Kekhawatiran

1112 Kata
Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa sebenarnya Maniola? Kenapa dia kebal dengan sihir roh? Arnie masih tak habis pikir dengan kejadian ini. Setelah tak menemukan jawaban, Arnie menghilang, karena Hades sudah memanggilnya untuk kembali.  Ola masih meniup-niup tangannya, menirukan Maki yang tadi meniupnya. Laki-laki itu sedang membantu John untuk mengurus kupu-kupu yang datang. “Mau aku usap?” tanya Macarie membuat Ola terkejut dan hampir jatuh dari duduknya. “Mengagetkan!” teriaknya. Kemudian dia menutup mulutnya sendiri. Sementara Macarie tertawa melihat Ola yang langsung memukulnya. “Kamu hanya berpura-pura sakut agar laki-laki itu memperhatikanmu, dasar murahan,” ledek Macarie. Jika yang dihadapinya bukan Dewi Kematian, Ola rela menghabiskan energinya untuk bertarung dengannya. “Katamu, ini adalah cara manusia dan cara mendapatkannya,” keluh Ola. “Oh iya, aku lupa. Baiklah, terus saja berpura-pura lemah, agar dia kasihan padamu,” kata Macarie sambil duduk di samping Ola. “Listrik yang membakar tanganku, memiliki sihir,” kata Ola membuat Macarie terkejut. “Benarkah? Apa yang kamu rasakan?” selidiknya. “Sengatannya berbeda, rasanya lebih tajam dan memuakkan. Ini pasti tingkat akhir dari sihir roh,” papar Ola. “Siapa yang bisa memiliki sihir tingkat akhir di dunia roh?” Macarie berpikir sejenak. Mengingat siapa saja roh yang memiliki sihir kuat. “Aku juga masih bingung. Tapi, aku akan menyelidikinya.” Ola berjanji pada dirinya sendiri. “Apakah Arnie?” Macarie mencurigai roh itu kembali berulah karena dia yang sudah melaporkan Ola kepada ayahnya.  “Aku tidak mengira dia akan punya sihir itu,” sangkal Ola tak percaya.  “Tapi, siapa lagi yang begitu dendam padamu?” Macarie mencoba memberikan argumennya.  “Sudahlah, biarkan jika memang dia. Aku akan membuatnya menyesal nanti,” kata Ola pada akhirnya.  Macarie mendengus kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.  Maki menghampiri mereka, wajahnya terlihat khawatir. Dia membawakan makan siang untuk Ola, karena gadis itu tak akan bisa pergi ke kantin dengan kondisi tangannya.  “Aku membawakanmu makan siang. Kamu bisa makan dengan tangan kirimu?” tanya Maki memastikan.  Ola menggeleng dengan cepat. “Dia bisa melakukannya!” teriak Macarie tak terima. Hanya Ola yang bisa mendengarnya.  “Baiklah, aku akan menyuapimu,” kata Maki pada akhirnya. Ola menyeringai menang. Macarie bersungut-sungut.  Maki menyeret kursi dan duduk di depan Ola tepat. Berusaha mengusir rasa jengah yang merasuki kepalanya. Dengan canggung dia menyuapkan salad sayur ke mulut Ola yang membuka lebar.  “Apa pemindahan kupu-kupunya sudah selesai?” tanya Ola di sela kunyahannya.  “Telan dulu makananmu, nanti tersedak,” kata Maki. “Iya, pemindahannya sudah selesai. Dokter kantor akan segera datang untuk memeriksamu,” lanjutnya sambil menyuapkan lagi makanan ke mulut Ola.  “Dia tidak perlu dokter,” dengus Macarie kesal.  John melihat Maki sedang menyuapi Ola makan siang dari pintu dengan takjub. Selama ini Maki bersikap sangat dingin terhadap wanita, bahkan dia mengabaikan semua yang mendekatinya, termasuk Rita. Wanita tercantik di sana. Namun, John sangat paham, Ola lebih cantik dan berbeda dari Rita.   “Tanganmu baik-baik saja?” tanya John mengagetkan Maki. Hampir saja piring itu terlepas dari tangannya.   Ola menunjukkan tangannya yang berbalut kassa dan kemerahan. “Masih sangat panas,” katanya. Macarie semakin mencibir tak suka.  “Aku sudah bertanya pada petugas teknisi, aliran listriknya seperti ada yang menahan, sehingga terjadi ledakan. Katanya tanganmu beruntung tidak hancur,” papar John.  “Apa begitu besar?” tanya Maki semakin khawatir.  “Ya, alirannya besar.” John melihat tangan Ola yang sepertinya hanya melepuh.  “Jangan berpikir untuk membuat luka baru, mereka akan bertambah curiga,” bisik Macarie.  “Dokter akan datang sebentar lagi. Selesaikan makanmu,” lanjut John.  Ola mengangguk. Dia mengunyah dengan cepat makanannya.  “Aku akan melihat di tempat ledakan itu terjadi,” kata Macarie lalu menghilang.  Seseorang dengan jas dokter masuk ke dalam ruangan. Dia berbicara dengan John sebentar lalu menghampiri Ola.  “Halo, Nona Ola. Maaf atas kejadian yang menimpamu, aku ingin memeriksa keadaanmu. Perkenalkan aku Dokter Andi, dokter jaga di reservatori ini.” Orang itu memperkenalkan dirinya lalu melihat tangan Ola.  “Lukanya hanya sedikit, ada lepuhan di beberapa area saja. Daya tahan tubuhmu sangat bagus sepertinya,” kata Andi sambil melihat wajah Ola yang mendadak datar tak berekspresi.  “Hm ... kata orang aku mempunyai kemampuan untuk sembuh lebih cepat dari luka,” kata Ola pada akhirnya untuk menghilangkan kecurigaan.  “Oh itu bagus. Aku akan melihat tekanan darahmu dulu,” lanjut Andi seraya memasangkan alat pendeteksi tekanan darah di tangan Ola.  Ola yang tak tahu benda apa itu hanya pasrah saja. Dia terkejut saat benda itu menekan pergelangan tangannya.  “Kenapa?” tanya Maki khawatir saat Ola tampak meringis.  “Benda ini menekanku,” keluhnya.  “Itu adalah cara alat ini untuk mengetahui tekanan darahmu normal atau tidak,” kata Andi menjelaskan.  Ola mengangguk-angguk saja agar tak terlihat bodoh.  “Kondisimu sangat baik untuk korban sengatan listrik dengan voltase besar.” Andi menampakkan wajah heran.  Ola berusaha terlihat tak tahu apa yang dikatakannya, “Aku, ‘kan bukan manusia.”   “Ola, lihat apa yang kutemukan!” teriak Macarie hampir saja membuat Ola berteriak jika tak melihat Andi dan Maki di depannya.  “Baiklah, mungkin lebih baik kamu beristirahat saja di rumah. Kamu boleh ijin kerja sampai keadaanmu pulih,” saran Andi.  Dia memberikan beberapa obat yang harus Ola makan dan oleskan ke luka di tangannya.  “Pastikan dia meminum obatnya dan mengganti balutan lukanya setiap pagi dan sore,” perintah Andi diangguki berat oleh Maki yang sedari tadi diam.  Macarie menunjukkan sebuah tongkat berukir mantra kuno di tangannya. Tongkat yang hanya bisa diperoleh oleh roh yang memiliki sihir tinggi.  “Aku melihat wanita yang kemarin melabrakmu memegang benda ini, orang sebelumnya tersamar oleh kabut,” ulasnya.  Ola bingung antara mendengarkan Maki yang menceramahinya soal obat dan Macarie yang membawakannya bukti adanya sihir di sini.  “Rita?” tanyanya tak percaya dengan telepati.  “Iya. Wanita itu terlibat masalah ini.” Macarie menggeram marah. Dia membakar tongkat itu dengan sekali kibas.  “Ayo aku antar pulang,” kata Maki kemudian mengangkat tubuh Ola yang diam.  Sontak Ola kaget, tapi akhirnya tersadar dan mengikuti langkah Maki. “Aku mengantuk,” rajuk Ola.  “Lalu?” Maki berhenti dan menatap gadis di belakangnya itu.  “Aku istirahat saja di sini sambil menunggumu pulang. Kita pulang bersama nanti,” pinta Ola. “Aku bisa tidur di sana.” Ola menunjuk tempat tidur yang memang disediakan untuk beristirahat.  “Baiklah jika itu maumu.” Maki mengantar Ola menuju ranjang itu. “Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa pulang lebih cepat.” Maki meninggalkan Ola yang tersenyum-senyum sendiri.  “Ayo kita cari wanita itu,” pinta Macarie.  Ola segera berdiri setelah menyihir bayangannya di sana, agar tak membuat orang panik jika tak melihatnya ada di sana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN