Arnie menatap sepasang manusia yang sedang bergelung di tempat tidur mereka, dari kejauhan. Matanya tak salah lagi, wanita itu sudah menjadi manusia seutuhnya. “Bagaimana bisa?” gumamnya. Dia ingin melontarkan sihirnya saat ini karena menahan geram. Namun, itu akan menimbulkan masalah yang mungkin tidak menguntungkannya. Ola membuka matanya, merasakan sebuah pergerakan di sana. Namun, tak ada yang terlihat matanya. Mungkin hanya perasaannya saja. Kini dia memandang sosok laki-laki yang masih tertidur di hadapannya itu. Masih tak percaya bahwa semua ini berlangsung begitu cepat. “Bangunlah,” bisiknya seraya menepuk pipi Maki lembut. “Kita harus bekerja,” lanjutnya. “Haruskah? Aku bahkan masih ingin bergelung di sini bersamamu,” gumam Maki yang masih memejamkan matanya. “Kita akan mak

