12. Yang Disembunyikan

1525 Kata
"Tuh kan sudah aku bilang kemarin, harusnya kamu periksa ke dokter," kataku sambil menoleh sekilas pada Gara yang duduk di sebelahku. Dia duduk dalam diam, hanya sesekali bergumam menjawab ucapanku. "Sama aja mau hari ini atau kemarin," sahutnya dengan suara pelan. Aku mendapatkan Gara sedang menggigil kedinginan saat akan menjemputnya untuk periksa ke dokter. Badannya hangat dan bibirnya memucat. Ini pasti efek luka yang didapatnya kemarin. Dan dengan keras kepalanya tadi dia mengatakan jika tidak perlu repot-repot mengantarnya ke dokter, dia akan bisa sembuh sendiri jika dibawa istirahat. Tentu saja aku nggak setuju dengan perkataannya. Setelah setengah memaksa, akhirnya Gara bersedia ke dokter. "Kalau kemarin kamu belum sampai demam," sahutku. Gara membalas ucapanku dengan bergumam nggak jelas. Dari tadi aku nggak bisa menangkap apa yang sedang dibicarakannya, kadang yang terdengar hanya samar, kadang juga dia mirip orang yang sedang mengantuk. "Aku tidur ya, nanti bangunin kalau sudah sampai." Gara menyandarkan kepalanya di pintu mobil. Wajah Gara yang biasanya bersemangat, kali ini terlihat pucat dan menahan sakit. Aku menarik napas panjang dan menghidupkan mobil. Sebagai tetangga, aku sangat berdedikasi tinggi. Bahkan seumur hidupku aku nggak pernah mendapatkan tetangga yang perhatian seperti yang aku lakukan saat ini. Dan…apa kami masih bisa disebut tetangga jika sudah pernah saling berciuman? Ups. Kurasa tempo hari itu hanya kekhilafan, mungkin karena hormon esterogenku yang lumayan tinggi dan mengakibatkan aku sendiri sulit menahan hasratku. Iya, pasti karena itu. Aku akan membawa Gara ke klinik milik Hans. Hans adalah sepupuku, dia anak bungsu Tante Maika. Hans juga salah satu dokter di kliniknya. Buatku sendiri, rasanya lebih nyaman jika diperiksa oleh yang dikenal karena bisa dengan mudah menjelaskan apa yang sedang dirasakan, apalagi oleh keluarga.Sebagai sepupu, Hans dan aku lumayan dekat karena dia teman bermainku di saat aku masih tinggal di rumah Tante Maika dulu. Gara sepertinya tidak benar-benar tertidur. Sesekali matanya terbuka dan kemudian terpejam lagi. Beberapa kali aku ingin menanyakan keadaannya, tapi urung karena matanya kembali terpejam dan dia terlihat seperti sedang tidur. Dia pasti merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi pada tubuhnya karena tidurnya terlihat tidak nyenyak. "Gara..., sudah sampai," kataku sambil menyentuh lengannya perlahan. Matanya terbuka perlahan dan dia menoleh ke arahku. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulutnya. "Aku bawa kamu ke klinik sepupuku ya," kataku lagi. "Oh iya," sahutnya seperti orang bingung karena baru bangun dari tidur. "Ayo turun," ajakku sambil membuka pintu mobil. Aku menoleh lagi ke arahnya. Jangan bilang kalau dia nggak mampu turun dari mobil. Dia sangat keterlaluan jika memintaku memapahnya. Sepertinya tubuhnya satu setengah kali berat tubuhku, mana mampu aku menahannya. Aku bernapas lega saat Gara turun dengan perlahan dari mobil. "Masih menggigil?" tanyaku sambil berjalan di sebelahnya. Kali ini Gara mengenakan sweater berwarna gelap dan senada dengan celana panjang yang dikenakannya. Walaupun sedang sakit seperti ini, dia tetap terlihat menarik. "Masih. Harusnya dipeluk sama kamu biar hangat," ucapnya dengan nada serius. Aku mengerling ke arahnya. Dia bilang apa tadi? Apa masih bisa diulang? Di tempat umum seperti ini, dengan keadaan tubuh demam, dia masih saja bisa menggodaku. Harus kujuluki apa lelaki yang satu ini? Hobi banget buat aku panas dingin. "Katanya aja sakit, masih aja gombal," kataku kesal agar terlihat tidak peduli. Begitu yang biasa kulakukan saat ada lelaki yang menggodaku. Tapi dengan Gara, aku melakukannya dengan pura-pura, tidak sejalan dengan hatiku yang bersorak dengan hebohnya. Gara terkekeh sambil merengkuh tubuhku. Hawa hangat tubuhnya yang demam terasa menyengat kulitku. Sepertinya demam tidak bisa mengalahkan kegombalannya. "Sepupumu dokter di sini?" tanyanya. Aku mengangguk dan memintanya duduk di kursi panjang tepat di depan loket pendaftaran. Kurang baik apa lagi aku coba, sudah diantarin, ditemanin, sampai dicariin dokter buatnya. Jika sudah seperti ini, aku pasti akan kesulitan menjawab andaikan ada seseorang yang bertanya siapa Gara. Masa masih dijawab sebagai tetangga? Aku sengaja nggak menghubungi Hans secara pribadi dan mendaftarkan nama Gara seperti pasien lainnya. Hans pasti akan heboh jika aku menghubunginya, apalagi aku mengatakan jika bukan aku yang sakit, tapi tetanggaku yang berwujud lelaki tampan. Hans yang sangat tahu bagaimana sikapku pada lelaki pasti akan mencecarku habis-habisan. Bahkan seperti ini saja, bisa kujamin jika memang nanti Hans yang memeriksa Gara, dia pasti akan mengabari ke seluruh keluarga kalau aku bersama seorang lelaki. Padahal belum jelas apa hubunganku dan Gara saat ini. "Masih ada satu pasien. Tunggu aja, kayaknya nggak lama deh," kataku sambil duduk di sebelah Gara. "Kali ini aku benar-benar ngerepotin kamu," ucapnya pelan. Aku menoleh padanya dan memasang wajah serius. "Benar banget," timpalku sambil tertawa kecil. Tentu saja Gara sangat merepotkanku, bagaimana aku bisa mengontrol perasaanku jika dia berada di dekatku terus. Aku benci mengatakan jika wajahnya tetap saja menggoda walaupun sedang sakit seperti ini. Ini sangat merepotkan, bukan? "Sebenarnya aku jarang banget ke dokter, apalagi cuma demam kayak gini," katanya. "Dan aku kebalikannya" sahutku. Mungkin karena kebiasaan dari kecil, yang kalau aku mengeluh sakit sedikit saja, Tante Maika akan segera membawaku ke dokter. Itu juga mungkin yang membuatnya sangat berharap salah satu anaknya menjadi dokter. Dan untung saja Hans bisa mengabulkan keinginannya. "Dulu, jika aku mulai mengeluh nggak enak badan, nggak perlu menunggu lama, Tante Maika pasti langsung membawaku periksa ke dokter," ceritaku. "Mamanya Hans, sepupuku yang dokter di sini," lanjutku karena Gara seperti bingung dengan ceritaku. "Kamu tinggal dengan tantemu dari kecil?" tanya Gara. "Dari umur tujuh tahun," sahutku. "Masa kecilmu pasti berat." Gara menyentuh telapak tanganku. Hawa panas perlahan menjalar ke seluruh tubuhku. "Nggak kok," balasku sambil menoleh ke arahnya. "Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Tante Maika dan Om Beni," lanjutku. Yang membuat hidupku nggak baik adalah dari sikap sinis dari keluargaku yang lain, kadang mereka masih saja suka membicarakan masa lalu kedua orang tuaku. "Namamu sudah dipanggil. Ayo," ajakku segera beranjak dari duduk. Gara mengikuti langkahku, dan masuk ke ruang periksa dokter. "Loh...Mbak Aruna?" Aku bisa menangkap wajah bingung Hans saat melihatku dan Gara masuk ke ruangannya. "Kenapa nggak telepon aja kalau memang mau periksa," ujarnya. "Bukan aku yang sakit, tapi temanku," sahutku. Nggak salah, kan aku menyebut Gara sebagai teman? "Yakin teman?" Nada suara Hans seperti sedang menggodaku. Aku dan Hans memang lumayan dekat, mungkin karena umur kami yang berjarak nggak terlalu jauh. Hans lebih muda tiga tahun dariku. "Oiya, ini Gara. Kemarin dia kecelakaan, ada beberapa luka dan memar di tubuhnya," kataku memperkenalkan Gara pada Hans. "Selain luka dan memar, ada keluhan lain, Mas?" tanya Hans pada Gara. "Cuma demam aja, itu pun baru terasa pagi ini," sahut Gara. Hans kemudian memeriksa tekanan darah Gara dan menanyakan beberapa hal padanya, selayaknya yang biasa dilakukan dokter pada pasiennya. "Sepertinya nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku resepin antibiotik dan anti nyeri ya. Buat lukanya dijaga kebersihannya aja," kata Hans sambil menuliskan resep obat untuk Gara. "Kalau gitu kami pamit dulu ya," ujarku. "Jangan sungkan hubungin aku kalau ada apa-apa," balas Hans. Aku dan Gara beranjak meninggalkan Hans. "Mbak Aruna, sebentar...!" Hans tiba-tiba memanggilku. "Ada apa?" tanyaku bingung dan dia memberikan kode ingin bicara berdua saja denganku. Apa dia begitu penasarannya pada Gara sehingga nggak bisa menunggu lebih lama lagi? "Kamu bisa ambil obat sendiri di apotek, kan? Setelah itu tunggu aku di mobil aja. Aku nggak lama kok, kayaknya ada hal penting yang mau dibicarakan Hans berdua saja denganku." Aku memberikan kunci mobilku pada Gara. Dia mengangguk dan beranjak meninggalkanku. "Kenapa nggak nanti ditelepon aja," kataku setelah Gara pergi. Melihat wajahnya yang terlihat penasaran saat melihat Gara, bisa aku pastikan dia memang ingin bertanya padaku tentang Gara. Setelah itu mulut embernya akan menyebarkan ke seluruh keluarga jika Aruna yang masih lajang ini sudah memiliki pacar. Dan pecahlah sudah berita itu di seantero keluargaku yang nggak pernah senang dengan status lajangku. "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyaku kembali duduk di hadapannya. "Apa Mbak kemarin ke rumah Mama?" tanyanya. Keningku berkerut, jadi bukan tentang Gara. Tapi apa hubungannya dengan kedatanganku ke rumah Tante Maika? "Iya, memangnya kenapa?" "Mama sudah cerita ke Mbak?" tanyanya dan lagi-lagi membuatku bertambah bingung. Cerita apa? Tante Maika nggak ada bercerita hal penting padaku. Kalau pun ada, sepertinya nggak ada hubungannya denganku karena Tante Maika hanya bergosip seputar tetangga kompleks rumahnya denganku. Apa ada salah satu dari cerita itu yang lolos dari pendengaranku? Rasanya nggak ada sih. "Cerita apa sih, Hans?" Aku mengernyit melihat wajah serius Hans. Biasanya dia tidak pernah seperti ini saat bicara padaku. Jangan-jangan dia mau minta ijin melangkahiku untuk menikah. Awas saja jika benar, dia harus membelikan barang mewah buatku baru boleh menikah. "Kamu mau nikah?" tebakku asal. "Nggak Mbak! Ini lebih penting dari tebakan ngawur Mbak itu," balasnya seperti sedang menahan tawa tapi karena kali ini dia terlihat serius, aku tidak jadi menggodanya lagi. "Aku nggak tahu kenapa Mama belum cerita atau mungkin dia memang nggak mau cerita ke Mbak. Tapi kalau aku sendiri, Mbak Aruna harus tahu hal ini dan nggak boleh ditutup-tutupi lagi," ujarnya. Seketika aku langsung merinding mendengar suara Hans yang begitu serius. Nggak boleh ditutupi? Apa ada rahasia yang Tante Maika sembunyikan dariku? Seumur hidupku tinggal bersamanya, Tante Maika memang kerap menyembunyikan banyak hal dariku dengan alasan ingin menjaga perasaanku. Ah! Aku tidak mau lagi mengingat apa saja yang pernah Tante Maika sembunyikan dariku. "Minggu lalu Papa Mbak Aruna datang ke rumah dan mencari Mbak." (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN