Aku melangkah pelan menuju parkiran. Kakiku bergetar dengan hebat. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Sudah lama aku tidak pernah mendengar kabar tentang orang itu, atau lebih tepatnya menulikan telingaku dan nggak mau tahu lagi apa pun tentangnya. Rasanya nyawaku seperti akan dicabut dengan tiba-tiba saat Hans menyebutkan nama orang itu. Kenapa aku seperti ini? Puluhan tahun berlalu, ternyata aku masih tidak bisa tenang walau hanya mendengar namanya.
Kenapa kali ini dia datang dan mencariku? Aku pikir dengan tidak ada lagi kabar tentangnya selama puluhan tahun, itu artinya dia sudah mati. Tidak cukupkah luka yang ditinggalkannya.
Aku menarik napas dengan susah payah, karena terasa sesak setiap kali bayang wajahnya terlintas di kepalaku. Sudah puluhan tahun berlalu, wajah yang terekam di kepalaku masih sosok yang sama. Sosok yang pernah membuat hidupku begitu terpuruk.
Tarikan napasku mulai tidak teratur. Kilasan kejadian di masa lalu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat.
Hari itu yang kuingat sebagai perayaan ulang tahunku yang ke tujuh. Mama mendadak menghilang, tidak ada di mana pun. Padahal Mama sudah menjanjikan acara ulang tahun yang meriah padaku. Sampai malam menjelang, keberadaan Mama tidak kuketahui sampai rumahku mendadak ramai oleh orang-orang. Awalnya aku mengira mereka akan merayakan ulang tahunku, tapi kenapa semuanya berwajah murung. Bahkan Tante Maika terus-menerus menangis sambil memelukku. Di umurku yang masih terlalu muda, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, hari itu adalah ulang tahunku dan aku akan tetap menunggu Mama dan Papa datang dan merayakannya.
Aku baru sadar keesokan harinya, saat bangun dari tidur dan Mama tidak berada di sisiku. Padahal biasanya Mama selalu tidur bersamaku karena Papa jarang berada di rumah. Tante Maika terus menangis tanpa henti dan aku menatap keanehan yang terjadi di sekelilingku dalam diam.
Tangisku pecah saat orang-orang membawa pulang Mama yang terlihat tertidur dan tidak bergeming walaupun telah kupanggil-panggil. Tangisku semakin histeris saat Tante Maika bilang Mama telah pergi meninggalkanku. Bagaimana bisa Mama begitu tega padaku? Bagaimana bisa Mama meninggalkanku di hari ulang tahunku. Dan ke mana perginya Papa? Kenapa semua orang meninggalkanku?
"Aruna ... Aruna!" Aku tersentak kaget saat pundakku di tepuk perlahan.
"Oh ...! Aku tadi kebingungan cari mobilku," kilahku sambil mengedarkan mataku dengan wajah bingung. Ah! Kenapa ada Gara yang melihatku dengan keadaan yang seperti ini?
"Kamu melamun tepat di depan mobilmu sendiri," ujarnya. Sekali lagi aku melihat sekelilingku dan benar yang dikatakan Gara jika saat ini aku sedang berdiri tepat di depan mobilku sendiri. Aku beranjak dan masuk ke mobilku dengan perasaan bingung. Pikiranku terasa kosong.
"Kamu kenapa?" tanya Gara. Aku menggeleng dan pura-pura mencari kunci mobilku.
"Kuncinya ada di situ. Apa kamu sakit?" tanyanya lagi.
"Eh ... nggak. Aku nggak apa-apa," jawabku dengan suara bergetar. Gara memicingkan matanya sambil terus menatapku.
“Kita bisa kembali ke dalam buat periksa kalau kamu merasa nggak enak badan,” tawarnya. Aku menggelang, tetap pada pendirianku karena tidak terjadi apa-apa padaku. Hanya perasaanku saja yang terasa tidak nyaman.
"Aku aja yang bawa mobilnya," ujarnya.
"Kamu, kan masih sakit. Aku nggak apa-apa, kok," sahutku bersikeras pada pendirianku jika harus aku yang membawa mobil, bukan Gara.
"Panasnya sudah turun kok. Tadi aku sudah minum obatnya sambil nunggu kamu datang dan sekarang sudah lebih baik," katanya. Aku menggeleng dan dengan tanganku yang gemetar berusaha menyalakan mobil. Tenanglah, Aruna. Gara nggak boleh tahu apa yang sedang terjadi padaku.
"Aruna! Kamu kenapa?" Pertanyaan Gara terdengar seperti sebuah bentakan karena diucapkannya dengan suara nyaring. Aku mengusap wajahku perlahan. Gila! Bahkan wajahnya nggak mau hilang dari pikiranku. Wajah lelaki yang pernah menghancurkan hidupku dan Mama.
"I' m ok," ucapku dengan suara pelan.
"No, you're not ok," balasnya dengan nada suara meninggi. Aku menoleh perlahan ke arah Gara dan pada saat yang bersamaan tangisku nggak bisa ditahan lagi. Aku menggigit bibirku dan berusaha keras menghentikan tangisanku.
"Astaga Aruna! Ada apa?" Aku merasakan Gara menarik kepalaku ke dadanya. Pelukannya terhalang oleh persneling mobil. Tapi dia tetap merengkuh pundakku.
Tangisku tak mau berhenti, aku seperti meluapkan semuanya. Aku bahkan nggak peduli lagi apa yang dipikirkan Gara melihat keadaanku yang aneh ini. Sudah lama aku nggak menangis sebebas ini, rasanya sudah bertahun-tahun berlalu sejak tangis terakhirku. Air mataku terus mengalir, meluapkan emosi yang terpendam begitu lama. Beberapa kali aku ingin menghentikan tangisku, tapi tak kunjung bisa kulakukan. Sepertinya begitu banyak kemarahan yang tersimpan di pikiranku dan dengan menangis semuanya terasa lebih lega.
"Sudah lebih baik?" tanya Gara setelah hampir lima belas menit aku menangis di pelukannya, dia mengelus punggungku perlahan. Aku mengerjapkan mata dan menatap bercak tangisanku di baju kaos yang digunakannya.
"Maaf," ucapku sambil mendorong tubuhku menjauh dan menyeka bekas air mataku. Saat tangisku reda, aku baru merasa malu saat menatap wajahnya. Dengan cepat aku menghapus sisa air mataku dan berpikir dengan keras apa yang harus aku jelaskan pada Gara dia menanyakan alasanku menangis tiba-tiba.
"Mau berbagi?" tanyanya kemudian. Aku menatap wajahnya dengan bingung. Setelah menangis cukup lama, rasanya kepalaku sedikit pusing dan tenggorokanku kering.
"Nggak apa-apa kalau kamu keberatan. Kita tukar tempat ya, aku aja yang bawa mobil," kata Gara lagi karena aku hanya terdiam sambil menatapnya. Saat ini aku belum bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Gara. Aku belum siap Gara akan memikirkan hal buruk tentang masa laluku. Apakah keadaannya masih akan sama jika aku menceritakan bagaimana yang terjadi di masa laluku, apa dia masih bisa menggodaku seperti yang biasa dilakukannya jika dia tahu cerita dibalik tangisanku tadi?
Aku turun dari mobil tanpa bicara setelah Gara memaksa jika dialah yang akan membawa mobilku. Aku kemudian membiarkan Gara mengambil alih kemudi. Lagi pula saat ini aku memang nggak bisa berkonsentrasi efek dari menangis cukup lama tadi.
Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil dengan tubuh lemah, persis seperti yang dilakukan Gara tadi. Harusnya aku bisa mengontrol emosiku saat sedang bersama Gara. Dia masih asing buatku dan nggak bakal mengerti apa yang terjadi padaku. Sera saja yang sangat dekat denganku dan sudah bersama denganku hampir seumur hidupku, kadang tidak mengerti dengan sifatku yang sering berubah-ubah. Jika sudah seperti itu, aku dan Sera akan saling mendiamkan untuk beberapa waktu. Dan kali ini aku tidak mungkin meminta Gara mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Seharusnya aku yang bisa menahan diriku dan tidak menangis di hadapannya. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur melakukannya. Saat ini yang harus aku lakukan adalah mengarang alasan pada Gara.
Gara menyentuh telapak tanganku perlahan sebelum dia menyalakan mobil. Aku menoleh padanya setelah yakin wajahku sudah lebih baik, tidak bersimbah air mata lagi. Harusnya aku malu karena Gara sudah melihat bagaimana jeleknya aku saat menangis tadi. Dan dandanku pagi ini juga nggak nggak ada gunanya lagi karena telah luntur bersama air mataku.
"Aku masih bisa bawa mobil kok. Kakimu yang memar nggak apa-apa?" tanyaku setelah beberapa kali menarik napas panjang. Aku ini memang sangat keras kepala, sudah jelas Gara telah berada di kursi pengemudi, kenapa aku masih meminta membawa mobil lagi. Tapi sepertinya ini salah satu cara agar Gara tidak bertanya apa-apa padaku lagi.
"Cuma memar, nggak apa-apa kok," sahutnya sambil tersenyum.
Aku menyandarkan kepalaku di sandaran jok mobil sambil menatap jalan di depanku. Waktu berlalu begitu cepat, aku kira lelaki itu nggak bakal mencariku karena sepertinya dia sudah bahagia dan tidak membutuhkanku. Tapi kenapa mendadak dia muncul lagi di hidupku yang sudah baik ini?
Bagaimana sosoknya sekarang? Sudah bertambah tuakah dia? Merasa bersalahkan dia karena telah menelantarkan selama ini? Ah! Menyebalkan! Kenapa aku mengingat dia lagi!
"Aruna." Tangan Gara tiba-tiba menyentuh lenganku perlahan. Aku tersentak karena terkejut dengan sentuhan tangannya. Di saat yang normal, wajahku pasti akan merona merah karena sentuhan tangannya, tapi kali ini tidak. Ketakutanku pada orang itu lebih besar daripada sekadar memikirkan sentuhan tangan Gara.
"Sudah sampai," ucapnya. Aku mengedarkan mataku. Gara telah memarkirkan mobilku di garasi rumahnya, garasi yang untuk sementara ini menjadi garasi milikku juga.
"Masuklah ke dalam," katanya lagi.
"Kamu juga, istirahat biar cepat sembuh. Maaf buat hari ini," kataku penuh penyesalan. Gara menepuk kepalaku perlahan. Harusnya aku yang menghiburnya karena sakitnya tapi kali ini malah aku yang nggak ada masalah apa-apa harus mendapat perhatian darinya.
"Kamu tahu, aku bakal ada kapan pun kalau kamu butuh bantuan." Dia menatap mataku penuh perhatian dan kubalas dengan anggukan. Aku percaya dengan ucapannya tapi mungkin kali ini belum saatnya, aku belum percaya padanya. Kami turun dari mobil setelah Gara menyerahkan kunci mobil padaku.
Tanpa menoleh lagi, aku segera masuk ke dalam rumah. Napasku kembali terasa sesak saat pintu tertutup. Begitu banyak kenanganku dan Mama di rumah ini. Entah kenapa hari ini aku begitu merindukannya. Menatap rumah ini juga mengingatkanku pada sosok lelaki itu, lelaki yang kata Hans mencariku. Rumah ini dulu terasa begitu hangat, walau hanya ada kami bertiga, tapi rasanya begitu menyenangkan.
Aku terduduk di samping pintu dengan menahan rasa sesak di dadaku. Oh! Tidak! Aku nggak boleh menangis lagi. Biasanya aku kuat, biasanya aku nggak pernah cengeng seperti ini. Mungkin sebaiknya aku jangan berada di dalam rumah ini dulu, semua kenangan di rumah ini membuatku merasa sedih.
Mendadak punggungku terasa hangat. Aku menoleh dan mendapatkan Gara sedang mendekapku dari belakang. Wajahku basah oleh air mata, dia mengusapnya perlahan dan memutar tubuhku sehingga saat ini wajahku tenggelam di balik pelukannya.
"Everything will be ok, Aruna," bisiknya di telingaku. Baru hari ini aku menyadari, betapa beruntungnya aku karena bisa mengenalnya. (*)