Ep.8 - Rein, pacaran yuk!

1279 Kata
“Rein, pacaran yuk!” *** Matanya tak henti-henti melirik jam di pergelangan tangannya, kakinya terus melangkah setengah berlari menyusuri koridor yang sudah mulai sepi. Napas tersengal-sengal dia rasakan, ini pengalaman pertamanya. 3 menit. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Reina sekolah disini, dia terlambat. Dan, hanya dalam hitungan menit itu saja. Tapi, yang namanya terlambat, ya, tetap terlambat. Hukuman di depan sudah menanti. Dan, dia harus terima apapun resikonya, toh ini kesalahannya. Meskipun Reina berharap, dia bisa lolos kali ini. Reina terus melangkah bersamaan dengan hatinya yang menggerutu karena keterlambatannya ini. Andai saja semalam dia tak pulang larut karena sibuk mencicipi satu persatu makanan di pinggir jalan, mungkin dia tidak akan bangun kesiangan dan berakhir terlambat seperti sekarang. Dan, penyesalan baru dia rasakan kini. Satu sumber masalahnya, Bara. Andai saja lelaki itu tak mengajaknya pergi, mungkin dia tak akan pergi semalam. Tapi,... apa ini juga kesalahannya karena mengiyakan ajakan lelaki itu? Entah lah. Reina melangkah menuju kelasnya, berharap di kelas belum ada guru yang mengajar. Dia juga berharap, tak ada satupun guru pengawas yang biasanya berjaga setiap paginya memergoki keterlambatannya ini. Sekali lagi, dia berharap dia bebas. “Berhenti!” Seketika, Reina mengentikan langkahnya. Sepertinya harapannya kini tinggal harapan. Dia ketahuan. Reina memutar tubuhnya pelan dan menemukan Pak Karni—salah satu guru BK di SMA nya yang terkenal tegas dengan siapapun. Tak ada pengampunan untuk setiap kesalahan, kecuali Bara. “Reina?” gumam Pak Karni bingung saat berdiri dihadapan Reina dan menemukan murid yang terlambat itu merupakan salah satu murid teladan. Reina meringis pelan, ini kali pertamanya terlambat dan wajar sepertinya jika dia ketakutan. “Ini beneran kamu?” tanya Pak Karni, dia benar-benar tak percaya jika murid yang terlambat adalah Reina. Pasalnya dia tahu Reina, siswi yang pantang sekali melanggar aturan. Bahkan, Reina mati-matian terus menggembor-gemborkan jika peraturan harus ditaati. “5 menit kamu terlambat. Meskipun segitu, peraturan tetap peraturan. Kamu tahu 'kan apa yang perlu kamu lakukan?” tanya Pak Karni yang tentu saja diangguki Reina. “Saya mengerti, pak. Kalau begitu, saya permisi.” ucap Reina kemudian pergi dengan sopannya meninggalkan Pak Karni. Oke, hukuman sudah menantinya. *** Pak Karni hanya bisa menggeleng melihat bagaimana santainya seorang Bara masuk ke sekolah disaat lelaki itu tahu bahwa dirinya telah terlambat, sangat terlambat bahkan. Tapi, tak ada sedikitpun kekhawatiran di raut wajahnya. Benar-benar santai. Pak Karni hanya bisa bersabar, bingung harus berbuat apa lagi. Tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menegur Bara, rasanya semua cara sudah dia lakukan. Tapi, Bara tetap Bara, si murid yang suka terlambat dan membuat masalah. Lagipula, dia juga masih sayang dengan pekerjaannya, dia tak mau terlalu lama berurusan dengan Bara yang nantinya justru menganggu pekerjaannya. Pak Karni hanya berdecak, kemudian memilih kembali ke ruangannya. Sedangkan, Bara. Dia melangkah dengan santainya menyusuri koridor. Tangannya terus memainkan kunci motor, di lempar, di tangkap, seperti itu terus. Mulutnya juga tak henti bersiul, tak peduli jika teguran bisa saja dia dapatkan karena mengganggu ketentraman koridor yang sepi ini. Bara tersenyum lebar, masih senang membayangkan bagaimana dia menghabiskan banyak waktu bersama Reina semalam. Meskipun hanya dipinggiran jalan, tapi tetap saja berkesan. Bahkan sangat berkesan menurutnya. Matanya dia edarkan, tak sengaja menemukan perempuan yang amat sangat dikenalnya. Perempuan dengan seragam, rambut lurus yang sedikit ikal dibagian ujungnya yang saat ini tengah hormat pada sang bendera. Senyum lebar sontak tercetak di bibirnya. Niatnya yang hendak pergi ke kelas, di urungkan. Lebih baik dia menemui perempuan itu sekarang. “Murid teladan bisa telat juga,” Bara berdiri di samping Reina, perempuan yang dimaksudnya. Dia tak henti-hentinya tersenyum lebar menatap Reina yang hanya meliriknya sekilas. “Gue kira, kalau murid teladan tuh anti sama yang namanya ngelanggar aturan. Tapi, ternyata enggak juga.” “Semua gara-gara Lo,” Bara mengerutkan keningnya, dia menunjuk dirinya sendiri. “Gue? Kenapa, gue?” tanya Bara, dia terkekeh. “Mikir aja sendiri,” Reina memilih diam, dia masih pada posisinya untuk hormat pada sang pusaka. Teriknya mentari pagi cukup menyengat, membuat matanya memincing karena silau dan keringat pun perlahan membasahi sebagian wajahnya. Sesekali tangan kirinya menyeka keringat tersebut. Bara tersenyum tipis melihat Reina yang terus menyeka keringatnya, tak ada niatan dalam dirinya untuk pergi meninggalkan Reina. Yang justru dilakukannya adalah berjalan ke sisi kanan tubuh Reina dan menghalangi bagian sisi tersebut dari terpaan sinar mentari langsung dengan tubuhnya. Reina menatap sekilas Bara. “Ngapain, Lo?” ketus Reina. “Lindungin, lo.” Reina mencebik. “Udah, deh. Mending sekarang Lo pergi ke kelas Lo, pasti udah ada guru disana.” Bara tak mengiyakan, dia justru melepaskan tas yang tersampir di bahunya, meletakkannya begitu saja di lapangan, kemudian memutar tubuhnya sehingga ikut menghadap kearah tiang bendera dimana bendera berkibar diatasnya. Dia pun melakukan apa yang dilakukan Reina. “Gue kan juga telat, ya... Gue, di hukum juga dong.” ucap Bara, dia mengendikan bahunya. Ucapan Bara itu benar-benar membuat Reina rasanya ingin tertawa keras sambil mengejek. Pasalnya, Bara itu terkenal suka melanggar aturan. Dan, sejak kapan lelaki itu mau melaksanakan hukuman? Biasanya, Bara terus saja mengelak dan lolos dari hukuman begitu saja. “Sejak kapan Lo kenal sama yang namanya hukuman? Baru tahu gue.” Bara menarik sudut bibirnya. “Sejak dihukumnya bareng sama lo.” Reina mencebik, “Alah! Biasanya juga Lo gak pernah mau tuh di hukum, bisanya cuma ngelak doang.” cibir Reina. Mulutnya memang tak segan-segan mencibir Bara dengan berbagai cibiran. “Kata, siapa? Gue sih welcome aja kalau mau dihukum. Tapi, masalahnya, ya, gak ada yang mau hukum gue.” Reina menggeleng pelan, dia menarik tipis kedua sudut bibirnya. Tipe senyuman tak percaya akan ucapan yang terlontar dari mulut Bara. “Bukan gak ada yang mau hukum Lo. Tapi, semuanya udah capek aja ngurusin Lo yang terlalu sering melanggar aturan. Dan, keterdiaman mereka seharusnya buat Lo sadar kalau Lo itu salah. Bukannya malah makin menjadi-jadi.” “Tapi, kan seharusnya mereka lebih gertak gue. Jangan mentang-mentang gue anak pemilik yayasan, mereka jadi seenaknya sama gue.” “Bukan mereka, Bara. Tapi, lo.” ucap Reina, dia melirik sekilas Bara yang ternyata masih menatap sang pusaka. “Lo terlalu seenaknya menggunakan kekuasaan keluarga lo.” “Enggak, kok. Tapi...” Ucapan Bara terhenti saat mulutnya tiba-tiba terasa kelu dan dia bingung harus menanggapi seperti apa lagi ucapan Reina. Pasalnya, apa yang diucapkan Reina ada benarnya. "Tapi apa?" Bara menghembuskan napas kasar, dia menggeleng. Dan, Reina bisa mendengar hembusan napas kasar penuh kegundahan itu. “Apa Lo bisa bantu gue buat berubah?” tanya Bara, dia mengalihkan atensinya pada Reina. Reina menggeleng. “Enggak. Gue gak bisa. Karena mau gimana pun, Lo gak akan berubah kalau diri Lo sendiri gak punya niatan dan usaha buat merubah itu semua. Lo akan tetap jadi Bara yang sekarang, gak akan berubah.” ucap Reina, dia mengendikan bahunya. “Dan... Gue gak mau buang-buang waktu percuma buat hal yang gue udah tahu akhirnya bakal gimana.” Bara terdiam, lagi-lagi dia membenarkan ucapan Reina. Namun, seulas senyum lebar tercetak di bibirnya. “Berarti usaha gue selama ini gak sia-sia dong?” tanya Bara antusias yang justru membuat Reina mengerutkan keningnya bingung. “Maksud, Lo?” Bara tak langsung menjawab. ”Gue mau tanya satu. Kalau kita punya niat sungguhan dan usaha kita juga gak main-main. Apa kita bakalan dapat apa yang kita usahakan?” tanya Bara yang tentu diangguki Reina. “Iya,” “Itu juga berlaku buat Lo 'kan?” Reina mengerutkan keningnya. “Kok, gue?” “Ya, secara kan gue berusaha banget tuh buat dapetin Lo. Gagal, gue coba lagi. Tapi, gue beneran niat dan berusaha supaya Lo jadi milik gue.” Reina terdiam mendengar ucapan Bara, dia tak tahu kenapa sulit sekali menyangga ucapan Bara kali ini. “Rein, pacaran yuk!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN