Via dan Nadia pun masuk kedalam rumah setelah selesai menyiram tanaman. Di ruang keluarga ada Aland, Tasya, Rara, Gilang, Arsen, Zia, Ara, dan Nathan sudah bersiap-siap. Keluarga kecilnya Aland dan Nathan akan berangkat ke rumah mertuanya masing-masing. Namun, Gilang tak mau ikut, ia terus merengek.
"Gilang di lumah Oma aja, gak mau ikut."
"Gilang ikut yaa, tadi Grandma sama Grandpa nanyain Gilang loh."
"Gak mau! Maunya disini sama Ean sama Kak Falel." Aland pun akhirnya membantu istrinya membujuk Gilang.
"Gilang, ikut yaa, Grandma sama Grandpa kan kangen sama Gilang sama kak Rara juga. Ikut yaa, nanti Papi beliin mainan yang Gilang mau deh." Gilang pun diam mempertimbangkan tawaran Papinya. Ia sebenarnya tergiur, namun ia masih ingin bermain disini sama Sean dan Farel.
"Gak Pi, Gilang di lumah sama Bunda aja." Gilang pun menjawab dengan mata yang berkaca-kaca yang membuat orang yang melihatnya tak tega. Kalau begini Aland pun akan luluh, Tasya juga begitu. Via pun mendekati Gilang, memberi isyarat kepada Aland agar ia yang mencoba merayunya. Aland pun paham, ia berdiri dan memberi ruang untuk Via.
"Sayang, kenapa kok gak mau ikut kerumah Grandma dan Grandpa hmm?" Tanya Via dengan lembut, ia mensejajarkan tingginya dengan Gilang dan mengusap kepalanya, namun Gilang malah memeluknya.
"Ehhh.... Bunda belum mandi." Via pun berusaha melepaskan pelukan Gilang dengan pelan-pelan. Namun Gilang tak mau.
"Gak papa Bunda, Bunda masih wangi." Via pun membiarkan saja. Mau bagaimana lagi, nanti Gilang akan mengamuk.
"Bunda tanya sekali lagi, kenapa Gilang gak mau kerumah Grandma dan Grandpa? Biasanya Gilang seneng kalau main ke sana, kan?"
"Gak papa, Gilang mau sama Bunda aja, nanti kalau Gilang pelgi yang main sama Ean dan Kak Falel siapa? Nanti meleka gak ada temennya." Via tau, Gilang adalah anak yang peduli. Seperti ini lah.
"Hmm....gak papa Gilang pergi aja, Sean sama Kak Farel disini kan masih ada Bunda, Oma, dan Opa. Gilang ikut sama Papi, Mami yaa. Grandma sama Grandpa kangen loh sama Gilang, memangnya Gilang gak kangen sama mereka?"
"Kangen Bunda," ucapnya lirih.
"Ya udah sekarang Gilang jangan murung dong harus senyum, jagoan Bunda gak boleh sedih. Gilang temuin Grandpa dan Grandma yaa, Gilang anak baik kan gak mau buat mereka sedih?" Gilang mengangguk didalam pelukan Via.
"Ya udah sini berdiri dulu, rapikan bajunya. Berantakan ini." Gilang pun menurut. Via merapikan penampilan Gilang.
"Nah, selesai." Gilang pun akhirnya mau ikut, sebenarnya ia sedikit sedih meninggalkan Farel dan Sean.
"Huh, gak tau gue ngidam apa kemarin. Kenapa si Gilang nurut banget sama lo, perasaan Rara gak gitu banget." gerutu Tasya. Via pun terkekeh mendengar gerutuan Tasya.
Sean dan Farel pun sedih, karna mereka akan pergi. Terutama Gilang dan kak Arsen, pasti mereka akan bosan tak ada yang bisa mereka ajak bermain.
Kini, mereka pun berpamitan kepada Edgar, Via, Nadia, Sean dan Farel. Mereka mengantar keluarga kecil Aland dan keluarga kecil Nathan sampai ke depan rumah.
"Kami berangkat Ma, Pa, Vi," ucap Nathan dan Aland.
"Dadah Oma, Opa, Bunda!" Rara melambaikan tangannya.
"Jangan sedih besok kita jumpa lagi Sean, Farel." lanjutnya sambil memeluk mereka. Rara menyayangi mereka seperti ia menyayangi adiknya. Rara, Arsen dan Zia begitu menyukai anak kecil.
"Iyaa kak, hati-hati di jalan kak Lala," ucap Farel.
"Benelan kan besok kakak pulang?" tanya Sean.
"Iyaa kita besok pulang kok, kamu sama Oma, Opa, dan Bunda dulu yaa."
"Iya Kak Lala," ucap mereka serempak.
"Besok Kak Zia bawain jajan buat kalian."
"Benelan Kak?" tanya Sean dengan antusias.
"Iya, jadi sekarang kalian jangan sedih yaa. Sini peluk kakak dulu." Farel dan Sean pun memeluk Zia. Sedangkan Gilang berada di gendongan Aland, ia tak mau berpisah dengan Sean dan Farel maka dari itu lebih baik ia meminta Papinya untuk menggendongnya.
"Besok kita main lagi, oke?" ucap Arsen.
"Okee Kak," ucap mereka serempak.
"Ya udah kalian hati-hati di jalan," ucap Nadia.
"Kami pamit ya," ucap Ara mewakili mereka.
"Anak-anak salim dulu sama Oma, Opa sama Bunda juga." mereka pun menyalami Nadia, Edgar, dan Via bergantian.
"Kami berangkat, Assalamualaikum," ucap mereka.
"Waalaikumsalam."
"Masuk yuk!" ajak Edgar, mereka pun masuk ke rumah.
"Mommy mandi dulu yaa, kalian main sama Opa dulu ya."
"Siap Mommy!" ucap mereka.
Nadia dan Via pun berjalan ke arah kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Sebelum memasuki kamar mandi, ponsel Via berdering, Via pun mengambil ponsel itu, dahinya berkerut.
"Nomor siapa nih?" batinnya. Via pun akhirnya mengangkatnya.
"Hallo"
"Hai, ini siapa ya?"
"Hmm ini saya, Rafael."
"Ehh maaf saya gak tau, soalnya gak ada namanya. Ada apa ya Mas?"
"Bisa gak hari ini kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."
"Hmm, sepertinya sih bisa Mas. Kira-kira mau ketemu dimana ya Mas?"
"Cafe Holiday nanti jam 7 malam."
"Ohh, okee."
"Saya jemput?"
"Ehh gak usah, saya ke sana sendiri aja, kita jumpa di sana."
"Okee, saya tunggu di sana ya Vi."
Setelah panggilan terputus, Via pun bergegas untuk membersihkan dirinya.
***
Setelah makan siang, Daniel mencoba kembali mencari info dan berkutik di depan komputer kesayangannya. Tak terasa sudah lumayan lama ia berada di depan komputernya, matanya terasa berat, hingga tak terasa ia pun tertidur.
Rafael yang sedang duduk di sofa sambil menunggu informasi dari anak buahnya pun melihat kearah Daniel, karna ia tak mendengar bunyi keyboard. Di sana ia melihat Daniel yang sedang tertidur pulas, bersandar pada kursi. Rafael pun membiarkan saja, ia tau Daniel lelah, dan pastinya butuh istirahat.
Ting
Notifikasi tanda ada pesan masuk di ponsel Rafael. Rafael pun segera melihat pesan itu.
Papa
Raf, anak buah papa tadi telpon katanya sudah menemukan anak-anak. Tapi mereka di bawa orang masuk mobil. Dan mereka gak kepikiran untuk foto plat mobil itu. Jadi mereka kehilangan jejak.
Rafael
Beneran Pa? Ciri-ciri orang yg bawa anak-anak gmn Pa?
Papa
Papa juga blm tau pasti nak. Yg jls anak-anak masuk kedalam mobil bersama seorang gadis mungkin kira-kira sekitar 20 tahunan. Gadis itu pakai pakaian kasual biasa, gadis itu kira-kira memiliki tinggi kurang lebih 170 cm. Rambutnya seperti warna pirang gitu, Papa juga kurang tau warna apa kayak keemasan gitu. Ada supir dan juga 1 anak kecil seumuran dengan Sean.
Rafael
Kira-kira dimana Pa anak buah Papa ketemu sama anak-anak?
Papa
Di dekat swalayan xxxx
Rafael
Makasih infonya Pa, nanti Rafa suruh Daniel buat melacak lagi.
Papa
Iyaa nak, semoga kamu bisa bawa pulang mereka hari ini.
Rafael
Iyaa Pa, doain Rafael.
Papa
Pasti nak.
Rafael pun meletakkan ponselnya di meja yang terletak di hadapannya. Ia ingin sekali membangunkan Daniel tapi ia kasihan pada sahabatnya itu. Daniel terlihat sangat lelah. Rafa pun memilih untuk memberi Daniel waktu istirahat.
Rafa pun memikirkan ucapan Papanya, sungguh ini kabar bahagia baginya, dan semoga saja anaknya bersama orang yang baik.
"Kok anak-anak di bawa masuk naik mobil yaa? Apa anak-anak di culik? Tapi kan gak mungkin, masak mau nyulik pake baju biasa. Mana bawa bawa anak kecil sama supir, kan gak mungkin. Ehh tapi kok ciri-cirinya mirip Via ya? Apa anak-anak sama dia? Ahh tapi mana mungkin gimana ceritanya bisa ketemu sama Via. Ehh tapi kalo mereka jumpa sama Via sih gue lega banget, gue udah kenal sama keluarganya Via. Eh lebih tepatnya sama si Aland. Dimana pun kalian berada semoga kalian bersama orang baik." gumam Rafa.
Rafa masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Daniel pun terbangun dari tidurnya, ia melihat ke arah Rafa yang asik melamun. Ia pun memanggil Rafa.
"Raf."
"Woyy Rafa!"
"Ehh apaan?"
"Melamun aja lo."
"Dari pada lo molor mulu."
Rafa pun langsung mendekati Daniel dan menyuruh Daniel untuk meretas cctv di swalayan xxxx.
"Ehh Kudanil, coba lo retas deh cctv di swalayan xxxx, bokap gue tadi bilang. Anak buahnya liat anak-anak di sana." Daniel pun mengangguk, ia sedang malas banyak bicara pada Rafael.
Sore ini, akhirnya mereka menemukan Farel dan Sean. Dengan Daniel yang meretas cctv itu.
"Kayak nya anak-anak lo gak di culik deh Raf. Keponakan gue pinter ngilang langsung dapet yang cakep gitu."
"Mana coba gue liat." Daniel menggeser tempat duduknya agar Rafael bisa melihat cctv itu.
"Haah, mata gue gak salah liat kan Niel?"
"Ngapa sih lo? Mata lo katarak emang?"
"Mulut lo Astagfirullah, gue kenal sama perempuan itu. Anjir iyaa beneran dia!"
"Apaan sih tadi istighfar sekarang ngomong anjir, gak jelas banget lo. Eh, tunggu lo kenal cewek itu?"
"Iyaa anjir, baru tadi pagi gue jumpa dia, dan lo tau dia siapa? Dia itu—"
"Mana gue tau, gue belum kenalan bego!"
"Gue belum siap ngomong bangsul!"
"Sok atuh lanjutin."
"Dia itu adiknya Aland asal lo tau."
"Ooohh." Daniel pun hanya ber 'oh' ria sambil menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian ia tersadar.
"WHAT??! SUMPAH LO? SI VIA? ADEKNYA SI ALAND?"
"Biasa aja dong lo, bisa budeg nih telinga gue karna denger suara cempreng lo! "
"Lo serius? Dia beneran adeknya si-Aland?"
"Iyaa anjir. Ahh gue lega banget sekarang, anak-anak gue ada di orang yang tepat. Gue yakin anak-anak gue aman sama mereka."
"Wihh makin cantik aja nih adeknya si Alan, gue pepet ahh." celetuk Daniel, ntah mengapa Rafael tak suka mendengarnya.
"Lo berani deketin Via, gue gantung lo hidup-hidup."
"Sstt, slow dong bro, emangnya lo siapanya dia? Lo juga baru jumpa dia lagi kan? Jadi gak papa dong gue deketin dia. Selagi sama-sama gak punya pasangan kan gak ada salahnya."
Skakmat. Benar yang dikatakan Daniel, memang dia siapanya? Aahh tapi dia tak suka jika lelaki lain mendekati Via. Ntah mengapa semenjak pertemuan pertamanya tadi pagi, ia merasa nyaman di dekat gadis itu, ia juga merasa tak mau kehilangan gadis itu.
"Gakk! Awas aja lo berani deketin dia. Siap-siap lo gue pecat dari kantor gue." Daniel memajukan bibirnya beberapa senti.
"Aiisshh!!! Kerjaan lo bisanya cuma ngancem gue doang! kalau gini gue bisa apa?"
"Gitu dong lo ngalah. Udah ah gue telpon Via dulu deh."
Rafael pun kembali duduk ke sofa dan mengambil ponselnya, segera ia menghubungi nomor Via. Untung saja tadi Via meminjam ponselnya, jadi dengan mudah ia menghubungi Via. Untuk mengajaknya bertemu di sebuah cafe.
Rafael merasa sangat bahagia akan berjumpa dengan Via. Ia seperti remaja SMA yang sedang kasmaran.
"Thanks Kudanil, gue balik dulu mau siap-siap jumpa calon bini. Dadaahhh!!"
"Naikin gaji gue gak mau tau gue."
"Oke aman." Rafael langsung keluar dari ruang kerja milik Daniel dan ia bergegas pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap.
"Calon bini mbah mu, baru juga ketemu udah bilang calon bini. Temen gue emang gak ada yang waras." gerutu Daniel.