“Kamu lagi di mana?” tanya Larissa yang langsung menanyakan keberadaan suaminya itu ketika pertama kali Davka menjawab panggilan telponnya.
“Lagi rumah eyang, kenapa?” tanya Davka balik yang sedang malas sebenarnya untuk bicara dengan istrinya itu.
“Kapan kamu pulang?” tanya Larissa lagi dengan nada seolah sedang sangat ingin tau kapan suaminya itu akan pulang dan kembali ke rumahnya.
“Belum tau, mungkin besok malam. Lagipula, untuk apa kamu bertanya? Toh, kamu juga tidak pernah ada di rumah.” Davka menyugar rambutnya ke belakang sambil duduk di ranjang king size di kamarnya.
Kalimat itu terdengar sarkas di telinga Larissa, tapi wanita itu harus banyak-banyak menanamkan kesabaran untuk mencegah Davka curiga ataupun semakin marah padanya.
“Aku minta maaf ya Dav soal kemarin.” Kata Larissa tiba-tiba setelah wanita itu diam beberapa saat sebelum akhirnya mengutarakan tujuannya menelpon Davka duluan.
Davka terkejut dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Larissa sendiri. Sepanjang ia mengenal Larissa hingga menikahi wanita keras kepala dan egois itu, Larissa tidak pernah mengucapkan kata maaf padanya. Selalu harus Davka duluan yang mengalah hanya untuk bisa memiliki hubungan yang baik dengan wanita yang mengisi hatinya itu.
“Tidak apa-apa. Aku hanya memang serdadu yang memiliki jabatan rendah. Kamu tidak perlu khawatir. Mungkin aku sedang banyak masalah saja mangkanya sampai bisa semarah itu padamu.” Ucap Davka yang sedikit menyindir Larissa.
Ia hanya masih tidak habis fikir dengan apa yang wanita itu inginkan. Larissa bahkan sama sekali tidak pernah mau tau apa yang dilakukan Davka dan apa maunya suaminya itu. Hingga Davka sendiri merasa sangat kesepian.
“Bukan itu maksudku, Dav. Sungguh, aku tidak bermaksud mengatakan itu padamu. Aku minta maaf ya, tolong kali ini maafkan aku.” Ucap Larissa lagi yang langsung berkata dengan lembut.
Ya, memang seperti biasanya. Larissa itu tidak pernah bisa ditebak kapan sisi baik dan lembutnya itu keluar dan kapan sisi jahatnya akan berkata seenaknya. Davka bahkan sudah sangat hafal dan hanya mengiyakan saja apa yang ingin dikatakan wanita itu padanya.
“Aku ditunggu ibu dan eyang untuk makan malam. Kamu jangan lupa makan ya, aku tutup dulu.” Kata Davka yang langsung mematikan sambungan telponnya.
Bahkan lelaki itu langsung mematikan ponselnya dan meninggalkan begitu saja di nakas sebelah ranjangnya. Davka langsung buru-buru bergabung dengan ibunya, Lavly, Nycta, dan eyang kungnya yang sudah berada di meja makan di dekat ruang keluarga. Davka yakin sekali, jika Larissa pasti sedang kesal padanya karna nyatanya usahanya untuk meminta maaf pada Davka tidak terlalu digubris suaminya itu. Malah cenderung terabaikan.
***
“Sudah mandinya?” tanya Lavly yang langsung tersenyum pada Davka yang duduk di sebelahnya ketika mereka sudah siap dengan makan malam mereka.
“Ya sudah, segar sekali. Akhirnya aku bisa mandi.” Davka tersenyum sambil membalikkan piring berbahan porselen berwarna putih yang ditaruh di hadapannya.
“Tampaknya, kalian berdua sudah sangat akrab. Memangnya tadi jalan-jalan ke mana?” tanya eyang kung yang juga sudah menyadari kedekatan Lavly dan Davka yang sudah seperti sepasang kekasih yang tidak ingin melepaskan satu sama lainnya.
Lavly langsung terbatuk mendengar pernyataan eyang kung. Davka yang berada di sebelahnya langsung refleks memberikan segelas yang berisi mineral bening untuk Lavly masukkan ke dalam tenggorokannya.
“Hahahaha … tuh kan. Kalian sepertinya cocok sekali,” tambah eyang kung yang langsung tertawa melihat keakraban cucu pertamanya dengan Lavly.
“Eyang, sudah jangan meledek kami terus. Kasihan Lavly sampai batuk-batuk seperti itu,” tegur Davka yang merasa tidak enak karna nyatanya eyang kungnya mulai memakai instingnya jika terjadi sesuatu antara Davka dan Lavly.
Jika sudah seperti ini, Davka dan Lavly mungkin tidak akan bisa lepas lagi dari pertanyaan-pertanyaan eyang selanjutnya.
“Baiklah, baiklah … eyang tidak akan meledek kalian lagi. Tapi tolong beritahu pada kami, ke mana kalian tadi jalan-jalan?” tanya eyang lagi di akhir kalimatnya.
“Kami hanya jalan ke kebun teh, makan cake. Juga mencicipi teh hasil karya perkebunan Eyang. Aku perkenalkan pada Lavly agar ia tau jika Eyangku ini sangat hebat. Dan selebihnya kami hanya mengobrol saja. Iyakan, Lav?” tanya Davka yang meminta dukungan pada wanita yang berada di sampingnya itu.
Tampaknya Lavly sudah tidak batuk-batuk lagi karna terbukti jika ia sudah mulai menyuapkan sedikit demi sedikit makanan yang ada di piringnya untuk ia masukkan ke dalam tubuhnya. Lavly juga mengangguk sambil menyeka bibirnya dengan tissue putih untuk menghilangkan bekas air yang menempel di sekitar bibirnya, yang membuat bibirnya menjadi basah. Wanita itu benar mendukung ucapan lelaki di sebelahnya itu.
“Oh, seperti itu. Pantas saja tadi eyang seperti melihat mobilmu, Dav. Eyang fikir itu bukan mobilmu. Jadi eyang tinggal saja.” Jawab eyang lagi.
“Lalu, kalau Eyang tau itu mobilku, apa yang akan Eyang lakukan? mengganggu kami berdua mengobrol gitu maksudnya?” Davka menyelesaikan kalimatnya, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Tentu saja iya, eyang juga kan ingin sekali mengobrol bersama dengan anak muda seperti kalian.” Kata eyang kung lagi sambil sedikit terkekeh. “Dav, kalau mau cari istri tuh ya seperti Dokter Lavani dan Dokter Nycta. Sudah cantik, baik, mereka juga penurut.” Kata eyang kung yang memuji kedua tamunya langsung di depan orangnya.
Nycta, ibu Deva, dan Lavly hanya tersenyum mendengar ucapan yang dikatakan eyang kung barusan. Sedangkan Davka hanya geleng-geleng kepala karna tak percaya jika eyangnya akan bicara seperti itu di depan Lavly dan Nycta.
***
Setelah mengantarkan Lavly dan Nycta ke villa atas untuk benar-benar beristirahat. Davka langsung kembali pulang ke rumah eyang kungnya. Ia tak langsung masuk ke dalam kamarnya. Tapi lelaki itu memilih untuk duduk di halaman belakang rumah eyangnya untuk menatap taman bunga yang tentunya di rawat oleh sang ibu. Davka duduk kursi taman dan agak sedikit kedinginan karna nyatanya, hawa setelah turun hujan tadi saat mereka makan malam malah membuat malam itu semakin dingin. Tapi tidak apa-apa Davka sangat suka dengan hawa dingin seperti ini yang jadi memberikan sedikit romansa.
Davka sedikit merenungi nasib dirinya dengan Larissa yang sampai saat ini masih tidak tau mau dibawa ke mana arahnya. Untuk kali ini, ia benar-benar merasa ada yang sedikit membuatnya bimbang. Kadang kala jika sedang seperti ini, Davka ingin sekali mengakhiri hubungannya dengan Larissa begitu saja. Toh, hidup sendiri tanpa wanita itu sudah biasa ia lakoni dibanding sekarang, memiliki hubungan yang sakral dalam sebuah ikatan pernikahan. Tapi malah seperti sepasang orang asing yang tidak tau apa mau masing-masing.
“Dav! kenapa melamun? Dingin loh di luar. Masuk yuk …” ajak sang ibu yang ternyata masih belum tidur ketika Davka sudah agak lama duduk di kursi taman itu seorang diri.
“Kok Ibu belum tidur? Memangnya ga cape?” tanya Davka yang langsung menarik pergelangan tangan ibunya untuk ia ajak duduk di kursi taman bersamanya.
“Ibu belum ngantuk, Nak.” Ibu Deva tersenyum.
Senyuman itulah yang selalu Davka rindukan. Senyuman ibunya yang selalu membuatnya merasa tenang sekalipun ia memiliki segudang masalah. Deva mengikuti keinginan anak sulungnya untuk duduk bersama di kursi taman itu. Mungkin ada sedikit cerita yang Davka ingin bagi padanya. Sekalipun Deva masih tidak tau apa masalah anaknya itu. Tapi naluri keibuannya mengatakan jika Davka sedang memiliki masalah yang sangat berat untuk ia bagi dengan sang ibu.
“Kamu ada masalah? cerita dong sama ibu,” kata Deva yang langsung mendekatkan dirinya pada anak sulungnya itu.
Menatapnya dengan penuh keteduhan. Berharap Davka akan langsung menceritakan hal berat apa yang sedang ia hadapi sampai semurung saat ini.
“Biasalah, Ibu pasti tau apa masalahku dengan menantu Ibu. Terkadang aku masih tidak bisa mengerti dengan jalan fikiran Larissa yang sampai saat ini masih aku raba. Kadang ia sangat manis, baik, dan terlihat membutuhkanku. Tapi terkadang juga ia terlihat seperti wanita yang mandiri, arogan, dan banyak keinginannya yang sampai saat ini masih belum aku faham.” Kata Davka lagi dengan helaan nafas setelahnya.
“Kamu bertengkar lagi sama Larissa? Apa luka-luka ini karna Larissa …” Deva langsung membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka karna terkejut.
Segelintir perasaan dan praduga langsung muncul di kepalanya.
“Bukan Bu, luka-luka ini karna Lavly.”
Deva semakin terkejut dengan pengakuan anaknya.
“Kamu mengenal Lavly? Apa kamu punya hubungan khusus dengannya? jangan-jangan kamu mau membalas Larissa dengan berselingkuh dengan dokter Lavani?” tanya Deva yang langsung memberendel anaknya itu dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Bukan, bukan karna aku ingin berselingkuh dengannya. Aku juga masih belum memiliki hubungan apapun dengan Lavly. Hanya saja, setiap kali aku berdekatan dengan Lavly aku merasa sangat nyaman, Bu. Aku merasakan seperti ada sesuatu rasa yang aku masih tidak mengerti apa artinya diantara kami berdua.” Ujar Davka yang sedikit mengulas senyuman ketika mengatakannya. “Aku juga tidak ada niat berselingkuh dari Larissa untuk membalaskan rasa kecewaku pada istriku itu. Sekalipun, dia pernah mengkhianatiku. Tapi aku tidak pernah berfikir demikian, Bu.” Sambung Davka setelah ia membuang tatapannya lurus ke depan.
“Ibu juga nyaman dengan Lavani, Dav. Beda rasanya ketika ibu dekat dengan Larissa, istrimu. Tapi, apa Lavani tau kalau kamu sudah memiliki istri?” tanya Deva pada Davka yang langsung teringat dengan Larissa, istri Davka.
Sekalipun, wanita itu jarang sekali bersikap baik. Tapi nyatanya, Davka sangat mencintai Larissa.
“Belum, aku tidak mau terlalu mengatakan apapun dengan Lavly. Karna aku juga masih belum tau apa arti perasaanku ini padanya. Lavly juga sudah memiliki kekasih, Bu. Tapi mereka sama sekali tidak mendapatkan restu dari papanya Lavly. Nanti kalau sudah jelas tentang semuanya. Aku pasti akan bercerita padanya. Untuk saat ini, aku rasa tidak perlu menceritakan apapun tentangnya. Lavlypun masih belum tau apa pekerjaanku. Aku masih ingin terus menyelami perasaanku padanya. Lagipula, aku yakins sekali jika iya mencari tahu tentang diriku melalui mesin pencarian, tidak banyak yang ditulis di sana tentang aku dan Larissa. Karna memang aku juga jarang sekali muncul bersamanya.” Ucap Davka.
“Lalu bagaimana dengan Larissa, ibu ga mau ya Dav nantinya disalahkan oleh keluarga Hendrawan hanya karna kamu duluan yang bermain api pada wanita lain. Sekalipun, ibu tau Larissa itu pernah beberapa kali mengkhianatimu, tapi ibu sama sekali ga mau, kejadian yang ibu alami dengan ayahmu terjadi padamu dan Larissa.” Kata ibu Deva yang memandang nanar langit-langit di atasnya.
“Tidak Bu, aku pastikan tidak akan ada yang namanya perselingkuhan. Entah kenapa kali ini juga aku merasakan ada yang aneh dengan Larissa. Mudah-mudahan, dia sedang tidak melakukannya lagi untuk yang kesekian kalinya.” Davka kini memeluk tubuh ibunya untuk ia peluk dari samping. “Pokoknya Ibu tenang aja. Ibu ga usah khawatir, aku janji tidak akan melukai Larissa sekalipun wanita itu sudah banyak melakukan kesalahan padaku. Aku akan memaafkannya jika memang kecurigaanku ini benar adanya. Tapi, jangan paksa aku ya Bu untuk tetap bertahan dengannya untuk yang kesekian kalianya telah berbuat salah padaku. Ini kesempatan terakhir yang aku berikan padanya.” Tambah Davka untuk menenangkan ibunya.
“Memangnya kamu sudah punya bukti?” tanya ibu Deva yang langsung memperhatikan anaknya itu dengan seksama.
***