11. Kangen

1462 Kata
Kenapa bisa sampai luka-luka gini?" tanyaku saat Gara menggulung celananya sampai ke betis. Tulang keringnya membiru dan beberapa luka lecet terlihat jelas di area kakinya. Sekilas aku juga melihat beberapa sobekan di celana panjangnya. Sebentar, aku harus menenangkan diri dulu. Tarik napas panjang dan tetaplah berkonsentrasi, jangan sedikit pun membalas tatapan matanya apalagi coba mengintip wajahnya. Bersikaplah seperti sedang bersimpati pada tetangga yang mengalami musibah. Semuanya nggak aman buatku. Oh! Rasanya seluruh tubuhku panas dingin dibuatnya. Hah! Aku membuang napas panjang. Setelah melihat wajah kesakitan Gara, akhirnya aku menyerah dan memilih mengikutinya masuk ke rumah. Aruna, kenapa hatimu lemah banget dengan lelaki seperti Gara? Cuma dikedipin sekali aja langsung luluh. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang lain? Atau jangan-jangan aku berharap dia melakukan hal lain padaku. Eh. "Mobilku mendadak mogok tepat di perbatasan Yogya Magelang. Waktu aku turun buat ngecek mobil, tiba-tiba aja disenggol anak remaja yang bawa motor ugal-ugalan," jelasnya. Aku menatap wajahnya yang terlihat kesakitan dan mendadak merasa tidak tega karena melihatnya. "Terus mobil kamu sekarang di mana?" tanyaku. "Sudah di bengkel. Tadi aku telepon orang bengkel buat ambil mobilku." "Bersihin dulu lukanya. Eh...tapi mendingan kamu ganti celana pendek deh," usulku sambil memegang botol cairan antiseptik. Gara mengangguk dan beranjak menuju kamarnya untuk mengganti celananya. Nggak sampai lima menit, dia muncul dengan pakaian yang telah digantinya. Bukan hanya celana, dia juga mengganti bajunya dengan kaos rumahan yang membuat debaran jantungku semakin kuat. Aku menyentuh keningku perlahan, efek melihat Gara dengan kaos rumahan seperti saat ini membuat kepalaku berdenyut-denyut. Aku menyerahkan botol yang berisi cairan antiseptik padanya. Dan di saat yang bersamaan, wajahnya terlihat mengiba. Apa ini bukan obat yang benar? Rasanya aku mengambil stok obatnya di tempat yang benar dan jelas-jelas di label obatnya juga tertulis dengan jelas. “Ini obat yang benar, kan?” tanyaku memastikan. Tanganku masih tergantung saat melihat reaksinya. “Iya,” sahutnya dengan nada bingung. Mungkin dia merasa heran melihatku kebingungan sendiri menatap obat yang sedang berada di tanganku ini. "Bisa bersihin sendiri, kan?" tanyaku. Harusnya aku nggak perlu bertanya, karena sudah jelas dia bisa mengerjakannya sendiri, tangannya nggak cedera kok. Tapi lihatlah, sekarang dia menggelengkan kepalanya seolah-olah sangat nggak berdaya. Kalau Sera yang bersikap demikian, aku pasti sudah mencubit lengannya sampai biru. Kalau yang ini, kasihan juga sudah kakinya biru-biru, masa aku harus membuat badannya juga penuh dengan tanda kebiruan. "Punggungku nyeri, mungkin keseleo. Aku nggak bisa nunduk buat bersihinnya," sahutnya mirip seperti sebuah keluhan. Aku terdiam dan mencari kejujuran dari matanya. Tapi nyatanya aku malah salah tingkah karenanya. "Punggungnya juga memar?" tanyaku. Dia mengangguk mengiyakan. Aku menatap wajahnya sekilas dan buru-buru memalingkan wajah saat tatapan mata kami bertemu. Sebenarnya aku sedang berperang melawan kata hatiku yang nggak mau berdekatan dengannya. Tapi bagaimana ini, tatapan matanya seolah sedang menyihir dan membuatku sungguh nggak berdaya. Aku juga nggak mungkin menolak membersihkan lukanya dengan alasan yang nggak masuk akal, bukan? Yang ada dia malah akan semakin besar kepala saat mendengar alasanku yang tidak mau berada di dekatnya karena merasa sangat berdebar. "Jadi bisa tolong aku?" pintanya dengan wajah memelas. Tenanglah, Aruna. Cuma mengobati lukanya aja nggak bakal terjadi apa-apa. Ini juga pahala buatku karena telah membantu tetangga yang kesusahan. Ingat, digaris bawahi, tetangga. "Bisa," sahutku akhirnya. Gara tersenyum mendengar jawabanku, matanya berbinar seperti tidak sabar menungguku untuk mengobati lukanya. Aku membuang napas perlahan, entah kenapa memgobati luka seperti ini terasa sangat berat buatku. Padahal aku cukup mengolesi lukanya dengan cairan antiseptik, itu saja. Aku memintanya duduk dan meluruskan kakinya di sofa. Keningnya berkerut menahan sakit saat aku mengoleskan cairan antiseptik pada lukanya. "Harusnya tadi kamu ke dokter dulu," kataku sambil terus membersihkan lukanya. Lukanya lumayan banyak dan beberapa di antaranya terlihat cukup serius. Mengoleskan cairan antiseptik hanya sebagai pertolongan pertama, dia harus tetap mendapatkan perawatan agar lukanya tidak infeksi. "Kan, sudah ada kamu," ujarnya seperti sedang menggodaku. Wajahku terasa memanas. Memangnya aku ini siapa? Pengasuhnya? Enak saja! "Besok kamu kerja, kan?" tanyaku mengalihkan perhatian. Trik mengalihkan pembicaraan poin kedua, basa-basi menanyakan pekerjaan. "Ijin dulu deh. Nyeri juga kalau mesti dibawa jalan," sahutnya dengan wajah menahan sakit seolah sengaja menunjukkan padaku jika dia serius mengatakan kakinya terasa sangat nyeri. "Besok aku antarin ke dokter ya. Kalau cuma diobatin gini, takut infeksi. Memarnya juga bahaya kalau nggak diperiksa," tawarku. Kebetulan saudara sepupuku, salah satu anak Tante Maika berprofesi sebagai dokter, aku bisa membawanya ke sana. "Benaran kamu mau antarin?" tanyanya seperti nggak yakin. "Iya, memangnya aku kelihatan lagi bercanda?" Aku serius mau ngantarin tetangga yang baru kecelakaan. "Maksudku, apa nggak ganggu waktu kamu. Siapa tahu besok kamu ada pekerjaan," ujarnya. "Pekerjaannya sore kok, kalau pagi sampai siang waktuku luang." "Kerjaannya sampai malam?" tanyanya dan aku mengangguk mengiyakan. "Apa kamu sering dapat pekerjaan di malam hari?" "Lumayan sering. Acara-acara pernikahan, kan kebanyakan memang di malam hari," sahutku. “Benar juga, waktu nikahan Bia dulu juga malam dan kamu nyetir sendiri di malam yang selarut itu,” timpalnya. "Lain kali kalau acaranya sampai malam, biar aku yang antar jemput kamu ya," katanya dengan wajah serius. "Jangan ... ,"tolakku. Aku nggak bisa dilayani dan sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri. Cuma hal menyetir di malam hari bukan kendala buatku. "Aku sama asistenku kok, kamu nggak perlu khawatir," sambungku "Siapa bilang aku khawatir sama kamu," timpalnya seperti sedang mengejekku. Aku tersenyum masam sambil menekan lukanya lebih keras sehingga Gara mengaduh kesakitan. Rasain! "Tapi aku cemburu karena kamu bareng asistenmu terus," katanya. "Nggak lucu!" ucapku kesal. Gara tertawa sampai tubuhnya terguncang dan menyulitkanku untuk membersihkan lukanya. "Aku benaran khawatir, Aruna. Lain kali pasti aku temanin ya," ucapnya sambil tersenyum. Aku mengerling dan tidak memedulikan ucapannya yang seperti sengaja memancingku untuk salah tingkah. "Aku sudah boleh pulang?" tanyaku setelah yakin semua lukanya telah diobati. "Masih ada yang mau diobati." Gara menahan tanganku. "Sudah semua kok," kataku nggak terima. Sudah melakukan banyak hal, dia masih saja tidak puas dengan apa yang aku lakukan? Awas saja, lain kali aku tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya. "Ada yang kangennya belum keobatin," bisik Gara dengan suara pelan. Mataku membesar, nggak menyangka dia akan mengucapkan kalimat itu dan kontan saja membuat telingaku terasa panas mendengarnya. "Siapa?" tanyaku pura-pura nggak tahu dan terkesan tidak peduli dengan perkataannya. Sungguh sandiwara yang sangat bagus, aku terlihat menjiwai. Gara pasti tidak tahu jika aku sudah hampir pingsan karena perkataannya tadi. Ucapannya norak seperti anak remaja, tapi entah kenapa aku suka mendengarnya. "Pakai tanya lagi." Gara mengulum senyumnya. Oh! Ingin rasanya aku bertanya sudah berapa wanita yang digombalinya seperti ini. Sepertinya dia lumayan berpengalaman. "Siramin pakai ini, pasti bakal sembuh." Aku menyerahkan botol cairan antiseptik padanya. Biar mati sekalian kuman-kuman di otaknya. "Kok?" Wajah Gara terlihat lucu saat mengucapkannya. "Besok kita obatin juga biar sembuh," timpalku. Gara tergelak dan dengan satu gerakan menarikku agar duduk di sebelahnya. “Aku sudah mau pulang. Lukamu sudah diobatin, kan? Kamu harus istirahat sekarang,” ucapku. "Jangan kabur dulu, seenggaknya temani aku sampai pikiranku tenang," katanya. Apanya yang tenang? "Sekarang lagi nggak tenang?" Aku pura-pura memancingnya dengan pertanyaan. "Tentu aja," sahutnya yakin. "Dan kamu penyebabnya," tuduhnya. Aku mengernyit, nggak terima dengan tuduhannya. Lelaki ini seratus persen berbahaya. Hanya mendengar gombalan saja bisa membuatku luluh. "Kamu mulai ngaco deh," sahutku sambil cemberut. Gara tertawa sambil memberi kode agar aku duduk di sebelahnya karena dari tadi aku terus bertahan dengan posisiku walaupun dia telah menarik tanganku. Aku menarik napas dan membiarkan debaran jantungku semakin menggila. Mungkin memang nggak boleh dilawan, lebih baik aku membiarkannya mengalir saja. Akhirnya aku duduk di sebelahnya dengan canggung. Gara terus mengulum senyumnya dan tentu saja membuatku ngeri. Apa yang ada di dalam pikirannya saat ini? "Kamu membuatku takut," kataku sambil menoleh ke arahnya sekilas. "Kenapa? Apa aku terlihat menyeramkan. Aku cuma mau bilang kalau kangen sama kamu, itu aja." "Ya langsung bilang aja, kenapa pakai acara minta diobatin segala. Modus banget," sahutku sambil mengerling ke arahnya. Gara terkekeh lagi dan dengan gerakan pelan menarikku ke pelukannya. “Tapi aku pengen lukaku diobatin sama kamu juga.” Serakah ya jadi orang, semuanya mau. “Diobatin atau kangen?” tanyaku dengan nada galak. "Iya, aku kangen banget." Lihatlah, sudah tahu kakinya sakit, badan memar-memar, masih aja niat banget mau peluk-peluk. Jangan-jangan semua cuma akal-akalannya aja. Apakah kalimat yang seharusnya aku ucapkan untuk menanggapi ucapannya. Sama dong, aku juga kangen. Cih. Apa-apaan itu, bukan Aruna banget. "Aku nggak," sahutku. "Oya? Tapi kok mau aja dipeluk?" godanya dan membuat wajahku memanas. "Sebenarnya aku bisa pulang besok pagi, tapi kupaksain hari ini biar bisa cepat-cepat ketemu kamu," bisiknya dan kontan membuatku merinding. Aku ingin sekali mengakui hal yang sama padanya. Sebenarnya bisa saja aku nggak peduli padanya, terserah deh dia mau kecelakaan atau apa pun yang terjadi. Tapi aku nggak bisa, aku tetap ingin tahu apa yang terjadi padanya, aku malah ingin cepat-cepat bertemu dengannya dan melihat wajahnya. Itu saja sudah cukup. Apa itu artinya aku juga kangen padanya? (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN