Menyadari

1127 Kata
Maki belum bisa memejamkan matanya di  ruangan sebelah, dia sedang menatap langit malam yang buram dengan duduk di depan jendela. Menghirup udara malam untuk mengisi paru-parunya yang mendadak sesak sejak tadi sore. Sejak kedatangan Ola, sepertinya, bukan tubuhnya yang tidak baik, tapi hati dan perasaannya. Jika selama ini dia merasakan fisiknya lelah dan pikirannya kalut dalam menghadapi kerja dan kehidupannya. Maka sekarang yang sedang tak baik-baik saja adalah perasaannya yang seolah terus dicampuradukkan. Cahaya bintang yang berkilauan di jauh, membuatnya merasakan itu harapannya, yang sangat jauh untuk dia genggam. Arnie menatap laki-laki itu dalam diam. Ada yang menganjal di pikirannya. Ada yang aneh dari manusia itu. Apa? Itu yang harus dia cari. Dia harus memikirkan cara yang tidak akan dicurigai oleh Maniola. Roh satu itu bisa sangat menganggu. “Mulai besok, aku harus bisa membuat Rita melakukan sesuatu,” gumamnya sendirian. Setelah itu dia menghilang, takut jika tiba-tiba Maniola muncul di sana. Dia tak ingin terlibat masalah dahulu sebelum dia memastikan siapa manusia ini. Maki beranjak menuju tempat tidur, kemudian bergelung di sana. Besok dia harus bekerja. Bertemu dengan Ola tentunya, yang akan menguras tenaga dan perasaannya lagi. Gadis itu seolah sudah menjadi sebuah hal yang membuatnya menjadi manusia yang serba salah.  Rita sedang mematut dirinya di cermin, masih tak percaya bahwa dia kalah cantik dengan anak baru itu. Dia mengelus rambutnya sambil tersenyum, dia cantik, sangat cantik, anak baru itu tidak akan bisa menggantikan posisinya sebagai karyawan tercantik di reservatori. Bahkan, John saja tak menampik kecantikannya. Maki hanya belum terbuka matanya. Dia akan terus berupaya untuk membuat laki-laki itu tunduk di hadapannya. “Kamu akan menjadi milikku,” gumamnya sambil mengingat perjanjiannya dengan Arnie. Walau dia tak tahu siapa Arnie, lebih tepatnya makhluk apa dia, tapi jika tujuan mereka sama, maka ini adalah kesempatan untuknya. Sekalipun Arnie adalah iblis yang bangkit dari neraka, maka dia akan tetap melakukan kerja sama ini. Dia tak peduli nanti apa yang akan diminta sebagai imbal baliknya. Dia memeluk mimpinya, mimpi yang baginya akan segera terwujud. Rita berbaring dengan merentangkan tangannya. Dia akan tidur dengan harapan yang sangat besar. Tentang hidupnya. Ola sudah berdiri di depan pintu flat Maki, tanpa ingin mengganggu laki-laki itu. Dia akan berlaku seperti manusia sekarang, memakai cara manusia. Maki terkejut saat membuka pintu dan Ola sudah ada di depannya, dengan senyum yang sangat manis seperti biasanya, menambah kadar kecantikannya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Maki berusaha bersikap biasa saja. “Berangkat kerja!” soraknya dengan gembira. Dia tak sabar melihat Maki mengunci kamarnya. Selepas kunci itu masuk ke kantong celana Maki, maka Ola menyambar tangannya dan menyeretnya pergi dari sana. “Hari ini, apa yang akan kita kerjakan? Masih akan menyiangi batang bunga?” tanyanya dengan wajah polos. Maki ingin memeluknya erat saat itu juga karena gemas. Namun, dia berusaha mengekang dirinya sendiri agar tak terlihat murahan. Dia sudah menolak Ola sebelumnya. “Hari ini akan ada kedatangan beberapa kupu-kupu dari padang rumput selatan.” Maki menghela napasnya. Mengingat padang rumput selatan, dia selalu rindu dengan rumahnya. Entah sekarang rumah itu menjadi apa, namun rindu dengan alamnya sudah sangat menyiksa. “Maniola Jurtina?” seru Ola tak percaya. “Iya, seperti namamu. Mereka akan datang hari ini, aku harap mereka bertahan dalam perjalanan,” harap Maki. “Mereka akan bertahan. Maniola Jurtina adalah kupu-kupu kuat!” Ola bersemangat menyambut saudara-saudaranya itu. “Namamu diambil dari nama kupu-kupu padang rumput, apa kamu lahir di daerah padang rumput?” selidik Maki. Ola mengangguk kaku, karena dia tak tahu harus berkata apa. “Mereka menyebutku Maniola, karena aku bisa terbang dengan cepat dan memiliki mata coklat yang besar.” Maki mengangguk menyetujuinya. Mata Ola memang besar untuk ukuran mereka. Mata bulat sempurna dengan pupil coklat, yang menawan. Kontras dengan kulitnya yang pucat.  Mereka tiba di reservatori bersamaan dengan datangnya truk yang membawa kargo dari selatan. “Sepertinya itu kargo kupu-kupu kita,” tebak Maki. John terlihat memberi instruksi ke beberapa orang, lalu melambaikan tangannya saat melihat Maki dan Maniola. “Kupu-kupu padang rumput kita datang, bawa mereka ke tempat karantina dulu,” perintah John diangguki oleh Maki. Ola yang tak tahu apa-apa, mendengar dengung kupu-kupu itu dengan saksama. Tak salah lagi. Mereka datang dari padang rumputnya. Ola tak sabar melihat reaksi mereka nanti, pasti akan sangat berisik. Ini kesempatannya untuk bertanya kepada mereka. Maki memberi isyarat kepadanya untuk mengikuti, dengan berlari-lari kecil, Ola menghampirinya. “Persiapkan ruangan isolasi terlebih dahulu, aku akan membantu mereka. Kamu hanya perlu menyalakan pintu pemindainya, dengan menekan sakelar di samping pintu. Letak ruang isolasi ada di sebelah barat taman kupu-kupu.” Maki menjelaskan dengan rinci. Ola mengangguk dan bergegas melaksanakan perintah itu. Dia tak melihat ke arah Rita yang memandangnya tak suka. Arnie membisikkan sesuatu di telinga Rita. Wanita itu mengangguk dan pergi ke belakang taman kupu-kupu di mana pusat aliran listrik berada. “Kata Arnie hanya harus meletakkan ini di sini,” gumam Rita lalu meletakkan sebuah benda di pusat listrik taman kupu-kupu. Saat Ola menekan sakelar yang dimaksud oleh Maki, tangannya menerima aliran listrik yang melebihi biasanya. “Argh!” teriak Ola nyaring seiring dengan letusan kecil di sakelar itu. Orang yang melihat hal itu berteriak panik, dan segera menghampiri Ola yang masih memegang tangannya yang nyeri. Dia tidak akan mati, hanya saja aliran listrik ini, bukanlah aliran listrik yang biasanya. Maki berlari-lari mendapati kerumunan dan menyibaknya. Melihat tangan Ola yang kemerahan membuatnya panik. “Ada apa?” tanyanya, sambil memegang tanga Ola yang seperti terbakar. Sakelar yang menghitam bekas terbakar membuatnya heran. “Tersetrum?” tanyanya lebih lanjut. Ola mengangguk saja mengiyakan. “Ayo ke kantor. Silakan pergi saudara-saudara,” kata Maki menyibak orang-orang itu. Dia melihat orang bagian teknis datang dan segera mengatakan kejadiannya. Setelah memastikan mereka mengerti, dia membawa Ola menuju kantor di mana John terkejut. “Aku butuh salep luka bakar,” kata Maki membuat John berlari ke arah kotak P3K berada. “Sakelar di ruang isolasi terbakar. Sepertinya arus pendek. Aku sudah mengabari orang teknisi,” lanjutnya. John mengangguk paham. “Kalau begitu aku yang akan mengurusi kupu-kupu yang datang.” “Masih sakit?” tanya Maki khawatir selepas kepergian John. Ola mengangguk gamang, karena dia tak tahu rasanya sekarang. Ini tidak menyakitinya jika tidak ada sihir di sana. Sementara Rita menahan marahnya sambil kembali ke tempat kerjanya. Bagaimana bisa Ola masih bisa selamat dengan sihir yang dia letakkan di sana. Kata Arnie itu akan menghancurkannya? Arnie tak terlihat di mana pun dia melayangkan pandangnya. Dia menghilang. Membuatnya bertambah kesal. Sementara Arnie berjalan mondar-mandir di tempat arus listrik itu berasal, di mana dia meletakkan sihirnya. “Kenapa hasilnya nihil? Kenapa Maniola bisa selamat? Apa yang salah dari sihirku?” Dia terus berupaya mencari penyebabnya. Sihirnya adalah salah satu yang kuat diantara para roh. Semestinya, Maniola juga tak bisa begitu saja lolos. Hal ini semakin memusingkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN