Part 9 - Mengajak Farel dan Sean Pulang

1518 Kata
"Hmm... Via, saya antar kamu pulang ya, ini udah malam." "Ehh gak usah Mas. Saya bisa hubungi supir Papa untuk jemput saya." "Gak usah Vi, sama saya aja. Hitung-hitung bales kebaikan kamu karna sudah menjaga Farel dan Sean. Ini juga tanggung jawab saya udah ngajakin kamu ketemu." "Hmm ya udah deh kalo gitu." Via pun mengiyakan ajakan Rafael. Sejak pertama jumpa dengan Rafael ia merasa tak asing dengannya, seperti pernah berjumpa. Ia ingin menanyakan hal itu, namun ia urungkan. "Farel, Sean kita pulang yuk." ajak Rafael. "Sama Mommy juga kan Dad?" Tanya Farel. "Iyaa Rel." "Ayoo Mommy, Kita pulang!" ajak Farel dengan antusias. "Iyaa sayang, ayo!" mereka pun keluar dari Cafe bersama-sama. Mereka berada di depan Cafe, menunggu Rafael mengambil mobil di parkiran. Tak lupa Via mengabari Pak Jarwo agar tak menjemputnya. Mereka pun masuk kedalam mobil, di perjalanan menuju rumah Via, mereka saling bercanda dan tertawa. Farel dan Sean tampak begitu bahagia. "Akhirnya aku bisa ngerasain kasih sayang orang tua, walaupun bukan orang tua kandung aku. Terimakasih ya Allah telah mengirim Mommy kepada kami." batin Farel. Senyumnya tak pernah pudar begitu juga Sean. "Sean hari ini seneng banget! Ya Allah izinkan Mommy bersama kami selamanya, Aamiin." batin Sean. Tak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah Via. Mang Udin membukakan gerbang. Via menurunkan kaca jendelanya. "Makasih Mang Din." "Sama-sama Non." Rafael menganggukkan kepalanya, Mang udin juga membalas menganggukkan kepalanya. "Ya udah masuk yuk." Via mengajak Rafael dan anak-anak masuk. "Assalamualaikum" ucap mereka serempak. "Waalaikumsalam, ehh Non pun wangsul to. Niku sinten Non?" Tanya Mbok Yem dengan logat Jawanya. "Sampun Mbok, niku rencang kulo." tak lupa Via mencium tangan Mbok Yem. Via pun mengajak Rafael duduk di ruang tamu. Mbok Yem mengikuti di belakangnya. "Mama kalih Papa wonten pundhi Mbok?" tanya Via setelah sampai di ruang tamu. "Nyonya kalih Tuan wonten wingking, Mbok timbal ke nggih." "Nggih Mbok." "Ngentosi sekedap nggih." Via hanya mengangguk, tak heran jika Via bisa berbahasa Jawa, Oma nya adalah orang Jawa. Rafael sedari tadi hanya diam, ia tak terlalu mengerti bahasa Jawa. Tak lama kemudian Sri datang membawa minuman dan cemilan. Sri adalah salah satu pelayan disini. "Niki Mas, di unjuk riyen." Lalu Sri pun kembali lagi kebelakang. Rafael menggaruk rambutnya yang tak gatal. Via pun melihat gelagat Rafael. "Kenapa Mas? Bingung ya kami tadi ngomong apa?" Via terkekeh melihat Rafael yang kebingungan. "Hmm, iyaa Vi. Saya tau Bahasa Jawa,tapi bukan bahasa Jawa halus seperti tadi." "Mommy, ajalin Falel ngomong kayak Mommy sama Mbok tadi." "Okee besok kita belajar yaa." "Okee Mommy." "Ean juga mau belajal." "Siap kapten!" Mama dan Papa Via pun datang menghampiri Via, Farel, Sean, dan Rafael. Nadia dan Edgar langsung duduk di dekat Via. Via, Farel, Sean, dan Rafael pun menyalami Edgar dan Nadia. Kemudian Farel dan Sean bermain mainan robot dan patung hewan di karpet ruang tamu itu. "Udah pulang dari tadi Vi?" Tanya Edgar. "Enggak Pa, baru aja kok." "Itu siapa?" Tanya Edgar. "Ohh itu namanya—" belum siap Via berbicara, Rafael sudah menyelanya. "Maaf Om, Tante, kedatangan saya mengganggu, saya Rafael." "Tunggu, nama kamu sama wajah kamu kayaknya gak asing deh bagi saya. Apa kita pernah ketemu?" Tanya Nadia. "Saya Rafael Gionino Franklin, teman Kuliahnya Aland Tante." "Astaga Rafa! Pantesan tante ngerasa gak asing. Udah lama lo kamu gak kesini." "Iyaa tante, soalnya Rafael bantu-bantu di perusahaan Papa jadi ya gitu." "Mama sama Papa kenal Mas Rafael?" tanya Via dengan dahi berkerut. "Kamu gak inget Vi? Ini tu Rafael yang dulu sering jailin kamu, waktu itu kamu masih SMP." "Hah? Masak sih?" Via kembali mengingat-ingat. "Via belum inget Ma," ucap Via sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ada rasa kecewa di hati Rafael, padahal itu hal yang wajar, seketika ia teringat Via waktu SMP dulu. Gadis lugu nan polos, namun imut. "Oohh Om baru inget, anaknya Dani kan?" "I... iyaa Om." "Kenapa kamu bisa sama Via?" Tanya Edgar. Sebelum menjawab pertanyaan Edgar, Rafael pun menghela nafasnya. "Hmm, kedatangan saya kesini mau minta maaf sekaligus mau bilang terimakasih sama Om dan sekeluarga." Rafael menjeda ucapannya, Edgar dan Nadia pun mendengarkan tanpa niat memotong ucapan Rafael. "Saya minta maaf sama Om dan Tante. Karna kelalaian saya, saya jadi merepotkan Om dan sekeluarga untuk merawat anak-anak saya. Sekali lagi saya minta maaf Om, Tante. Dan saya juga mau mengucapkan terimakasih karna sudah memberikan kasih sayang kalian untuk anak-anak saya. Mungkin ucapan terimakasih tidak akan cukup untuk membalas kebaikan Om dan keluarga Om. Dan saya bersyukur karna anak-anak saya bertemu dengan orang baik seperti kalian. Jujur saja mendengar bahwa mereka hilang saya begitu panik dan khawatir, sampai saya tak tau harus bagaimana. Saya gak bisa tidur karna memikirkan keadaan mereka di luar sana. Sekali lagi saya ucapkan ribuan terimakasih atas kebaikan Om dan sekeluarga," ucap Rafael sambil menatap kedua anaknya dengan sendu. Ia melihat pancaran bahagia di mata kedua anaknya. Edgar dan Nadia tentu saja terkejut, mereka masih diam. Mereka begitu syok mendengar ucapan Rafael tadi. "Jadi, Farel dan Sean adalah anak Rafael." batin mereka. "Maaf sebelumnya Raf, bagaimana bisa mereka tidak kamu awasi? Mereka bilang ke Tante kalau mereka pergi sama Tantenya. Lalu dimana ibu mereka?" tanya Nadia dengan sedikit canggung. "Iyaa Tante, kemarin mereka di ajak temen saya yang sudah di anggap sebagai tante mereka. Ibu mereka sudah tidak ada tante." Nadia di buat terkejut dengan pengakuan Rafael. "Maaf Tante gak tau," ucap Nadia dengan rasa tak enak. "Mom, antelin Falel ke kamal mandi. Falel mau buang ail kecil." pinta Farel. "Oh iya, ayo. Sean juga?" Tanya Via. Sean pun menganggukkan kepalanya. Via pun izin kepada Rafael. "Gak papa Tante, tapi sebenernya mereka bukanlah anak kandung saya...." Rafael menceritakan bahwa Farel dan Sean adalah anak mendiang kakaknya. Nadia dan Edgar juga syok mendengar kabar itu. Padahal Nadia dan Edgar berteman dengan orang tua Rafael, namun mereka tak mendapatkan informasi mengenai kabar duka dari anak pertama Dani dan Siska. "Jadi, oh astaga, begitu malang nasib mereka Pa. Maafkan Tante Rafa, gara-gara Tante kamu membuka luka lama." ucap Nadia dengan penuh sesal. "Gak papa Tante, kami semua sudah ikhlas, kami akan menjaga amanah dari mendiang kakak saya untuk menjaga mereka." "Ekhmm... pesan dari Om, agar kamu jangan terlalu mempercayai orang lain Raf. Ini pembelajaran buat kamu agar kamu gak melakukan kesalahan yang sama. Terkadang orang terdekat kita adalah musuh terbesar kita sendiri. Om dan keluarga Om sangat senang bisa bertemu dengan anak-anak kamu. Mereka sungguh menggemaskan." "Terimakasih banyak Om, Tante." mereka pun menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, Farel, Sean, dan Via pun kembali. Farel dan Sean membawa puding dari arah dapur. "Maaf Om, Tante, Via. Jadi ngerepotin kalian." ucap Rafael tak enak hati. Apalagi anak-anaknya sangat lahap memakan puding itu. "Enggak sama sekali nak." sahut Edgar. "Mau tambah lagi?" tanya Nadia. "Nanti aja Oma." sahut Farel setelah menelan puding itu. Tak terasa kini sudah jam 9 malam, Rafael pun mengajak anak-anaknya pulang. Namun, mereka masih ingin tinggal di rumah megah keluarga Abraham. "Farel, Sean... kita pulang dulu yaa, besok kita main kesini lagi." "Gak mau Dad, Falel masih mau sama Mommy." "Ean juga Dad, Ean masih mau disini." "Ehh kok gitu, kalian pulang dulu ya. Oma sama Opa khawatir lo sama kalian. Oma nyariin kalian terus di rumah." "Gak mau Dad." rengek mereka berdua. Via, Nadia, dan Edgar akhirnya ikut membujuk Farel dan Sean. "Sayang... dengerin Mommy, kalian pulang dulu yaa. Temui Oma dan Opa kalian, kasian lo Oma dan Opa udah nyariin kalian. Mereka itu khawatir sama Farel dan Sean. Kalian emang seneng liat Oma kalian sedih?" mereka kompak menggeleng. "Kalian pulang dulu yaa, kasian Oma sama Opa kalian nyariin loh. Pasti mereka kangen banget sama Farel dan Sean. Besok kalian boleh main kesini lagi." mereka berdua diam tak menyahuti ucapan Via. "Hey, cucu Opa gak boleh gitu, harus jadi anak yang baik. Kalian temui Oma dan Opa kalian dulu. Besok kalian main kesini lagi, mau nginep disini juga boleh. Ingat kan kita udah punya jadwal untuk pergi mancing?" mereka mengangguk antusias. "Kalau kalian mu, besok Opa bisa meluangkan waktu buat pergi mancing sama kalian." lanjut Edgar. "Benelan Opa?" Tanya Farel. "Iyaa dong, kan Opa udah janji sama kalian." "Iyaa, besok kalau kalian kesini lagi Oma buatin kue sama stok es cream." "Benelan kan Oma?" tanya Sean. "Beneran dong, masak Oma bohong." "Besok Mommy buatin puding lagi deh. Mommy buatin yang banyak biar bisa untuk stok." Farel dan Sean pun tersenyum senang. "Ya udah kita pulang dulu, tapi Daddy janji besok antelin kita kesini lagi," ucap Farel. "Iyaa besok Daddy anterin. Pamitan dulu sama Oma, Opa, dan Mommy Via." ntah mengapa rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya ketika Rafael memanggilnya 'Mommy'. "Oma, Opa, Mommy, Falel pulang dulu, besok kesini lagi." "Oma, Opa, Mommy, Ean juga pulang dulu." Mereka pun berpamitan kepada Nadia, Edgar, dan juga Via. Mereka mencium pipi dan tangan bergantian. Edgar, Nadia, dan Via mengantar mereka sampai di teras depan rumah. "Om, Tante, Via, saya dan anak-anak pamit pulang dulu. Terimakasih atas semua kebaikan kalian. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," ucap mereka. "Hati-hati di jalan," ucap Via, Rafael pun mengangguk. Edgar dan Nadia masuk terlebih dahulu. Ketika mobil itu sudah melewati pintu gerbang, Via baru masuk kedalam. Ia segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan segera beristirahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN