Hari ini Winda berniat untuk pergi meninggalkan rumah Rania karena urusannya sudah selesai. Sebelum Winda pulang, Rania telah menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Rania membuat sup ayam hari ini, sayur yang telah mengepul ditambah nasi hangat yang sudah siap di atas meja sungguh menggoda untuk segera disantap. Aldi, Rania dan Winda telah siap untuk sarapan, Rania menyiapkan makanan untuk Aldi terlebih dahulu.
"Ran, makasih ya aku udah dibolehin nginep disini" ucap Winda dengan senyum di wajahnya.
"Iya, makasih juga kamu udah mau mengurus butik seorang diri akhir-akhir ini. Nanti kalau Syifa udah agak besar aku bakalan ke butik lagi" ucap Rania.
"Iya, santai aja. Butik itu kan kita yang bangun bersama, jadi sudah kewajiban aku untuk terus membuat butik kita maju." ucap Winda. Para wanita sedang mengobrol di sela-sela menyantap makanan, sementara Aldi hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Aldi hanya fokus dengan makanan nya.
Ditengah acara makan Winda merasa ada sesuatu yang aneh dengan tenggorokannya, entah apa yang terjadi tiba-tiba tenggorokan Winda terasa panas. Rania melihat ada yqng tidak beres dengan Winda, dia merasa kaget.
"Kamu kenapa Win?" tanya Rania khawatir.
"Sepertinya aku alergi deh Ran" ucap Winda dengan suara tercekat. Pikiran Rania segera menerawang, jika diingat Winda itu hanya mempunyai alergi terhadap bumbu lada. Tapi tadi Rania tidak memasukan bumbu itu kedalam makanan nya. Bagaimana bisa semua itu terjadi?
"Mas, cepat bawa Winda ke rumah sakit." pinta Rania. Aldi hanya memutar bola matanya malas.
"Ya udah tinggal kasih obat, nanti juga baikan. Dia pasti punya obat pribadi di dalam kamarnya." ucap Aldi. Rania sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada sahabatnya sendiri. Sementara Rania makin dibuat takut dengan kondisi Winda yang makin mengkhawatirkan, wajahnya sudah terlihat sangat pucat saat ini.
"Mas cepat! Jangan sampai keadaan Winda memburuk" ucap Rania memohon pada suaminya. Sementara Aldi masih berdiam diri saja di tempat duduknya.
"Mas, aku mohon. Kamu cepet bawa Winda ke rumah sakit, aku gak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada Winda" melihat Rania yang memohon membuat hati Aldi menjadi luluh. Dia tidak tega melihat istrinya harus memohon demi Winda, di situ Aldi sadar betapa besar rasa sayang Rania kepada Winda. Tanpa bada-basi Aldi segera membawa Winda masuk ke dalam mobilnya. Rania melihat tangan Winda memeluk erat pada Aldi, Rania berpikir pasti Winda sangat kesakitan sekali.
"Ran, kamu ikut ke rumah sakit?" tanya Aldi setelah mendudukan Winda di kursi mobilnya. Yang membuat Rania merasa heran adalah saat Aldi mendudukan Winda di kursi belakang, kenapa tidak di depan saja? pikir Rania.
"Aku tunggu Syifa di rumah mas, kamu kabarin aja jika ada apa-apa." ucap Rania.
"Ya udah, kamu hati-hati di rumah yah" Aldi segera mengendarai mobil menuju rumah sakit.
Rania kembali masuk ke dalam rumahnya denhan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. Saat hendak berjalan menuju kamarnya, Rania tidak sengaja melihat pintu kamar Winda terbuka. Rania berniat untuk menutup pintunya namun matanya tertuju pada sebuah buku yang terbuka di atas nakas. Rania mendekat, awalnya Rania hanya berniat untuk menutup buku yang terbuka namun rasa penasarannya meningkat ketika melihat nama suaminya tertulis di buku itu. Rania sangat tau jika membaca buku diary orang lain itu tidak diperbolehkan, meskipun buku itu milik sahabat terdekatnya sekalipun. Tapi sungguh, dia sangat penasaran dengan isi dari buku itu. Rania akhirnya memutuskan untuk membacanya sedikit, dia yakin jika Winda tidak akan marah padanya. Awalnya Rania membacanya dengan tenang, namun ketika memasuki pertengahan cerita, air matanya terjatuh tanpa permisi, dia tutup mulutnya menggunakan tangan. Rania sungguh tidak percaya dengan apa yang telah dia baca.
Rencananya Rania hanya ingin membaca sedikit isi dari diary itu, namun setelah mengetahui isinya Rania mengurungkan niatnya, dia membaca seluruh isi diary itu sampai selesai. Saat sudah selesai, Air mata Rania turun semakin deras. Hatinya menolak untuk mempercayai semua itu, namun mata telah menjadi saksi bagaimana dia harus menerima semuanya. Rania segera menutup buku diary itu, dia tidak meletakkan kembali pada tempatnya, tapi dia malah membawa menuju kamarnya. Hatinya kembali teriris ketika melihat wajah damai syifa yang tengah tertidur.
"Bagaimana bisa selama ini aku bahagia di atas penderitaan sahabatku sendiri?" ucap Rania dengan air mata yang terus mengalir.
"Bagaimana bisa aku tidak tau bagaimana perasaan Winda yang sesungguhnya" lanjutnya.
"Maaf" lirihnya, sambil memeluk buku diary yang ada di genggamannya. Saat ini perasaannya begitu berkecamuk, dia bingung apa yang harus Rania lakukan saat bertemu dengan Winda nanti. Saat ini Rania sadar jika mengetahui kebenaran yang tersembunyi itu sangat menyakitkan.
Dua jam berlalu, saat ini raga Rania sudah terlihat baik-baik saja. Rania bisa mengurus dan bermain dengan putrinya, tapi berbeda dengan hatinya. Rasa sakit itu belum juga hilang, hatinya masih menangis dalam diam nya. Hingga suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumahnya. Jika menuruti ego, Rania tidak ingin menemui Winda untuk saat ini. Tapi Rania sadar, jika apa yang menimpa Winda saat ini adalah kesalahan Rania, dengan menguatkan hati dia hapus sisa air mata yang mengalir di pipinya, dia bawa Syifa kedalam gendongannya dan segera menyambut kedatangan Winda dan Aldi.
Melihat Aldi masuk ke dalam rumah dengan menggandeng Winda membuat air mata Rania jatuh tanpa diminta. Ternyata berusaha tegar itu tidak semudah mengucap kata tegar. Rania terlalu rapuh untuk menghadapi ini semua, Rania segera membalikan badan mengurungkan niatnya dan segera kembali ke kamarnya. Aldi yang sempat melihat Rania merasa heran dengan sikapnya, dia sama sekali tidak menanyakan keadaan Winda. Aldi segera membawa Winda ke kamarnya, dengan nada sinis Aldi mengatakan
"Kamu sebaiknya cepat pulang, jadi drama kayak gini tuh gak akan pernah terjadi"
"Drama apa sih Al, kamu denger sendiri kan kata dokter tadi apa, aku tuh beneran alergi. Kamu jangan berpikiran buruk sama aku dong" sanggah Winda.
"Siapa yang berpikiran buruk? aku anggap ini hanya kecelakaan kecil aja. Atau sebenarnya kamu sengaja melakukan semua ini agar tidak segera pergi dari sini?" tuduh Aldi.
"Iya, aku memang melakukan semua itu" ucap Winda.
"Dasar wanita gila!" ucap Aldi kemudian meninggalkan Winda sendirian.
Sementara Winda tersenyum sinis dan berkata dalam hatinya. ~Kehadiran aku sudah berhasil membuat pertengkaran kecil dalam rumah tangga kalian, apalagi jika aku sampai masuk kedalam hati Aldi, maka rumah tangga kalian akan hancur!