MHBB - CH 15

1959 Kata
“Sudah siap berangkat?” tanya Davka yang langsung menyadari jika Lalvy sudah melangkah mendekat ke arahnya. Lelaki itu bahkan langsung berdiri untuk menyambut kedatangan wanita yang dengan cantiknya sudah menyampirkan sling bagnya di bahu sebelah kanannya. Wanita itu juga sudah mengulas senyuman di wajah cantiknya untuk dapat segera pergi dengan Davka sebelum hari semakin gelap. Entah ke mana Davka akan membawanya, tapi yang jelas Lavly begitu ingin tau ke mana lelaki itu akan membawanya dan membuat harinya ini berkesan. “Yup,” jawabnya setelah ia sudah dekat dengan Davka yang kini malah menyodorkan tangannya pada wanita itu. Lavly sedikit banyak agak terkejut dengan perlakuan lelaki itu. Lavly diam sejenak dan hanya memperhatikan lelaki yang masih tersenyum ramah memberikan tangannya untuk digandeng. “Sorry! Aku lupa,” Davka langsung menurunkan lagi tangannya ke sisi tubuhnya dan segera mengajak Lavly untuk pergi dari villa eyangnya menuju tempat yang pasti akan membuat Lavly terpukau dengan kecantikannya. Lavly menurut dan langsung mengekori lelaki itu untuk masuk ke mobil SUVnya yang masih terparkir di halaman villa megah itu. *** Mereka duduk di pinggir sebuah kebun teh yang diyakini adalah milik keluarga Davka. Di sana Davka banyak mengobrol dengan Lavly. Ia jadi tau, jika Lavly sangat tidak menyukai buah semangka. Katanya buah semangka itu rasanya aneh, bahkan wanita itu mengatakan jika buah semangka itu rasanya seperti sponge cuci piring yang tidak ada rasanya. Katanya dulu ketika ia masih kecil, Lavly pernah memakan semangka yang tidak memiliki rasa sama sekali. Jadilah sejak saat itu, ia tidak mau lagi memakan semangka karna takut jika akan memiliki rasa yang sama seperti semangka yang waktu itu pernah ia makan. Tidak ada rasa dan teksturnya sedikit keras. Mereka juga sempat sedikit berdebat tentang buah semangka yang ternyata Davka malah menyukainya. Jadilah mereka berdua berdebat dan malah berakhir tertawa karna pembahasannya sama sekali tidak berfaedah seperti itu. Bahkan jika diteruskan mungkin mereka berdua malah jadi saling kesal karna semangka. Davka tidak banyak bercerita tentang dirinya. Ia hanya sedikit sekali berkata tentang dirinya pada Lavly. Ia juga tidak mengatakan apa pekerjaannya. Davka memang selalu tidak pernah mau mengatakan tentang profesinya. Apalagi, ia adalah salah satu anak bangsa yang ditugaskan untuk memberantas kriminalitass yang terjadi di negara ini. Begitu juga dengan keluarganya, mereka tidak mau mengatakannya pada siapapun kecuali, orang yang sudah sangat mereka kenal dan memiliki hubungan yang dekat dengan mereka. “Tapi aku suka sekali dengan aktor itu, Davka. Dia tampan dan juga romantis sepertinya. Mungkin jika ada lelaki seperti itu di dunia nyata aku mau mengantri paling depan untuk aku jadikan kekasihku.” Ujar Lavly yang sekarang sedang menceritakan seorang artis Hollywood yang memiliki paras tampan yang baru saja mengeluarkan sebuah film seriesnya. Ya, Davka akui lelaki itu memang tampan. Tapi jelas saja dirinya tidak mungkin mengakuinya. Ia lebih jelas membanggakan dirinya sebagai lelaki tampan dibandingkan dengan artis Hollywood yang sedang Lavly perdebatkan dengannya itu. “Kalau dia sampai ke Indonesia, aku mau jadi bucinnya.” Kata Lavly lagi dengan senyuman sumringah di wajahnya. “Jangan jadi wanita bodoh. Dia itu sudah punya istri!” kata Davka lagi. “Ih, jangan sembarangan menuduh. Dia itu baru saja bercerai dengan istrinya. Jadi ya, bisa dibilang dia itu duren, alias duda keren.” Kata Lavly yang langsung terkekeh dengan ucapannya. “Ya, terserah padamulah. Ayo dimakan kuenya,” kata Davka yang langsung mempersilahkan Lavly memakan makanan yang baru saja disajikan oleh seorang pelayann resto. “Habis makan kue ini, temani aku jalan-jalan dan mengambil foto di jembatan kayu itu ya.” Tunjuk Lavly pada sebuah jembatan kayu yang memang letaknya tidak jauh dari resto itu. Sengaja memang jembatan kayu itu dibuat untuk menjadi property untuk pengunjung berfoto. Jembatan kayu itu memiliki bentuk seperti sebuah kapal laut. Di bawahnya terdapat jurang dan juga pegunungan yang dapat membuat siapa saja pasti akan senang melihatnya. “Ya nanti aku akan mengantarmu ke sana.” Kata Davka berjanji. Lavly mengangguk, sambil menyesap teh hijau hangat yang masih mengepul asapnya dari dalam cangkir poselen berwarna putih itu. “Ngomong-ngomong, kamu dan Vasant sudah berapa lama bersama?” tanya Davka lagi. “Aku sudah bersamanya sejak kami masih duduk di bangku SMA. Jadi mungkin sudah sekitar 7 atau 8 tahun,” katanya tersenyum. “Wow lama sekali, pasti kalian sangat kompak ya karna nyatanya hubungan kalian sudah selama itu.” Kata Davka yang mengutarakan kekagumannya pada Lavly. Tapi di dalam hatinya, dadaanya malah jadi bergemuruh karna sepertinya tidak mungkin untuk masuk ke dalam hati Lavly jika seandainya terjadi sesuatu hal antara dirinya dan Larissa di kemudian hari. “Ya, memang lama dan terlihat hebat di mata orang lain. Tapi, sayangnya hubungan kami tidak sehebat itu.” Lavly kini membuang pandangannya ke arah hamparan kebun teh yang berada di sampingnya. “Kenapa? Aku lihat kalian saling mencintai, kalian juga terlihat tidak ingin berpisah satu sama lainnya ketika dia menemukanmu, ketika kamu menghilang di Night Sky,” Davka kembali mengorek tentang hubungan Lavly dan Vasant lagi. “Awalnya, orangtuaku – papaku tadinya menyetujui hubungan kami. Tapi sayangnya, sekarang hubungan kami malah bertolak belakang dengan apa yang terjadi saat pertama kali kamu bersama. Sampai saat ini, papaku masih belum memberikan restunya pada hubungan kami.” Raut wajah Lavly langsung berubah jadi sedih karna mengutarakan satu-satunya hal yang sama sekali tidak ingin ia katakan tentang hubungannya pada orang lain. Tapi nyatanya, Davka benar-benar membuatnya nyaman sehingga dengan mudahnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungannya dengan Vasant. Lavly tentu hanya menyebutkan jika dirinya memang tidak direstui dengan Vasant. Untuk alasan kenapa papanya tidak memberikan restunya pada mereka berdua, Lalvly belum mau mengatakannya. “Bahkan Vasant pernah diusir dari mansion papa setelah ia mengantarkanku pulang setelah kami menghabiskan waktu bersama. Papaku meminta kami berpisah. Tapi aku masih belum mau berpisah dengannya.” Kata Lavly lagi. “Takut karna tidak ada lelaki yang bisa memperhatikanmu?” tanya Davka dengan acuh. Walaupun sebenarnya hatinya masih sakit mendengar kalimat yang baru saja Lavly katakan padanya. “Bukan,” Lavly menggeleng. “Lalu?” Davka mengernyitkan dahinya bingung. “Karna dia yang sudah mengambil mahkotaku untuk pertama kali. Aku fikir, dengan aku hamil anaknya, papa mungkin akan bisa merestui hubungan kami. Tapi, Vasant tidak pernah mau menghamiliku. Katanya ia ingin memiliki anak denganku jika memang kami berdua sudah mendapatkan restu dari papaku. Ia membuatku sangat jatuh cinta dan tidak ingin kehilangannya. Dia juga yang menjadikan aku ratunya sekalipun aku merencanakan hal gila itu yang malah jadi tertolak olehnya. Andai saja papaku tau jika Vasant adalah lelaki yang baik. Pasti dia akan merestui kami sekalipun, aku sepertinya sudah mulai sedikit lelah dengan hubungan sembunyi-sembunyi yang kami lakukan.” Lavly menatap dalam mata Davka. “Jadi … kamu?” Davka tidak bisa melanjutkan kalimatnya karna sudah terkejut dengan pengakuan Lavly. “Ya, aku dan Vasant memang sering melakukannya. Tapi dia selalu bermain aman. Kamu mungkin jijik padaku saat ini karna tau aku bukanlah wanita baik-baik. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, Dav.” Lavly berhenti sejenak dengan kalimatnya. “Aku tidak pernah berganti pasangan. Aku dan Vasant berjanji untuk tidak melakukannya dengan orang lain. Kami berusaha untuk saling setia dan melakukannya bersama.” Sambung Lavly. “Aku justru senang dengan pengakuanmu, Lav. Aku bahkan tidak merasa jijik ataupun ingin menghindarimu.” Kata Davka yang langsung menyangkal ucapan Lavly yang sedikit banyak membuatnya sangat terkejut. “Lalu, bagaimana dengan kedua orangtua Vasant? Apa mereka menentang hubungan kalian juga?” tanya Davka lagi. “Tidak, justru mereka malah ingin kami secepatnya menikah. Tapi, sayangnya, mereka mengetahui jika aku dan Vasant belum mendapatkan restu dari papaku. Mereka tidak mau memaksa hubungan kami diresmikan akhirnya.” Jelas Lavly singkat. “Aku lega mendengarnya, setidaknya. Dari kedua orangtua kalian, masih ada satu sisi yang mendukung hubungan kalian.” Davka memberikan senyuman di akhir kalimatnya, walaupun senyuman itu dapat diartikan sebagai sebuah senyum keterpaksaan yang diberikan untuk Lavly. “Aku berharap, papaku akan segera memberikan restu pada kami. Aku jelas sedikit bosan dengan hubungan ini, tapi aku juga mencintainya. Yuk kita jembatan kayu itu!” ajak Lavly yang kini wajahnya sudah dihiasi dengan senyuman kembali. *** Lavly dan Davka pergi ke jembatan kayu itu. Mereka mulai lagi bercerita tentang mereka satu sama lainnya. Sampai di ujung jembatan itu, Lavly memberikan ponselnya untuk Davka abadikan foto dirinya pada benda pipih itu. Davka mengerti sekali jika Lavly memang patut untuk dicintai. Bukan karna kecantikan wajahnya yang membuat Davka jadi tertarik pada wanita itu. Melainkan kepribadiannya yang apa adanya yang membuat dirinya semakin tertarik dengan wanita cantik itu. “Lav, awas!” kata Davka yang langsung menarik pinggang Lavly ketika seorang anak kecil dengan kencangnya mengayuh sepeda dari arah belakang Lavly dan hampir menabrak Lavly. “Auuu …” kata Lavly yang sedikit terkejut dengan perlakuan Davka. Sekarang, posisi mereka sama persis seperti film-film romantis yang memperagakan tokoh utama laki-lakinya menyelamatkan hidup tokoh utama perempuannya. Lavly dan Davka sama-sama terpukau dengan proporsi wajah mereka satu sama lainnya. Mereka saling pandang dan tampaknya tidak ada yang mau bergerak dari posisi mereka saat ini. Sampai seorang wanita dengan memakai hijab berwarna biru dongker itu menghampiri mereka dan mengutarakan maafnya pada mereka berdua. Lavly dan Davka jadi saling melepaskan diri ketika wanita berhijab itu menghampiri mereka. Meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan anaknya pada Lavly yang tentu saja bisa membahayakan dirinya. “Ayo minta maaf pada Om dan Tantenya,” titah sang ibu pada anak lelaki bersepeda tadi. “Maaf ya Om, Tante. Aku ga sengaja.” Kata bocah laki-laki bersepeda itu. Lavly yang mendengar nada menyesal dari anak itu langsung berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak lelaki itu. “Nama kamu siapa?” tanya Lavly yang langsung bisa menghandle situasi yang terjadi saat ini. “Andi, Tante.” Katanya sambil sedikit takut-takut menyebutkan namanya. “Andi, lain kali hati-hati ya. Kalau Andi yang jatuh bagaimana? kalau sampai melukai orang lain juga tidak boleh kan?” kata Lavly dengan penuh kelembutan. “Iya, Tante. Andi minta maaf ya,” kata bocah kecil itu lagi dan mengacungkan kelingkingnya mengajaknya berbaikan seperti mengajak berbaikan teman seumurannya. Davka yang sejak tadi memperhatikan Lavly yang berbicara pada anak itu jadi semakin mengagumi Lavly. Lalvy memiliki jiwa kelembutan seorang wanita yang sangat ia ingin dapatkan dari istrinya, Larissa ketika menghadapi seorang anak kecil. Tapi tentunya, Larissa takkan melakukannya jika bukan karna anak kecil itu adalah orang terdekatnya. Berbeda dengan Lavly yang bisa bersikap sangat lembut pada anak atau pada orang lain sekalipun. Sungguh, sosok wanita yang sangat diidamkan oleh semua lelaki di muka bumi ini sepertinya. “Iya, Tante maafin. Tapi Andi janji harus berhati-hati ya kalau mau sepedaan.” Lavly mengaitkan kelingkingnya pada kelingking anak lelaki itu. “Sekali lagi, saya minta maaf ya, A, Teh …” kata sang ibu yang tersenyum walaupun dengan nada tidak enak ketika mengucapkan kalimatnya barusan. “Tidak apa-apa Bu, Andinya jangan dimarahi lagi ya.” Ucap Davka memperingatkan ibu dari anak lelaki itu. “Iya A! ayo Andi. Kita pulang,” ajak ibu dari Andi yang langsung mengulurkan tangannya untuk digandeng oleh Andi. Setelahnya, Andi dan ibunya berpamitan sekali lagi pada Lavly dan Davka. Lalu melenggang pergi sambil bergandengan tangan. “Apa ada yang sakit?” tanya Davka pada Lavly. Wajahnya benar-benar khawatir ketika menyampaikan hal itu. “Engga … aku ga apa-apa, Dav. Ayo ambil fotoku lagi. Aku ingin mengganti profile pictureku.” Katanya asal lalu melangkah menjauh dari Davka untuk mengambil view yang tepat. Davka menurut dan bersiap mengambil foto Lavly yang sedang sedikit menyilangkan kakinya dan tangannya ia letakkan di kayu yang menjadi pagar di belakangnya. “Cantik!” gumam Davka setelah mengambil beberapa kali foto Lavly dengan posenya yang berbeda-beda. “Apa Dav? Kamu ngomong apa?” tanya Lavly yang tidak terlalu mendengar perkataan yang Davka ucapkan barusan. “Ah … engga. Aku ga ngomong apa-apa,” Davka kini berbohong pada wanita itu dan menyerahkan ponselnya kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN