Ponsel yang diletakkan Lavly di kantung roknya bergetar begitu saja ketika pembicaraan dengan Davka baru saja selesai ia jawab. Lavly langsung merogoh kantungnya dan melihat id penelpon yang panggilannya masuk saat ini. Lavly mohon diri sebentar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju halaman yang berisi beberapa bunga yang tidak ia ketahui apa nama bunga setiap bunganya. Yang jelas ada bunga lily yang ia tau, juga tumbuh sangat cantik dan banyak di sana.
“Maaf saya angkat telpon sebentar ya.” Lalvy berpamitan pada Davka dan ibu Deva selaku tuan rumah di sana.
Sedangkan Nycta hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ketika Lavly memberikan isyarat untuk menerima panggilan telponnya itu.
“Hi, Babe.” Sapa Lavly pada lelaki yang begitu ia cintai itu setelah cukup menjauh dari Davka, Nycta, dan ibu Deva.
“Hai Babe, kenapa tidak ada kabar setelah sampai? Aku khawatir sekali padamu, Sayang.” tanya Vasant yang langsung membrendel pertanyaan pada kekasihnya itu.
“Maaf, aku tadi langsung melakukan penyuluhan kesehatan dan ada beberapa hal yang perlu aku kerjakan di sini. Maaf ya Babe,” ucap lavly yang terdengar menyesal ketika berbicara kalimat itu pada Vasant.
“Aku kira kamu bertemu dengan pemuda di desa itu jadi kamu melupakan aku tiba-tiba.” Katanya melayangkan candaan pada kekasihnya.
“Pe-pemuda? Jangan bercanda, mana ada yang bisa menggantikanmu, Babe. Aku mencintaimu, mana ada lelaki yang bisa dengan mudah menggantikan posisimu.” Lavly kini memberikan senyuman di akhir kalimatnya, sekalipun senyuman manisnya itu tidak bisa terlihat oleh Vasant yang memang sedang berada pada sambungan telponnya.
“Aku juga mencintaimu, aku percaya padamu.” Ucap Vasant singkat.
“Kamu sudah makan?” tanya Lavly yang sedang memandang bunga lily yang sangat cantik yang berada di hadapannya.
“Sudah, Babe. Kamu jangan telat makan ya.” Pesan Vasant pada Lalvy.
“Aku sedang makan. Aku makan di rumah keluarga yang ditetuakan di sini. Mereka sangat baik. Dan kamu tau? Aku bertemu dengan Davka di sini. Dan ternyata Davka adalah cucu dari keluarga itu.” Jelas Lavly yang sedikit banyak memasang senyuman karna mengingat betapa baiknya keluarga itu padanya.
Tentunya, ia tak bisa melupakan sosok Davka yang sudah sedikit banyak mencuri perhatiannya.
“Davka di sana?” tanya Vasant dengan nada terkejut.
“Ya, dia di sini. Kami sedang makan bersama dengan eyang dan juga ibunya. Mereka sangat baik padaku dan Nycta. Sepertinya baru tadi pagi aku sampai, aku malah sudah seperti berada di rumahku sendiri. Aku betah sekali di sini, Vasant.” Kata Lavly dengan jujurnya.
“Betah? Memangnya kamu berapa lama akan berada di sana? bukankah besok malam kamu akan pulang ke Jakarta?” tanya Vasant yang langsung mencari tahu kemungkinan Lavly akan mangkir dari janjinya untuk pulang esok hari.
“Jangan khawatir, aku akan pulang besok malam. Pastikan untuk menjemputku ya.” Pesan Lavly pada kekasihnya itu.
“Ya aku pasti akan menjemputmu. Tolong berikan kabar saja jika kamu akan sampai di Jakarta.” Vasant berjanji pada kekasihnya itu.
“Ya Babe, aku akan melakukannya.” Ucap Lalvy kemudian menutup sambungan telpon dengan kekasihnya.
Tanpa Lalvy sadari, sejak tadi Davka terus saja memperhatikan dirinya dari tempatnya duduk. Lelaki itu hanya menanggapi ucapan ibunya dan Nycta yang sesekali mengobrol dan menanyakan pendapatnya. Setelah selesai menelpon, Lavly kemudian menatap sebentar bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah keluarga Rajendra. Wanita itu dibuat terkagum dengan bunga-bunga juga pemandangan di halaman belakang rumah yang langsung menghadap ke arah gunung. Udaranya masih terasa segar dan Lavly sangat menyukainya.
“Dokter Lavani!” panggil ibu Deva pada wanita yang sedang tersenyum senang sambil menatap bunga-bungaan itu.
Lalvy langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ibu Deva langsung melambaikan tangannya, memberikan isyarat memintanya untuk mendekat pada mereka. Saat itulah mata Lavly bertemu dengan Davka yang masih intens memperhatikannya dari jarak jauh. Lavly sedikit banyak agak terkejut dengan tatapan mata lelaki itu yang benar-benar seperti sedang mendamba dirinya. Tapi Lavly tidak mau terlalu percaya diri walaupun nyatanya memang tidak ada lagi orang di dekatnya yang bisa diperhatikan oleh lelaki itu.
“Dav, nanti abis ini tolong kamu antarkan Dokter Nycta dan Dokter Lavani ke villa eyang yang di atas ya.” Kata ibu Deva yang langsung mengambil fokus Davka yang sedang asyik menatap Lavly yang sedang berjalan ke arahnya.
“Iya Bu, nanti akan aku antarkan.” Sahut Davka yang langsung mengiyakan perintah ibunya pada lelaki yang kini membuang fokusnya pada sebuah gelas kosong yang berada di hadapannya.
“Lav, ayo segera habiskan makananmu. Kita segera istirahat ya atau kamu mau jalan-jalan?” tanya Nycta pada wanita yang baru saja mendaratkan bokonngnya di kursi tepat di depan Davka itu.
“Aku ingin jalan-jalan sebenarnya. Tapi aku takut nyasar, Nyc.” Kata Lavly yang langsung menatap temannya yang berada di sampingnya itu.
“Aku bisa mengantarkanmu jika kamu mau,” kata Davka yang langsung menawarkan dirinya pada wanita di depannya itu.
Lavly yang mendengar kalimat penawaran dari Davka langsung menolehkan pandangannya ke arah Davka lagi.
“Memangnya tidak apa-apa? apa kamu tidak sibuk?” tanya Lavly dengan nada sedikit tidak enak.
“Tidak usah sungkan Dok, lagi juga juga Davka ke sini memang ingin liburan juga. Benarkan Dav?” Ibu Deva membantu Davka untuk menjawab pertanyaan dokter cantik itu.
Di akhir kalimatnya bahkan ibu Deva meminta dukungan atas jawabannya pada Davka, anak sulungnya.
“Iya Bu, aku tidak keberatan mengantarkan Lavly untuk jalan-jalan.” Davka tersenyum.
Bahkan Lavly melihat lelaki itu sangat manis menurutnya.
“Nahkan, benar kata ibu. Nanti malam, setelah kalian jalan-jalan. Kalian makan malam di sini ya. Dokter Nycta juga. Nanti setelahnya, Davka akan menjemput Dokter Nycta lagi untuk makan malam bersama eyang dan saya.” Kata ibu Deva lagi.
“Baik Bu, terima kasih banyak.” Nycta tersenyum dan kemudian menyesap mineral bening yang masih tersisa di gelasnya.
“Sama-sama, kalian tidak perlu sungkan ya.” Ucap ibu Deva sekali lagi.
Nycta dan Lavly mengangguk pelan secara bersamaan.
***
“Ayo turun, kita sudah sampai. Ini dia villa eyang kakung,” kata Davka setelah menghentikan laju mobilnya di halaman sebuah rumah yang tak kalah megah dari rumah milik eyang kung yang ditinggalinya.
“Wah adem sekali kelihatannya,” puji Nycta yang langsung tersenyum dan merasa betah melihat keadaan villa yang begitu bagus dan asri.
“Iya, di sini ada beberapa orang yang membantu kami untuk menjaganya. Jadi villa ini bisa digunakan kapan saja. Kalian tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan salah satu diantara mereka ya.” Davka kini tersenyum bergantian pada Lavly dan Nycta.
Tentu saja, yang duduk di sebelah lelaki itu adalah Lavly. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Davka kemudian turun dan membuka pintu bagasinya. Lelaki itu membantu menurunkan koper yang dibawa oleh Lavly dan Nycta dari Jakarta. Sebenarnya mereka berdua memiliki supir yang ditunjuk langsung oleh ibu Nadya, pemilik Hospi Hospital untuk mengantarkan mereka ke manapun selama mereka berada di sana. Tapi eyang kakungnya sudah meminta lelaki itu untuk duluan pergi ke villa atas untuk makan dan beristirahat.
Terbukti pa Amal sudah berada di sana bersama dengan mobil SUV hitam yang ia kendarai dari Jakarta. Pa Amal juga terlihat sedang mengobrol dengan staff keamanan yang menjaga villa itu. Begitu melihat mobil Davka berhenti di halaman villa itu, pa Amal langsung menghampirinya dan ikut membawakan koper yang sudah diturunkan oleh Davka untuk dibawa masuk ke kamar Nycta dan Lavly.
“Kopernya langsung dibawa masuk aja ya, Pa.” Titah Davka pada pa Amal yang langsung mengambil alih kedua koper yang berukuran sedang itu.
Pa Amal mengangguk sambil tersenyum mendengarkan perintah Davka yang baru saja ia katakan.
“Terima kasih ya, Davka kamu sudah repot-repot mengantarkan kami kemari.” Nycta tersenyum dan sedikit berbasa-basi pada lelaki tampan itu.
“Tidak masalah, aku juga tidak ada kerjaan. Kalau kalian butuh bantuan, langsung bilang saja sama ART di sini ya. Supir kalian juga sudah diberikan tempat istirahat oleh eyang. Jadi pa Amal tidak perlu untuk tidur di mobil karna sungkan.” Kata Davka yang menerangkan sedikit keadaan yang ada di sana.
“Aku bersyukur sekali karna eyang kung baik sekali pada kami. Padahal kami hanya dokter yang ditugaskan untuk singgah sebentar di sini. Tapi penyambutannya sangat luar biasa baiknya.” Nycta benar-benar terkagum.
“Ya, itulah eyang. Eyang selalu baik pada siapapun. Kalau orang itu berkelakuan baik maka dia akan berlaku baik juga, tapiiii … jika mereka berlaku jahat pada eyang ataupun keluarganya. Maka dia takkan segan-segan untuk menghancurkannya.” Kata Davka lagi.
“Ya memang sudah seharusnya seperti itu.” Nycta menimpali lagi ucapan Davka yang menurutnya memang masuk akal itu. “Kalau begitu aku masuk dulu ya. Lav, kalau kamu langsung jalan-jalan dengan Davka. Silahkan saja ya. Aku mau istirahat dulu.” Nycta kemudian berjalan masuk setelah berpamitan pada Davka sekali lagi.
“Mau ganti baju dulu atau mau langsung berangkat?” tanya Davka pada Lavly yang hanya tinggal berdua setelah ditinggalkan oleh Nycta yang sudah masuk ke kamarnya lebih dulu.
“Aku ganti baju dulu sebentar ya. Apa tidak apa-apa?” tanya Lalvy balik pada Davka yang masih setia berdiri di hadapannya.
“Tidak masalah. Aku akan menunggumu,” kata Davka yang langsung duduk di sofa berwarna coklat muda sambil mengeluarkan ponselnya.
“Ok, aku ganti baju dulu ya.” Lavly langsung pergi ke kamar yang sama dengan Nycta.
***
Nycta sepertinya sudah mengetahui jika perhatian Davka memanglah kepada temannya yang satu itu. Mangkanya ia tidak mau mengganggunya ketika Lavly mengatakan jika ia ingin berjalan-jalan sebentar sambil melihat keindahan Pangalengan dari sudut pandang orang asli sana. Begitu melihat Lavly masuk ke kamarnya dan buru-buru mengganti pakaiannya, Nycta hanya bisa tersenyum senang karna nyatanya Lavly sepertinya menemukan lelaki yang mungkin bisa menggantikan Vasant suatu hari nanti.
“Aku tau, Davka sejak tadi memperhatikanmu terus. Jangan-jangan dia memiliki perasaan padamu.” Tebak Nycta pada Lavly yang sekarang sedang memakai kaos polos berwarna hijau mint dan mengganti roknya dengan denim panjang.
“Jangan ngawur, aku masih memiliki kekasih, Nycta. Mana mungkin aku menggantikan posisi kekasihku dengan lelaki lain yang jelas tidak tau sudah menikah atau memiliki kekasih atau belum. Aku masih ingin Vasant untuk menjadi suamiku kelak.” Ucapnya asal.
Padahal mungkin jika Nycta tau apa yang sudah mereka berdua lewati tadi malam ketika berada di Night Sky, mungkin Nycta akan semakin yakin dengan pendapat yang diutarakannya. Bahkan baru begini saja, Nycta sudah mengetahui jika Davka mungkin memiliki perasaan lebih pada temannya itu.
“Aku tidak asal bicara, Lavly Sayang. Aku bahkan masih bisa membaca dengan jelas sorot matanya ketika menatapmu, bahkan senyumnya saja terlihat sangat manis dan ramah itu hanya dia berikan padamu. Asal kamu tau saja, ketika kamu tadi menerima telpon dari Vasant, kekasihmu. Davka terus memperhatikanmu yang sedang berada jauh darinya. Itu sih sudah pasti jika dia memiliki perasaan padamu!” seru Nycta yang tak mau kalah dengan pendapat Lavly.
“Jangan ngaco!” Lavly hanya berkata sekedarnya dan tersenyum.
“Lihat saja nanti, aku yakin dia pasti akan mengejarmu sebentar lagi!” ucap Nycta dengan penuh penegasan.
“Baiklah … baiklah … Dokter Nycta, aku pergi dulu ya. Sampai bertemu nanti malam.” Ucap Lavly yang langsung menyambar tasnya yang ia letakkan di atas ranjang.
Ia kemudian cipika cipiki dengan Nycta yang masih tidak terima jika pendapatnya terbantahkan oleh temannya itu. Nycta bahkan berdecih karna tau Lavly akan menyangkalnya.
“Kalau kamu tidak percaya, aku mengajakmu taruhan!” ucap Nycta sambil tersenyum dengan suara yang sedikit dikeraskan.
“Tidak usah taruhan, aku sudah tau jawabannya!” Lavly langsung menutup pintu kamar yang berwarna coklat itu sambil melambaikan tangan sekali lagi pada temannya yang masih berdiri di dekat ranjangnya sebelum benar-benar menutup pintunya dan menghilang.
“Lihat saja, Lav. Aku berani taruhan jika Davka adalah lelaki yang akan menjadi kekasihmu. Davka jugalah yang akan mendapatkan restu dari papamu.” Gerutu Nycta setelah Lavly sudah berjalan melangkah meninggalkannya di kamar.
***