Aku mendorong tubuh Gara perlahan karena sentuhan bibirnya di leherku membuatku kehilangan akal. Gara mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan yang membuatku salah tingkah. Rasanya begitu aneh, aku sulit sekali untuk menjelaskannya. Bibirnya setengah terbuka, seperti belum selesai dengan apa yang telah dilakukannya padaku tadi. Aku menahan napas, aku pasti sudah nggak waras dan berpikir begitu jauh saat melihat bibir Gara. Karena tidak merokok, warna bibirnya tidak gelap. Bahkan aku rasa warna bibirnya lebih menarik dibanding warna bibirku yang mesti dipoles lipstik agar nggak terlihat pucat. Bibir penuhnya juga dan sangat mengundang serangga tidak tahu diri sepertiku untuk mencicipinya. Entah kenapa aku selalu bertingkah norak setiap dia selesai menciumku. "Rasanya aku tergila-

