Sepeninggal Macarie, Ola merenungi pembicaraan mereka. Bahwa cinta tak seharusnya menyakitkan.
Namun, bukankah dia tak melakukan ini untuk cinta? Dia melakukan ini karena ingin membuat laki-laki itu terbebas dari kutukan Poine?
“Dasar Pak Tua. Bisa-bisanya membuat masalah,” geram Ola. “Seharusnya kamu hidup tenang saja di sana!” teriaknya frustrasi.
Dia memukul-mukulkan tangannya di tempat tidur. Sekarang dia harus melakukan apa? Maki sudah menolaknya.
Sekarang bahkan dia juga tak punya pekerjaan. Menjadi roh pengangguran, luntang-lantung.
“Apakah, aku harus bekerja?” Tangannya berhenti memukul tempat tidur.
Dia lalu duduk tegak. Menekuk lutut dan memeluknya.
“Aku harus bekerja apa? Ah, aku bisa minta bantuan Maki, siapa tahu aku bisa bekerja di resevatori,” katanya seraya menjentikkan jari di atas kepala.
“Sekarang pasti Maki sudah berangkat kerja. Aku bisa menyusulnya,” gumamnya lalu mengibaskan tangannya berganti baju.
Dia memakai jeans, kaos longgar dan tas selempang kecil. Sama seperti yang dia lihat dari wanita-wanita di luar sana.
Langkahnya mantap saat menuju tempat kerja Maki. Dia menatap gerbang resevatori itu dan memasukinya setelah sedikit memperdaya penjaga loket.
Dia menuju kantor resevatori itu dan mengetuk pintu.
“Maaf, saya sedang mencari pekerjaan,” kata Ola dengan tidak yakin.
Dia bisa saja sebenarnya menggunakan sihirnya agar diterima, tapi sepertinya berusaha menjadi manusia tidaklah salah.
“Paruh waktu?” tanya seseorang yang membukakan pintu untuknya itu.
Walau Ola tak tahu apa arti dari paruh waktu, dia menganggukkan kepalanya.
“Masuklah,” kata orang itu.
Ola melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya. Suasana yang aneh untuknya yang tak pernah memasuki ruangan manusia secara nyata seperti ini.
“Kenalkan, namaku John.” Laki-laki itu menyodorkan tangannya.
Ola menerimanya dengan canggung, “Maniola, panggil saja Ola.”
“Wah, namamu berasal dari spesies kupu-kupu padang rumput!” teriak John antusia.
“Akulah kupu-kupu itu,” batin Maniola malas.
Ola tersenyum kaku. “Lalu, apakah saya diterima bekerja di sini?”
“Tentu saja. Aku sedang membutuhkan satu orang untuk membantu anak buahku di taman kupu-kupu. Anak-anak sering melanggar aturan untuk tidak menangkap atau memegang kupu-kupu di sana,” ulas John antusias.
Ola terkejut. Ini pasti sebuah kebetulan. Dia akan bekerja bersama Maki?
“Kamu bisa memakai seragam ini, lalu di sana lokermu, berganti bajulah,” lanjut John sambil menunjukkan sebuah bilik di pojokan.
Ola membawa baju berwarna kuning menyala itu dan memasuki bilik yang di maksud oleh John. Menggantinya dengan sekali kibasan tangan karena malas untuk melepas satu per satu baju yang menempel di badannya.
Setelah memasukkan bajunya ke kotak kecil yang disusun di dekat bilik kecil itu, dia kemudian menghampiri John yang tampak menuliskan sesuatu.
“Sebenarnya aku butuh semua data dirimu, tapi karena ini mendesak, maka tidak usah saja,” kata John.
Lalu dia membawa Ola menuju taman kupu-kupu di mana Maki sedang sibuk memangkas beberapa cabang bunga dan tak memperhatikan kedatangan mereka.
“Maki, aku membawakan rekan untukmu!” teriak John membuat laki-laki itu mendongak.
Seketika jantungnya berdetak lebih kencang saat melihat siapa yang ada di sebelah John. Ola.
“Dia teman barumu. Ajari dia mengelola taman ini. Sementara waktu, shift kalian aku samakan, karena dia harus banyak belajar,” papar John semakin membuat Maki tak bisa bicara.
Ola tersenyum canggung di sana. Memperhatikan kegugupan Maki yang sangat terlihat.
“Halo,” sapanya dengan senyum manis. Semakin membuat jantung Maki berdetak tak karuan.
“Maki! Jangan diam saja!” John tak sabar dengan sikap Maki yang seolah menjadi patung.
Maki tersadar dan menghampiri keduanya. Mengangguk canggung ke arah Ola.
“Ini Maki, dan ini Ola,” kata John mengenalkan mereka.
Ola ingin tertawa mendengarnya, karena dia sudah mengenal Maki.
John meninggalkan mereka berdua. Ola menatap Maki dengan mata penuh pengharapan, sementara Maki sibuk menata hati dan pikirannya.
“Bagaimana bisa kamu bekerja di sini?” selidik Maki.
“Aku mencari kerja, dan berujung diterima di sini,” jawab Ola tanpa rasa canggung sama sekali.
Maki mendesah tak percaya. Ini bukanlah sebuah kebetulan yang menyenangkan. Dia sudah memutuskan untuk menjaga jarak dengan Ola, lalu bagaimana bisa mereka sekarang menjadi rekan kerja?
“Kamu membawa bekal yang kubuatkan?” tanya Ola.
Maki tergagap dan mengangguk lemah. Kini kepala dan dadanya terasa sesak. Kepalanya sesak oleh rencana bagaimana lagi menghindari gadis itu. Sementara dadanya sesak bagaimana menghirup udara dengan benar.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Ola membuyarkan lamunan Maki.
“Oh, kita harus memotong beberapa dahan bunga yang mati dan merapikannya,” kata Maki mengulurkan gunting tanaman kecilnya kepada Ola.
Ola mengangguk mengerti. Biasanya dia akan menggunakan pisau untuk memangkas bunga di taman Persephone. Sambil melihat Maki menggunakan gunting itu, Ola menirukannya.
Para kupu-kupu yang melihat dan mengenali Ola merubunginya.
“Jangan berisik, pergilah,” desis Ola pelan agar Maki tak mendengarnya.
Dengung kepak sayap kupu-kupu malah semakin cepat dan mereka memutari badan Ola.
“Pergilah, jangan membuat Maki curiga,” pinta Ola.
Dengan serempak mereka kemudian membaur, tepat dengan pandangan Maki ke arah Ola. Gadis itu sedang sibuk memangkas batang bunga. Tangannya sangat terampil.
“Apakah aku melakukan kesalahan?” tanya Ola membuat Maki kaget.
“Tidak!” Serta merta Maki menjawab dan menggelengkan kepalanya cepat.
“Lalu, kenapa kamu menatapku begitu?” Ola penasaran.
“Tidak apa-apa!” elak Maki cepat lalu berbalik.
Sulur itu sudah mereda sekarang. Ola lega melihatnya. Sepertinya gelang dari Poine bekerja dengan baik.
Ola merasakan keinginan untuk memeluk laki-laki itu, tapi mengingat mereka sedang bekerja, dia menahan dirinya untuk tidak melakukan hal bodoh.
Maki berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya.
“Nona, apakah kamu baru? Biasanya Paman itu bekerja sendirian?” tanya seorang anak kecil yang tiba-tiba sudah ada di dekat Ola.
Ola menatap anak itu lalu menatap Maki. Kemudian menyadari sesuatu. Anak-anak memang biasanya berkunjung ke taman ini.
“Oh iya, aku baru bekerja hari ini. Ada yang bisa kubantu?” Ola berjongkok menyejajarkan dirinya dengan anak itu.
“Tidak. Aku sudah tahu semua nama kupu-kupu di sini, Paman itu yang mengajariku,” katanya polos.
Ola tersenyum, lalu mengacak rambut anak itu gemas. “Nanti, aku kenalkan pada kupu-kupu tercantik di sini,” bisik Ola membuat mata anak itu melebar.
“Mau!” teriaknya bersemangat.
“St ... st ... ini rahasia kita,” bisik Ola.
Anak itu mengangguk patuh lalu pergi. “Daniel, namaku Daniel,” katanya sebelum jauh.
“Ola, panggil aku Ola,” balas Ola membuat Maki memperhatikan interaksi mereka.
Ola mengerjapkan matanya saat bertatapan dengan Maki. Membuat kepala Maki semakin pening. Ini tidak benar. Dia harus menjauhi Ola.
“Sudah waktunya makan siang,” kata Maki memanggil Ola dan mengajaknya kembali ke kantor.
Ola mengikutinya dengan senang. Setidaknya Maki tidak mengusirnya dan dia bisa terus menempel pada laki-laki itu. Senyum Ola merekah sempurna.