Bab 7 Pacar Kontrak!

1139 Kata
Suasana bersitegang sedang terjadi di ruang tengah apartemen. Sepasang mata saling berganti memandang pria dan gadis di depannya. Kedua tangan dilipat dan kaki saling di silangkan. Gadis yang mendapat tatapan itu hanya bisa menelan ludah. Berbeda dengan pria di sampingnya yang menerima tatapan itu mengacak rambutnya frustrasi. Memecahkan ketegangan diantara ketiganya. “Ehem.” Tristan sebagai pengamat ketiganya yang bersitegang merasa jera. Dia akhirnya memutuskan membuka suara. “Sayang, kamu membuat Rain ketakutan,” ucap Tristan pada Amora. Amora yang mendapat protes dari kekasihnya, memandangnya dengan kesal. Tidak ingin membangunkan macan yang tertidur. Tristan memutuskan diam seribu kata. Seperti yang dikatakan Tristan. Rain terlihat pucat pasi saat mata Amora menatapnya. Mengingat keputusan yang diambil keduanya. Amora menghembuskan nafas kesal menatap keduanya. Menatap Andrew. “Jadi, menurut kakak itu menjadi solusi terbaik saat ini?” “Ya,” jawabnya. Menatap Rain tak percaya. “Dan kamu, Rain. Bagaimana bisa kamu setuju begitu saja dengan keputusan Kak Andrew.” “I—itu, Aku berhutang budi pada Kak Andrew. Dia telah merawatku saat aku sakit. Jadi, aku rasa kenapa aku tidak membantunya. Hanya ini yang bisa aku lakukan,” lirihnya. Mendengar jawaban Rain, membuatnya memutar kedua matanya. Dia tidak menyangka dengan jawaban polos Rain. Berbeda dengan Andrew yang mendengar jawaban Rain hanya mengangguk setuju. Menatap Andrew kesal. “Jadi, apa Kakak mengancam Rain dengan alasan itu.” “Tidak, aku tidak pernah mengancamnya. Itu memang kenyataan. Sudah seharusnya dia membantuku, kan. Setelah aku menolongnya dari maut.” “Kakak,” teriak Amora tak bisa membendung amarah. Mereka bertiga yang awalnya bergeming. Mendengar teriakan Amora membuat mereka semua kaget. Terutama Rain yang sensisitif saat mendengar suara keras. Tristan mencoba menenangkan Amora dari kemarahannya. “Sayang, sabar. Astaga kau membuat semua orang takut.” Amora mencoba menenangkan diri dengan dibantu Tristan. Menghembuskan nafas perlahan dengan tangan memegang dadanya. “Kakak yang menabraknya. Bagaimana bisa Kakak berpikir seperti itu,” kesalnya. “Sudah berapa kali Kakak bilang. Aku masih hampir menabraknya. Dia sendiri yang menyeberang tanpa melihat dan tiba-tiba pingsan,” bela Andrew. “Lalu, luka itu?” tanya amora bingung. “Semuanya memang salahku, Amora. Waktu itu aku menyeberang sembarangan. Karena kaget aku terjatuh pingsan. Dan ... untuk luka itu, sebenarnya sebelum aku hampir tertabrak mobil Kak Andrew. Aku sebelumnya telah terserempet mobil,” timpal Rain tanpa bohong. Sekali lagi Amora menghembuskan nafas berat. Dia tidak pernah menyangka dengan Rain yang bisa menyetujui keputusan kakaknya. Seorang Rain yang polos sudah pasti kakaknya menjebaknya. “Rain, aku bertanya sekali lagi. Apa kau yakin Kak Andrew tidak memaksamu?” tanyanya. “Amora, apa kau tidak percaya Kakak?” ucap Andrew meyakinkan. Menatap Andrew sinis. “Diam, Kak. Aku tidak bertanya pada Kakak.” Mendengar pertengkaran kakak beradik, Tristan hanya bisa menatap mereka secara berganti. “Oh, astaga. Aku pusing mendengar pertengkaran kalian,” ucap Tristan yang lebih memilih menyandarkan punggungnya di sofa dengan jera. “Rain, sekali lagi aku bertanya padamu. Apa Kak Andrew memaksamu?” Mendengar pertanyaan yang sama sekian kalinya. Rain bergeming teringat kembali pembicaraannya dengan Andrew sebelum kehadiran Amora dan Tristan. Tempat yang mereka duduki menjadi saksi bisu kesepakatan di antara keduanya. Rain awalnya kaget mendengar kesepakatan yang ditawarkan Andrew secara tiba-tiba. “Aku ingin kamu menjadi pacar kontrakku.” Kata yang mampu membuat Rain membeku. Bukan ungkapan cinta yang dia dapat dari pria tampan di depannya. Tapi penawaran untuk dijadikannya pacar kontrak. Entah apa kesalahannya sehingga dia terjebak dalam keadaan ini. “Tapi ... kenapa Kak?” ucap Rain ingin menolaknya. “Tapi, kamu bilang? Bukankah kamu sudah paham apa yang terjadi pada kita,” balasnya menahan kesal. “I—iya, tapi ... apa tidak ada solusi lain?” tanyanya. Andrew tertawa dengan paksa. “Solusi? Ha-ha-ha.” “Jika ada solusi lain. Sudah tentu aku tidak ingin ini terjadi. Tapi, untuk saat ini. Hanya ini menjadi solusi terbaik,” lanjutnya. “Tapi ... .” “Apa kau ingin aku bilang kalau kau tinggal di rumahku sebagai penghibur, begitu?” Rain menggeleng menolak. “Ti—tidak, jangan.” “Lalu, kau setuju, kan. Menjadi pacar kontrak?” tanyanya. “Ta—tapi ... .” “Apa kau masih ingin menolakku, Rain? Kau tahu apa yang bisa aku lakukan padamu?” Andrew yang sudah tak mampu menahan diri. Memutuskan mengancamnya. “Apa maksud Kak Andrew? tanya Rain yang menatapnya takut. “Aku tahu waktu aku menabrakmu ...” jedanya. “... kau tahu aku tak pernah benar-benar menabrakmu,” lanjutnya. Rain mendapat ancaman itu hanya bergeming menatapnya ketakutan. Walau dia tidak sadar apa yang terjadi waktu itu. Tapi dia memang salah menyeberang tanpa melihat mobil berjalan ke arahnya. “Kau sendiri yang menyeberang tanpa melihat jalan, kan. Kau tahu apa sanksi bagi pejalan kaki yang menyeberang sembarangan? Kau bisa dikenakan pidana penjara 1 tahun atau denda 24 juta. Apa kau mau?” Menyeringai puas saat melihat Rain yang hanya menelan ludah ketakutan. Andrew merasa senang ancamannya berhasil. Meski dalam hatinya sedikit merasa kasihan melihat ketakutan gadis tersebut. Tapi tidak ada pilihan lain. Hanya cara ini membuatnya agar terikat dengannya. “Ta—tapi, berapa lama aku harus menjadi pacar kontrak?” Andrew tersenyum puas mendengar pertanyaan yang diajukan Rain. “Hanya satu bulan. Bukankah itu lebih baik daripada penjara?” puasnya. “Ba—baiklah, aku setuju. Tapi, hanya satu bulan tidak lebih.” “Baiklah, hanya satu bulan. Deal?” Mengulurkan tangan sebagai tanda saling setuju. “Deal,” balas Rain yang dibalas senyum puas oleh seorang Andrew. Rain yang polos akhirnya terjebak dengan ancaman seorang Andrew. Kepolosan Rain membuatnya terpaksa menjebaknya agar menyetujui kesepakatan yang diberikannya. Tanpa ingin mengetahui kebenaran terlebih dulu. Rain langsung setuju dengan kesepakatan yang diberikan pria tersebut. Rain yang melamun tanpa sadar Amora memanggil namanya. “Rain.” “Rain,” panggilnya kembali. “Ya?” jawabnya akhirnya setelah sadar dari lamunannya. “Apa yang membuatmu melamun, Rain?” “Ti—tidak, tidak ada.” “Apa kau yakin?” tanyanya kembali yang dibalas anggukan. “Baiklah, kau belum menjawab pertanyaanku, Rain.” Rain melihat tatapan Andrew sekilas sebelum balik menatap Amora. “Ti—tidak, Amora. Tidak ada yang memaksaku. Ini semua sesuai keinginanku sendiri.” Amora hanya bisa tersenyum masam.“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian.” Andrew membalas. “Apa kau berkata setuju, Amora.” “Ya, kalau pun aku bilang tidak. Kak Andrew tetap akan melakukannya, kan.” Tanpa menolak kebenaran. “Ya, kau benar.” “Aku tidak ingin orang tua kita tahu kebohongan ini, Kak. Mereka tidak akan setuju dengan rencana gila kalian. Terutama mama yang sudah mengenal Rain,” tegas Amora. Mengangguk setuju. “Baiklah, aku tahu itu.” “Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya,” tanya Tristan pada Andrew. “Aku rasa, besok aku akan mengadakan konferensi pers.” “Konferensi pers?” tanyanya membuat semua orang menatapnya bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN