4 tahun kemudian
Cakrawala telah berwarna keorange-an. Wanodya laksmi dengan wajah bundar itu telah siap dengan kulot panjang dan pasminah navy. Ya, peri cantik itu, kini semakin cantik bak bidadari.
Ia sudah mulai tumbuh remaja. Seperti bundanya, Aurora, Arunika memutuskan untuk berjilbab. Saat ini usia Arunika sudah menginjak remaja, hubunganya dengan Sandykala juga semakin membaik di tambah ia yang sudah di perbolehkan oleh Atlas untuk memegang ponsel. Jadinya ia dan Sandykala bisa berhubungan kapanpun.
Arunika menuruni anak tangga rumahnya dengan menenteng sebuah koper dan menyangklot tas gendong kecil berbentuk bebek.
“Semua sudah siap, Kak?” tanya Aurora memastikan barang bawaan mereka.
“Sudah, Bun.”
Acara tahun ini akan di adakan di Bogor. Jadilah mereka akan menaiki pesawat untuk mempersingkat waktu. Barulah nanti ketika sampai Jakarta mereka akan berangkat bersama dengan rombongan yang dari Jakarta menggunakan bus untuk ke Bogor.
Arunika memasukan semua barang bawaanya kecuali tas bebeknya ke dalam bagasi. Kemudian mereka bergegas pergi ke bandara dan nantinya akan berangkat bersama yang lainya.
“Inhaler kamu udah, Kak?” kali ini Atlas yang bertanya untuk memastikan.
“Udah, Ayah.”
Atlas pun mengangguk dan kemudian menyetir mobil menuju bandara. Tidak butuh lama akhirnya mereka telah sampai di bandara. Di sana ternyata beberapa keluarga karyawan lainya juga telah sampai. Pesawat mereka akan take off sekitar setengah jam lagi, jadi masih bisa menunggu beberapa keluarga yang belum sampai.
Arunika menyeret kopernya karena Aurora sedang menggendong adiknya yang baru berusia sekitar dua tahun. Kemudian dia duduk di salah satu kursi yang di sediakan oleh pihak bandara.
“Sibuk amat sama hp. Kaya ada yang chat aja lo,” ejek Bumi yang sudah duduk di samping Arunika.
Memang Bumi tidak pernah berubah. Laki-laki itu masih kerap kali membuatnya marah.
“Lo gak bisa apa sehari aja gak gangguin gue?” sungut Arunika yang kesal dengan Bumi.
“Gak bisa.”
“Bisulan kali ya kalau lo gak gangguin gue,” celoteh Arunika kesal.
Bumi hanya terkekeh kemudian dia fokus makan ciki yang tadi ia beli. Alula, gadis tomboy yang merupakan teman baru Arunika itu menghampiri Arunika.
Alula memang sangat berbeda dari Arunika. Kulitnya yang sawo matang berbeda dengan Arunika yang berkulit putih bersih. Alula yang selalu menggunakan celana pendek dan kemeja atau kaos, berbeda dengan Arunika yang kerap kali tampil lebih feminim. Namun keduanya sama-sama gadis yang cantik.
“Aruni! Sumpah gue rindu banget sama lo,” seru Alula memeluk Arunika.
“Lo kenapa gak pernah main ke rumah?”
“Biasa, gue kan orang sibuk,” cetus Alula sombong.
“Sok sibuk lo,” cerca Altarik menimbrung.
“Yeee, gak percaya lo pada?”
Karena keasikan bercanda, tanpa sadar pesawat mereka akan segera take off. Keenam remaja itupun bergegas memasuki pesawat mereka agar tidak ketinggalan. Arunika, Alula, dan Bumi mereka duduk bersama. Sedangkan Venus, Altarik, dan Mars duduk di kursi samping.
Perjalanan kali ini hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Arunika menatap sejenak ke luar pesawat dari jendela. Ia terkagum dengan keindahan yang dapat di saksikanya. Hingga tidak terasa satu setengah jam seperti hanya lima menit karena ia sibuk melihat keanggungan sang pencipta.
***
Di sisi lain Sandykala telah menunggu Arunika di bus. Tadi dia meminta Ceilo untuk ikut satu bus dengan Arunika. Mata Sandykala berbinar saat melihat peri cantiknya. Jantungnya berdetak begitu cepat apalagi saat melihat Arunika memakai jilbab untuk pertama kalinya. Sandykala mendekati Arunika. Dia tersenyum hangat pada gadis itu.
“Selamat siang, Allura. Gimana perjalanan kamu tadi?” tanyanya menyambut Arunika.
“Siang juga, Kala. Alhamdulillah lancar. Tadi di atas pemandanganya bagus banget. Jadi gak kerasa tiba-tiba udah sampai aja,” cerita Arunika.
“Kamu suka?” Arunika mengangguk semangat.
“Biar aku bawakan kopernya,” tawar Sandykala.
“Gak usah repot-repot. Aku bisa kok,” elak Arunika tidak enak.
“Gak papa, biar aku aja.”
Sandykala pun membawa koper milik Arunika menuju bus. Dia juga sengaja duduk di samping Arunika. Setelah semua orang telah masuk dalam bus, bus pun langsung menuju ke tempat mereka akan menginap nantinya. Suasana bus nampak begitu ramai karena beberapa dari mereka ada yang senang karaokean.
Arunika menatap keluar jendela. Jalanan berlika-liku dan terkadang melewati tikungan yang cukup tajam membuat Arunika takut. Namun di sampingnya ada Sandykala yang membuatnya aman.
“Allura, ini snack kamu,” ujar Sandykala memberikan jatah snack Arunika.
“Terima kasih, Kala.”
Arunika melihat sejenak snack tersebut. Saat ingin membukanya Arunika sedikit kesusahan karena ada staples yang mengunci wadah snacknya. Sandykala yang peka pun mengambil snack Arunika dan membukakanya.
“Terima kasih, Kala,” ucap Arunika sekali lagi.
“Sama-sama, Allura.”
“Oh ya, sekolah kamu gimana?” tanya Arunika membuka percakapan.
“Tidak begitu baik.”
“Kenapa, Kala?”
“Aku payah dalam pelajaran matematika. Jadi kemarin aku remed karena nilai ulangan ku hanya lima puluh,” keluh Sandykala.
Arunika tersenyum manis untuk menenangkan Sandykala. Ia menepuk pundak laki-laki itu. “Kamu sudah berusaha. Mungkin lain kali, kamu bisa berusaha lebih giat lagi,” ujar Arunika tenang.
“Gimana kalau kamu mengajari aku?”
“Aku baru kelas tujuh, Kala. Mana bisa aku mengajari kamu yang sudah kelas delapan.”
“Kamu kan pinter, Allura.”
“Hahaha, tapi aku tidak sepintar itu, Kala.”
Sandykala terkekeh. Ia mengelus kepala Arunika seperti yang biasanya ia lakukan saat gemas pada gadis itu. Hanya saja, telapak tangan Sandykala harus terkena jarum pentul kerudung pasminah milik Arunika.
Arunika panik. Ia melihat luka Sandykala yang mengeluarkan darah. Dengan cekatan Arunika mengambil tisu dari dalam tas bebeknya. Kemudian ia juga mengambil handsaplast bermotif bebek untuk membalut luka Sandykala.
“Maaf, Sandykala. Tangan kamu luka gara-gara aku,” sendu Arunika.
“Aku gak papa, Allura. Ini juga salah ku yang kurang hati-hati.”
Tangan satunya milik Sandykala mengenggam tangan Arunika yang tengah mengobati telapak tangan kirinya. “Aku baik-baik saja, Allura. Ini hanya luka kecil.”
“Maaf, Kala.”
“Iya, Allura. Jangan sedih gitu.”
Sandykala mengusap pelan pipi Arunika. Gadis itu sangat cantik. Benar-benar cantik. Ia sepertinya sangat yakin jika ia mencintai Arunika.
“Kamu itu peri cantiknya Sandykala. Jadi gak boleh sedih ya. Harus senyum terus biar cantik terus,” ujar Sandykala begitu manis.
“Jadi kalau aku gak senyum, aku jelek gitu?”
Sandykala menggeleng. “Kamu tidak pernah jelek, karena kamu itu Allura.”
Arunika tersenyum malu-malu. Ia terlihat salting mendengar penuturan Sandykala barusan. Oleh karena itu dia kembali memakan snacknya dan membuang muka untuk melihat pemandangan dari dalam bus.
Sandykala terkekeh saat melihat peri cantiknya salting. Apalagi saat pipi putih itu bersemu merah. Membuat kecantikan Arunika semakin bertambah.