Sumber Masalah

1096 Kata
Macarie dan Ola menuju tempat Rita berada. Wanita itu sedang tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Beberapa sapi menyeruduknya karena telat memberikan sekam untuk mereka. “Bagaimana bisa dia selamat?” gumamnya sendiri. Dia meninggalkan sekam makanan sapi itu dan duduk di tepi kandang. Arnie bahkan tidak menemuinya sekarang. Rencana mereka gagal hari ini. “Dia kelam. Sangat kelam. Umurnya tak panjang,” kata Macarie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dia membuat perjanjian dengan roh,” lanjut Macarie. Ola mencoba melihat lebih jelas. Ada jejak tak terlihat di tangan Rita. Jejak yang menandakan dia sudah melakukan sebuah perjanjian dengan roh. Rita tak akan bisa melihat jejak itu dengan matanya. “Dia melakukan itu dengan sadar. Namun, dengan siapa dia melakukannya, itu tertutup kabut,” papar Macarie. “Dia akan mati, segera,” ulangnya. “Roh ini berarti memang roh tingkat tinggi, apa Arnie berada di tingkat itu?” tanya Ola. Macarie menggeleng. Setahunya, Arnie hanya roh di bawah Maniola. Dia tak pernah menunjukkan sebuah tanda tentang hal itu. “Atau bisa jadi dia hanya berpura-pura?” Ola masih mencoba menebak. “Aku akan bertanya pada Ayah,” kata Macarie lalu menghilang begitu saja. “Dasar tidak sabaran,” gerutu Ola. Dewi itu selalu menghilang tanpa memberi aba-aba dan datang juga sesukanya. Namun, Ola tak pernah bisa mencegah Macarie bertindak sesuka hatinya. Dia masih mengawasi Rita yang duduk termenung di dekat kandang. Wanita itu tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal. Arnie tak jadi mendekati Rita karena melihat Maniola di sana. Roh itu masih baik-baik saja, bahkan dia tadi bersama Macarie. Putri Hades itu memang menyusahkan. Dia tak boleh terlihat oleh keduanya sudah melakukan interaksi dengan Rita. Itu akan menggagalkan rencananya. Susah payah dia sudah menutupi dirinya saat melakukan semua pekerjaan itu, karena Macarie bisa melihat masa lalu dari benda dan manusia yang dilihatnya. Jika dia terlihat melakukan semua itu, maka dia akan berada dalam masalah besar. Hades pasti akan menghukumnya lebih dari apa yang dilakukannya terhadap Maniola. Dia sudah menyembunyikan kemampuannya untuk waktu yang sangat lama. Dia hanya ingin dilihat sebagai roh yang berguna dan diperhitungkan di dunia bawah. Namun, semua itu selalu kalah dengan performa Maniola yang selalu di atas rata-rata. Ola akhirnya meninggalkan kandang mamalia dan kembali ke tempatnya, karena pasti sebentar lagi Maki selesai dengan pekerjaannya. Melihat Maniola pergi, Arnie menghampiri Rita. “St ... ini aku, dengarkan saja perintahku, jangan membalas,” pintanya. Rita mengangguk, karena tahu pasti manusia lain tidak bisa melihat Arnie. “Rencana kita boleh gagal hari ini, karena ada sesuatu yang ternyata di luar dugaanku. Kita akan melakukannya lagi besok dengan rencana berbeda.” Arnie melihat Rita mengangguk mengiyakan walau mungkin di kepalanya banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan. “Aku tidak bisa mengatakan lebih lanjut sekarang, besok kita bertemu di tempat jauh dari sini. Aku pergi dulu.” Arnie menghilang dari hadapan Rita yang sangat ingin melontarkan banyak pertanyaan. Maki menghampiri Ola yang masih tertidur di tempatnya. Dia menatap gadis yang tampak sedang bermimpi itu dengan tatapan penuh pengharapan. “Untuk kali ini, mungkin aku akan mengakui, bahwa keputusanku kali ini adalah sumber masalahku nanti,” gumam Maki lirih. Ola mengerjapkan matanya, dia berpura-pura terbangun dari tidur, lalu tersenyum saat matanya bertemu dengan mata biru Maki. “Hei, sudah selesai pekerjaanmu?” tanya Ola seraya bangkit dari tidurnya. Maki dengan segera menghampiri Ola dan membantunya. “Iya, makanya aku ingin mengajakmu pulang,” kata Maki akhirnya menyerahkan semua kontrol pergerakan tubuh dan bibir pada perasaannya. “Baik, kita pulang!” seru Ola riang. Maki tersenyum mendengarnya. Gadis ini seolah tak merasakan sakit di tangannya. Energinya selalu ceria. “Kami pulang dulu,” pamit Maki ke arah John yang melambaikan tangannya karena dia sedang menelepon. “Kamu ingin makan apa untuk makan malam? Kamu harus minum obatmu.” Maki berubah menjadi seseorang yang sangat perhatian, membuat Ola menoleh dan tak percaya. “Aku yang menyuruhmu menyalakan lampu tadi, aku merasa bersalah,” ralat Maki sebelum dia terlihat memerah. Ola tertawa, “Tapi, aku suka dengan perhatianmu.” Maki semakin jengah, tapi memang pada akhirnya dia harus terbiasa dengan semua itu, bukan? Dia akhirnya tersenyum dan membalas tatapan gadis yang sudah mengubah hidupnya hanya dalam beberapa hari. “Aku ingin makan daging.” Ola menatap dengan penuh harap. “Ambil uang di kantongku,” lanjutnya sebelum Maki mengeluh dia tak punya uang untuk membelikan Ola daging. Meski merasa sedikit enggan, Maki merogoh kantong kecil yang Ola bawa, lalu mengambil beberapa lembar uang yang menurutnya sangat banyak. “Beli untuk kita berdua,” imbuh Ola. Mereka berhenti di toko daging dekat flat, Ola menunggu di luar, karena dia sedang melihat balon berwarna-warni yang dibawa oleh penjual dan dikerumuni oleh anak-anak kecil. “Apa itu?” tanyanya setelah Maki keluar dari dalam toko. “Balon?” Maki menjawab dengan setengah tak percaya gadis itu bahkan tak tahu balon. “Lucu.” Ola ingin mengambil satu, tapi dia menahan diri karena pasti terlihat bodoh tak tahu nama benda itu. “Kamu membeli banyak? Apakah kentang yang aku bawakan kemarin masih?” berondong Ola. Maki mengangguk sebagai jawaban. “Apakah semua gadis selalu cerewet?” pikirnya. Ola berjalan dengan riang di depan Maki. Seolah-olah dia tak merasakan beban atau sejenisnya. Itu yang membuatnya sangat menarik. Terlepas betapa dia sangat cantik. “Tanganmu masih sakit?” tanya Maki berusaha mencari topik pembicaraan. “Sudah lebih baik. Tidak sepanas tadi,” kata Ola berpura-pura. Tangannya memang masih sedikit panas karena pengaruh sihir yang dipasang oleh seseorang di sana. Bukan karena sengatan listrik itu sendiri. “Kalau sakit beri tahu aku,” pinta Maki membuat Ola menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap laki-laki itu. Maki juga ikut menghentikan langkahnya karena terkejut dengan sikap Ola yang tiba-tiba. “Aku akan memberitahumu semua yang kurasakan. Jadi bersiap-siaplah untuk menutup kupingmu karena aku akan sangat berisik,” kata Ola sambil memicingkan matanya. Maki tersenyum mendengar perkataan Ola. Sebuah janji aneh, dari gadis aneh, yang sudah membuatnya merasakan jatuh cinta dan berusaha meraih cinta itu tanpa sadar. “Aku akan meninggalkanmu jika kamu berisik,” ejek Maki membuat Ola memberengut. “Aku akan menghantuimu, di mimpimu sekalipun,” kata Ola kesal. Maki tertawa mendengarnya. Ini pertama kali Ola mendengar tawa itu, membuat dia sekali lagi menghentikan langkahnya dan kembali menghadap laki-laki itu. Menatap dengan mata berbinar, karena sulur itu kembali memudar. Rasa bahagia itu sudah membuat kutukan Poine memudar. “Aku yang akan membuatmu bahagia.” Ola mengucapkan itu dalam hatinya. “Aku suka mendengarmu tertawa, sering-seringlah tertawa,” pinta Ola membuat Maki tersadar. Entah bagaimana, kepalanya mengangguk dengan otomatis dan tersenyum. Dia akan sering tertawa jika Ola menyukainya. Dia akan melakukan hal yang membuat Ola bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN