Isi Diary

1016 Kata
Winda telah kembali ke rumahnya sejak kemarin, keadaan nya sudah membaik sejak mengalami alergi kemarin. Awalnya Winda menolak untuk pulang, begitupun Rania dia juga mencoba menahan Winda agar tetap tinggal di rumah nya.   "Mas kita biarkan saja Winda tetap tinggal disini dulu, barang satu atau dua hari sampai keadaannya membaik" ucap Winda saat Aldi meminta Winda untuk pulang.   "Gak papa Ran, keadaannya sudah membaik. Dokter juga bilang tidak ada yang perlu di khawatirkan." ucap Aldi, Rania tidak bisa membantah jika Aldi sudah mengambil keputusan.   Namun keadaan hati Rania belum juga membaik, pikirannya terus saja tertuju pada isi dari buku diary Winda. Rania juga belum membicarakan masalah ini pada suaminya, dia masih menguatkan hatinya sendiri. Perubahan sikap Rania sangat dirasakan jelas oleh Aldi. Rania setiap hari selalu tersenyum tulus di depan Aldi, namun sejak kemarin senyuman itu terlihat sangat dipaksakan. Meskipun begitu, Rania masih melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Aldi juga tidak berani bertanya, Aldi sangat paham dengan keadaan Rania. Jika hatinya sudah tenang, Rania akan berbicara sendiri tanpa diminta. Hingga saat Aldi pulang dari kantor, Rania tidak datang menyambutnya. Aldi masuk ke dalam kamarnya secara perlahan dan didapati Rania sedang menangis tersedu.   "Ada apa Ran? Kenapa kamu menangis?" Aldi segera menghampiri Rania dan memeluknya, Rania yang kaget dengan kedatangan Aldi segera menghapus air mata di pipinya.   "Gak papa mas, kamu kok sudah pulang?" tanya Rania, dia mencoba tetap kuat.   "Aku sudah mengucap salam dari tadi, yadi kamu gak dengar. Kamu kenapa?" tanya Aldi lembut.   "Gak papa mas" ucap Rania.   "Kamu lupa kalau aku ini suamimu? Kalau ada apa-apa kamu cerita, agar aku tau apa yang terjadi" ucap Aldi lembut, dia membelai lembut rambut Rania. Rania menatap mata suaminya, mungkin dia harus mengatakan apa yang terjadi agar mereka bisa mengambil keputusan kedepannya.   "Aku menemukan ini di kamar Winda" Rania mengambil buku diary Winda dari laci dan memberikannya pada Aldi.   "Apa ini?" tanya Aldi heran, dia memang tau jika buku yang ada di tangannya itu adalah buku diary tapi dia heran mengapa Rania memberikan buku itu padanya.   "Kemarin aku menemukan buku itu dalam keadaan di kamar Winda, awalnya aku tidak ingin membacanya. Tapi aku penasaran dengan isinya saat aku tidak sengaja membaca nama kamu tertulis dalam buku itu." ucap Rania.   "Tapi setelah aku baca, aku menemukan suatu kebenaran yang mengejutkan" lanjutnya. Mendengar cerita Rania membuat Aldi dilanda penasaran. Apa isi dari buku ini sampai Rania begitu sedih, perlahan tapi pasti Aldi membuka buku itu dan segera membaca semua yang tertulis di dalamnya, pantas saja Rania merasa begitu terpukul ~pikir Aldi.   Dalam buku itu tertulis kisah hidupnya saat sebelum kehadiran Rania, dimana Winda bersahabat baik dengan Aldi. Hingga buah dari persahabatan itu menimbulkan kedekatan antara keduanya dan menimbulkan benih cinta di hati Winda, sayang sekali cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun Einda masih saja berharap suatu hari Aldi akan membuka hati untuknya. Hingga suatu hari Rania masuk kedalam kehidupan mereka, dan bergabung menjadi sahabat keduanya. Rania yang memang sahabat kecil Winda dengan sangat mudah akrab dengan dia maupun Aldi. Namun Winda sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa Aldi jatuh cinta pada Rania. Harapan untuk menjadi belahan hati Aldi dia hapus secara paksa sejak Aldi memutuskan untuk melamar dan menikahi Rania. Sejak kecil Rania telah sangat berjasa untuk Winda, orang tua Rania juga sangat banyak membantu keluarganya. Winda pikir dengan menghapus cintanya pada Aldi adalah bentuk dari balas budi Winda untuk Rania.   Bahkan sampai saat ini Winda masih sering menangis secara diam saat kebahagiaan menimpa pada Aldi dan Rania. Bahkan hatinya masih bisa menangis dibalik senyum di setiap candaan yang Winda berikan, setiap pertanyaan kapan menikah? Siapa pacarmu? Yang selalu ditanyakan Rania bagi Winda terdengar seperti ledekan yang terus menertawakan nasib hidupnya. Hingga di bagian terakhir buku diary itu tertulis jika kehidupan yang diberikan tuhan sangat tidak adil, dan dia merutuki nasib yang telah menimpa dirinya. Tentu saja pada bagian itu membuat Rania benar-benar merasa bersalah, bagaimana bisa dia sama sekali tidak mengetahui isi hati Winda yang sebenarnya. Seandainya dia mengetahui hal ini sebelum menikah, mungkin Rania akan berpikir dua kali untuk menerima lamaran Aldi. Karena bagi Rania kebahagiaan Winda adalah bahagianya juga, tapi saat ini Rania sudah menemukan kebahagiaan dia bersama Aldi dan dia tidak mungkin melepasnya.   Aldi tidak terlalu terkejut mengetahui semua ini, segera dia tarik Rania ke dalam pelukannya. Dia belai rambut istrinya lembut, dia cium pucuk kepala Rania beberapa kali. Saat ini pasti Rania sangat terpukul, Rania pasti merasa menjadi sahabat yang buruk. Istrinya itu memang mempunyai hati yang sangat tulus, berbanding terbalik dengan Winda.   "Maaf, sebenarnya setelah kelahiran Syifa Winda mengutarakan perasaannya padaku. Aku mau cerita sama kamu, tapi aku tidak mau merusak persahabatan kamu, persahabatan kita. Aku pikir aku bisa mengatasi ini semua sendiri, tapi aku tidak sangka kamu akan mengetahui semua ini. Jujur aku merasa lega karena kamu akhirnya tau juga, dan aku janji kita akan hadapi ini sama-sama." ucap Aldi. Rania melepas pelukan Aldi dan menatap wajahnya.   "Jadi itu alasan sikap kamu yang berubah menjadi dingin dan sinis pada Winda?" tanya Rania, Aldi menjawab dengan anggukan.  "Iya, aku tidak mungkin terus bersikap baik pada orang yang mau merusak hubungan kita" ucap Aldi, Rania mencoba mencerna perkataan Aldi.   "Winda tidak mungkin menghancurkan rumah tangga kita mas, dia mungkin hanya ingin mengutarakan isi hatinya saja pada kita. Dia sudah cukup lama memendam perasaan cintanya." ucap Rania.   "Ran, aku sebenarnya tidak mau bilang ini sama kamu, karena aku yakin kamu tidak akan percaya. Tapi kamu harus tau jika saat winda menyatakan cinta, dia juga bilang jika dia akan menghancurkan rumah tangga kita. Itu yang membuat aku jadi tidak suka padanya." ucap Aldi, Rania menggeleng tak percaya dengan ucapan Aldi.   "Sudah ya Ran, pokoknya aku akan selalu ingat dan menempati janji aku untuk selalu setia sama kamu. Jadi kamu gak perlu khawatir." Aldi tersenyum dan mencium dan memeluk Rania, memberikan ketenangan dan mengisyaratkan bahwa Aldi akan selalu ada di samping Rania apapun yang terjadi. "Terimakasih mas," Rania mengeratkan pelukan dan menangis haru.  Rania bahagia karena bisa dicintai Aldi, dia berjanji akan membantu Winda untuk menemukan kebahagiaan nya, walau tidak bersama Aldi. Rania pikir jika dia harus bicara dari hati ke hati bersama Winda. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN