangan maen di belakangnya dan mengkhinati cintanya. Punya suami udah baik, tampan, punya kedudukan bagus kok malah disia-siain. Kayanya emang kepala kamu perlu di periksa deh, Sa. Ada yang salah sama otakmu!” Ujar Mala dengan kata-kata sindiran untuk membuat Larissa semakin kesal padanya.
“Hiiiihhhhh ….” Larissa menghentak-hentakkan kakinya karna tak terima dengan ucapan Mala yang malah menyalahkan dirinya dan mengungkit hubungannya dengan Divyant.
***
Davka menyetir sendiri menuju rumah eyang kakungnya. Di Pangalengan, ibu dan eyang kakungnya hidup berdua saja. Setelah bercerai dengan ayah Davka, ibu lebih memilih untuk tinggal bersama dengan ayah kandungnya dan merawatnya. Karna memang hanya ibu yang eyang kakung punya selain eyang putri yang sudah 5 tahun lalu meninggal karna penyakit komplikasi yang dideritanya.
Begitu melihat kerumunan anak kecil yang sedang bermain di halaman balai desa, Davka langsung memutuskan untuk mampir sebentar ke sana, mengambil kemungkinan jikalau eyang kakung dan ibunya mungkin berada di sana. Davka memutuskan untuk memarkirkan mobilnya dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan aula balai desa.
Ternyata, di sana sedang ada penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan dari Jakarta untuk masyarakat sekitar. Memang, biasanya setiap 3 bulan sekali, warga desa akan didata untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter dari Jakarta biasanya akan datang ke sana dan melakukan pemeriksaan. Di desa, ada sebuah klinik yang memang berfungsi dengan baik. Jadi biar lebih lengkap lagi kesehatan warga desanya, eyang Davka yang sejak dulunya sudah bertugas di Jakarta meminta salah satu rumah sakit yang ia percayai untuk mengirim beberapa dokter ke sana setiap 3 bulan sekali.
Davka mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari-cari sosok ibu dan eyangnya yang memang terkenal di desa itu. Di desa itu, eyang kakungnyalah yang menjadi tetua dan selalu dipercaya oleh kepala daerah untuk berdiskusi untuk kemajuan desanya. Bisa dibilang, eyang kakung juga adalah saudagar yang paling disegani di desa itu. Banyak warga desa yang mata pencahariannya bergantung pada eyang Davka yang merupakan seorang pensiunan polisi dan sekarang menjadi pengusaha di bidang peternakan dan perkebunan di sana.
Davka terkejut, kala melihat seorang wanita cantik yang baru kemarin ia lihat di Hospi Hospital dan ia selamatkan dari lelaki menyebalkan di Night Sky club, milik kekasih wanita itu ada di sana. Di tempat yang sama dengannya saat ini. Wanita yang sedang memeriksa anak-anak kecil dengan penuh keramahan itu nyatanya adalah Lavly. Wanita yang sempat ia nikmati bibirnya karna terlalu menggoda untuk ia cecapi rasanya saat sebelum ia pulang dari Night Sky. Wanita yang nyatanya membuat dirinya cemburu karna terlihat beradegan mesra pada kekasihnya.
“Davka!” panggil seorang wanita yang tentunya suaranya sudah ia hafal sejak masih di dalam kandungan.
“Ibu,” Davka merentangkan tangannya seperti minta dipeluk oleh wanita yang sudah melahirkannya itu.
“Kamu sudah sampai cepat sekali! Jangan-jangan kamu ngebut ya?” kata ibu dengan senyum sumringah yang ia pasang di wajahnya.
Ibu tentu langsung membalas pelukan anaknya. Anak sulungnya yang begitu ia rindukan selama hampir 5 bulan ini tidak bertatap muka.
“Engga kok Bu, memang jalanannya lagi sepi aja. Jadi Davka cepat sampai sini.” Ujar Davka yang masih betah memeluk ibunya.
“Loh, loh! Itu wajah kamu, kenapa Dav?” tanya sang ibu yang kini merubah raut wajahnya menjadi cemas.
Ibunya juga langsung menangkup wajah anaknya itu karna ingin melihat wajah anaknya secara jelas dan lebih dekat.
“Biasa Bu, kenakalan anak laki-laki!” ucapnya diiringi seringaian pada wajahnya.
“Kamu itu! sudah beristri masih saja suka baku hantam. Ga kasian apa sama istrimu?” ucap ibu yang kini malah memarahi anaknya yang menganggap enteng lebam dan luka yang ada pada wajahnya.
“Ga usah difikirkan, Davka baik-baik saja Bu.” Davka kemudian memeluk ibunya sekali lagi.
“Ya sudah, ayo kita pulang.” Ajak sang ibu pada Davka.
“Eyang mana? Biasanya kalau ada acara di Balai Desa, selalu ada eyang.” Davka malah mengedarkan pandangan lagi ke segala arah mencari keberadaan eyangnya.
“Eyang di rumah. Tadi sudah selesai dengan pemeriksaannya. Jadi dibantu Amin untuk pulang ke rumah duluan. Ibu karna belum diperiksa, mangkanya minta ditinggal saja, biar eyangmu bisa istirahat.” Ucap ibunya dengan penuh kelembutan.
Davka mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan ibunya dengan rinci. Davka mencuri-curi pandang pada Lavly yang nyatanya sedang berkonstrasi pada seorang anak lelaki yang bersiap untuk mendapatkan suntikan yang Davka sendiri tidak tau jenis suntikan apa yang akan diberikan pada bocah kecil yang mungkin usianya baru sekitar 6 atau 7 tahunan itu. Sampai detik ini, Lavly masih belum menyadari keberadaan Davka di sana.
“Yuk, kita pulang. Badan ibu sudah pegal semua. Untung ada kamu yang ngeh ke sini. Jadi ibu ga usah tunggu Amin lagi.” Ucap Deva yang langsung mengamit tangan anak sulungnya itu.
“A-ayo Bu,” kata Davka yang tersadar dengan keberadaan sang ibu yang ingin mengajaknya pulang.
***
Sesampainya di sebuah rumah dengan halaman yang besar dan luas itu, Davka memarkirkan mobilnya di sana. Ia langsung memasang senyuman ketika melihat sosok lelaki yang menjadi panutannya sedang asyik membaca koran di teras rumah megah itu. Di sebelahnya ada secangkir yang ia yakini berisi kopi. Dan benar saja, ketika ibunya dan Davka mendekat pada eyang kakung. Lelaki baya itu lalu menurunkan korannya dan memasang senyuman untuk menyambut cucu kebanggannya yang datang bersama dengan putri kesayanganya.
Tapi, keningnya malah berkerut karna nyatanya, Davka tidak membawa istrinya lagi seperti biasanya. Lelaki itu datang seorang diri untuk mengunjungi dirinya dan ibunya. Senyumannya seketika luntur ketika melihat Davka benar-benar datang seorang diri sambil merangkul ibunya berjalan mendekat padanya.
“Mana istrimu?” tanya eyang kakung begitu Davka mengambil tangan tuanya untuk ia cium.
“Davka ke sini sendiri, Eyang. Dia sibuk, jadi dia ga bisa ke sini. Tapi dia mengirimkan salam untuk Eyang dan Ibu. Katanya maaf tidak bisa ke sini.” Ucap Davka sekenanya dan sedikit berbohong tentunya.
“Istri macam apa yang tidak pernah mengujungi eyang dan mertuanya. Sudah seharusnya kamu itu tidak menikahi dia, Davka! Eyang tidak habis fikir kenapa kamu masih mau menikahi wanita yang sudah berani berkhianat sebelum hari pernikahanmu. Ciiih,” Eyangnya langsung bersedekap daada dan tampak sangat marah karna nyatanya Larissa lagi-lagi tak mendampingi cucu kebanggannya itu untuk berkunjung ke sana.
“Eyang jangan marah-marah dong. Kan Davka ke sini karna kangen sama Ibu dan Eyang. Sudah jangan bahas Larissa ya. Nanti kalau darah tinggi Eyang kambuh, kita ga jadi kangen-kangenannya dong.” Davka berusaha mencairkan suasana agar eyangnya itu tidak semakin membenci istrinya.
Memang dari dulu, eyang adalah salah satu orang yang menentang pernikahannya dengan Larissa. Karna Larissa adalah sosok wanita yang tidak baik menurut eyang kakung dan eyang putrinya. Larissa jugalah yang pernah mengkhianati Davka sebelum hari pernikahannya. Hal itulah yang membuat eyang kakungnya tidak memberikan restu pada pernikahan Davka.
“Kamu ini. Lalu itu kenapa wajahmu pada lebam? Sudah tua masih saja bertengkar!” tanya eyang kakung pada Davka.
“Kenakalan laki-laki, Eyang.” Jawab Davka sekenanya lagi.
Tentu saja diiringi dengan seringaian seperti tadi ia menjawab pertanyaan yang sama seperti yang ibunya tanyakan ketika di Balai Desa.
Eyang kakung hanya menggelengkan kepalanya pelan dan berdecih seperti sudah hafal betul dengan kelakuan cucu pertamanya itu.
“Ayo masuk!” ajak eyangnya pada Davka.
“Siap Komandan!” Davka memberikan hormat sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.
“Dev, jangan lupa masakkan makanan kesukaan Davka.” Pinta eyang kakung pada ibu Davka yang masih setia berdiri di samping anak sulungnya.
“Iya Yah, akan Deva masakkan. Semuanya memang sudah Deva persiapkan karna tau Cucu kebanggaan Ayah ini akan datang.” Deva tersenyum lalu pergi masuk ke dalam lebih dulu.
Davka langsung membantu eyang kakungnya itu untuk berdiri dan kemudian berjalan mengiringinya.
***