“Kamu sama Davka baik-baik aja?” tanya Divyant pada Larissa yang sekarang berada dalam posisi tengkurap menghadapnya.
“Entahlah, aku masih tidak yakin jika hubungan kami ke depannya akan terus baik-baik saja. Aku sudah lelah sejujurnya berakting di depannya jika aku masih mencintainya, tidak ada lelaki lain selai dirinya yang aku cintai. Aku juga bosan jika harus terus bersembunyi untuk bertemu denganmu, Divyant.” Kata Larissa yang menyugar rambut panjangnya ke belakang.
“Memangnya kamu sudah tidak memiliki rasa lagi dengan Davka? Lalu maumu apa dengan hubungan kita?” tanya Divyant sepertinya sudah sangat penasaran dengan perasaan kekasihnya itu sesungguhnya pada suami sahnya.
Larissa menggeleng dan tak tau harus menjawab apa. Setiap kali ada yang bertanya apa perasaannya pada Davka, ia pasti tidak pernah bisa menjawabnya. Hatinya bimbang, kalau dia bilang tidak lagi mencintai Davka, ia berbohong. Tapi jika ia mengatakan kejujurannya, Larissa jelas takkan mau kehilangan lelaki yang sudah sangat baik padanya itu. Kebaikan Davka karna menurut pada ayah Larissa mungkin takkan pernah ditemui pada lelaki lain. Mungkin Davka terlihat seperti bodoh di hadapan Larissa, karna terlalu mencintai wanita itu dan menerima saja diselingkuhi beberapa kali. Sekali lagi, hanya Davkalah yang bisa menerima dirinya yang tidak bisa hanya dengan satu lelaki saja di dalam hidupnya.
“Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan pada hubungan kita.” Ucap Larissa sambil menatap Divyant yang juga balas menatapnya.
“Kalau memang kamu sudah tidak punya rasa lagi padanya, maka tinggalkan saja dia. Biar kita berdua bisa bebas kapan saja ingin bertemu. Atau jika kamu ingin tinggal di sini juga aku tidak masalah. Aku ingin kita bersama, Larissa.” Divyant kini tersenyum sambil mengelus punggung telanjangg Larissa.
“Lalu bagaimana dengan istrimu?” tanya Larissa yang matanya menahan air matanya yang mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan bulir-bulir bening dari ujung matanya.
“Istriku takkan mengetahuinya. Dia juga mungkin tidak perduli dengan kehidupanku di sini. Aku tau betul sifat istriku yang juga tidak akan mungkin bisa terus sendirian di sana.” Kata Divyant acuh.
“Kalau seandainya dia punya kekasih juga di sana. Apa kamu tidak marah padanya?” tanya Larissa dengan mengusap wajahnya.
“Untuk apa aku marah? Aku juga di sini punya kekasih.”
“Gila kamu, kamu bilang tidak akan marah jika mengetahui istrimu punya kekasih? Apa kamu sudah tidak memiliki rasanya padanya?” tanya Larissa yang terdengar jengkel karna nyatanya Divyant terlalu memberikan kebebasan pada istrinya sendiri.
Jika seperti itu keadaannya, Divyant bisa saja membuang dirinya kapanpun yang ia inginkan tanpa berfikir lagi.
“Karna nyatanya kami tetap bertahan hanya demi anak-anak kami, Larissa. Kami sudah sepakat untuk tetap bersama hanya untuk membuat anak-anak bahagia.” Ucap Divyant yang nampaknya tau jika Larissa sedikit kesal padanya.
“Kenapa tidak kamu ceraikan saja dia jika memang kalian sudah sama-sama tidak memiliki rasa?” tanya Larissa lagi masih dengan kejengkelannya.
“Kami bertahan hanya demi anak-anak, seperti yang tadi aku bilang. Kami akan melakukannya sampai anak-anak bisa tumbuh dewasa dan mengerti jika kedua orangtuanya sebenarnya sudah tidak bisa lagi bersama. Ya, walaupun sesungguhnya kami masih ada sedikit rasa satu sama lainnya.” Ucap Divyant yang merapatkan tubuhnya pada Larissa lagi. “Jangan kesal padaku, aku mencintaimu.” Tambah Divyant lagi sambil memainkan inti tubuh Larissa di bawah sana untuk membujuk wanita itu agar tidak semakin kesal padanya.
Larissa langsung melengkuhkan nama lelaki yang sedang asyik bermain dengan tubuh bawah kekasihnya itu. Larissa tidak mungkin menolaknya karna nyatanya Divyant selalu bisa membuatnya tergila-gila pada lelaki itu.
***
Dua anak manusia masih saling membelitkan lidah satu sama lainnya. Mereka saling mencecap, bertukar saliva, dan saling mendamba satu sama lainnya. Davka sudah meminta Lavly untuk duduk di pangkuannya sambil wanita itu mencecapi bibir lelaki di depannya yang sudah membuatnya candu untuk beberapa kali ia rasakan.
“Dav, sepertinya ini salah …” kata Lavly yang langsung melepaskan ciumannya dan menyatukan keningnya pada kening Davka.
Mereka berdua masih sama-sama mencari oksigen karna nyatanya ciuman mereka terlalu terburu-buru dan saling menginginkan lebih.
“Apa yang salah?” tanya Davka pada Lavly.
“Aku tidak mungkin bisa bersama denganmu, aku tidak mau mengecewakan Vasant.” Ucap Lavly kemudian turun dari pangkuan Davka di kursi belakang mobilnya.
“Ya, aku tau.” Davka tersenyum dan mengelus pipi Lavly yang malah jadi merona karna dielus oleh Davka. “Kita pulang ya,” ajak Davka yang kemudian berpindah posisi di bangku pengemudi.
Lavly juga langsung melompat ke samping Davka sebelum lelaki itu melajukan mobil SUV hitamnya untuk kembali ke villa eyang untuk menjemput Nycta yang nampaknya sudah bersiap untuk segera bertemu dengan ibunya dan eyang kung untuk makan malam bersama.
“Dav,” panggil Lalvy yang kemudian menyentuh lengan Davka dan membawa tangan lelaki itu ke pangkuannya.
Lavly mengisi jemari Davka dengan miliknya.
“Jujur, aku sudah kecanduan dengan bibirmu. Aku tidak pernah berciuman dengan Vasant seperti kita melakukannya tadi malam dan barusan. Kamu selalu tau dan membuatku nyaman dengan ciumanmu.” Lavly kemudian menoleh ke arah Davka dan tersenyum.
“Jadi kamu membandingkan antara aku dan Vasant?” ledek Davka pada Lavly.
Padahal dirinya sedang senang dan rasa ingin berjingkat semakin besar karna nyatanya, jalan untuk mendapatkan Lavly mungkin akan segera tercapai.
“Bukan, bukan seperti itu. Tapi aku memujimu karna aku terlalu suka dengan bibirmu. Kamu tau bagaimana cara memainkannya, kamu tau cara membuatku terlena dengan cecapan yang kamu lakukan.” Kata Lavly yang mengaku jujur pada Davka.
Davka menepikan mobilnya sebentar di bahu jalan sambil terus mendengarkan ucapan dari wantia di sebelahnya. Lalu, meraih tengkuk Lavly dan menyatukan lagi bibirnya dengan milik Lavly yang ranum dan sangat menggodanya. Jujur, Davka juga begitu merindukan ciuman yang Lavly lakukan. Tapi, Davka tidak mau untuk mengatakan karna ia masih memiliki seorang istri dan apa yang dilakukannya dengan Lavly salah. Bahkan sangat salah.
“Tapi aku lebih hebat dari kekasihmu kan?” tanya Davka setelah ciuman mereka terlepas sebentar namun tetap lelaki itu masih memegang tengkuk Lavly.
Jarak antara wajah mereka juga masih sangat dekat, Lavly bisa mencium aroma mint dari nafas Davka yang mengoar ketika lelaki itu menghembuskannya.
“Tentu! Ciumanmu, lebih membuatku ketagihan daripada Vasant, Davka. Aku ingin lagi,” katanya sambil mengigit bibir bawahnya karna takut jika lelaki di hadapannya itu akan menolak permintannya.
“Aku akan memberikannya ribuan kali jika kamu ingin, Sayang.” Kata Davka lagi sambil menyatukan lagi ciuman mereka dan tentunya, Davka akan dengan mudah memperdalam ciuman mereka karna lelaki itu masih memiliki kuasa untuk melakukannya.
***
“Jangan beritahukan pada siapapun kalau kita …” pinta Lavly pada Davka sebelum mereka turun untuk menemui Nycta yang sudah menunggu mereka.
Lavly tidak bisa melanjutkan kata-katanya karna terlalu bingung harus berkata apa pada lelaki di sebelahnya yang sudah membuatnya tergila-gila karna ciumannya.
“Ya, tentu. Aku takkan memberitahukan pada siapapun kalau kita saling menginginkan,” ucap Davka diiringi seringaian pada bibirnya.
Davka langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ketika ia merasa sudah aman, Davka kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Lavly dan sedikit mendekatkan tubuhnya pada Lavly.
‘Kalau saja tidak ada Vasant dan Larissa, diantara kita berdua. Aku pastikan akan mengejarmu, Lav. Sekalipun aku sudah tau apa saja yang kamu perbuat dengan kekasihmu. Tapi aku takkan merelakanmu bersama dengan orang lain.’ Kata Davka dalam hati sambil terus mencecap bibir Lavly yang terasa sangat manis dan tidak rela untuk ia tinggalkan begitu saja.
Davka lebih dulu melepaskan ciumannya pada Lavly. Ia ingin memberikan lavly kesempatan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum bertemu dengan Nycta yang nampaknya sudah bersiap untuk pergi makan malam bersama dengan eyang kung dan juga ibunya. Setelah diberitahukan jika mereka berdua sudah menunggu di halaman villa, Nycta kemudian keluar dan segera menaiki kursi penumpang bagian belakang.
“Sepertinya kalian jadi semakin dekat setelah pergi berjalan-jalan bersama,” Nycta sepertinya sedang mencari tahu sesuatu dengan situasi yang berbeda dengan Davka dan Lavly yang baru saja ia temui setelah beberapa jam berpisah darinya.
“Ya, kami banyak mengobrol. Jadi sudah tidak kaku lagi. Begitukan Dokter Lavly?” tanya Davka pada Lavly untuk meminta dukungan dari wanita cantik yang berada di sebelahnya.
“I-iya …” jawab Lavly sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil melirik Davka yang sedang cengengesan dengan situasi yang ada.
“Aku senang melihatnya. Semoga ada kabar baik setelah ini ya, Lav.” Katanya sambil mencolek lengan Lavly dan tersenyum senang karna nyatanya tebakan dia akan hubungan Lavly dan Davka akan segera terwujud.
Seolah Nycta sedang memberi tahu jika ia sudah tau tentang suatu kemungkinan yang terjadi ketika mereka berdua pergi bersama tadi.
***