Keputusan

1091 Kata
Arnie mendengar kepak sayap Maniola. Dia sedang tak ingin bersitegang dengan kupu-kupu itu. Setelah mengambil beberapa roh yang mencoba mendekati Maki, dia pergi. Maniola tiba, kemudian hinggap di nakas dekat tempat tidur Maki. Dia tak ingin membangunkan laki-laki itu. Masih merenungi keputusan yang dia buat. Dia sekarang sudah tak punya tempat tinggal tetap. Diusir dari dunia bawah, berarti dia adalah roh gentayangan yang bisa saja ditangkap oleh Arnie atau yang lainnya. Maniola melihat Maki gelisah dalam tidurnya. Keringat mengembun di dahi dan punggungnya. Setelah menarik napas panjang, dia mengubah dirinya menjadi gadia yang dikenali oleh Maki, tapi masih dalam bentuk tak terlihat. Menyentuh punggung Maki yang kini tak lagi berpendar semerah kemarin. Hawa panas masih terasa. “Hari ini, sepertinya para roh sedang berlibur,” gumam Maniola. Dia mengusap kening laki-laki itu. Sungguh dia ingin tahu apa yang sedang dia mimpikan. “Aku akan memelukmu mulai malam ini,” bisik Maniola. Di dalam alam bawah sadarnya, Maki mendengar senandung yang membuatnya merasa nyaman. Suara yang merdu menenteramkan. “Apakah, besok semuanya aka berjalan seperti biasa?” desis Maniola. Dia menyurukkan kepalanya di belakang punggung Maki. Menghantarkan dingin yang meredakan gelisah. Hades sedang mengunjungi Pesephone. Menatap wanitanya itu dengan sendu. “Hanya itu yang bisa kulakukan. Permainan konyol kami yang berakhir memusingkan,” kata Hades sambil memijat keningnya. “Dia akan baik-baik saja. Kita hanya tak tahu apa dia akan menerima semua kenyataan yang sedang kita sodorkan padanya,” ucap Persephone. “Ternyata mengurusi sebuah masalah itu berat,” gumam Hades membuat Pesephone tertawa. “Ini adalah sebuah pelajaran untuk kalian yang suka sekali membuat masalah dan melempar tanggung jawabnya ke orang lain,” ledeknya. Hades tersenyum, mengingat betapa benar perkataan Persephone. “Jangan contoh yang tidak baik, terlebih Zeus,” imbuh Persephone semakin membuat Hades tergelak. Mereka memang suka bereksperimen lalu melupakan masalah itu seolah tidak terjadi. Pun, sekarang tentang Maniola. Maki terbangun dengan aroma padang rumput di sekitarnya. Ingatannya masih belum sepenuhnya kembali, sampai ketukan pintu membuatnya mau tak mau kembali ke kenyataan. “Siapa pagi-pagi sudah bertandang?” gumam Maki. Lalu dia menyadari sesuatu. Ola. Tidak, dia harus bagaimana kalau ini Ola? Dia mengintip melalui lubang pintu. Benar, Ola sudah berdiri di sana. Dengan ragu, Maki membuka pintu untuk gadis itu. “Selamat pagi, aku sudah membawakan makanan untukmu,” kata Ola sambil mengangsurkan kotak makanan ke arah Maki. “Boleh aku masuk?” tanya Ola membuat Maki tersadar. Dia mengangguk pelan. Ola mengenakan gaun satinnya kali ini, berwarna biru muda, dia mengepang rambutnya yang biasanya tergerai. Maki seolah melihat dewi yang selalu orang sebutkan. Pun, dia melebihi visualisasi dewi di film-film yang dia lihat. Seiring langkahnya, gaun itu melambai dengan anggun. Maki masih terpana. Dia baru menyadari Ola cantik. Bukan, dia baru menyadari kalau Ola sangat cantik. “Kamu tidak usah repot,” kata Maki setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya. “Sepertinya, kamu harus terbiasa,” kata Ola tak menggubris Maki. “Maksudmu?” Masih jelas di ingatan Maki kalau Ola menolaknya. “Mari saling berbagi beban. Hari. Dan waktu,” pinta Ola membuat Maki tak percaya. “Maaf. Aku tidak berminat menjalin hubungan,” elak Maki. “Jadi mari saling menjaga jarak,” lanjutnya. Ola menghentikan langkahnya. Ini tak semudah yang dia kira. “Jika kamu menganggap aku sakit hati karena ucapanmu kemarin. Maka biarkan saja asumsi itu. Mari saling menjaga jarak,” ulang Maki. “Kamu menolakku?” tanya Ola lalu berbalik menatap laki-laki yang kini terpana dengan wajah sendunya. “Bukan. Aku hanya tak ingin menjadi beban. Jadi, tolong, jangan buat aku semakin berutang budi denganmu,” tukas Maki segera mengenyahkan bayangan saat bibirnya menyentuh bibir Ola. Ola mendesah. Ini memang salahnya. Sudah mematahkan semangat dan rasa yang menggebu kemarin. “Baiklah. Maaf mengganggumu. Makan saja sarapanmu, jangan lupa bawa bekal itu ke reservatori,” pinta Ola lalu keluar dan menutup pintu. Maki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung dengan sikapnya sendiri. Dia menginginkan Ola tapi juga tidak menginginkannya. Ego di kepalanya membesar karena dia tak ingin sakit hati lagi dengan kata-kata penolakan dari Ola. Ola berjalan dengan lunglai menuju flatnya. Ini ternyata tak semudah menangkap roh. Andai dia bisa melihat masa depan seperti Macarie. “Kamu akan menyerah?” tanya Macarie sudah berada di jendela flat Ola. “Hah. Kamu sungguh dewi yang tak punya kerjaan?” sungut Ola. “Salah sendiri banyak Dewa dan Dewi Kematian. Jadi ya, tugasku ringan,” katanya senang. “Tapi bukan berarti kamu harus menguntitku, ‘kan?” sergah Ola. “Aku tidak menguntitmu. Aku hanya khawatir.” Macarie tak terima disebut penguntit. “Khawatir dengan ingin tahu itu beda tipis,” elak Ola. “Ayolah, hanya kamu satu-satunya temanku,” rajuk Macarie. “Salah sendiri kenapa kamu tidak bergaul dengan dewi-dewi lainnya.” Ola merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia sudah cukup penat dengan penolakan Maki, kini Macarie seolah menempel padanya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Macarie ikut merebahkan dirinya di samping Ola. “Aku tak tahu,” gumam Ola sambil menatap langit-langit flatnya. “Hah. Kamu sudah seperti manusia yang jatuh cinta saja,” ejek Macarie. Ola memosisikan dirinya menyamping, menatap Dewi Kematian itu dengan penasaran. “Apakah manusia akan bertingkah seperti ini?” tanyanya. Macarie menggerakkan kepalanya seolah mengangguk membenarkan. “Sudah banyak cerita yang kusaksikan. Tentang cinta yang tidak bisa digapai, tidak bisa bersatu,” desisnya. “Aku hanya ingin mematahkan kutukan itu,” kata Ola kembali merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langitnya lagi. Macarie memainkan jemarinya, membuat sebuah hologram terlihat di sana. “Awalnya memang seperti itu, kamu hanya ingin membantunya. Lalu berinteraksi dengannya secara intens, mulai menyukainya pelan-pelan. Kemudian melakukan apa saja untuknya,” kata Macarie. Ola memainkan langit-langit yang sudah dihiasi oleh sihir Macarie. Mengaduk warna di sana menjadi membaur. Seperti perasaannya yang sekarang bercampur aduk. “Kamu akan terikat padanya. Menjadi sangat terobsesi, menghalalkan segala cara, hanya untuk menyenangkannya,” imbuh Macarie. “Apakah mengerikan seperti itu?” Ola masih tak percaya manusia bisa memiliki perasaan seperti itu dan dia tak percaya dirinya akan merasakan itu. “Kamu tidak percaya? Aku sudah banyak melihat kematian karena cinta,” ejek Macarie. “Seperti Romeo dan Juliet?” Ola kebetulan sangat menyukai opera itu. “Seperti itulah. Shaskepear sangat lihai memulas kisah cinta tragis menjadi sebuah contoh untuk manusia beranggapan bahwa cinta itu harus sehidup semati,” sungut Macarie. “Bukankah cinta memang seharusnya begitu?” Ola tak terima dengan pernyataan Macarie. “Bodoh. Cinta itu bisa saja tak harus bersatu, memiliki dan mengambil nyawa. Cinta itu hal yang membahagiakan, bukan sebuah penderitaan yang dibuat sendiri,” tukas Macarie.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN