Sandykala baru saja pulang bermain. Ia memarkir sepedanya di halaman depan rumah. Dengan riang dia berjalan memasuki rumah memanggil Mbak Bulan, pengasuhnya, yang sudah mengasuhnya dari kecil.
“MBAK-,”
Belum selesai memanggil Mbak Bulan, Sandykala menghentikan langkahnya dan menajamkan telinganya. Pintu kamar kedua orangnya sedikit terbuka. Terdengar teriakan yang bersahutan seperti perdebatan yang tidak berujung.
Sandykala mengintip apa yang sedang terjadi di dalam sana. Terlihat dua orang dewasa yang tak lain adalah kedua orangnya tengah berdebat hebat. Keduanya saling menyalahkan dan tidak ada yang mau mengalah.
“Ceilo! Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita sudah punya Sandykala. Jadi berhentilah untuk berhubungan dengan wanita itu,” sentak Aelius yang telah muak dengan perselingkuhan suaminya.
“Aku mencintainya, Aelius. Kamu tidak bisa menghentikanya begitu saja. Lagi pula aku sudah memberikan semua yang kamu mau dan semua kebutuhan Sandykala,” kilah Ceilo.
“Bagaimana jika Sandykala mengetahui hubungan mu dengan wanita itu? Aku tidak ingin mentalnya terganggu dan itu akan menganggu belajarnya serta karirnya nanti. Banyak kasus anak broken home yang memilih menjadi berandalan dan aku tidak mau Sandykala nantinya menjadi berandalan seperti mereka,” urai Aelius.
“Maka dari itu kamu jangan sibuk dengan teman sosialita mu terus. Kamu urus Sandykala yang benar.”
“Ceilo, jangan menyalahkan ku. Di sini kamu yang salah. Tidak seharunya kamu bermain gila dengan wanita sialan itu,” bentak Aelius yang sudah mulai kesal.
Plak.
Tanpa sengaja karena di bakar oleh emosi, Ceilo menampar keras pipi Aelius. Aelius cukup terkejut dengan hal itu. Karena untuk pertama kalinya Ceilo bermain tangan denganya. Di ambang pintu Sandykala cukup terkejut dengan hal tersebut.
Selama ini ia mengenal Ceilo adalah papa nya yang penyabar dan baik. Ceilo tidak pernah kasar terhadap dirinya ataupun mamanya. Namun di hadapanya saat ini, ia melihat sendiri Ceilo menampar Aelius.
Sandykala langsung berlari ke arah Aelius. Hal itu membuat Aelius dan Ceilo terkejut. Apakah Sandykala mendengar pertengkaran keduanya? Apa Sandykala melihat semuanya? Sejak kapan bocah laki-laki itu ada di sana dan melihat semua yang terjadi?
Sementara itu, Sandykala memeluk erat Aelius. Ia sangat mencintai Aelius, lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
“Papa kenapa tampar Mama? Memangnya Mama salah apa?” isak Sandykala memeluk erat Aelius.
Ceilo mengusap wajahnya kasar. Ia harus berakting seperti tidak terjadi apa-apa di depan Sandykala.
Ceilo tersenyum manis. “Sandykala, sejak kapan kamu berada di depan kamar Mama sama Papa?” tanya Ceilo ramah.
Sandykala menatap Ceilo takut. Ia masih berada dalam dekapan Aelius. Sementara Aelius masih menangkanya dan mengelus punggung anak laki-laki itu penuh kasih sayang.
“Mama sama Papa jangan berantem. Sandykala takut,” cicit Sandykala.
“Iya, Sayang. Mama sama Papa gak berantem kok,” bujuk Aelius menenangkan Sandykala.
“Papa jangan tampar Mama seperti itu. Memangnya Papa sudah tidak sayang lagi sama Mama?” pertanyaan lugu Sandykala yang mampu membuat hati Aelius mencelos.
Jika Sandykala tahu yang sebenarnya. Ia tidak bisa membayangkan hal tersebut.
Ceilo dan Aelius adalah korban perjodohan kedua orang tua mereka demi harta. Keduanya memang tidak saling mencintai. Bahkan kehadiran Sandykala itu hanya untuk sebagai pewaris tunggal kekayaan keduanya.
Ya, Sandykala hadir karena sebuah keegoisan dan keserakahan. Anak laki-laki tidak berdosa itu tidak mengetahui apapun. Ia hanya tahu jika Aelius dan Ceilo sangat menyayanginya. Apapun yang ia inginkan pasti akan ia dapatkan.
“Pa, Papa sudah tidak menyayangi Mama?” ulang Sandykala karena sedari tadi Ceilo tidak menjawab pertanyaanya tadi.
Ceilo tersenyum manis. Ia mengambil alih Sandykala untuk duduk di pangkuanya.
“Tentu saja Papa sangat mencintai Mama, Kala,” dusta Ceilo.
“Kenapa Papa tampar Mama?” desak Sandykala yang sepertinya belum puas dengan jawaban Ceilo.
“Maaf, Papa tidak sengaja tadi. Tadi Papa melihat ada nyamuk di pipi Mama, tapi Papa justru tidak sengaja menamparnya terlalu keras,” bohong Ceilo mencari alasan agar Sandykala percaya.
“Benar? Sekarang mana nyamuknya?”
Aelius terkekeh sejenak. Meski sebenarnya itu adalah kekehan yang menyesakan.
“Nyamuknya sudah pergi, Sayang. Ini sudah sore bukan, Sandykala? Seharunya kamu pergi mandi atau nanti akan masuk angin jika kamu mandi terlalu malam,” ucap Aelius mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Sandykala menepuk jidatnya. Ia lupa jika tadi ia pulang untuk membersihkan diri sehabis seharian bermain dengan teman-temanya.
“Oh iya, Sandykala lupa hehehe.”
“Anak Papa belum mandi? Oh pantes bau asem,” canda Ceilo dengan menutup hidungnya.
Sandykala reflek mencium ketiaknya. Kemudian dia menyirit hendak protes.
“Nggak kok. Kala gak bau ya,” protes Sandykala lucu.
“Hahaha, ya sudah sana mandi.”
“Kala mau mandi sama Mama, boleh?” pinta Sandykala memohon.
Aelius mengangguk. Dia merapikan sejenak dres selututnya. Kemudian dia mengulurkan tanganya untuk mengajak Sandykala pergi mandi.
“Ayo, Sayang.”
“Yeay! Mandi sama Mama,” seru Sandykala gembira.
***
Gadis kecil itu tengah duduk di teras rumahnya sembari bermain dengan barbie-barbie miliknya. Seorang anak laki-laki yang tak lain adalah tetangganya yang sangat rese datang untuk menjahilinya.
Bumi datang membawa sepeda barunya. Ia tersenyum jahil ke arah Arunika yang tengah asik bermain barbie tersebut.
“Arunika!” serunya memanggil Arunika.
Arunika hanya menatap Bumi sejenak. Kemudian ia kembali bermain dan mengacuhkan Bumi.
“Sepeda baru aku bagus, kan? Gimana kalau kita balapan?” ajak Bumi.
“Gak mau. Aku lagi main barbie,” tolak Arunika mentah-mentah.
“Bilang aja kamu takut kalah, kan? Kamu kan emang cemen orangnya,” ejek Bumi memancing Arunika.
“Siapa yang takut kalah? Yang ada kamu yang bakal kalah lawan aku!” tuduh Arunika tidak terima.
“Aruni cemen, Aruni cemen, Aruni cemen,” ejek Bumi yang membuat Aruni kesal.
Arunika melempar boneka barbienya kesal. Kemudian dia berdiri dengan wajah yang telah memerah.
“Ayo kita balapan!”
Arunika mengambil sepeda berwarna pinknya yang ada di garasi. Bumi tersenyum puas melihat hal itu. Kemudian mereka pergi ke jalan untuk balapan.
“Yang sampai depan gerbang perumahan duluan, dia yang menang,” tantang Bumi.
“Iya!”
“Satu … dua … tiga!”
Arunika dan Bumi memacu sepeda mereka dengan cepat. Bumi menjulurkan lidahnya saat ia berhasil menyalip Arunika. Arunika yang kesalpun memacu sepedanya lebih cepat lagi.
Finis tinggal lima meter lagi, namun tiba-tiba d**a Arunika sesak. Ah ya, Arunika melupakan penyakitnya. Tidak seharunya ia menerima tantangan Bumi. Arunika menghentikan kayuhanya. Ia memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Sementara Bumi, ia bersorak gembira saat berhasil sampai finis duluan.
“Yeay! Aku menang, aku menang. Huuuu kamu gak bisa kalahin aku, kan? Aruni cemen, Aruni cemen,” ejek Bumi yang belum mengerti kondisi Arunika saat ini.
Arunika turun dari sepedanya. Dia duduk di aspal sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Bumi yang akhirnya menyadaripun menghampiri Arunika dengan panik.
“Aruni, kamu kenapa?” tanya nya panik.
“Ssshhh … se … sak. d**a … ku sa … kit,” keluh Arunika lemah.
“Aruni, Aruni, kamu gak bercanda, kan?”
Bumi berlari untuk mencari orang dewasa. Untung saja satpam perumahan sedang berada di pos mereka.
“Pak Satpam, tolongin Aruni!” seru Bumi panik.
Satpam perumahan yang sedang santai pun bingung. Dia mengenal Bumi, anak laki-laki yang terkenal nakal dan jahil di perumahan tersebut.
“Aduh, Bumi kamu buat anak orang celaka yang mana lagi?”
“Udah Pak Satpam jangan banyak tanya. Tolongin Aruni sekarang.”
Satpam tersebutpun bergegas. Ia terkejut saat melihat seorang gadis kecil tergeletak di tengah jalan. Ia segera menggendong gadis tersebut dan membawanya ke pos satpam.
“Aduh Bumi, ini kenapa teman kamu bisa kaya gini? Kamu apakan dia?”
“Bumi gak tau, Pak. Bawa Aruni ke rumah sakit aja. Tadi dia kaya sesek.”
“Ya Allah, kenapa gak bilang toh, Bum-Bum. Ya udah saya telfonkan ambulan dulu.”
“Aduh kelamaan, Pak. Bawa aja langsung ke rumah sakit sekarang,” desak Bumi yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Arunika.