Pergi!

1106 Kata
Maki menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana bisa dia akhirnya berakhir dengan makan di kantin resevatori. Hal yang biasanya tidak pernah dia lakukan Hanya gara-gara Ola tidak membawa bekal, dan dia tidak punya alasan untuk menolak Ola yang tidak tahu arah ke kantin. “Ah sepertinya semua makanan itu enak!” Ola girang melihat makanan berjajar di sepanjang meja di kantin. “Ambillah mana yang kamu inginkan, lalu bayar di sebelah sana,” kata Maki sambil menunjuk ujung meja di mana kasir berada. Ola mengambil beberapa makanan dengan semangat. Tidak memperhatikan Maki yang hanya mengikutinya. “Lho kamu tidak mengambil makanan?” tanya Ola saat Maki mengikutinya dengan tangan kosong. Maki menggeleng lemah. Karena dia tak punya cukup uang untuk dihabiskan di sana. “Baiklah. Aku rasa makanan ini cukup untuk kita berdua,” kata Ola membuat Maki menggelengkan kepalanya. “Jangan menolak rezeki,” lanjut Ola. Dia mengambil lagi satu piring untuk Maki. Setelah membayar, dia menuju meja kosong di sudut. Banyak yang memperhatikan mereka karena Maki sangat jarang makan di kantin, dan mereka penasaran dengan gadis cantik yang bersamanya. Beberapa staff perempuan mulai berbisik-bisik, karena Maki sangat jarang mau bergaul dengan para staff perempuan. Namun, kini dia bahkan tak canggung mengikuti gadis cantik itu. Di mana gadis itu terlihat sangat bahagia. Ola mengambil sebagian makanan untuk Maki dan meletakkannya di depan laki-laki itu. “Makanlah,” ucap Ola tanpa melihat perubahan wajah Maki. Perlakuan Ola semakin membuat para perempuan di sana berbisik-bisik dan berasumsi. “Ayo makanlah, katamu sebentar lagi jam istirahat berakhir,” desak Ola. Mau tak mau Maki menyuap juga makanan di depannya. Rikuh. Canggung. Semuanya menjadi satu di kepalanya. “Apakah kamu sengaja kerja di sini?” tanya Maki pada akhirnya. “Jujur, iya. Aku berangkat dengan harapan mendapat pekerjaan, lalu berdoa agar aku diterima kerja di sini. Saat aku masuk, John mengatakan iya, karena katanya mendesak,” ucap Ola dengan mulut penuh makanan. Maki mendesah. John selalu saja membuat masalah. “Aku sudah bilang kepada John, bahwa aku bisa mengerjakannya sendirian,” elaknya. Ola mengedikkan bahunya. Dia menikmati makanannya dengan senang. Uangnya tak sia-sia keluar karena makanan itu sangat enak. Maki sudah selesai dengan makanannya saat Ola masih berkutat dengan pencuci mulut yang berwujud puding. “Aku tak pernah memakan ini,” katanya berlepotan. “Telan dulu makananmu,” saran Maki. Seseorang mendekati mereka, berdiri di pinggir meja, dan meletakkan tangannya di sana. “Siapa dia?” Suara perempuan itu membuat Maki mendongak, sementara Ola tak peduli karena puding itu sangat enak. “Siapa kamu?” Maki malah balik bertanya karena merasa tak mengenalnya. Perempuan itu menunjukkan wajah syok. “Rita. Aku Rita dari bagian mamalia,” katanya sambil mengusap rambutnya. Tak percaya Maki tak mengenalnya. Dia adalah staff perempuan tercantik di sana. “Maaf aku tidak mengenalmu.” Kata-kata Maki membuat Rita terhuyung ke belakang. Dia tak mempercayai ini. Padahal dia sudah berusaha selalu mencari cara untuk mendekati Maki. “Bukan masalah. Aku hanya ingin tahu siapa dia?” tanyanya berusaha menyembunyikan egonya yang terluka. “Oh, dia Ola. Staff paruh waktu baru di bagian kupu-kupu.” Maki menatap Ola yang seolah tak terganggu dengan pertanyaan Rita. “Anak baru, ya?” Nada Rita sangat tidak menyenangkan bagi Maki. “Ayo pergi,” kata Ola tak memedulikan Rita yang masih tak percaya dia diabaikan. “Hei!” teriaknya sambil menarik baju Ola. Hampir saja Ola terjerembap jika Maki tak menarik tangannya. Ola yang sedari tadi berusaha tidak menggubris manusia itu akhirnya tak tahan. Dia melepaskan tangan Maki dari tangannya, lalu berbalik menghadap Rita yang berdiri angkuh. Wajahnya menunjukkan kepongahan yang pasti. Ola tak menyukai itu. Jika tak mengingat bahwa dia sedang di dunia manusia, maka sudah dikutuknya manusia di depannya itu. “Maaf. Aku tidak mengganggumu, jadi mari saling tidak mencampuri urusan masing-masing,” kata Ola masih bersabar. Rita tak percaya anak baru itu bahkan bisa berbicara begitu. “Kamu mendekati Maki. Itu masalahnya!” Kini Ola dan Maki saling berpandangan heran. Lalu Maki seketika menggelengkan kepalanya, memberi tanda bahwa apa yang dikatakan Rita bukanlah sesuatu yang bagus. “Apa hubunganmu dengan dia?” tanya Ola memperjelas masalahnya. Rita gelagapan, karena Maki bahkan sudah mengatakan dia tak mengenalnya. “Dia, dia adalah---“ Kalimatnya terputus karena tak tahu harus menjawab apa. “Jadi, Nona. Tidak ada masalah bukan jika aku bekerja dengan Maki? Karena kami adalah rekan?” Ola melipat tangan di d**a menunggu reaksi wanita angkuh itu. Setelah sekian lama tidak ada jawaban dan Rita semakin gelisah, Ola menarik tangan Maki menjauh. “Aku tidak ingin membuat masalah di hari pertama bekerja,” kata Ola. Rita syok. Maki lebih syok lagi karena Ola ternyata tak sepolos yang dia duga. “Aku tahu kamu tidak memiliki hubungan apa pun dengannya, dan aku juga tahu dia menyukaimu,” kata Ola setelah mereka meninggalkan kantin menuju taman kupu-kupu. Ola mendengar dengung kupu-kupu semakin ribut. Pantas saja, di sana ada Macarie yang menari-mari bersama mereka. “Apa yang kamu lakukan di sini!” teriak Ola dalam hati, mengirimkan pesan itu melalu telepati. “Kalian membuat Ola marah,” ejek Macarie yang kini duduk di dekat bunga matahari. Para kupu-kupu mengepakkan sayapnya semakin cepat. Maki menatap heran karena mereka berkumpul menjadi satu di sana. “Bodoh! Maki melihatnya!” gerutu Ola. Macarie menyadari keadaan dan mengusir mereka. “Manusia itu mulai curiga, pergilah,” bisiknya. Seketika suasana kembali terlihat normal. Hanya Ola yang bisa melihat Dewi Kematian itu di sana. “Aku akan meneruskan pekerjaan di sana,” kata Maki menghindari lebih lama bersama Ola agar hatinya tenang. Ola mengangguk dan berpura-pura mengambil gunting kecilnya. Dia kemudian berjongkok di dekat tanaman bersama Macarie. “Kamu berhasil mengambil hatinya?” selidik Macarie. “Belum. Baguslah dia tak memarahi dan mengusirku dari sini,” bisiknya agar tak ada yang melihatnya berbicara sendirian. “Ayah terlihat murung sejak kepergianmu.” Macarie memainkan dahan bunga matahari di sampingnya sehingga bunga itu bergerak-gerak dengan cepat. “Bukankah wajahnya selalu tampak murung?” Ola balik bertanya sambil menghentikan tangan dewi gila itu agar tak memainkan dahan bunganya. “Ah, ini berbeda, dia bahkan tak lagi peduli Arnie menangkap berapa roh dalam sehari, yang dia lakukan malah menyusuri sungai Akharon dan mengunjungi Ibu,” papar Dewi itu. “Mungkin dia sedang tak ingin bekerja,” sanggah Ola. Dia tak berpikir bahwa Hades, dewa tukang marah itu akan mengkhawatirkannya. “Kamu sangat tidak berperikedewaan!” teriak Macarie. “St ... bukankah kamu tahu sendiri sifat ayahmu itu?” tukas Ola tak terima. Mana mungkin seorang Dewa Agung khawatir terhadap roh rendahan sepertinya? Walau dia sangat andal dalam menangkap roh, tapi dia bukan seseorang yang pantas mendapat perhatian besar dari dewa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN