Satu minggu kemudian. Aku dan ibu tentu saja belum bisa melupakan kepergian ayah, namun saat itu kami sudah dapat mengikhlaskan kepergiannya. Semenjak ayah meninggal, kami hanya tinggal berdua saja. “Nak?” sapa ibu yang sedang menghampiri aku di kamar sore itu. “Ada apa ibu?” “Ibu berencana menjual rumah kita yang ada di Surabaya.” Ucap ibu sembari memandangku dengan tatapan nanar. “Tapi bu, bukannya itu rumah yang dibeli ayah sendiri sebelum menikah dengan ibu? Bukannya ayah ingin menjadikannya kenang-kenangan?” “Sudah tidak lagi nak.” Ibu menjawab pertanyaanku sembari menunduk. “Kenapa bu?” aku beranjak dari posisiku yang sedang rebahan di atas tempat tidur. “Tenanglah nak

