Arnie sangat senang dengan perjanjiannya dengan Rita. Walau wanita itu tak tahu, saat berjabatan tangan, maka mereka sudah membuat kontrak. Sedikit curang tidak apa-apa, itu prinsip Arnie.
Selama ini dia muak karena selalu saja Maniola yang selalu saja menerima banyak tugas dan dielukan oleh Hades. Maniola tak sehebat itu.
Rita tersenyum menang saat berjalan pulang. Dia akan membuat Ola merasakan pembalasannya. Dia sudah mendapatkan sekutu yang kuat. Mana mungkin mereka akan mengira kalau dia bisa mendapatkan dukungan dari semesta?
Maki meluruh saat menutup pintu flatnya. Bagaimana bisa dia dengan menurut mengikuti setiap pergerakan Ola? Tubuhnya melawan apa yang otaknya katakan. Dasar gila!
Dia duduk bersandar pintu dan menatap nanar tangan kanannya, bekas cengkeraman tangan Ola masih dia rasakan di sana.
Dia tak percaya gadis itu sudah membuatnya begitu lemah. Di saat mulutnya mengatakan tidak, maka tubuhnya melakukan hal yang berlawanan.
Dia mengusap wajahnya kasar dan berharap kembali ke kenyataan. Dia tak ingin mimpi ini menjadi sebuah harapan yang akan melukainya lebih dalam.
“Sadar. Maki, sadarlah. Ola bisa saja akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu,” gumamnya sendirian.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju ke kamar mandi dan berharap dinginnya air akan membuat otak dan kepalanya membeku. Tidak lagi merasakan harap yang akan membunuhnya perlahan.
Maniola merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bekerja menjadi manusia ternyata melelahkan. Sepertinya dia akan berusaha lebih keras agar Maki tak lagi ketus saat melihatnya.
Menyadari Maki tak menolaknya, dan membiarkannya terus menempel saja sudah membuatnya merasakan bersemangat.
Dia bertekat untuk melakukan apa saja agar laki-laki itu sepenuhnya bahagia, lalu kutukan Pak Tua itu akan menghilang sempurna.
“Menyusahkan saja memang orang tua itu,” gerutunya sambil meringkuk dan mulai memejamkan mata.
“Kamu adalah yang terpilih. Kamu yang akan membuat dunia langit dan bumi menjadi tenang,’ kata Zeus, membuat Maniola membuka matanya dengan lebar.
Mimpi apa itu, dia baru saja memejamkan mata dan sudah bermimpi bertemu dengan Zeus?
“Tidak masuk akal,” desisnya kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Dia mencoba mengingat detail apa yang terjadi sehingga bisa bermimpi seperti itu. Namun, itu terasa nyata, bukan mimpi.
Guyuran air membasuh kepalanya, mendinginkan otaknya. Kenapa Zeus? Otaknya masih mencoba mencerna semua yang dia rasakan barusan.
Begitu dia keluar dari kamar mandi, dia terkejut karena Macarie sudah ada di tempat tidurnya. Duduk dengan santai seolah itu kamarnya sendiri.
:Apa yang kamu lakukan di sini? Masih banyak roh yang harus kamu kejar,” kata Maniola tak suka Dewi Kematian itu terus mendatanginya.
“Aku sedang malas. Tadi Zeus datang, tumben sekali dai kelihatan di dunia bawah. Biasanya dai tak pernah mau menjamah dunia bawah,” keluh Macarie.
“Tunggu, apa yang dia lakukan?” Ola berpikir, apakah ini ada hubungan dengan mimpinya barusan?
“Mana aku tahu, aku malas berurusan dengannya, jadi aku kabur ke sini,” jawab Macarie sekenanya.
“Aku barusan seperti bermimpi bertemu dengannya,” gumam Ola.
“Siapa? Zeus?” selidik Macarie.
Ola mengangguk lemah. Dia tak tahu ini kebetulan atau apa.
“Kita cari Morpheus,” ajak Macarie.
“Buat apa? Kamu tahu dia sering berkhayal tak jelas?” sergah Ola menolak ajakan itu.
“Tapi kalau Zeus benar ada di mimpimu barusan, bisa jadi Morpheus tahu yang sudah memasuki alamnya,” terang Macarie.
Benar, Morpheus akan tahu jika ada yang memasuki dunia mimpi, “Tapi apa kamu yakin Zeus tidak akan menyuruh Morpheus diam?”
“Ah benar, Pak Tua satu itu, kan tukang mengancam,” gumam Macarie menyadari tabiat Dewa satu itu.
Mereka berdua duduk termenung di tempat tidur. Lalu menyadari kebodohan mereka dan tertawa. Membaringkan tubuh masing-masing di tempat tidur.
“Apa kamu melihat umur Maki memendek?” tanya Ola ingin tahu.
“Umurnya bertahan, tak memanjang, tak memendek, mungkin karena pengaruh batu pemberian Poine,” kata Macarie membuat Ola lega. Setidaknya dia tidak akan mati cepat.
“Aku melihat sesuatu yang aneh sebenarnya. Umurnya bertahan di sini. Di umur ini sekarang. Ini tidak pernah terjadi. Seharusnya aku tetap bisa melihat dia mati di umur ke berapa,” lanjut Macarie.
Ola bingung dengan penjelasan itu. Dia memiringkan kepalanya menatap Macarie yang mengerutkan dahinya.
“Iya. Aku bisa melihatnya mati saat bersamamu pertama kali di reservatori. Sulur itu memakan sisa hidupnya. Tapi sekarang, aku tidak melihatnya mati, tapi aku juga melihatnya terus tumbuh,” imbuh Macarie semakin membuat Ola kebingungan.
“Ah aku juga bingung menjelaskannya.” Macarie menutup wajah dengan kedua tangannya. “Intinya adalah, aku melihat umurnya berhenti di umur sekarang.”
Ola menatap langit-langit mencoba memahami perkataan Macarie. Umur Maki berhenti di umur sekarang, tidak bertambah, tidak mati.
“Saat kamu melihatku, melihat Dewa lain, atau melihat makhluk selain manusia, apa yang terjadi?” Ola ingin memastikan sesuatu.
“Maksudmu, seperti saat aku melihatmu?”
Ola mengangguk mengiyakan.
“Saat melihatmu, aku tidak melihat pertambahan umur, jangan berpikir kalau---,” ucap Macarie lalu menutup mulutnya.
“Aku juga tidak tahu, tapi kamu mengatakan itu membuatku berpikir. Jika Maki adalah manusia, kamu pasti akan melihat pertambahan umurnya, ‘kan?” Ola menatap Macarie yang kini duduk tegak di sampingnya.
“Jika benar apa perkiraan kita, maka kita harus bertanya pada Poine, Ayah, dan juga Zeus, jika dia terlibat,” kata Macarie membuat Ola setuju.
“Kita harus membuktikannya terlebih dahulu.” Ola memberikan usul.
“Benar. Kita harus mempunyai bukti kuat. Ah, aku bersemangat jika ada misteri seperti ini. Ngomong-ngomong, siapa yang melakukan ini?” tanya Macarie membuat Ola berpikir.
“Hades? Tak mungkin, dia pasti akan merasa sangat bersalah pada Persephone. Zeus, walau Hera tak lagi seganas dulu, tapi aku rasa, dia tidak akan melakukan hal itu lagi. Satu-satunya yang paling mungkin adalah Poine,” ulas Ola.
Macarie mengangguk setuju. “Aku akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan desas-desusnya,” ucapnya sambil menyeringai usil.
Dia paling suka menyelidiki sesuatu, dan akan sangat gembira saat mengetahui hasilnya.
“Kamu juga bertanyalah pada para kupu-kupu itu, mereka pasti tahu,” lanjut Macarie.
“Ah iya, kupu-kupu kan penggosip ulung,” kata Ola baru mengingat kalau bangsanya adalah penyebar berita.
“Baiklah. Tidur sana. Besok kamu harus bekerja. Jangan terlalu sering memeluk Maki,” ejek Macarie membuat pipi Ola memerah karena malu. Dia melempar bantalnya ke arah Macarie yang menghilang seketika.
“Dewi sialan!” teriak Ola kesal. Mana mungkin dia semurahan itu menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki.
Namun, kemudian dia menyadari bahwa sudah dua malam dia memeluk Maki dalam tidurnya. Betapa kini dia menyadari bahwa Macarie memata-matainya. “Argh!” teriaknya menahan malu dan membenamkan wajahnya di bantal.
Dia mengerang sejadi-jadinya mengingat hal itu. Bagaimana dia besok menghadapi Dewi sialan itu.