Davka langsung melangkah menuju kamarnya. Kamar yang sejak dulu menjadi bagian di hidupnya setelah ayahnya benar-benar pergi meninggalkan ibu, dirinya, dan adik semata wayangnya. Kamar yang menjadi saksi dirinya ketika mengubur rasa kecewa terhadap ayah yang sudah tega mengkhianati ibunya. Kecewa yang entah sampai kapan akan dibawa oleh Davka sendiri hingga seberapapun ayahnya mengiba untuk bertemu dengannya, ia takkan mau melakukannya.
Davka melepaskan jaket denim pemberian sang istri dan menyampirkannya di bahu kursi belajar yang menjadi saksi perjuangannya menamatkan sekolahnya kala itu. Lelaki itu membuka lacinya dan mengambil sebuah buku yang agak sedikit tebal dan memiliki sampul yang sedikit kecoklatan. Buku itu adalah journalnya. Begitu ia membuka buku tebal itu, ia menemukan foto keluarganya. Ada kedua orangtuanya yang tersenyum ke kamera, ada dirinya sendiri, Dipta, eyang putri, dan tak ketinggalan eyang kakungnya.
Dipta dan Davka duduk paling depan dan saling bergandengan tangan juga tersenyum menatap ke kamera. Begitu juga dengan kedua orangtuanya dan kedua eyangnya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja karna begitu rindu dengan keharmonisan keluarganya yang selalu ia banggakan pada siapapun. Sayangnya, dengan pengkhianatan yang ayahnya lakukan, sirna semua kebahagiaan juga keharmonisan itu. Bahkan Davka tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya sejak ia meninggalkan rumah yang menjadi saksi untuk dirinya, ibunya, dan Dipta dikhianati oleh lelaki tua itu.
Dulu pernah sekali ayahnya pernah datang ke rumah eyang untuk bertemu dengan Davka dan Dipta. Itupun setelah setahun perceraian dengan Deva, ibu Davka terjadi. Sayangnya, Davka dan Dipta tidak ingin bertemu dengan lelaki itu. Padahal, saat itu ayah Davka begitu meminta tolong pada eyang putri dan eyang kakungnya untuk mempertemukan mereka bertiga. Tapi, tetap saja Davka dan Dipta tak ingin bertemu sekalipun dibujuk dengan apapun oleh eyang putrinya.
Sejak dulu, eyang kung memang tidak pernah merestui hubungan Deva dengan ayah Davka. Saat ibu Davka membawa Davka dan Dipta keluar malam itu juga dari rumahnya, eyang kunglah yang paling tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Deva, ibu Davka saat itu. Eyang kung lalu meminta anaknya itu untuk langsung membawa Davka dan Dipta ke Pangalengan dan tinggal di sana. Jadilah, Davka dan Dipta menghabiskan masa kecil mereka di sana. Walaupun kehilangan sosok ayahnya, tapi mereka mendapatkan penggantiannya dari sosok eyang kung yang selalu menjaga dengan baik kedua cucunya itu.
“Dav!” panggil Deva yang langsung menyentuh bahu Davka karna tau jika anaknya itu sedang melamun.
“I-iya Bu,” Davka langsung menyeka air matanya dan menoleh pada ibunya yang berdiri di sampingnya.
“Kamu kangen sama ayah?” tanya Deva pada Davka dengan penuh kehati-hatian.
Karna ia tau sekali tabiat anaknya itu yang selalu tidak suka jika ia menyebut lelaki yang DNAnya mengalir di dalam tubuh anak sulungnya itu masih disebut sebagai ayah untuknya. Sering kali bahkan Davka menyebutkan jika lelaki itu bukan ayahnya lagi, Davka lebih senang menyebutnya dengan sebutan si tua bangka atau lelaki tua itu. Davka benar-benar sudah mencabut rasa hormatnya pada lelaki yang sudah berkhianat pada ibunya.
“Hanya foto ini yang aku punya. Aku hanya rindu pada eyang putri. Bukan pada lelaki tua bangka ini!” katanya dengan nada sedikit sarkas.
“Biar bagaimanapun, dia itu ayahmu, Nak!” Deva tersenyum dan memperingatkan Davka, anak sulungnya.
Davka tak mengatakan hal apapun lagi setelah itu.
“Ibu memang telah terkhianati olehnya, tapi kamu tetap darah dagingnya, Davka. Dipta bilang sama ibu kalau ayahmu sudah sakit-sakitan dan ingin sekali bertemu denganmu. Tapi beberapa hari yang lalu, ketika Dipta mengatakannya padamu, kamu tetap bersikeras tak ingin menemuinya. Tolong Dav, jangan seperti itu. Ibu mendidik kamu menjadi lelaki yang baik. Bukan lelaki pendendam seperti itu, Sayang.” Deva kini duduk di sisi ranjang menghadap ke arah Davka.
Deva juga menggenggam tangan Davka agar lelaki itu mau mengerti sedikit saja apa yang diinginkannya.
“Biar saja, aku tidak akan datang, Bu.” Ucap Davka acuh. “Kalau Dipta mau menemuinya, silahkan saja, aku tidak melarangnya. Aku tetap tidak mau datang untuk menemui si tua bangka itu.” Katanya dengan nada penuh penegasan.
“Dav, tapi ini persoalan lain. Apa kamu tidak menyesal jika terus memendam dendam seperti itu pada ayahmu? Ibu hancur memang saat itu. Ibu juga tau kalian juga pasti kehilangan sosok yang sangat kalian kagumi dan sayangi. Tapi untuk mendendam seperti yang kamu lakukan sekarang ini, tidak pernah ibu mengajarkannya padamu, Dav.” Kata Deva lagi dengan nada lembutnya.
Ada juga nada kesedihan di sana. Davka memang tidak suka jika ibunya membahas terlalu jauh tentang ayahnya. Tapi ia lebih tidak suka lagi jika ibunya mengatakan tentang ayahnya dengan nada sedih seperti sekarang ini.
“Sekali aku bilang tidak maka aku tidak akan pernah melakukannya, Bu. Tolong jangan paksa Davka.” Kata Davka dengan wajah yang sangat kesal.
“Baiklah, baiklah … ibu tidak akan memaksamu lagi,” Deva kini mengalah pada Davka. “Tapi satu hal yang perlu kamu ingat, ibu sama sekali tidak melarangmu untuk bertemu dengannya. Dia itu ayahmu, DNAnya mengalir di dalam tubuhmu, Nak. Tolong sekali saja temui dia.” Tambah Deva masih dengan nada sedihnya.
Deva langsung berdiri dan melangkah keluar dari kamar anak sulungnya itu. Davka sendiri kemudian pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Air di sana masih sangat dingin dan membuat Davka langsung tersenyum senang ketika pertama kali merasakan air yang mengalir dari kran menyentuh kulitnya. Ia jadi teringat masa kecilnya yang suka bermain air di halaman belakang rumahnya bersama dengan Dipta.
***
Davka diminta ibunya untuk segera bersiap untuk makan bersama dengan ibunya dan juga eyang kakungnya. Davka sudah mengganti bajunya dan malah jadi mandi setelah merasakan kesegaran air yang tadi mengucur dari kran. Davka turun dari lantai 2 dan langsung menuju halaman belakang rumah eyangnya untuk bergabung bersama dengan ibu dan eyangnya.
“Kamu ke sini ga bilang Dipta?” tanya ibunya dengan mengernyitkan keningnya.
“Engga Bu, aku malas. Karna perbincangannya tidak jauh dari ajakan untuk menemui lelaki tua bangka itu.” Kata Davka sambil mengambil ayam goreng dari piring besar yang tersaji di depannya.
“Memangnya Dipta sudah bertemu dengan ayahmu, Dav?” tanya eyang kakungnya.
“Katanya kemarin ia berkunjung ke rumah lelaki tua bangka itu dengan istri barunya. Di sana ada anak mereka juga. Dipta bilang, lelaki tua bangka itu sudah sakit-sakitan. Jadilah ia mengajakku untuk berkunjung ke rumahnya. Mungkin karna merasa iba.” Jawab Davka acuh pada eyangnya.
“Memangnya kamu ga kasihan sama ayahmu, Dav?” tanya eyang kakungnya lagi.
“Untuk apa kasihan? Lagi pula sudah ada istri baru dan anaknya yang mengurus. Aku bukan siapa-siapanya jadi untuk apa aku pusing memikirkan hidupnya? Betul tidak Yang?” Davka kini malah mencari dukungan dari eyang kakungnya itu.
“Terkadang kamu ada benarnya juga, Dav. Untuk apa kamu memikirkan lelaki pengkhianat itu?” ucap eyang kakungnya sambil menyuapkan nasi yang sudah dicampurkan sambal goreng ke mulutnya.
“Sudah, jangan bicarakan lelaki tua bangka itu lagi ya Bu. Aku ingin liburan di sini. Bukan ingin menambah stressku.” Ucap Davka yang langsung memberikan senyuman pada ibunya yang duduk di hadapannya.
“Iya-iya, ayo makan yang banyak. Sepertinya kamu terlalu sibuk bekerja hingga tubuhmu mengurus, Dav.” Kata Deva yang kemudian menyendokkan secentong penuh nasi ke atas piringnya.
Davka mengangguk sambil menambahkan sambal goreng ke piringnya juga. Eyang kakungnya paling senang jika sudah melihat Davka menambahkan porsi makanannya. Tentu anak lelaki itu paling suka dengan masakan ibunya sendiri.
“Lalu, bagaimana dengan Larissa? Apa dia baik-baik saja, Nak?” tanya Deva kali ini.
“Baik, dia baik-baik saja. Kami berencana akan liburan minggu depan mungkin, setelah dia selesai dengan shooting filmnya. Ayah Hendri memberikan aku dan Larissa tiket honeymoon setelah anniv kami yang ke 5. Aku mengajaknya dan baru beberapa hari yang lalu ia menyetujuinya.”
Deva mengangguk dan memberikan senyuman.
“Apa kabar dengan Hendri dan istrinya? sudah lama juga mereka tidak ke sini, ya kan Dev?” tanya eyang.
“Mereka juga baik. Mungkin sepulang dari sini aku akan mampir ke rumah mereka. Aku ingin membawakan oleh-oleh untuk mereka. Nanti tolong siapkan ya Bu.”
“Iya, nanti akan ibu siapkan. Kamu tenang saja.” Deva kemudian menuangkan air minum ke gelas untuk Davka minum setelah dirinya selesai dengan makanannya.
“Bu, di luar ada dokter dari Hospi Hopital katanya mau ketemu Ibu dan Eyang Kung,” ucap Amin yang baru saja datang memberitahukan jika ada tamu yang mencari Deva dan Eyang Kung.
Davka tiba-tiba terbatuk ketika mendengar kata dokter dari Hospi. Untung saja, ibunya sudah memberikan gelas berisi air. Jadi lelaki itu bisa dengan mudah menenggaknya untuk menghilangkan rasa sakit di dalam tenggorokkannya.
“Dav, pelan-pelan.” Ibu memperingatkan anak sulungnya itu ketika mendengar anaknya terbatuk begitu saja.
“Heem …” Davka hanya bisa berdehem sambil menenggak mineral bening di gelasnya.
“Bilang sebentar lagi saya keluar. Suruh mereka tunggu dulu ya,” kata Deva pada Amin.
“Baik Bu,” Amin langsung pergi melangkah menuju ruang tamu di rumah megah itu.
“Ibu ke depan dulu ya,” Deva berdiri dari kursinya dan langsung mencuci tangannya di washtafel yang tak jauh dari meja makan itu.
Davka mengangguk.
***
“Apa kalian sudah makan?” tanya eyang kung pada kedua dokter cantik yang berada di hadapannya.
“Kami baru selesai dengan pekerjaan kami, jadi kamu belum sempat makan, Eyang.” Ucap salah satu dokter cantik itu.
“Loh, bagaimana? eyang tau kalian ini Dokter, tapi kalian juga harus tetap menjaga kesehatan kalian loh. Dokter juga bisa sakit kalau tidak makan dengan benar.” Kata eyang dengan keramahannya.
Dua dokter cantik itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
“Dev, ajak mereka makan bersama ayo.” Kata eyang mempersilahkan kedua dokter itu dengan ramah.
“Ti-tidak usah Eyang. Kami bisa makan di villa.” Tolak salah satu dokter yang memakai name tag Lavani itu.
“Di villa pasti belum ada makanan. Lagi pula kalian hanya berdua, jadi tidak masalah kalau makan di sini bersama eyang dan Bu Deva. Kebetulan cucu eyang dari Jakarta baru datang. Jadi Bu Deva, masak banyak sekali untuk putra sulungnya. Ayo jalan, eyang ga suka loh ditolak. Lagian eyang pengen rame-rame makan sama-sama tamu kehormatan eyang boleh dong,” eyang tersenyum sambil berdiri dari sofa berwarna beige itu.
“Iya Eyang, maafkan kami yang malah jadi ngerepotin Ibu Deva dan Eyang.” Ucap dokter Lavani lagi.
“Ga ada ngerepotin. Anggap saja rumah eyang kalian sendiri. Ga usah sungkan.” Kata eyang dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
“Ayo, mari silahkan …” ibu Deva langsung memimpin jalan untuk menuju halaman belakang tepat Davka masih menyantap makanannya.
***
“Ini dia Cucu Kebanggaan eyang.” Kata eyang yang langsung memperkenalkan Davka yang masih duduk sambil memainkan ponselnya.
Davka yang merasa terpanggil langsung berdiri. Begitu melihat Lavly yang berdiri di sebelahnya bersama dengan seorang wanita yang juga sama cantiknya, lelaki itu langsung mengerutkan dahinya.
“Davka, Lavly!” kata mereka berdua bersamaan sambil menujuk satu sama lainnya karna saking terkejutnya.
“Loh, kalian saling kenal?” tanya eyang yang langsung tertawa mendengar sepasang manusia itu yang sudah saling mengenal satu sama lainnya.
“Davka hanya beberapa kali bertemu dengan Lavly, Eyang.” Ucap Davka tersenyum lebar.
“Oohh … seperti itu. Ayo silahkan duduk Dokter Lavani dan Dokter Nycta. Selamat menikmati makanannya. Eyang tinggal dulu ya sebentar.” Eyang langsung meninggalkan Lavly, Nycta, Davka, dan Deva di ruang makan yang terletak di halaman belakang itu.
“Perkenalkan ini anak ibu yang pertama. Namanya Davka. Dav, kalau ini Dokter Lavani dan ini Dokter Nycta.” Ibunya kini memperkenalkan mereka bertiga bergantian.
Davka juga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lavly dan Nycta. Mereka juga saling memperkenalkan diri.
“Davka,”
“Lavani,”
“Davka,”
“Nycta,”
“Ayo kaliankan sudah berkenalan. Silahkan untuk Dokter Nycta dan Dokter Lavani untuk makan. Menunya seadanya ya. Karna Davka suka sekali dengan ayam goreng dan sambal goreng buatan ibu, jadi ibu masakkan ini untuknya. Dan tidak boleh ketinggalan, nasi liwet dan juga lalapannya. Ini piringnya, ayo silahkan dimakan.” Deva menyajikan piring yang masih bersih di hadapan Lavly dan Nycta.
“Terima kasih Bu,” Lavly dan Nycta mengucapkan terima kasih pada ibu Deva yang sangat ramah itu bersamaan.
Davka sendiri duduk berhadapan dengan Lavly, sedangkan Nycta berhadapan dengan ibunya. Davka tak putus-putus menatap sosok wanita di depannya yang cukup mengganggu fikirannya sejak kemarin. Wanita yang sangat ia kagumi itu secara tidak sengaja berada di depannya saat ini dan semeja dengannya untuk menikmati masakan ibunya. Davka benar-benar senang sekali karna nyatanya Lavly memang berada di tempat yang sama selagi ia berjauhan dari Larissa.
“Kapan kalian datang?” tanya Davka tiba-tiba ketika Lavly baru saja ingin menikmati suguhan makanan dari ibunya.
”Subuh tadi kami berangkat. Kamu pergi jam berapa dari Jakarta?” tanya Lavly balik pada lelaki di depannya itu.
“Pagi tadi. Untungnya tidak terlalu macet, jadi aku bisa sampai cepat ke sini.” Davka tersenyum sambil menyelesaikan kalimat barusan dan menatap dalam pada mata wanita cantik itu.
Lavly mengangguk dan tersenyum membalas senyuman Davka yang begitu ia kagumi. Biar bagaimanapun, wajah Davka manis, tampan, dan tentu saja tidak bisa dilupakan begitu saja. Siapapun pasti akan betah jika terus mendapatkan kesempatan untuk menatapnya. Begitu juga dengan Lavly yang nampaknya mulai ikut tersihir dengan ketampanan lelaki di hadapannya itu.
***