Berseteru

1125 Kata
“Aku serius, Ola. Ayah terlihat kehilanganmu,” gumam Macarie. Dia duduk memeluk lututnya. “Ya dia yang mengusirku, dia yang sedih?” Ola masih bersikeras. Macarie menutup mulutnya saat seseorang menghampiri mereka, salah, menghampiri Ola lebih tepatnya. Seorang wanita dengan wajah angkuh dan arogan. “Hei anak baru, jangan pernah merasa kamu bisa mendekati Maki!” teriaknya membuat kegaduhan. Ola mendongak dan malas saat melihat wanita yang tadi di kantin. Masalah belum selesai ternyata. Dengan angkuh dia bertolak pinggang dan menatap remeh Ola. Jika saja Ola tak memberi tanda untuk diam, Macarie sudah akan menjentikkan jarinya di depan wanita itu, setidaknya membuat tangannya patah, adalah hal yang menarik. Ola berdiri dan mengibaskan tanah yang menempel di seragamnya. “Apa lagi? Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin bekerja di sini,” kata Ola masih menahan dirinya. Kupu-kupu di sana mulai merasakan hawa memanas, karena emosi Ola. Macarie memperingatkan mereka untuk tidak terpancing. Maki berjalan ke arah keduanya berdiri. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Nona? Ini bukan bagian dari mamalia sub,” katanya. Rita terlihat gugup, tapi dia harus memberi pelajaran pada Ola. “Dia sudah lancang karena membantahku!” “Karena?” desak Maki. “Dia anak baru seharusnya dia menghormatiku sebagai senior!” Rita bersikeras. “Dia bukan juniormu, dia berada di bawah divisiku,” sanggah Maki membuat Rita gelagapan. “Ta-tapi---.” Rita terlihat berusaha mencari kata untuk menggambarkan betapa cemburunya dia terhadap pembelaan Maki. “Sebelum aku mengatakan ini kepada, John. Lebih baik sudahi argumen tak beralasanmu,” kata Maki berusaha membuat Rita mundur. Dia tak ingin menjadi masalah dan menjadi sumber masalah itu sendiri. “Aku tidak akan membiarkanmu,” gumam Rita mengentakkan kakinya dan berbalik. Ola menarik napas lega sebelum dia kehilangan kesabaran dan para kupu-kupu mulai menyerang. “Ada apa dengannya?” tanya Ola ke arah Maki yang mengedikkan bahunya tanda tak tahu permasalahan yang dibawa Rita. “Dia menyukainya,” bisik Macarie memberi petunjuk pada Ola. “Dia menyukaimu,” kata Ola menirukan ucapan Macarie. Maki terkejut dan tak pernah memikirkan hal itu. “Tidak mungkin,” elaknya. “Dari caranya menatapmu dan dia tak suka keberadaanku di sini,” kata Ola. Sekarang dia yang berkacak pinggang di depan Maki yang kebingungan. “Kamu tidak sadar mereka menyukaimu?” selidik Ola tak percaya laki-laki ini begitu polos. “Bodoh,” lanjut Ola lalu meninggalkannya untuk kembali bekerja. Maki merenungi kata-kata Ola. Dia memang sering mendengar dari John, kalau banyak yang menanyakan nomor teleponnya, dan menitipkan salam untuknya. Selama ini dia tak pernah menganggap mereka serius, terlebih karena dia merasa belum pantas untuk bersama dengan seorang wanita. Apa benar Rita menyukainya? Apa dia salah satu staff yang sering mengiriminya pesan? Ah, kepala Maki bertambah pusing dengan kejadian ini. Belum juga dia bisa memikirkan cara untuk jauh dari Ola, malah sekarang bertambah. “Dia itu polos atau berpura-pura bodoh sih,” gerutu Macarie yang kesal melihat Maki terlihat bodoh dengan wajah kebingungannya. “Ya begitulah. Mana dia susah sekali ditebak. Kemarin tertawa bahagia, belakangan kembali marah-marah,” timpal Ola sambil memotong dahan bunga yang busuk dengan gemas. “Mau aku sihir saja?” usul Macarie. “Jangan. Aku ingin benar-benar membuat dia merasakan semua ketulusan dan kebahagiaan itu dengan hatinya,” sergah Ola sebelum dewi melakukan hal yang gila. “Kamu mulai melakukan cara manusia,” desis Macarie. “Sepertinya para roh itu mulai menghilang darinya.” Ola juga baru menyadari roh-roh itu tidak mendekat dalam radius beberapa ratus meter sekarang. “Aku melihat ada semacam yang menghalangi auranya,” lanjut Macarie. Dia memperhatikan semacam kabut tipis berwarna biru yang menyembunyikan aura yang biasanya mengundang roh untuk mendekat. “Maksudmu?” tanya Ola masih belum mengerti. “Sepertinya batu dari Poine sudah mengekang kutukan itu sehingga aura gelap yang biasanya memancing para roh untuk datang menjadi tersamarkan,” papar Macarie. Ola memperhatikan Maki, baginya tak tampak berbeda kecuali sulur kutukan yang kini tak merah membara. “Ah sudahlah. Aku ingin pulang. Bosan sekali melihatmu mengerjakan pekerjaan manusia ini,” keluhnya lalu menghilang begitu saja. Ola mendesah, selalu begitu, datang tak diundang, pergi tidak berpamitan. Arnie memperhatikan Ola dari kejauhan. Dia tahu Ola dekat dengan Macarie. Putri Hades itu memang merepotkan terkadang. Arnie melihat roh-roh yang biasanya mendekati Maki mulai tak tampak. Ada sesuatu yang terjadi. “Apa ini ulah Maniola?” Lalu dia melihat gelang permata biru di tangan Maki. “Gelang itu yang membuat auranya berbeda. Ola tak mungkin menemukan permata yang begitu bagus,” gumam Arnie pada dirinya sendiri. Dia melirik karungnya yang berisi beberapa roh, beberapa waktu ini Hades bahkan tidak peduli dia pulang membawa roh atau tidak. “Sebaiknya aku mengecek hal ini dengan baik,” lanjutnya lalu mengubah diri menjadi laki-laki pengunjung resevatori. Dia menghindari Ola yang berada tak jauh dari sana. Dia tak boleh terlihat. “Maaf, saya tersesat, bisakah, Anda mengantar saya ke pintu keluar?” Arnie menepuk pundak Maki yang kemudian menoleh dan tersenyum. “Mari saya antar,” tawar Maki ramah. Arnie merasakan panas yang berbeda dari tubuh Maki. Lalu dia tersadar ada sulur kutukan di punggung Maki. Selama ini dia tak melihatnya. “Jadi ini yang membuat roh datang padamu,” gumamnya dalam hati. Maki mengantar Arnie menuju pintu keluar yang tidak jauh dari taman kupu-kupu. “Silakan, hati-hati di jalanan. Sering-seringlah berkunjung,” kata Maki lalu melambaikan tangannya ke arah Arnie. Arnie tersenyum, begitu Maki berbalik, dia kembali ke mode menghilang. Arnie merasakan ada yang janggal dari manusia itu. Energinya berbeda dari manusia kebanyakan, pun, kutukan yang ada di punggungnya semakin menguatkan dugaannya. “Batu permata biru itu juga sangat mencurigakan baginya. Itu permata yang sangat baik. Tidak sembarang yang memilikinya. Apakah ada dewa di balik semua ini? Arnie menggelengkan kepalanya. Dia harus memastikan itu semua. Sementara Rita melihat Maki yang kembali ke taman kupu-kupu mengurungkan niatnya untuk kembali melabrak Ola. Dia masih tidak terima dengan gadis yang bisa begitu saja dekat dengan Maki. Di harus mendapatkan perhatian Maki. Laki-laki itu bahkan sudah membuatnya gila. Dia harus mendapat kesempatan untuk memojokkan gadis sialan itu tanpa ada Maki. Dia mendapat ide untuk menunggu gadis itu pulang kerja. Sambil tersenyum lebar, Rita kembali ke tempatnya. Rencana sudah dia susun di kepalanya. Maki menghampiri Ola yang terlihat bercanda dengan kupu-kupu yang ada di tangannya. “Sudah waktunya pulang,” kata Maki membuyarkan kesenangan Ola. “Oh. Baiklah. Apa kita akan pulang bersama?” Ola memperlihatkan mata yang berbinar. Membuat jantung Maki berdetak lebih kencang dan dadaknya sesak seketika karena kehabisan udara. Otaknya tak bisa memproses data yang terkirim sehingga tak menjawab pertanyaan Ola. Melihat Maki yang hanya diam saja, Ola menariknya untuk kembali ke kantor. Pemandangan itu malah membuat orang yang melihatnya semakin heran. Siapa gadis itu bisa sedekat itu dengan Maki yang dikenal pendiam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN