"Assalamualaikum Mama, Papa."
"Waalaikumsalam," ucap mereka
bersamaan.
"Ehh ada Sesil." ucap Rafael.
"Rafael kamu udah jumpa sama cucu-cucu Mama kan? Dimana mereka sekarang?" tanya Siska.
"Hmm.... Belum Ma, tapi Mama tenang aja, Rafael udah lacak dimana keberadaan anak-anak. Rafael mau mandi dulu, mau jemput anak-anak."
"Iyaa nak, cepat bawa mereka pulang, Mama kangen sama mereka," ucap Siska dengan senang.
"Pasti Ma, Rafa akan bawa mereka pulang hari ini."
"Ya udah, kamu mandi dulu." Rafael pun bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap berjumpa dengan anak-anaknya.
"Sesil seneng banget tante akhirnya Farel dan Sean ketemu."
"Iyaa Sil, tante juga seneng banget."
Tak di pungkiri, Siska sangat kesal dengan Sesil. Ia akui, dirinya bermuka dua di hadapan Sesil. Ia masih bisa menjaga sikap karna keluarga Sesil sangat baik pada keluarganya. Bahkan Siska tau, jika Sesil tidak lah tulus. Tapi ia tidak mempunyai cukup bukti untuk semua kelakuan Sesil. Dan salahnya juga membiarkan Sesil membawa cucu-cucunya pergi.
***
Setelah menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim, Via pun kini sudah rapi dengan dress-nya. Ia memilih dress kotak-kotak hitam putih. Ia pun berjalan keluar kamarnya.
"Loh kamu mau kemana Nak? Ini kan kita mau makan malam?" Tanya Nadia ketika Via berada diruang keluarga.
"Oh iya, Via lupa ngasih tau ke Mama sama Papa ya hehe. Ini Ma, Via mau ke Cafe bentar, ada perlu. Jadi, Via gak bisa makan malam bareng Mama sama Papa. Maaf ya Ma, Pa. Via makan malam di sana aja," ucap Via dengan rasa bersalah. Ia merutuki dirinya karna lupa memberitahu kedua orang tuanya jika ia tidak bisa makan malam bersama.
"Kok dadakan?" tanya Edgar.
"Iyaa Pa, tadi ada yang telpon Via katanya ada hal penting, trus Via di suruh ke Cafe."
"Mau Papa antar?"
"Eh gak usah Pa, Papa nemenin Mama aja di rumah."
"Ya udah kalo gitu kamu di antar sama pak Jarwo aja. Papa gak mau kamu kenapa-napa di jalan," ucap Edgar dengan tegas, seperti tak mau di bantah, Via pun menganggukkan kepala, bagaimana pun ia harus mematuhi perintah orang tuanya.
"Okee Papa."
"Mommy mau kemana?" tanya Farel.
"Hmm, Mommy mau ke Cafe sebentar."
"Falel ikut Mom."
"Ean juga mau ikut." Via melihat ke orang tuanya seolah meminta izin untuk mengajak anak-anak. Mereka pun mengangguk seolah mengerti apa yang di maksud Via.
"Ya udah ayo, pamit dulu sama Oma sama Opa." dengan senang hati Farel dan Sean menuruti perintah Mommy mereka.
"Opa, Oma..... Ean ikut Mom pelgi dulu yaa." pamit Sean sambil bersalaman kepada Nadia dan Edgar, tak lupa Sean mencium pipi mereka.
"Iyaa sayang, hati-hati di jalan, di sana Sean gak boleh nakal yaa."
"Iyaa Oma."
"Oma, Opa, Falel juga mau ikut Mommy, Falel pelgi dulu ya."
"Iyaa sayang, ingat jangan nakal loh yaa."
"Siiapp Oma!"
"Ya udah Ma, Via berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," ucap Nadia dan Edgar bersamaan. Kemudian, mereka bertiga pun bergegas pergi.
"Yaahh sepi deh Pa," ucap Nadia saat Via, Farel, dan Sean sudah pergi.
"Cuma sebentar Ma, nanti juga balik lagi. Ya udah sekarang makan malam dulu yuk."
"Iyaa Pa." mereka pun makan malam bersama berdua. Mereka menikmati waktu berdua bersama.
***
"Ma, Pa, Rafa pergi dulu yaa"
"Kamu kok rapi banget kayak mau kencan. Kamu gak PHPin Mama kan?"
"Astagfirullah Mama, janji deh Rafa akan bawa Farel sama Sean pulang malam ini juga."
"Ya udah sana, jangan sampai cucu-cucuku lecet yaa."
"Siap komandan!"
"Hmm, Raf gue boleh ikut gak?" pinta Sesil.
"Hmm lo di rumah aja ya sama nyokap, gue janji akan bawa anak-anak pulang." tolak Rafael secara halus. Sebenarnya Rafael masih kesal dengan Sesil, bagaimana ia bisa ceroboh saat mengajak anak-anaknya di tempat umum. Apalagi selama ini Farel dan Sean sudah lama di Bandung di tempat nenek dan kakeknya dari pihak Mamanya.
"Ya udah deh kalo gitu, lo hati-hati di jalan."
"Oke... Ya udah Rafa pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Via dan anak-anak sudah tiba di Cafe Holiday.
"Pak, bapak pulang aja dulu, nanti Via telpon kalo udah mau pulang."
"Baik Non, tapi beneran Non gak papa bapak tinggal pulang dulu?"
"Gak papa Pak."
"Ya udah kalo gitu bapak pulang dulu ya Non, kalo ada apa-apa nanti hubungi saya Non."
"Siap Pak!"
Setelah berpamitan pada Pak Jarwo mereka pun memasuki Cafe itu.
"Ya udah sekarang masuk yuk, atau kalian mau ke ruangan Mommy?"
"Falel sama Sean mau liat luangan Mommy boleh?"
"Boleh, Mommy panggilin pelayan dulu ya buat antar kalian. Soalnya Mommy takut temen Mommy nunggu lama."
"Iyaa Mom."
Via pun melihat salah satu pegawainya, ia pun segera memanggilnya.
"Nisa! Sini." pegawai bernama Nisa itu pun langsung menghampiri Via.
"Ada apa Mbak?" memang semua pelayan di Cafe Holiday memanggil Via dengan sebutan 'Mbak' agar lebih akrab.
"Tolong bawa anak-anak keruangan saya yaa, nanti kalo mereka minta sesuatu kasih aja. O iya sekalian kamu jagain mereka yaa."
"Oke siap Mbak!"
"Anak-anak kenalan dulu dong sama Kak Nisa nya."
"Hello kak nama aku Falel."
"Nama aku Ean kak."
"Farel dan Sean?" mereka berdua pun mengangguk.
"Hello nama Kakak Nisa. Ya udah sekarang ikut Kakak yuk!"
"Kalian gak boleh nakal ya, jangan buat Kak Nisa kerepotan."
"Siap Mommy!" ucap mereka dengan serempak. Sebenarnya Nisa bingung, mengapa anak-anak ini memanggil bos mereka dengan sebutan 'Mommy', namun ia tak ingin ikut campur, ia bekerja disini dan bertemu dengan orang sebaik Via ia sudah sangat bersyukur. Lagi pula ia bukan tipe orang yang ingin ikut campur dengan urusan orang lain.
"Ya udah aku tinggal ke sana dulu ya Nis. Aku titip anak-anak dulu."
"Iyaa Mbak."
Via pun pergi untuk mencari Rafael. Rafael sudah memberinya pesan, jika ia berada di dekat jendela Cafe. Karna Rafael membelakangi pintu masuk, ia tidak melihat jika Via datang bersama Farel dan Sean.
"Hai, maaf nunggu lama yaa. Soalnya tadi macet banget," ucap Via sambil mendudukkan dirinya di depan Rafael. Ia merasa tak enak karna membuat orang lama menunggu.
"Ehh enggak papa kok, santai aja, Ibu Kota emang gitu."
"Pasti Mas El udah nunggu lama ya?"
"Enggak kok saya juga belum lama disini. Oh iya kamu mau pesan apa, biar saya panggilin pelayannya."
"Saya mau spaghetti sama lemon tea aja." Rafael pun memanggil pelayan.
"Ehh Mbak," ucap pelayan itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ada apa ya Mbak?" Rafael yang melihat itu pun bingung, karna melihat gelagat pelayan itu seolah bos dan pegawainya.
"Hmm bentar ya Dil." pelayan yang bernama Dila itu pun mengangguk.
"Mas kamu mau pesan apa? Saya lihat Mas cuma pesan minum aja."
"Samain aja sama kamu, tapi saya mau minum coffee latte aja." Via pun mengangguk.
"Hmm Dil, tolong buatin Spaghetti Italia 2, lemon tea 1, coffee latte 1 ya."
"Baik Mbak, Mas, tunggu sebentar." Dila pun segera bergegas pergi membuatkan pesanan untuk bosnya itu. Mereka pun berbincang-bincang ringan hingga tak lama kemudian, Dila datang membawakan pesanan milik Via dan Rafael.
"Selamat menikmati."
"Makasih Dila."
"Sama-sama mbak, kalo gitu Dila pamit mau ke belakang."
"Iyaa." setelah Dila pergi, Rafael tak tahan lagi ingin bertanya, mulutnya sudah terasa gatal sedari tadi.
"Hmm Vi, sepertinya kamu deket banget sama pelayan-pelayan di Cafe ini?" Tanya Rafael.
"Hmm, gimana yaa."
"Gimana apanya?" Tanya Rafael, sesekali ia memakan makanannya.
"Yaa mereka deket sama saya, karna mereka karyawan saya," ucap Via, kemudian ia memakan spaghetti favoritnya.
"Uhuukk uhukk...." dengan segera ia memberikan air mineral yang di bawakan oleh Dila tadi bersamaan dengan pesanannya.
"Pelan-pelan kali Mas, saya gak minta makanannya."
"Huhh, saya cuma kaget aja. Jadi kamu pemilik Cafe ini?" Via pun menganggukkan kepalanya.
"Saya sering kesini, tapi kok gak pernah liat kamu ya Vi?" Via mengangkat bahunya.
"Mungkin saya ada di ruangan pas Mas El kesini." Rafael mengangguk membenarkan ucapan Via.
"Saya betah kalau makan di Cafe ini. Rasanya nyaman aja gitu, makanan disini enak banget sesuai sama lidah saya." puji Rafael.
"Alhamdulillah kalo Mas suka, berarti Cafe ini jadi tempat favorit Mas El dong yaa?"
"Woo ya jelas."
Tak membutuhkan waktu lama untuk Rafael menyantap makanannya. Kini, Rafael sedang meminum minuman favoritnya, coffee latte. Sesekali ia mengaduk minumannya sambil melihat kearah luar jendela.
"MasyaAllah! Cuma ngaduk minum aja keliatan ganteng. Pesona duda emang luar biasa, jadi pengen gue bawa pulang. Eh! Sadar Via." batin Via.
Karna tak mau ketauan jika ia melihat Rafael, ia pun kembali menyantap makanannya hingga habis, tak lupa setelah makan, ia pun minum.
"O iyaa, ada apa ya Mas kok minta saya ketemuan? Katanya ada yang mau di omongin, mau ngomong apa?" Tanya Via.
"Hmm anu, itu..." Rafael bingung harus bilang apa.
"Anu.... Itu apa Mas?"
"Ituu,, anu... Saya cuma mau...." belum sempat Rafael menyelesaikan ucapannya, ucapannya sudah terpotong oleh seseorang yang memanggil Via dengan sebutan 'Mommy'.
"Mommy!" ucap Farel dan Sean secara serempak, mereka berlari menuju kearah Via.
"Ehh, ada apa sayang?"
"Gak papa, kami bosen, jadi kami pelgi kesini," ucap Farel. Mereka belum menyadari bahwa ada seseorang yang memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mbak Nisa-nya mana?"
"Mbak Nisa udah kerja lagi Mom, tadi kami izin sama Mbak Nisa biar kami berdua aja yang kesini."
"Kalian gak nakal kan sama Mbak Nisa?" dengan kompak mereka pun menggelengkan kepalanya.
"Anak pintar. O iya udah makan belum?" mereka berdua hanya mengangguk. Hingga Sean menghadap ke arah Rafael.
"Daddy!" pekik Sean, tanpa ragu ia mendekati Rafael kemudian duduk di pangkuan Rafael. Sean memeluk erat Daddynya.
"Miss you Dad." Sean menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rafael. Rafael membalas pelukan Sean, hatinya menghangat, karna sudah bertemu buah hatinya.
"Miss you too my boy."
"Daddy!" Farel tak mau kalah, ia berjalan menuju tempat Rafael. Ia langsung memeluk Daddynya.
"Miss you Daddy!"
"Miss you too my boy." Via yang sedari tadi diam karna terkejut.
"Hah? jadi yang di cari oleh Mas El tadi pagi adalah Farel dan Sean?" batinnya.
Via masih syok dengan keadaan sekarang ini. Dan banyak pengunjung Cafe yang melihat itu, mereka berfikir jika Rafael, Via, Farel, dan Sean adalah keluarga yang harmonis.
"Mom."
"Mommy!"
"Ehh iya ada apa Rel?"
"Mommy kenapa melamun?"
"Hmm, enggak kok."
"Jadi Mommy kenal sama Daddy?"
"Iyaa, tapi Mom baru saja mengenal Daddymu."
"Kenapa Daddy gak kasih tau kita kalau Daddy kenal sama Mommy?" Tanya Farel sambil menatap Rafael. Dahi Rafael berkerut.
"Mommy? Mommy siapa Rel?" tanya Rafa.
"Mommy Via, Falel sama Sean seneng banget bisa kenal sama Mommy, Mommy olang baik Dad, Falel sayang sama Mommy." kini Farel turun dari pangkuan Rafael, dan meminta Via untuk memangkunya, dengan senang hati Via menurutinya.
"Kok Farel sama Sean manggil tante Via Mommy?"
"Gak tau Dad, dali peltama jumpa Ean dan kak Falel udah melasa nyaman." Rafael pun menganggukkan kepalanya, ia bingung harus bersikap bagaimana, begitupun dengan Via. Via pun meminta salah satu pelayannya untuk membawakan es cream untuk Farel dan Sean dalam porsi sedang.
"Hmm Vi, saya mau minta maaf sekaligus bilang makasih sama kamu," ucap Rafael ketika anak-anak sedang asik memakan es cream mereka.
"Untuk?"
"Saya minta maaf karna kelalaian saya, saya jadi ngerepotin keluarga kamu buat ngurusin anak-anak saya. Dan terimakasih buat kasih sayang keluarga kamu untuk Farel dan Sean. Mungkin ucapan terimakasih gak akan bisa balas kebaikan keluarga kamu, dan saya bersyukur Farel dan Sean bertemu dengan orang baik seperti keluarga kamu. Sekali lagi saya ucapin terimakasih dan minta maaf. Oh iyaa malam ini, saya akan bawa mereka pulang ke rumah, Mama saya sangat khawatir sama mereka," ucap Rafael.
Ntah mengapa Via merasa sedih ketika Farel dan Sean akan pulang kerumah mereka.
"Hmm, gak papa Mas, gak perlu minta maaf, ini buat pembelajaran aja buat kedepannya biar kejadian ini gak terulang kembali. Mereka udah cerita kalau mereka pergi sama tante mereka, jadi gak sepenuhnya juga salah kamu. Saya malah seneng banget bisa ketemu sama mereka, mereka anak yang baik, nurut, dan lucu. Sejak pertama kali ketemu mereka, saya terhipnotis dengan wajah menggemaskan mereka. Farel dan Sean memiliki pesona yang begitu kuat."
"Terimakasih banyak Vi, saya gak tau lagi harus ngomong apa. Oh iya maaf karna mereka manggil kamu dengan sebutan 'Mommy' yang mungkin buat kamu gak nyaman di panggil dengan sebutan itu. Saya tau mereka butuh kasih sayang orang tua yang lengkap," ucap Rafael sambil memandang Farel dan Sean dengan sendu.
"Saya menyayangi mereka, saat denger kalau mereka hilang, saya sangat khawatir. Saya gak tidur karna mikirin mereka. Hati saya juga gak tenang, saya mikirin mereka ada dimana, tidur dimana, dan pikiran negatif selalu muncul." lanjutnya.
"Udah Mas, kamu gak usah bilang makasih terus. Saya gak masalah sama panggilan mereka ke saya. Justru saya malah seneng dengan panggilan mereka untuk saya. Mungkin dengan itu, mereka bisa mengobati rasa rindu mereka kepada Mamanya. Saya juga merasa udah kenal lama banget sama mereka, padahal baru sebentar. Kalo Mas El dan keluarga Mas ngizinin, saya akan terus ada buat mereka. Biarkan mereka menganggap saya sebagai ibu mereka. Saya ingat cerita Mas tadi pagi. Saya juga merasa mereka membutuhkan sosok orang tua lengkap di usia mereka yang masih tergolong sangat muda."
"Sekali lagi makasih Vi, saya akan balas kebaikan kamu dan keluarga kamu. Saya dan keluarga saya akan memberikan izin kepada kamu untuk trus bersama anak-anak saya. Selagi kamu tidak merasa terbebani. Kamu juga punya dunia kamu sendiri."
"Sama-sama, gak usah berlebihan gitu. Saya sangat seneng ada di dekat Farel dan Sean."
"Mom, udah habis esnya," ucap Sean.
"Punya Falel juga, boleh nambah lagi gak Mom?"
"Besok lagi yaa, gak baik loh makan es cream banyak-banyak di malam hari."
"Iyaa Mom." mereka mengangguk patuh.
"Selesai makan atau minum harus bilang apa?"
"Alhamdulillah," ucap mereka secara serempak.
"Naahh pinter, kita harus...."
"Belsyukul." ucap mereka dengan kompak.
"Pinter banget sih anak-anaknya Mommy," ucap Via sambil tersenyum.
Rafael yang melihat itu seakan takjub, ingat! Baru dua atau tiga hari mereka bersama keluarga Via, tapi mereka sangat patuh. Tak biasanya mereka begini, karna terlalu di manja oleh Mama dan Papanya, mereka menjadi orang yang sedikit arogan, semua yang mereka minta harus di turuti. Tapi hari ini, Rafael melihat perubahan anak-anaknya menjadi anak yang baik dan patuh. Ia semakin bersyukur, anak-anaknya berada di orang yang tepat dan ia juga bersyukur dipertemukan dengan Via. Ia berdoa semoga ia berjodoh dengan wanita baik hati dan menyayangi anak-anak ini. Rafael mengembangkan senyumannya ketika melihat interaksi itu.