"Iya, ada apa?" tanyaku setelah beberapa saat mengumpulkan keberanian untuk menatap matanya dan berbicara dengan nada jutek, meniru wanita di hadapanku ini. Amara memiringkan kepalanya, seperti sedang menelitiku. Apa maksudnya menatapku seperti itu? Apa dia sedang memberikan nilai padaku? Jika saja dia tahu kalau saat ini yang berdiri di hadapannya saat ini adalah saudara yang memiliki ayah yang sama dengannya, kurasa dia nggak akan menatapku sekejam ini. Mungkin karena aku terlihat memiliki hubungan dengan Gara, makanya dia memperlakukanku dengan dingin. "Bisa tolong hubungi dia? Dari tadi teleponku nggak diangkatnya," sahutnya. Kini gantian aku yang menatapnya dari kepala hingga ke kaki. Hanya dengan sekilas aku dengan yakin mengatakan jika aura kecantikannya hampir saja membuatku rend

