Bab 6 Kesepakatan

1200 Kata
Setelah Andrew berhasil pergi menjauh dari jangkauan wartawan. Memastikan tidak ada wartawan lagi yang mengikutinya. Andrew memberhentikan mobil mewahnya di tepi jalan yang sepi dari lalu lalang mobil. Menatap gadis yang masih menutup mata terduduk di sebelahnya. Dia tidak pernah menyangka bisa terjebak dengan gadis yang baru dikenalnya dua hari. Bahkan dia tidak tahu asal usul gadis yang ada di hadapannya. Andrew memutuskan membangunkan gadis tersebut secara pelan. Menepuk pelan pipi sang gadis. “Rain, apa kau baik-baik saja?” “Rain,” panggilnya sekali lagi. Matanya yang perlahan membuka. Andrew merasa lega melihatnya. Segera mengambil botol air yang sengaja ditaruhnya dalam mobil. Memberikan botol air yang telah dibukanya kepada Rain. “Minumlah,” ucap Andrew. “Terima kasih,” balasnya setelah selesai meminumnya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Andrew khawatir. Dengan tatapannya yang polos “Hmm, aku hanya merasa kaget saja.” “Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa ... tiba-tiba ada wartawan yang mendatangiku?” tanyanya bingung, lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri. Situasi yang terjadi tidak juga membuat Rain mengerti. Andrew hanya menghembuskan nafas menyesal. Karena dirinya Rain ikut kena imbasnya. Tapi nasi sudah jadi bubur. Mau tidak mau Rain harus terlibat dengan masalahnya. Memegang erat setir mobil dengan amarah yang membuncah. Membuatnya meninggalkan bekas putih di buku-buku jarinya. Mobil di jalankan kembali dengan kecepatan tinggi. Rahang yang mengeras dan tatapan tajamnya. Siapa pun tahu dia sedang menahan amarah. Rain hanya bisa memegang erat seat belt tanpa ingin protes. Rain mencuri pandang ke arah Andrew. Wajah dinginnya mampu membuatnya ketakutan. Tanpa ingin bertanya, Rain hanya diam membiarkannya mengendarai mobilnya tanpa tahu dirinya mau dibawa ke mana. Sesampainya, Andrew segera membuka pintu penumpang tempat Rain terduduk. “Keluar!” “I—ini di mana?” tanya Rain yang kebingungan dan sekaligus ketakutan. “Aku bilang turun,” perintahnya dengan suara yang dikeraskan. Meski Rain baru mengenalnya. Untuk pertama kalinya semenjak Rain berjumpa dengannya. Wajah dingin yang masih menyimpan sedikit rasa ibah. Kini hanya ada wajah dingin yang dipenuhi amarah. Rain yang ketakutan segera turun dari mobil dan mengikutinya. “Masuk!” perintahnya sesampai di depan apartemen yang tanpa Rain ketahui pemiliknya. Rain mulai bergetar ketakutan. “Me—mengapa kita ke sini? Menggertakan gigi karena amarah yang ditahannya. “Aku bilang masuk, Rain.” Lagi-lagi Rain yang merasa terpojok. Dia tidak bisa menolak perintahnya. Amarah di diri Andrew yang semakin berkibar membuatnya semakin ketakutan. Andrew membiarkan Rain berjalan dibelakangnya. Andrew melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur yang terletak tak jauh dari ruang tamu. Mengambil air dingin untuk sedikit menenangkan pikirannya. Saat dia baru meneguk sedikit minumannya. Dia mendengar suara tangis seseorang yang terdengar familiar. Berjalan mencari sumber suara. “Hiks, hiks, hiks.” Betapa dirinya terkaget saat melihat sosok Rain yang menenggelamkan dirinya di antara kedua lututnya. Rain masih berada di tempat awal mereka masuk. Menangis sesenggukan dengan badan yang bergetar. Andrew yang melihat keadaannya berdiri bingung menatapnya. Menghampirinya. “Apa yang kau lakukan di situ, Rain?” Rain semakin menenggelamkan dirinya di kedua lututnya. “Berdirilah,” perintahnya sambil mencoba membantunya berdiri. Rain menepis uluran tangannya. “Ti—tidak, aku tidak mau.” Perubahan sikap Rain membuatnya menatap bingung. “Apa kau takut padaku, Rain?” Mendengar pertanyaannya, Rain berhenti dari tangisnya. Sedikit mengintip ke arah Andrew yang tanpa sengaja membalas tatapannya. Rain segera memalingkan muka. Andrew menghembuskan nafas panjang mengetahui gadis yang ada di depannya takut dengan dirinya. Andrew tersadar dengan apa yang dilakukannya. Karena kejadian yang menimpahnya, tanpa sadar melampiaskan amarahnya pada gadis di depannya. Dia berjongkok di depannya. Mencoba menenangkan Rain yang ketakutan. Bertanya kembali dengan suara yang dibuat selembut mungkin. “Apa kau pikir aku marah padamu?” Suara tenangnya tanpa amarah yang ada di dirinya membuat Rain berani menatapnya. Mereka hanya saling memandang dengan diam. Sebelum akhirnya Rain mengangguk ragu. Mengetahui gadis di depannya yang menggigil ketakutan karena dirinya. Andrew sedikit tersenyum menatap Rain. Rain yang mendapatkan tatapan itu hanya menatap diam dengan bekas air mata di pelupuk matanya. Andrew berdiri dan mengulurkan tangan kembali. “Berdirilah.” Rain menerima uluran tangan Andrew tanpa menolak. Membawa Rain untuk duduk di sofa. Meninggalkan Rain sejenak untuk sekedar mengambilkannya minum. Rain menatap tiap gerak gerik Andrew dengan curiga. “Minumlah,” ucap Andrew setelah meletakkan segelas air di depannya. "Aku tidak menaruh racun. Kau bisa meminumnya," sindirnya saat mendapatkan tatapan curiga di mata Rain. “Te—terima kasih,” balasnya yang masih menyimpan sedikit ketakutan. Mereka yang terduduk berberhadapan. Andrew menumpuk kedua kakinya dan tangan dibiarkan bersedekap. Mata yang terus menatap gerak geriknya. Suasana diam di antara keduanya membuat Rain merasa canggung. Setelah melihatnya telah lebih tenang. Andrew mengajaknya berbicara. “Apa yang kau pikirkan tentangku, Rain?” tanyanya. “Aku—“ “Aku tidak bermaksud memarahimu. Aku hanya merasa kesal dengan situasi yang baru saja terjadi,” sergah Andrew. Memastikan kembali keadaan Rain. “Apa kau sudah merasa tenang, Rain.” Rain hanya mengangguk sebagai balasan. "Apa kau masih takut denganku?" tanyanya kembali yang dibalas gelengan dengan sedikit keraguan. Tersenyum sinis. "Baguslah, kalau kau tidak takut padaku." Rain menatap sekeliling apartemen dengan rasa penasaran. Tanpa berani bertanya padanya. “Ada apa, Rain?” tanya Andrew saat mengetahui Rain menatap sekeliling dengan bingung. Rain yang kepergok merasa salah tingkah. Mengusap punggung tangannya dengan gelisah. “I—itu, aku tidak tahu kenapa Kak Andrew membawaku ke sini.” “Ah, untuk sementara kamu bisa tinggal di sini.” “Apa? Kenapa?” teriak Rain. Gadis yang tadinya ketakutan melihatnya tiba-tiba berteriak padanya. Andrew hanya bisa menyipitkan sebelah matanya dan menggosok telinga kanannya yang sedikit gatal akibat teriakannya. “Aku belum selesai berbicara, Rain. Duduklah!” ucap Andrew dengan menekankan tiap katanya. Rain terduduk kembali dengan pasrah. Menatap Andrew dengan tatapan takut. Entah sudah ke berapa kali Andrew menghembuskan nafas berat. Memejamkan mata sejenak untuk mengontrol amarahnya. Menegakkan badannya. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Rain. Ini serius.” “A—apa?” “Ini tentang yang terjadi hari ini,” jelas Andrew. “A—“ Memotongnya tanpa membiarkan Rain meneruskan perkataannya. “Dengarkan aku sampai selesai. Aku tidak ingin kau menyergahku sebelum aku selesai berbicara. Apa kau mengerti?” “I—iya,” gagapnya. “Apa kau tahu kenapa ada wartawan mendatangimu?” lanjut Andrew. Rain hanya menggeleng tak mengerti. Andrew meletakkan sebuah tablet di depan Rain. Menatap tablet berisi foto mereka yang terdapat di halaman berita. Rain membawa tablet ke pangkuannya. Membaca satu per satu berita. Dia tidak menyangka dirinya tiba-tiba menjadi terkenal seperti ini. “Apa kau mengerti sekarang?” tanyanya yang dibalas anggukan oleh Rain. “Ini satu-satunya tempat teraman untuk saat ini. Aku yakin sekarang paparazi sudah mengetahui tempat tinggalmu. Ini apartemen lamaku. Tidak ada yang tahu tempat ini selain aku dan Amora,” jelasnya. Rain hanya mendengar dengan seksama tanpa ingin menyergahnya. Tak ingin membuatnya marah kembali padanya. Memilih menunggu Andrew menyelesaikan pembicaraannya menjadi pilihan terbaik. “Aku ingin membuat kesepakatan denganmu,” tambahnya. “Kesepakatan?” tanya Rain. Menghembuskan nafas berat. “Aku ingin kamu menjadi pacar kontrakku.” Rain membulatkan matanya tak percaya. Mulutnya dibiarkan terbuka membentuk huruf O. Seperti mimpi di siang bolong, Rain tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut pria di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN