“Reina... Mempesona."
***
Lagi dan lagi, hembusan napas kasar sekaligus kesal keluar dari mulut Reina. Matanya menatap jengah Bara dihadapannya yang tak henti-hentinya mengerkorinya, terus saja memaksanya ikut pergi malam ini. Padahal sudah jelas, Reina menolak. Tapi, bukan Bara namanya kalau lelaki itu tak memaksa.
Bara itu pemaksa.
Reina menghentikan langkahnya, dia menatap jengah Bara yang menghalangi jalannya.
“Please...”
Terpaksa, Reina mengangguk akhirnya. Dia sedang sibuk sekarang, tapi Bara terus saja mengganggunya. Dan, kalau Reina belum mengangguk, mengiyakan, maka artinya sampai saat itupula Bara menganggu dirinya.
“Oke. Tapi, please Lo minggir. Lo gak lihat apa, kalau gue ini lagi sibuk? Jadi, minggir!”
Bara tersenyum lebar, dia senang akhirnya Reina mengiyakan. “Ya udah, untuk memastikannya gue nungguin Lo disini.”
“Ngapain nungguin? Mending sekarang lo pulang deh.”
Bara menggeleng. “Gue takut lo kabur,”
Reina menghembuskan napas pelan, dia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Bara. “Terserah, terserah lo mau ngapain. Yang jelas, lo jangan ganggu gue karena gue sibuk. Lo gak lihat apa, itu antrian udah panjang banget. Jadi, gue sangat, sangat memohon sama lo, jangan ganggu gue. Oke?” pinta Reina kemudian melenggang meninggalkan Bara, dia harus mengantarkan pesanan saat ini juga.
Bara tersenyum lebar, menatap kepergian Reina. Dia memilih kursi di pojok ruangan untuk menunggu Reina selesai dengan pekerjaannya.
Ditemani hot americano dan roti isi, Bara menunggu Reina.
Menit pun berlalu begitu saja. Antrian dan pengunjung yang tadi memenuhi tempat ini perlahan menghilang. Reina bisa menghembuskan napas lega sekarang, setidaknya keadaan saat ini bisa diselesaikan oleh semua karyawannya. Dia kini bisa menyenderkan punggungnya yang terasa pegal pada sandaran kursi.
Baru saja dia bernapas lega sambil memejamkan mata, namun sudah dikejutkan dengan keberadaan Bara yang tiba-tiba berdiri dihadapannya.
“Lo masih disini?”
Bara mengangguk. “Iyalah, gue kan nungguin lo.” jawab Bara, dia tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya.
Reina menghela napas kasar. Dia lelah berdebat dan kalaupun dia kembali menolak, ini semua tak akan pernah berakhir. Dia beranjak dari duduknya, menatap malas Bara. “Bentar, gue ganti baju dulu.” ucap Reina kemudian berbalik, pergi meninggalkan Bara.
Reina kembali dengan pakaian berbeda. Apron yang tadi menghias tubuhnya sudah tiada, kaos soft pink yang tadi dikenakannya pun sudah berganti warna. Dipadukan dengan celana jeans serta cardigan sebatas d**a. Ditambah sepatu putih tali yang dikenakan kakinya. Serta tas ransel berukuran kecil yang berisikan dompet serta ponselnya.
“Buruan!”
Bara mendongak, berdecak kagum menatap Reina. Entah kenapa, dia selalu terpesona dengan perempuan itu. Padahal Reina mengenakan pakaian biasa tanpa ada spesialnya, bahkan perempuan itu hanya memoles tipis riasan di wajahnya. Tapi, entah kenapa selalu membuatnya berdecak kagum. Seolah Reina ini luar biasa. Meskipun nyatanya memang seperti itu dimatanya.
Reina mengerutkan keningnya melihat keterdiaman Bara, dia berdehem keras yang membuat Bata tersadar. Dia memutar bola matanya jengah, respon Bara padanya tak pernah berubah, selalu saja seperti itu.
“Jadi gak nih? Kalau enggak, alhamdulilah.” ucap Reina, dia berucap dengan cueknya.
“Jadilah, masa enggak. Yuk!”
“Eh... Ini tangan ngapain!?” seru Reina, dia memukul-mukul tangan Bara yang dengan seenaknya menggandeng tangannya.
Bara terkekeh. “Sorry... sorry... Abis, rasa-rasanya kayak kita pacaran terus mau ngedate gitu.”
“Ngarep!”
“Dih, gakpapa lah. Siapa tahu kesampaian kan?”
Reina memutar bola matanya jengah. Dia melenggang begitu saja meninggalkan Bara yang terkekeh dan menyusul langkahnya.
***
“Please deh, Bar. Lo buang-buang waktu Lo buat tunggu gue berjam-jam. Lo juga buang-buang waktu gue cuma karena paksaan Lo. Dan, justru Lo malah ajak gue ke tempat kayak gini? Maksudnya apa?”
Reina langsung mencecar Bara dengan pertanyaan bernada sinis dari mulutnya. Dia berdecak menatap Bara disampingnya yang menghentikan mobil di salah satu mall besar di tengah kota.
Bara mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Reina. “Maksud, Lo?” tanya Bara, dia memutar tubuhnya menghadap Reina. “Kita di mall loh? Tempat yang gue yakin, cewek-cewek gak akan nolak.”
“Tapi, gue tolak.”
“Hah? Lo tolak gue ajak ke mall? Kenapa? Bukannya cewek-cewek suka ke mall, ya? Bahkan kalian bisa ngabisin waktu berjam-jam disini.”
Reina menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Cewek yang mana? Cewek Lo yang ke berapa?” singgung Reina yang membuat Bara gelagapan.
“Ya... Maksud gue—”
“Terserah, gue gak peduli. Intinya adalah gue gak suka di mall, gue mau pulang sekarang.”
“Loh, Rein. Tapi—”
“Gue bisa kok pulang sendiri,”
“Tapi, Lo udah janji loh sama gue. Kita mau jalan.”
“Tapi, gue gak suka ke mall.”
Bara menghela napas pelan. “Oke, jadi Lo mau kemana? Gue ngikut Lo? Kemanapun. Asalkan gue bisa ngabisin waktu sama Lo, sekarang.”
“Dan gue gak mau ngabisin waktu sama lo.”
“Rein...”
Reina sebenarnya ingin tersenyum melihat wajah memelas Bara, namun dia tahan itu semua. “Ya udah, kita pergi ke tempat lain.”
“Kemana?”
“Udah, kita pergi aja dulu dari sini.”
“Oke.”
***
Reina mengajak Bara kesini. Tempat yang menjajakan berbagai jenis makanan, mulai dari yang pedas, asin, manis. Makanan yang kering ataupun berkuah. Semuanya ada disini. Gerobak dengan tenda-tenda yang terpasang serta lalu-lalang orang-orang mengisi hampir setiap jalurnya.
“Seriusan ngajak gue kesini?”
Reina menoleh, mengerutkan keningnya. “Kenapa, emangnya? Masalah?” tanya Reina, dia cepat-cepat menepuk keningnya seolah baru saja melupakan sesuatu. “Gue lupa, orang tajir kayak Lo pasti gak pernah ke tempat kayak gini. Anti, ya sama yang namanya makanan pinggir jalan. Pasti Lo gak suka, ya?” tebak Reina, dia meringis pelan, namun itu sebenarnya sindiran.
Bara mencebik. “Apaan sih! Enggak lah, gue—gue suka kok.”jawab Bara, dia menatap beberapa pedagang makanan yang mereka lewati.
“Bang, sempol nya seporsi, ya!” pesan Reina, dia berhenti disalah satu gerobak penjual sempol. “Lo, mau juga gak?”tanya Reina, dia melirik Bara disampingnya. Percaya, semua kaum hawa terus saja terfokus pada Bara. Tak aneh sih, pakaian, wajah dan aroma Bara itu cukup membuat siapa saja pasti menatap lelaki itu.
“Apa?”
“Sempol,”
Bara mengerutkan keningnya. “Sempol tuh, apaan sih?” tanya Bara, dia tak pernah mendengar atau bahkan memakan makanan itu.
Reina ternganga, dia berdecak tak percaya. “Udah, Lo cobain dulu aja nanti gue jelasin.” ucap Reina yang diangguki Bara. “Bang, jadi 2 porsi ya sempol nya.”ucap Reina. Dia memilih duduk di kursi plastik yang disiapkan penjual tersebut.
Setelah pesanan selesai, dia langsung mengajak Bara pergi ke tempat penjual lain. Tahu gejrot jadi jajanan kedua yang dibelinya sebelum akhirnya dia memesan dua porsi martabak berukuran kecil yang sering disebut martabak unyil.
“Silahkan Lo cobain semua makanan ini.” ucap Reina, dia meletakkan semua makanan yang mereka beli dihadapan mereka. Saat ini, mereka duduk lesehan dengan beralasan tikar dan terpal.
Bara mengerutkan keningnya, menatap aneh makanan yang ada dihadapannya. Dia mendongak menatap Reina yang kini mulai menikmati makanannya.
“Lo serius makan ini semua?”
Reina mendongak, “Kenapa, emangnya?”
Bara meringis pelan. “Lo yakin, ini semua higienis?” tanya Bara pelan, dia ragu-ragu untuk makan makanan yang sama sekali tidak pernah dilihatnya, kecuali martabak ini meskipun ukurannya kecil.
Reina terkekeh. “Jangan gitu! Gue yakin kok, mereka semua yang jualan disini higienis. Udah, deh, gak usah sok paling bersih! Makan aja!”
“Iya, tapi—”
“Lama!”
Reina langsung menyuapkan tahu gejrot miliknya ke mulut Bara yang hendak protes kembali. Dia menatap lelaki itu, menunggu reaksi apa yang akan diberikannya.
“Enak kan?”
Bara mengunyah tahu gejrot dimulutnya. Awalnya dia asing dengan rasa makanan itu, tapi perlahan semua rasa yang ada bisa diterima mulutnya. Gurih, pedas, manis, jadi bersatu di mulutnya. Dan, dia cukup menikmatinya.
Bara mencebikkan bibirnya, menaikkan kedua alisnya. “Lumayan,” ucapnya, dia mengambil bungkus tahu gejrot miliknya.
Reina mencebik, tersenyum melihat Bara yang saat ini mulai menikmati makanannya. Dia mengendarkan atensinya, menatap orang-orang yang berhalulalang. Semakin malam, maka semakin banyak pula orang-orang disini.
“Lo sering kesini?”
Reina menoleh menatap Bara. “Kadang-kadang sih, kalau gue pengen jajan, ya, gue kesini.”jawab Reina, dia menyuapkan sempol ke mulutnya.
“Lo tahu gak sih. Lo tuh beda banget,” ucap Bara yang membuat Reina terdiam. “Jarang loh ada cewek yang kayak Lo mau pergi dan makan dipinggir jalan.” lanjut Bara.
Reina tak mau terkesima hanya karena pujian Bara, dia tak mau terlena begitu saja. “Tapi, ada, kan. Gue buktinya. Lagian nih, ya, semua orang tuh gak bisa disamain, gak bisa di sama ratakan. Jadi, jelas setiap orang beda-beda lah.”
Bara tersenyum. “Iya, beda-beda. Dan, Lo bukan mereka.”
***
Selesai dengan jajanan ringan, Bara dan Reina kembali melangkahkan kakinya pergi menelusuri pedagang yang lain. Tak ada obrolan berarti, hanya suara keramaian yang menghiasi. Berdesak-desakan bersama yang lain membuat Reina tanpa sadar justru menarik kaos yang dikenakan Bara. Perempuan itu tak sadar kalau dirinya yang menyentuh Bara.
“Kita mau makan apa, Rein?” tanya Bara, dia menoleh menatap Reina yang ada di belakangnya. Dengan cepat, dia menarik Reina agar berdiri di sampingnya. Tangannya merangkul pundak perempuan itu, memastikan kalau Reina akan baik-baik saja selama dalam rangkulannya.
“Terserah, deh.” jawab Reina, dia meringis pelan saat ada orang yang tanpa sengaja hendak menubruknya. Beruntungnya ada tangan Bara yang merangkulnya dan entah kenapa justru dia bersyukur kini.
Pilihan Bara jatuh pada pedagang bebek Madura, dia langsung menarik Reina menempi ke penjual tersebut.
“Kayaknya gak mungkin deh, Rein kalau kita makan disini. Banyak orang banget disini.”
Reina mengangguk, dia setuju dengan ucapan Bara. Tak mungkin untuk mereka makan di tengah orang yang begitu banyaknya.
Bara menoleh, menatap Reina disampingnya. “Ya udah, Lo tunggu disini biar gue bungkusin aja. Kita makan di mobil gue.”
Reina tak menolak, dia mengangguk. “Oke.”
Bara melepas rangkulannya, dia hendak pergi. Namun, senyum lebar terbit di bibirnya melihat tangan Reina yang masih menarik kaosnya. Melihat Bara yang masih di tempat membuat Reina mengerutkan keningnya bingung.
“Katanya mau pesan? Ya udah, sana.”
“Ini,”
“Apa?”
Reina mengikuti arah tunjukan Bara, dengan cepat dia melepaskan pegangannya di kaos Bara, memasang wajah sepolos mungkin seolah tak terjadi apa-apa, seolah dia tak menarik kaos Bara tadi.
Bara tersenyum lebar. “Tenang aja, nanti Lo bisa narik baju gue sepuasnya. Tapi, sekarang gue mau pesan makanan buat kita dulu. Ok?”
Reina mendengus. “Dih, yaudah sih, sana!”
Bara terkekeh, dia langsung melangkah pergi untuk memesan makanan untuknya dan Reina.
***
Dan, disinilah mereka. Di dalam mobil milik Bara dengan styrofoam berisikan bebek Madura dengan sambal khasnya yang berwarna hitam pekat, ditambah nasi dan beberapa lalapan jadi paduan yang pas untuk di makan.
“Makan...”
Reina langsung melahapnya menggunakan tangannya yang sudah di bersihkan terlebih dahulu menggunakan tisu basah yang selalu dibawanya. Dia makan begitu lahapnya, tak memperdulikan Bara yang terang-terangan tengah memperhatikannya.
Bara tersenyum lebar, senang melihat bagaimana lahapnya Reina makan. Benar-benar perempuan itu tak ada jaim-jaim nya, berbeda sekali dengan kebanyakan perempuan yang pernah dikencaninya.
“Please deh, gak enak tahu lagi makan tapi diperhatikan.”
Bara menaikkan kedua alisnya saat Reina menoleh menatapnya.
“Lo kan punya tuh makanan. Jadi, makan dengan tenang dan fokus sama makanan Lo aja. Jangan ngeliatin gue terus, gue risih!” tukas Reina, dia menyuapkan kembali makanannya.
Bara mengunyah makanan di mulutnya, menelannya dan kembali berucap. “Ya, mata gue tertuju nya sama Lo terus. Salahin mata gue lah.”
“Gue colok mata Lo itu!”
“Aduh... Jangan, dong! Nanti gue gak bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.”
Reina memutar bola matanya jengah, dia lupa sedang berucap dengan siapa. Semakin di tanggapi, semakin menjadi-jadi.
“Bodo amat!” tukas Reina, dia menyuap dengan kasar makanan ke mulutnya yang justru membuat Bara tertawa puas karenanya.
Lagi dan lagi, Bara jatuh pada pesona Reina.
***