24. Hal Menyenangkan

1525 Kata

Aku mengabaikan senyuman lelaki itu dan memilih menerima telepon dari Gara. Tidak ada yang berubah dari senyumannya, masih sama sejak terakhir kali aku mengingatnya. Mendadak dadaku terasa nyeri, entah kenapa. Salahkah jika aku berpura-pura tidak mengenalnya seperti ini? Atau haruskah aku menyapanya dan mengenalkan diri sebagai Aruna yang mungkin tidak diingatnya lagi. Bahkan aku saja masih ingat dengan benar bagaimana raut wajahnya saat tersenyum. Walaupun tidak bisa dipungkiri lagi jika kerutan-kerutan di wajahnya membuat dia terlihat tua. Wajar saja, bukankah puluhan tahun telah berlalu. Aku tidak tahu sampai kapan akan berpura-pura seperti ini, aku tidak tahu sejauh mana hatiku akan kuat menahan rasa nyeri setiap melihat wajahnya. Apalagi mengingat ternyata dia adalah ayah Amara, aka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN