bc

My Mommy

book_age18+
4.3K
IKUTI
20.9K
BACA
possessive
family
goodgirl
CEO
stepfather
sweet
single daddy
city
another world
others
like
intro-logo
Uraian

“Mommy!”

Siapa yang tidak terkejut ketika baru bertemu dengan seorang anak kecil, namun tiba-tiba anak itu manggil kita dengan panggilan ‘Mommy’. Itulah yang dialami oleh Olivia Clarissa Abraham, seorang gadis yang kerap di panggil Via. Saat itu ia tidak sengaja berjumpa dengan dua anak laki-laki yang sedang menangis. Karena ia tipe orang yang tidak tega melihat anak-anak menangis Via pun menghampiri mereka.

"Kami sayang Mommy!" ucap mereka.

"Jangan tinggalin kami Mom," ucap Sean.

"Iya. Mommy gak akan ninggalin kalian."

"Mommy janji gak bakal ninggalin kami lagi?" ucap Farel penuh harap.

"Iya sayang," ucap Via dengan senyuman.

“Ya Allah, Sean berharap Mommy Via mau menjadi ibunya Sean” batin Sean.

'Ya Allah, Farel berharap Mommy Via mau menjadi ibunya Farel. Semoga do’a Farel terkabul' batin Farel.

Pertemuannya dengan kedua anak laki-laki itu membuatnya juga dekat dengan Ayah dari anak-anak itu. Pria itu bernama Rafael Gionino Franklin. Dari hari-ke hari mereka pun semakin dekat hingga tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka.

"Aku mau bilang, aku sudah jatuh cinta sama kamu, sejak kita pertama kali bertemu. Kamu Olivia Clarissa Abraham adalah orang yang aku pilih untuk menjadi teman hidupku. Aku tau aku bukanlah pria yang sempurna, tapi kita bisa melengkapi kekurangan kita satu sama lain. Aku mencintai kamu Cha. Maukah engkau menjadi ibu dari anak-anakku dan bersama hingga hari tua nanti?”

~Rafael Gionino Abraham~

Bagaimana kelanjutan kisah cinta Rafael dan Via? Apakah Via akan menerima lamaran dari Rafael?

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1 - Bertemu Tante Baik
Malam ini, Via masih berada di cafe miliknya bersama dengan mamanya 'Nadia Sahila Abraham'. Cafenya masih terlihat ramai, padahal sudah pukul 9 malam dan cafenya akan tutup pukul 10 malam. Tapi khusus hari sabtu dan minggu cafe milik Via tutup pukul 11 malam. Via dan Nadia pun asik bercanda dan tertawa di ruangan milik Via. Tanpa terasa sekarang sudah jam 10 malam. Via dan Nadia pun bersiap-siap untuk pulang. Ia melihat semua pelayan yang bekerja di cafenya sedang membereskan meja, menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Beberapa menit kemudian, pekerjaan mereka sudah selesai. Mereka pun berpamitan untuk pulang. Setelah memastikan semua aman, Via pun mematikan lampu di dalam ruangan cafe itu dan keluar dari cafe itu bersama Mamanya dan tak lupa mengunci pintu itu. Di dalam perjalanan menuju parkiran, Via dan Nadia mendengar suara tangisan anak kecil. "Hikkss... hikkss... hikkss...." "Ma, denger suara anak kecil nangis gak?" "Iya mama denger, ih mama kok jadi merinding ya Vi. Malam jum'at ini," ucap Nadia sambil mengusap leher belakangnya. "Ihh... Mama jangan nakutin deh," ucap Via sambil memeluk lengan mamanya. "Hikkss... hikkss... hikkss." "Tuh kan suaranya kedengaran lagi," ucap Nadia sambil memeluk Via. "Coba dicek dulu yuk Ma, suaranya kayak ada di taman yang ada di deket parkiran," ajak Via dengan mengumpulkan keberaniannya. Mereka pun berjalan menuju taman itu. Setelah tiba di taman itu, mereka melihat dua anak kecil yang duduk di taman itu sambil menangis. Via dan mamanya pun menghampiri kedua anak laki-laki itu. "Hey sayang, kenapa kalian menangis? Dimana orang tua kalian?" Tanya Via dengan lembut. Nadia hanya memperhatikan anaknya berinteraksi dengan kedua anak laki-laki imut itu. Dua anak kecil itu pun menatap Via dengan mata sembab, hidung yang merah, dan pipi yang basah karena air mata. Tanpa disangka oleh Via, dua anak laki-laki kecil itu pun langsung memeluk Via. "Mommy," ucap mereka dengan serempak. Via pun terkejut dengan ucapan dua anak itu, begitu pula dengan Nadia. "Sssttt... udah jangan nangis ya. Orang tua kalian kemana? Kok kalian di tinggal di sini sendiri?" tanya Via. "K-kami diajak tante Sesil tadi kesini. T-tapi Tante Sesil gak balik lagi. Hikkss... hikkss...." ucap salah satu dari mereka sambil melepaskan pelukan dari Via. "Ya udah, sekarang diem yaa. Oiya, nama kalian siapa?" Tanya Via lagi. "Nama aku, Ean." "Nama aku Falel." "Ooh, Ean sama Falel." "Ean Mommy, bukan Ean." "Falel Mom, F-a-l-e-l," ucap Farel dengan penuh penekanan. "Iyaa Ean, Falel." "Sean Mommy, bukan Ean, dan bukan Felel tapi F-a-l-e-l," ucap Farel. Via pun tersenyum, sebenarnya ia paham dengan bahasa mereka karena ponakannya ada yang seumuran dengan Sean. "Iyaa Sean, Farel. Hmm... ya udah, sekarang Sean sama Farel Tante antar pulang ya, Alamatnya di mana?" mereka pun menggeleng tanda tidak tau. Via pun menghela nafasnya. "Mom, Kami ingin belsama Mommy. Kami gak mau pulang Mom," ucap Farel sambil merengek. "Dengerin tante ya, tante bukan mommy kalian," ucap Via dengan lembut. Dan ucapan dari Via pun membuat dua anak itu menjadi nangis kejer. Via dan Mamanya jadi kelimpungan. "Aduh Mama, gimana ini kok malah makin nangis," ucap Via dengan bingung. "Aduhh Mama juga gak tau, orang tuanya emang ke mana sih. Udah malam gini kok gak dicariin anaknya," ucap Nadia dengan bingung sekaligus kesal. "Hhuaaa! Mommy jahat ... Mommy gak sayang kita lagi," ucap Farel. "Hikss... hikkss Mommy jahat! Dah gak ada yang ayang kita lagi, Kak. Hikss... hikss," ucap Sean sambil memeluk Farel. Melihat mereka yang semakin nangis pun membuat Via dan mamanya tambah bingung. Via pun mendekat ke Sean dan Farel dan menenangkan mereka. "Farel, Sean. Jangan nangis lagi dong. Kalian boleh kok manggil Tante Via dengan sebutan Mommy dan panggil Oma Nadia dengan sebutan Oma. Tapi janji jangan nangis lagi ya sayang. Masak jagoannya Mommy cengeng," ucap Via dengan lembut. Ucapan Via itu membuat tangis Farel dan Sean mereda. Via pun memeluk mereka. "Benelan Mommy?" Tanya Farel dan Sean dengan suara seraknya. "Iya sayang, sekarang udah malem kita pulang ke rumah Mommy sama Oma, ya?" "Iyaa Mom," ucap mereka dengan serempak. "Kami sayang Mommy," ucap mereka lagi. "Jangan tinggalin kami lagi Mom," ucap Sean. "Iya Mommy gak akan ninggalin kalian lagi." "Mommy janji gak bakal ninggalin kami lagi kan? Mommy gak bohong kan?" Tanya Farel penuh harap. " Iya sayang," ucap Via dengan senyuman. "Kami sayang Mommy," pekik mereka dengan senang. "Cuma sayang sama Mommy? Gak sayang sama Oma?" Tanya Nadia dengan pura-pura merajuk. Farel dan Sean pun saling bertatapan. Tanpa disangka oleh Nadia, dua jagoan itu pun langsung memeluk Nadia. "Kami sayang Oma," ucap mereka. Nadia pun membalas pelukan cucu barunya itu. Walaupun tidak kenal, tapi ia sudah menyayangi mereka seperti cucunya sendiri. Dua jagoan itu memiliki pesona masing-masing yang membuat orang lain merasa betah dengan mereka. "Oma juga sayang kalian. Sekarang pulang yuk, udah malam kalian pasti sudah mengantuk." "Iya Oma," ucap mereka dengan antusias. Mereka pun berjalan menuju parkiran bersama dua jagoan cilik itu yang bergandengan tangan dengan Via. Mommy baru dari Farel dan Sean. Via dan Nadia duduk di depan Via yang akan menyetir. Sedangkan Farel dan Sean duduk di belakang. Baru beberapa menit berada di dalam mobil, Farel dan Sean sudah tertidur lelap. Mungkin mereka lelah, lagi pula ini sudah melewati jam tidur anak-anak seusia mereka. Tak berapa lama pun mereka sampai di rumah besar dan megah milik keluarga Abraham. Via dan Nadia pun membuka pintu penumpang, Via menggendong Farel dan Nadia menggendong Sean. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah. Ketika sampai di ruang tamu, Edgar suami dari Nadia beserta kakak-kakaknya Via sudah menunggu mereka dengan tatapan penuh kekhawatiran. Mereka pun berjalan ke arah Via dan Nadia. "Assalamualaikum," ucap Via dan Nadia dengan pelan. "Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. "Kalian dari mana aja? Kenapa lama pulangnya?" tanya Edgar dengan khawatir. "Tunggu, itu yang ada di gendongan mama sama Via anaknya siapa?" Tanya Nathan kakak pertama dari Via. "Ssttt, jangan berisik, kecilkan suaranya," ucap Nadia. Via dan Nadia pun mengusap punggung Farel dan Sean agar tidak terganggu dengan suara berisik dari kakak-kakaknya. "Bentar deh kak, Via sama Mama nganter Farel dan Sean ke kamar dulu, kasian kayaknya kecapean." "Ya udah sana," ucap Aland. Via dan Nadia pun mengantarkan Farel dan Sean ke kamar Via. Mereka merebahkan dua jagoan itu dengan pelan-pelan. Setelah itu Via menyelimuti mereka dan mengecup dahi mereka satu persatu. Via dan Nadia pun turun ke bawah menuju ruang keluarga. Via duduk di antara Mama dan Papanya. "Dasar manja," cibir Aland. "Suka-suka gue dong. Wlee!" Via menjulurkan lidahnya meledek Aland. "Ck!" dengus Aland. "Heran deh gue, kenapa kalian masih suka berantem gak jelas kalau deket gini. Coba kalau jauhan, pada merengek bilang kangen," sahut Nathan. "Sudah-sudah. Sekarang, Mama sama Via jelasin kenapa kalian bisa bawa anak-anak tadi ke rumah," ucap Edgar. Via dan Nadia pun menceritakan kejadian saat mereka keluar dari cafe terus berjumpa dengan dua jagoan cilik itu. Dan dua jagoan cilik itu pun lupa alamat rumahnya, lalu memanggil Via dengan panggilan 'Mommy'. Via dan Nadia yang tak tega pun akhirnya membawa mereka pulang dan Via menganggap Farel dan Sean seperti anaknya. Begitu juga dengan Nadia, sudah menganggap Farel dan Sean sebagai cucunya. Edgar, Nathan, dan Aland yang mendengarkan cerita dari Mama dan adiknya itu pun mengangguk paham. "Oh iya, keponakan-keponakan ganteng dan cantik aku udah tidur ya kak?" Tanya Via pada Nathan dan Aland. Kakak-kakak dari Via sudah menikah dan sudah memiliki anak. Anak dari Nathan bernama Arsenio Devano Abraham dan Kenzia Anindya Abraham, mereka adalah anak kembar. Dan anak dari Aland bernama Azahra Arabella Abraham dan Gilang Delvian Abraham. Anak terakhir dari Aland yaitu Gilang termasuk masih balita sekitar umur 4 tahunan. Kira-kira seumuran dengan Sean. Nathan dan Aland tinggal di rumah keluarga Abraham karena permintaan dari Papa dan Mama, lebih tepatnya perintah mutlak dari orang tuanya karena orang tuanya tidak mau merasa kesepian di rumah mewah dan megah itu. Mereka pun menyetujuinya, dan untungnya istri dari Nathan dan Aland berbaik hati menuruti permintaan dari mertua mereka. Karna mereka amatlah patuh pada suaminya. Jadi, apapun perintah suaminya mereka akan menurut. Kecuali mereka di perintah untuk melakukan kejahatan, tentu saja mereka akan menolak dengan tegas. "Iya, udah dari tadi mereka tidur mungkin capek gara-gara main trus," ucap Aland. Via pun hanya mengangguk. Mereka pun memutuskan untuk tidur karena waktu sudah mulai larut malam. *** Kedua anak laki-laki itu kini sedang berada di taman di dekat sebuah Cafe. Tadi, Tante mereka yang bernama Sesil mengajak mereka untuk jalan-jalan. Awalnya mereka malas, namun namanya juga anak-anak, pasti sangat mudah di bujuk rayu dengan es krim, coklat, dan mainan. "Kalian tunggu disini sebentar yaa, Tante mau ke toilet dulu. Setelah ini kita beli es krim atau coklat kesukaan kalian di Cafe itu." Tunjuk Sesil pada sebuah Cafe yang tidak jauh dari mereka. Cafe itu bernama 'Holiday Cafe'. "Iya Tante," sahut mereka dengan serempak. Namun, ketika Sesil sudah pergi, ia pun tidak kembali lagi dengan waktu yang cukup lama. "Tante kemana sih Kak? Kok gak balik-balik?" Sejak tadi, Sean menggerutu karena ia kesal. Ia juga mulai takut dan ia juga sudah mulai mengantuk. Apalagi ini jam waktunya ia sudah tidur. "Kakak juga gak tau," sahut Farel. Ia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Sean. "Dingin kak," gumam Sean. Farel pun memeluk adiknya itu. Farel sangatlah menyayangi Sean. "Sabal yaa," Sean pun menganggukkan kepalanya. "Kak, tante itu cantik," ucap Sean. Farel pun melihat kearah yang Sean lihat. Di depan cafe itu, terlihat seorang perempuan yang sedang menelpon. Dari yang Farel dan Sean lihat, perempuan itu terlihat baik dan memiliki aura yang positif. "Andai Tante itu mau jadi Mommy kita," celetuk Sean. Selama ini, Farel dan Sean sangat membutuhkan sosok seorang ibu. Mereka selalu iri melihat anak-anak lainnya yang mempunyai keluarga lengkap. Sean belum pernah melihat ibunya secara langsung. Farel tau apa yang dirasakan oleh adiknya. "Kakak juga mau kalau punya Mommy seperti itu. Tante itu tellihat baik. Kita berdoa aja, supaya Tante itu jadi Mommy kita," sahut Farel. "Iya kak," sahut Sean sambil tersenyum. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Sesil sejak tadi. Ini lebih dari satu jam mereka menunggu. Mereka mulai ketakutan dan menangis. "Hikkss... hikkss... Ean takut kak. Daddy, Ean takut... hikkss... hikkss," ucap Sean sambil menangis. Mereka pun berpelukan. "Daddy... Falel takut," gumamnya dengan lirih sambil menangis. "Hey sayang, kenapa kalian menangis? Dimana orang tua kalian?" tanya sorang perempuan itu dengan suara lembut. Mendengar suara lembut ini membuat Sean dan Farel melihat kearah perempuan itu. Benar! itu Tante yang sedang menelpon di depan Cafe tadi. Farel dan Sean pun saling bertatapan, seolah mereka sedang berdiskusi melalui tatapan mereka. Setelah itu mereka pun menatap perempuan itu. "Mommy," ucap Sean dan Farel dengan serempak. Karena Sesil tak kembali menemui mereka, mereka pun menceritakan kepada dua perempuan berbeda usia yang ada di hadapan mereka saat ini. Farel dan Sean kini sudah mengetahui nama dua perempuan berbeda usia itu. Mereka adalah Tante Via dan Oma Nadia. Menurut Farel dan Sean, mereka sangat baik, bahkan Via dan Nadia menolong mereka. Farel dan Sean juga merasa nyaman di dekat Via dan Nadia. Mereka jujur, mereka tidak ingat alamat rumah mereka. Dan mereka memilih ikut dengan Via. Anak kecil selalu tau mana yang benar-benar tulus dan mana yang tidak tulus. Pertemuan mereka dengan Via, membuat dua anak laki-laki ini berharap agar suatu saat nanti Via bisa menjadi Mommy untuk mereka. Bagi Farel dan Sean, Via itu adalah Tante baik. Selama di perjalanan pulang, mereka sangat mengantuk. Mereka juga lelah karena menangis, apalagi ini sudah masuk jam tidur mereka. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tertidur dengan pulas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook