Rain terduduk diam memandang ke arah luar. Tidak ada yang ingin memulai obrolan. Andrew hanya fokus mengendarai mobilnya.
“Ehm, Rain?”
Rain yang terjebak dalam pikirannya sendiri. Tidak menyadari panggilan pria di sampingnya.
“Rain?” Panggilnya sekali lagi.
Rain yang kaget agak mengeraskan suaranya. “Ya?”
“Apa kau melamun?” tanya Andrew.
“Ti—tidak, ada apa?” tanya Rain.
“Aku harus menurunkanmu di mana?” tanyanya.
“Kak Andrew bisa menurunkanku di jalan XXX,” ucapnya.
Setelah beberapa menit, Andrew memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Apa kau yakin turun di sini? Ke mana kau sebenarnya akan pergi?” tanya heran Andrew menatap sekitar yang bukan hunian rumah.
“Kalau Kak Andrew berpikir aku pulang, Kakak salah. Aku akan bekerja. Sudah dua hari aku libur bekerja,” katanya.
Menatap lengan Rain yang telah tak terbalut perban. “Kenapa kau sudah membukanya? Apa semuanya sudah baik-baik saja?”
Rain menyadari tatapan Andrew. “Aku sudah baik-baik saja, untuk luka ini ... aku yakin sebentar lagi akan hilang. Jadi, kak Andrew tak perlu khawatir.”
Andrew mengangguk. “Baiklah.”
“Sekali lagi terima kasih, Kak. Maaf sudah banyak merepotkan Kak Andrew,” ucapnya sebelum keluar dari mobil.
Andrew menatap punggung Rain yang telah berjalan menjauh. Memasuki sebuah kafe yang tak begitu luas dengan nuansa putih di luarnya. Desain minimalis membuatnya terlihat lebih mewah.
Setelah kepergian Rain. Andrew segera melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat dia menurunkan Rain. Saat baru setengah perjalanan. Ponselnya terus berdering. Andrew segera menekan headsetnya.
“Halo,” sapa Andrew.
Suara di seberang terdengar khawatir. “Kau di mana?”
“Ada apa, Tan. Aku dalam perjalanan menuju ke Kantor,” ucapnya.
“Lebih baik kau tidak usah datang. Sekarang lebih baik kau temui Rain,” ucap orang di seberang.
Mengerutkan kening bingung. “Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku baru saja mengantarkan Rain.”
Masih dengan nada khawatirnya. “Apa kau tidak membaca berita pagi ini?”
Andrew semakin bingung. “Belum, sebenarnya ada apa, Tan.”
“Lebih baik kau lihat sendiri berita hari ini. Sekarang lebih baik kau tidak usah datang ke kantor dulu. Banyak wartawan yang menunggumu.”
Ucapan Tristan membuat Andrew menginjak rem mendadak. Beruntung di belakangnya tidak ada mobil. Kalau tidak, mungkin akan terjadi kecelakaan beruntun.
Setelah mematikan panggilannya. Andrew segera menepikan mobilnya di garis berhenti. Membuka halaman pencarian. Betapa terkagetnya dia saat mengetahui dirinya telah diikuti paparazi sejak awal kepergiannya dari rumah. Bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya.
Banyak foto kebersamaannya dengan Rain di halaman berita. Andrew semakin kesal saat mengetahui paparazi itu mengikuti Rain ke tempat kerjanya. Banyak foto Rain di tempat kerja yang telah tersebar luas. Andrew memukul setir mobil kesal.
Mengumpat kesal. “Sial.”
Andrew menyalahkan dirinya. Seharusnya dia lebih hati-hati. Popularitasnya yang menjadi pengusaha tersukses membuatnya sering di sorot. Andrew segera memutar mobilnya ke arah berlawanan. Pengendara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****
Sudah dua hari Rain tidak bekerja. Banyak kejadian yang terjadi padanya membuatnya melupakan ponselnya. Tanpa sadar dia sudah menonaktifkan ponselnya selama dua hari. Saat pagi ini dia kembali mengaktifkannya. Banyak panggilan masuk dari temannya. Temannya pasti sangat mengkhawatirkannya.
Rain berjalan memasuki sebuah kafe Happy End. Tempat dia memenuhi hidupnya. Saat pertama dia memasuki kafe. Terdengar suara teriakan temannya memenuhi kafe.
Berlari ke arahnya. “Rain!”
“Re, kenapa kau berlari?” ucapnya.
“Kemana saja selama dua hari ini, Rain. Kau membuatku khawatir,” ucap temannya yang sering dia panggil Rere.
Melihat bekas luka yang masih terlihat memerah di tangannya. “Kenapa dengan tanganmu?”
“Ceritanya panjang, Re.”
“Tidak, kau harus memberitahuku. Meski itu ceritanya panjang kau tetap harus memberitahuku,” selah Rere.
“Bagaimana dua hari ini?” tanya Rain sambil melihat sekeliling kafe yang masih sepi.
“Aku bisa mengurusnya kau tidak perlu khawatir. Sekarang, lebih baik kau ceritakan semua padaku. Kemana dirimu menghilang dua hari ini.” Membawa Rain menuju area dapur.
Tanpa mereka sadari. Terdapat beberapa wartawan yang telah memasuki area dalam kafe. Suara berisik membuat mereka berdua membalikkan badan. Menatap beberapa orang yang berbondong-bondong menuju ke arahnya. Mereka yang tidak tahu apa-apa saling menatap bingung.
Rere menatap wartawan dan temannya bergantian. “Ada apa ini, Rain. Kenapa tiba-tiba ada wartawan?”
Dengan ekspresi syok. “Aku juga tidak tahu, Re”
Wartawan berbondong-bondong mengelilingi mereka. Lebih tepatnya mereka mengarahkan kamera ke arah Rain. Desakan wartawan membuat langkah Rere mundur.
Rere yang syok, hanya menatap bingung ke arah temannya. Menghilang selama dua hari datang-datang menjadi artis dadakan. Sebenarnya apa yang telah dilakukan temannya selama dua hari ini.
“Ada hubungan apa anda dengan pewaris Lupher Group.”
“Apa anda calon istri dari pewaris Lupher Group?”
“Bagaimana awal pertemuan anda dengan CEO Lupher Group?”
Berbagai pertanyaan diajukan oleh wartawan. Kilatan lampu kamera membuat Rain pusing. Rain yang tidak terbiasa di sorot membuatnya berdiri diam kebingungan. Tidak tahu apa yang terjadi. Rain hanya mendengar berbagai pertanyaan yang terus menyebut Lupher Group.
“Apa pekerjaan anda? Apa anda hanya seorang barista?”
“Apa anda dulu yang jatuh cinta padanya?”
Berbagai pertanyaan tak masuk akal mulai diajukan. Kilatan lampu kamera yang semakin menyorotnya. Pusing semakin melandanya. Rain yang tak tahan dengan sorotan lampu kamera. Tiba-tiba Rain terjatuh pingsan.
Sebelum dia benar-benar terjatuh. Dia melihat sosok pria berlari melewati wartawan menuju ke arahnya. Rain jatuh tepat dipangkuannya. Sebelum kegelapan benar-benar menyerangnya.
“Rain,” teriak Rere saat melihat Rain terjatuh pingsan.
Di lain sisi temannya yang melihat kedatangan pria tersebut syok. Setiap orang mengenal pria yang membawa temannya dalam pelukannya. Pria tampan sekaligus CEO muda yang menjadi pria tersukses. Banyak artis yang menginginkan menjadi brand ambasadornya dengan alasan agar dekat dengan sang CEO.
Semenjak dia ikut serta dalam membintangi brandnya tahun lalu bersama artis wanita yang sedang naik daun membuat namanya semakin dikenal. Namanya sering menjadi topik hangat yang sering dibicarakan terutama di kalangan wanita. Namun, akhir-akhir ini banyak berita yang menyinggung orientasi seksualnya. Betapa kejamnya dunia hanya karena masih sendiri orientasi seksualnya dipermasalahkan. Itu pasti tidak jauh dari pesaing pengusaha lain yang ingin menjatuhkannya.
“Apa penglihatanku bermasalah?” ucap Rere yang terus menggosok-gosok matanya tak percaya.
“Andrew Lupher datang ke kafe. Apa itu benar-benar dia?” Masih tak percaya dengan kejadian di depan matanya.
Wartawan berbondong-bondong keluar meninggalkan seorang gadis yang berdiri mematung kebingungan. Mengikuti pria yang menggendong si wanita ala Bridal Style ke mobilnya. Tidak mempedulikan kamera yang terus menjepret. Si pengendara mengendarai mobilnya meninggalkan wartawan yang terus mencoba menghalangi jalannya.