Bersama?

1099 Kata
Maniola merasakan jantung Maki yang berdetak dengan tenang di sana. Laki-laki itu tertidur. “Pulanglah!” teriak Hades memenuhi rongga kepalanya sekarang. “Jangan bertanya apa pun. Pulang sekarang!” Sekali lagi suara Dewa Pemarah itu terdengar. “Ada apa dengan dia,” sungut Maniola yang kemudian mengubah dirinya menjadi kupu-kupu dan pergi ke dunia bawah. Macarie menyambutnya di sisi Sungai Akharon. Berjalan dengan cemas di depan Kharon yang selalu diam. “Aku sudah memperingatkanmu,” desis Kharon. Macarie tak percaya dia mengeluarkan suaranya. Maniola hanya bisa mendesah. “Dia bicara?” tanya Macarie yang takjub dengan situasi itu. “Aku bicara seperlunya, Dewi,” kata Kharon membuat Macarie semakin tertegun. “Ayo pergi, Hades mengamuk sepertinya,” ajak Maniola. Macarie melayang mengikuti Maniola menyeberangi Sungai Akharon. “Apa dia terdengar marah?” tanya Macarie kembali ke inti masalah mereka. “Sepertinya, dia . Dia jarang menggunakan telepati untuk menghubungiku lewat telepati,” jawab Maniola pasrah. “Ayah kemarin banyak menghabiskan waktu bersama Ibu. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya saja wajah ayah tampak risau,” papar Macarie. “Kamu mengintip mereka?” Maniola tak percaya. “Tidak! Aku hanya kebetulan lewat,” sergah Macarie sambil melotot ke arah Maniola. Dia sama sekali tidak terlihat takut. Macarie kagum dengan ketenangan Maniola menghadapi masalah. Mereka tiba di depan singgasana Hades. Raja Bawah Tanah itu sedang termenung di sana. Cerberus turun menyambut Maniola yang mengubah dirinya ke bentuk manusia. Anjing berkepala tiga itu bergelung manja di kaki Maniola. Tidak memedulikan Macarie yang melotot ke arahnya. “Arnie menghadap, Yang Mulia,” kata Arnie membuat Maniola mendesah. Macarie paham apa yang terjadi sekarang. Dia mengepalkan tangannya, tak percaya makhluk itu sudah melaporkan Maniola. “Katakan apa yang kamu lihat di dunia atas,” pinta Hades malas. “Maniola, sudah melanggar hukum. Dia seorang roh, tapi dia terlibat sebuah hubungan dengan manusia,” jelas Arnie. “Dan kamu bisa mempertanggungjawabkan pernyataanmu itu?” desak Hades. Sebuah hologram muncul di hadapan mereka, gambaran yang terjadi saat Maniola bersama Maki. Gambaran yang muncul dari pikiran Arnie. Hades terdiam. Memperhatikan semua itu dengan napas berat. Bisa-bisanya dia ketahuan. “Maniola, apa yang akan kamu bantah?” tanya Hades sambil menatap Maniola yang terlihat tenang. “Aku tidak akan membantah, dan tidak akan menyangkal. Hukuman apa yang akan kuterima, akan kujalani,” pasrah Maniola. Cerberus mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui perkataan itu. Maniola mengelus mereka dengan perasaan mantap. “Aku akan membebas tugaskanmu dari semua urusan dengan roh, mengusirmu dari dunia bawah,” kata Hades pada akhirnya. Macarie terkejut. Terlebih Arnie. Dia tak menyangka hukuman Maniola hanya itu. “Tapi, Yang Mulia---,” kata Arnie mengurungkan kalimatnya. Dia ingin Maniola merasakan hukuman yang lebih dari itu. Jika dibebas tugaskan dan diusir dari dunia bawah, maka itu sama saja merestui pembangkangannya. “Apakah aku pernah menarik kalimatku?” tanya Hades. Arnie menggeleng cepat, dan berusaha menerima tentang hal itu. Walau masih ada yang mengganjal di hatinya. “Apakah kamu menerima itu?” tanya Hades memastikan Maniola paham dengan keputusannya. “Aku menerimanya.” Maniola menunduk dan mencium satu per satu kepala Cerberus. “Aku pergi, jangan nakal. Turuti semua perintah Hades,” bisiknya. Cerberus seolah mengerti dan gelisah. Dia tak ingin melihat Maniola pergi. “Aku akan mengunjungimu, dengan sering. Asal Hades mengijinkannya,” gumam Maniola lagi. Hades mendengus. Macarie masih mematung di sana. Tak menyangka ayahnya akan mengeluarkan ultimatum itu. “Boleh aku berpamitan pada Persephone?” ijin Maniola. Hades mengangguk. Arnie menatap dengan pandangan tak suka. Dia tahu Maniola punya hubungan khusus dengan Dewi itu, tapi dia tak suka dengan kedekatan mereka. Terlebih Hades tak pernah menegurnya saat memanggil namanya saja. Mereka keluar dari balairung itu. Cerberus mengikuti Maniola, mengabaikan teriakan Hades yang menggelegar menahannya. Macarie menatap Arnie yang langsung menyembunyikan wajahnya dan menghindar. Dia melihat roh itu penuh dengan amarah. Mereka menuju taman bunga Persephone dengan berjalan sepanjang sungai buatan, menuju daerah tersembunyi di dunia bawah, yang khusus Hades buat untuk istrinya itu. Persephone sedang menciumi bunganya saat Maniola dan Macarie datang. “Cer, jangan rusak bungaku!” teriak Dewi itu membuat Macarie tertawa. Cerberus tak tahan melihat bunga-bunga itu dan bergegas lari menggulung dirinya di sana. Merusak beberapa tanaman. Persephone hanya bisa mendesah. Dia tak bisa sepenuhnya marah. “Ada apa kalian kemari?” keluhnya. “Aku akan berpamitan. Hades mengusirku,” kata Maniola menggenggam tangan halus berwangi bunga itu. “Aku tidak bisa mencegahnya,” kata Persephone iba. “Tak apa. Ini memang salahku. Namun, ini malah membuatku yakin untuk berjalan,” tutur Maniola. “Aku selalu di sini jika kamu butuh bercerita. Aku yakin anak ini tak bisa diandalkan kadang-kadang,” ledek Persephone sambil melirik Macarie yang bersungut-sungut. “Ibu bahkan lebih menyukai Ola daripada aku,” gerutunya. “Karena Ola tidak pernah mengeluh sepertimu,” balas Persephone. “Aku akan bersama Cerberus saja,” kata Macarie pura-pura kesal dan meninggalkan mereka berdua. Dia memberi ruang kepada Maniola untuk mengungkapkan perasaannya. “Apa aku salah? Jika menuruti perasaan ini?” tanyanya sambil memilin gaun satinnya. “Tidak ada yang salah jika itu tentang cinta,” gumam Persephone. “Aku hanya ingin mematahkan kutukan Poine,” desis Maniola pasrah. “Lakukan, jika itu memberimu sebuah perasaan dan keharusan yang mendesak.” Dewi itu memeluknya. Mengelus punggungnya memberi penguatan. “Cinta, memang perlu diperjuangkan. Lihat saja Hades dengan kekolotan dan keposesifannya terhadapku,” kata Persephone seraya mengingat bagaimana Dewa itu mengurungnya di sini. Cinta Hades yang terlalu besar sudah membuatnya terkungkung, dan tak kuasa untuk menolak, walau pada akhirnya dia merasakan juga cinta yang sebenarnya. “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” “Aku akan berada di dunia atas, untuk membuat kutukan itu hilang.” Maniola memantapkan hatinya. “Jika kamu yakin, apa pun caranya, lalukan,” kata Pesephone. Maniola mengangguk. Matanya menatap Cerberus dan Macarie yang sedang asyik berkejaran. Mereka seolah menikmati kebersamaan. Akankah dia juga akan menikmati kebersamaannya bersama Maki? Atau akan menyesalinya nanti? Arnie memperhatikan Maki yang sedang tertidur. Roh yang kabur membawanya ke sini, kamar Maki. Dia sangat penasaran apa yang membuat roh begitu tertarik dengan laki-laki itu. Begitu juga Maniola. Sampai dia rela diusir dari dunia bawah. “Apa yang membuatmu begitu istimewa?” gumam Arnie sambil berjongkok di jendela flat Maki. Sementara Maki, memimpikan padang rumput dan kupu-kupu cokelat yang terus mengajaknya bermain. Menari melintasi hamparan hijau, menghirup udara yang segar, lalu bertemu dengan ayahnya. Bertemu dengan orang yang dia cintai di padang rumput, bersama dengan kupu-kupu yang sangat cantik, adalah mimpi aneh yang membuat Maki tak ingin tersadar. Dia ingin menikmati hal itu lebih lama. Dia enggan membuka matanya, walau badannya kembali merasakan panas yang sangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN