Setelah malam yang panjang. Mereka semua berpamitan pulang. Mereka yang keasyikan mengobrol tanpa sadar malam semakin gelap.
“Kalau begitu kita pulang dulu, Drew.”
“Baik, Ma. Hati-hati,” ucap Andrew sambil mencium kedua pipi Melly.
Berganti memeluk Rain. “Tante senang bisa bertemu denganmu, Rain.”
Mendapati dirinya dipeluk secara tiba-tiba. Rain kaget sekaligus senang. Untuk pertama kalinya dia merasakan kehangatan sosok ibu setelah bertahun-tahun.
Rain membalasnya dengan senang. “Rain juga senang, Tante.”
“Aku pulang dulu, Kak.” Amora memeluk Andrew dengan sayang.
“Hmm,” balas memeluknya.
Rain tersenyum melihat kasih sayang keluarga itu. Kasih sayang tulus terlihat jelas di keluarga mereka.
“Rain, aku suka mengobrol denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi,” ucap Amora menghampirinya.
Mendapatkan ajakan bertemu lagi membuat Rain berpikir. Entah, apa mereka bisa bertemu lagi. Kedatangan Rain di keluarga ini hanyalah suatu kebetulan baginya.
Tanpa sadar Rain melamun. “Rain?”
Lambaian tangan Amora menyadarkan Rain dari lamunanannya. “Ya?”
“Kita akan bertemu lagi, kan.”
“Ya, tentu.” Tidak ingin membuatnya merasa tak enak. Rain hanya mengiyakan. Mereka berdua saling berpelukan.
Tiba-tiba Tristan membisikan sesuatu. “Aku rasa dia tidak buruk, Drew. Kau bisa menjadikannya pacar. Ha-ha-ha.”
“Kau,” kesal Andrew.
Tak ingin mendapat amukan dari Andrew. Tristan bersembunyi di belakang kekasihnya. Amora yang melihat tingkah keduanya hanya bisa menggelengkan kepala.
“Hati-hati dalam berkendara. Kau membawa keluarga terpentingku,” ucap Andrew saat mengantarkan kepergian mereka.
Tristan membalas. “Ya, aku tahu.”
Setelah mengantarkan kepergian mereka. Andrew yang berniat kembali ke dalam rumah terhenti. Mendapati Rain yang berdiri mematung di tempatnya.
“Apa yang kau lakukan di sana, Rain? Masuklah!”
Rain memegang erat kain roknya. “It—itu, aku juga ingin pamit pergi.”
Mendengar perkataannya membuat Andrew mengernyit. “Apa kau sudah gila? Ini sudah malam. Pulanglah besok. Sekarang, kembalilah ke kamarmu.”
“Ta—tapi, Tuan.”
“Tidak ada kata tapi. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Apa kau tidak takut bahaya menyerangmu di tengah malam seperti ini?” tegasnya.
Rain merasa dirinya telah banyak merepotkan. Dia berniat pamit malam hari ini juga diurungkannya setelah mendapat tatapan tajam darinya. Rain tidak ada pilihan selain mengurungkan niatnya.
“Masuklah!” perintahnya.
“Ba—baik, Tuan.” Balasnya.
Rain berjalan masuk mengikuti Andrew. Rain yang berjalan tertunduk tanpa sadar orang di depannya menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Rain tak sengaja membentur punggung kokoh seseorang di depannya.
“Ma—maaf, Tuan.”
“Satu lagi, panggil aku Andrew. Aku bukan Tuanmu jadi kau tidak harus memanggilku seperti itu,” katanya.
“Lagian, aku merasa nyaman jika hanya di panggil Andrew. Apa kau mengerti?” tambahnya.
“Ba—baik, Tuan.”
“Lagi?” ucap Andrew mengernyit heran saat mendapati Rain tetap memanggilnya dengan sebutan tuan.
“Ma—maaf. Apa bisa aku memanggilmu kak Andrew saja?” tanyanya.
Mendengar itu Andrew menyipitkan matanya. Tidak ingin memperpanjangnya. Andrew menyetujuinya.
“Baiklah, terserah kamu. Paling tidak kau tidak lagi memanggilku Tuan,” ucapnya sebelum pamit pergi istirahat.
*****
“Nona, sudah bangun?” ucap bi Ijah saat mendapati Rain yang telah bangun di pagi hari.
Rain hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari bi Ijah. Rain yang terbiasa melakukan apa pun sendiri. Dia terlihat merapikan tempat tidurnya. Melihat itu, bi Ijah mencoba mencegahnya.
“Nona, biarkan Bibi yang merapikan.”
“Tidak, Bi. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Rain tak terbantahkan.
“Tapi, Nona. Ini sudah menjadi pekerjaan Bibi.”
Rain tersenyum menanggapi. “Bibi bisa melanjutkan tugas yang lain. Aku sudah biasa melakukannya. Jadi, Bibi tidak perlu khawatir.”
“Baiklah, Nona. Kalau begitu Bibi akan melanjutkan pekerjaan di dapur. Pakaian Nona telah Bibi gantung di dalam lemari.”
“Baik, Bi. Terima Kasih,” ucap tulus Rain.
Tidak membutuhkan waktu lama. Rain terlihat telah rapi dengan bajunya sendiri. Sebelum kepulangannya hari ini. Rain ingin membalas kebaikan Andrew mesti bukan suatu hal besar.
Rain menyapa di pagi hari. “Selamat pagi, Bi.”
“Pagi, Nona.”
“Apa Bibi sudah selesai?” tanya Rain.
“Sudah, Nona. Tinggal menghidangkannya di meja,” ucapnya.
“Kalau begitu, aku akan membantu.” Meletakkan tasnya di kursi makan.
“Tidak perlu, Nona. Bibi akan melakukannya sendiri. Nanti baju Nona kotor,” ucapnya.
“Bi, please. Ijinkan aku membantu Bibi. Ya?” mohon Rain.
“Baiklah, Bibi tidak bisa menolaknya.” Mereka berdua tertawa ringan setelah perdebatan mereka.
“Apa Bibi sudah lama bekerja di sini?” tanya Rain.
“Kalau bekerja di sini baru tiga tahun. Tapi Bibi sudah bekerja lama dengan keluarga Tuan Muda. Semenjak Tuan Muda memutuskan tinggal sendiri. Tuan Muda membawa Bibi untuk merawatnya,” jelasnya dengan senyum yang tercetak di bibirnya.
“Ha-ha-ha. Kalau teringat ini Bibi ingin tertawa. Saat mengingat Tuan Muda yang terus memohon pada Nyonya untuk membawa Bibi pindah bersamanya. Bibi telah mengenal mereka semenjak Tuan Muda kecil,” tambahnya.
Mendengarkan cerita dari bi Ijah yang antusias membuat Rain tersenyum senang. Sekarang Rain tahu di balik sikap lembutnya Andrew terhadap bi Ijah. Dialah salah satu orang yang telah merawatnya dari kecil.
Rain bangga dengan bi Ijah. Meski telah tua tapi semangatnya dalam bekerja sangatlah kuat. Mereka berdua yang terus mengobrol tanpa sadar Andrew berjalan menghampiri keduanya.
“Apa yang kalian obrolkan?”
Andrew telah melihat mereka berdua mengobrol saat menuruni undakan tangga. Bi Ijah membiarkan Rain membantunya menghidangkan makanan. Rain tetap fokus bekerja sambil mendengarkan cerita bi Ijah yang tanpa bisa di dengarnya dengan jelas. Ini pertama kalinya Andrew mendapati senyum tanpa beban Rain semenjak mereka bertemu.
“Biasa, Tuan Muda. Obrolan wanita. Ha-ha-ha,” jawab bi Ijah.
“Apa kau akan pergi pagi ini juga?” tanyanya pada Rain setelah terduduk di kursi makan.
“Iya, Tu— maksud saya Kak Andrew,” ucap Rain yang belum terbiasa.
Mendengar itu Andrew mengangguk. “Duduklah, kita sarapan bersama.”
Tidak ingin merusak pagi harinya. Rain Menurut. “Baik, Kak.”
Mereka berdua menikmati sarapan dengan diam. Tidak ada yang ingin memulai obrolan. Setelah beberapa menit menyelesaikan sarapan. Andrew berangkat kerja yang diikuti Rain di belakangnya.
Mendapati Rain tidak masuk mobil. “Kau mau ke mana, Rain?”
Rain bingung mendapati pertanyaan yang tiba-tiba. “Pu—pulang, Kak.”
“Masuklah, aku akan mengantarmu.”
“Tapi ...” ucap Rain pelan.
Andrew menatapnya. “Kenapa kau suka sekali menyelahku, Rain.”
“Ba—baik, Kak.”
Melihat sikap Rain yang terburu-buru masuk ke dalam mobil membuat Andrew tersenyum. Dia tidak berniat menakutinya tapi membuatnya lari terbirit-b***t seperti orang ketakutan. Andrew hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah seorang Rain.
Rain yang bersikap berubah-ubah membuatnya bingung. Terkadang bersikap polos dan terkadang bersikap murung. Dasar gadis aneh.