Bab 3 Pertemuan tak terduga

1348 Kata
Setelah menyelesaikan sarapannya, Andrew berjalan menaiki undakan tangga. Niat awal mengambil tablet yang ditinggalkanya di dalam kamar. Langkahnya terhenti di depan kamar lain yang di huni gadis keras kepala. Suara perdebatan antara bi Ijah dan gadis yang di tolongnya menghentikan langkahnya. Gadis keras kepala yang menolak mengganti perban baru. Andrew berdiri bersandar di kusen pintu sambil bersedekap tangan menghentikan obrolan mereka. Andrew menatap tajam ke arah gadis yang tetap keras kepala. “Kenapa kamu sangat keras kepala?” Suara Andrew membuat mereka berdua menghentikan obrolannya. Mata Rain dan Andrew saling bertemu. Tatapan tajam seorang Andrew mampu membuatnya terintimidasi. “Apa Tuan Muda telah selesai sarapan?” tanya bi Ijah menghentikan suasana yang tegang. Tatapan tajamnya berubah melembut saat menatap bi Ijah. Andrew mengangguk sebelum kembali mengarahkan tatapannya pada gadis tersebut. “Bibi bisa melanjutkan mengganti perbannya. Aku tidak ingin luka itu terbuka lagi dan infeksi,” tandasnya. “Baik, Tuan.” Setelah mengatakan ultimatum tak langsung pada gadis tersebut. Andrew berjalan kembali ke kamarnya mengambil tabletnya. Bayangan tangis gadis tersebut yang menghentikan langkahnya sekelibat terbayang. ‘Jangan pergi, aku mohon. hiks hiks jangan tinggalkan aku. Aku mohon.’ Tidak ingin terlalu peduli. Andrew mengedikkan bahu memilih mengabaikannya. ***** Hari minggu Andrew bersantai dengan segelas kopi di tangannya. Menggulir layar tablet mencari berita yang sedang tren. Seperti dugaannya. Penelusuran dipenuhi berita tentang perusahannya. Foto CEO muda Lupher Group memenuhi halaman. Lupher Group menjadi perusahaan fashion lokal pertama yang mampu bersaing di manca negara. Ini dibuktikan dengan kepemimpinan CEO muda yang mampu membawa brand lokalnya menuju ajang Fashion Show di Paris untuk kedua kalinya. Negara yang terkenal dengan pusat mode dunia. Namun, saat Andrew terus menggulir halaman di tabletnya. Lagi-lagi berita tentang Orientasi Seksualnya menjadi topik berita yang sedang hangat dibicarakan. Andrew mendengus kesal saat melihat judul berita. CEO tampan yang sukses di usia mudah namun sayang gay menjadi trending topik. Saat asyik menggulir tabletnya tiba-tiba ponselnya berdering. Segera meletakkan tablet di meja dan berjalan ke arah balkon. “Halo,” sapa pertama Andrew. Suara tawa mengejek seseorang di seberang. “Ha-ha-ha, apa kau sudah membaca berita... .” Andrew mendengus kesal. “ Jika kau menghubungiku hanya ingin mengejekku sudahlah.” “Ha-ha-ha, sudah berapa kali aku bilang. Cepat carilah pacar. Dengan begitu rumor itu akan hilang dengan sendirinya.” “Aku akan mematikan panggilan,” ancam Andrew. “Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Apa kau akhir-akhir ini lembur karena ini?” “Hmm,” balas Andrew. “Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakannya,” ucap Tristan “Aku hanya ingin memastikan sekali lagi. Kau tahu sendiri aku masih disibukkan dengan launching produk baru. Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan begitu aku bisa fokus dengan undangan itu.” ungkapnya. “Ini benar-benar gila. Fotomu telah memenuhi berita. Aku yakin besok banyak wartawan berdatangan siap wawancaraimu. Kau harus menyiapkan bodyguard saat ke kantor besok. Ha-ha-ha.” “Kau jangan menggodaku, Tan. Aku tahu apa yang kau maksud,” kesalnya. Tristan yang awalnya bercanda tiba-tiba mengubah suaranya menjadi serius.“Ha-ha-ha, aku serius tentang menyuruhmu mencari pacar.” “Hmm kau sangat tahu aku, Tan. Aku belum bisa mencintai orang lain.” Tristan mendengus “Sampai kapan kau ingin seperti ini terus, Drew. Dia telah memiliki orang lain. Sudah saatnya kamu juga membuka hatimu untuk orang lain. “Cepatlah kau cari kekasih. Agar aku bisa segera menikahi adikmu. Ha-ha-ha,” tambah Tristan. Tidak ingin membuat Andrew terlalu berpikir. Dia mengeluarkan candaannya seperti biasanya untuk mengurangi ketegangan di antara keduanya. “Kau—“ “Tuan,” panggilan bi Ijah menyelah obrolannya. Andrew membuat gerakan tangan agar menunggunya menyelesaikan panggilannya. “Aku akan menghubungimu lagi nanti,” ucap Andrew mengakhiri panggilannya. Setelah mengakhiri panggilannya, Andrew berbicara kembali dengan bi Ijah. “Ada apa, Bi.” “Nona telah selesai minum obat dan mengganti perban baru, Tuan Muda.” “Baiklah, bagaimana dengannya?” tanyanya. “Setelah minum obat. Nona tertidur kembali,” ucap bi Ijah. “Baiklah, biarkan dia istirahat. Bangunkan kembali saat waktunya dia minum obat.” “Baik, Tuan. Kalau begitu Bibi kembali ke dapur,” pamitnya. Setelah kepergian pembantu rumah tangganya. Andrew bersantai di balkon rumah. Menikmati udara di pagi hari. Meski hari minggu, tidak menjadi alasan bagi orang sepertinya tertidur sepanjang hari. ***** Suara berisik di luar membangunkan tidurnya. Entah sudah berapa lama dia tertidur. Semenjak minum obat mengantuk menyerangnya. Dia melihat jam weker yang terletak di nakas. Tanpa disangka dia telah tertidur sepanjang hari. “Kenapa aku tertidur terlalu lama?” herannya. Badannya yang telah membaik dari sebelumnya membuatnya terlihat lebih segar. Tanpa menyadari di lantai bawa telah banyak orang. Dia berjalan keluar kamar menuruni tangga. “Drew, siapa dia?” Mendengar panggilan tiba-tiba semua orang menatap ke arah yang di maksud. Mendapati semua mata memandangnya. Gadis itu hanya menunduk malu. “Ah, kau sudah bangun? Baru saja aku akan menyuruh Bi Ijah membangunkanmu,” ucap Andrew dengan santai. Belum mendapatkan jawaban sesuai keinginanannya. Wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya mencoba menyenggol lengan Andrew. “Apa mah?” tanyanya seolah tak tahu arti dari tatapan Melly. Melly bertanya kembali. “Mama bertanya, dia siapa?” Mendengar pertanyaannya yang di arahkan untuknya. Gadis itu tetap terdiam di tempatnya menunduk malu. Tahu gadis itu terlihat ketakutan. Andrew menghampirinya. “Kamu pasti terbangun karena suara berisik mereka. Mereka datang tanpa sepengetahuanku,” jelasnya tanpa diminta. “Kemarilah, aku akan mengenalkanmu pada keluargaku.” Gadis itu hanya mengikuti Andrew dari belakang. Membawanya ke meja makan tempat mereka semua telah duduk. Dia tetap menunduk malu. Dia tidak terbiasa berada di antara orang yang tak di kenalnya. Menjadi pusat perhatian bukan hal yang diinginkannya. “Duduklah!” perintah Andrew. “Hai!” sapa gadis cantik yang mungkin seusianya. “Siapa namamu?” tambahnya. “Ak—aku Rain,” jawabnya dengan gugup. ‘Nama yang bagus,’ batin Andrew. “Rain? Wow, itu nama yang bagus. Rain artinya hujan. Aku suka,” ucapnya dengan antusias. Andrew menyadari perubahan raut wajahnya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba murung. “Kenalkan namaku Amora,” ucapnya ceria sambil mengulurkan tangan ke arah Rain. “Ehem, Drew... .” Mendengar namanya di sebut Andrew menghembuskan nafas berat. Menyadari maksud keinginan Melly. “Seperti yang kalian dengar. Namanya Rain. Aku tidak sengaja menabraknya. Karena itu aku membawanya ke rumah,” jelas Andrew santai. “Apa? Bagaimana bisa? Lalu kenapa kamu tidak membawanya ke Rumah Sakit, Andrew Lupher.” Mendengar teriakan Melly semua orang yang terduduk di meja makan meringis. Rain segera menyelah. “Ak—aku baik-baik saja, Tante.” Mendengar suara lembut seseorang. Melly menatapnya. “Apa kau benar-benar ... baik-baik saja?” Rain mengangguk sebagai jawaban. Andrew hanya memutar matanya mendengar kehebohan Melly. “Mama dengar sendiri, kan. Dia baik-baik saja. Lagian aku tidak benar-benar menabraknya.” “Aw, sakit, Ma. Kenapa Mama memukulku.” Andrew mengaduh kesakitan saat mendapatkan pukulan dari Melly. “Bagaimana bisa kamu bilang tidak benar-benar menabraknya. Lihat! Dia memiliki beberapa luka.” Mendapati Andrew yang kesakitan. Tristan yang terduduk bersebelahan dengan Amora tertawa mengejek. Tawanya tidak bertahan lama setelah mendapati tatapan membunuh darinya. “Baiklah-baiklah, bisa kita mulai makan?” tanya Andrew kesal. Rain hanya terdiam menatap pertengkaran mereka. Dia tahu itu bukanlah pertengkaran. Itu sebenarnya ungkapan kasih sayang antara mereka. Rain baru mengenal keluarga ini. Tapi entah kenapa dia merasa nyaman. Melihat kasih sayang yang ditunjukkan keluarga ini membuatnya iri. “Oh, ya. Tante belum mengenalkan diri. Kamu bisa memanggil Tante dengan Tante Melly,” sebutnya. “Baik, Tan—tante Melly.” Entah kenapa saat pertama melihat Rain, Melly langsung menyukainya. Seperti ada ikatan yang menginginkan dirinya lebih mengenalnya. “Halo, namaku Tristan.” Giliran Tristan yang mengenalkan diri. “Ra—rain,” ucap Rain yang masih terlihat gugup duduk di tengah keluarga mereka. “Makanlah, Sayang. Kamu tidak perlu malu. Anggap saja rumah sendiri.” Perkataan Melly membuat Andrew hanya bisa menggelengkan kepala heran. “Papa kapan kembali, Ma.” Mereka semua terlihat menikmati makanannya. Menikmati momen malam di tengah keluarga Lupher membuat Rain gugup. Mendengar ocehan Melly membuatnya sedikit tersenyum. Terkadang Melly mengajaknya mengobrol. Rain baru mengenal mereka tapi entah kenapa dia merasa aman berada di tengah keluarga mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN