"Tenangin diri kamu dulu." Sera menepuk pundakku perlahan. Aku menyeka air mataku yang dari tadi nggak berhenti mengalir. Berkali-kali Sera membujukku dan di saat yang sama, aku kembali menangis. "Aku bukan sedih, Ser. Aku marah kenapa baru sekarang dia mencariku," ujarku untuk kesekian kalinya. Sera mengangguk, mengiyakan perkataanku. Ceritaku yang terbata-bata mungkin sulit dicerna olehnya. Tapi dari tadi dia nggak mendesakku, hanya mendengarkan dan sekali-kali membujukku dengan kata-kata yang begitu lembut. Semenjak menikah dan memiliki anak, Sera memang memiliki kemampuan untuk membujuk seseorang dengan kata-katanya. Katanya kemampuan itu didapatkannya karena terbiasa membujuk suami atau pun anaknya. "Aku tahu apa yang kamu rasain. Ambil waktumu sebanyak mungkin biar kamu tenang. Mau

