“Listrik padam!” jeritku tertahan dan membuatku tanpa sadar membalikkan badanku dan memeluk Gara dengan erat. Suara guntur masih terdengar berkali-kali sampai yang terdengar hanya suara derasnya hujan. “Tuh, untung aja kita nggak maksa mau pulang dengan kondisi cuaca yang seperti ini,” timpal Gara sambil mengelus pundakku seperti sedang menenangkanku. Nggak tahu keadaan banget, baru saja mulutku akan mengucapkan jawaban atas pertanyaannya Gara, eh malah mendadak gelap gulita seperti ini. “Gimana kalau hujannya nggak berhenti sampai pagi?” tanyaku dengan nada khawatir. Suasana di sekitarku terlihat gelap, nggak terlihat apa pun selain sesekali pantulan cahaya dari kilat yang menyambar. “Kenapa, kamu tahu gelap?” tanyanya. Aku menggeleng. Bukan itu yang aku khawatirkan. Tapi bukannya sang

