14. Seperti Remaja

1508 Kata
"Merasa lebih baik?" Suara Gara terdengar samar. Aku membuka mataku perlahan, sedikit terkejut karena Gara tiba-tiba sudah berada di rumahku. Berada di pelukannya terasa begitu nyaman dan membuatku enggan untuk mengakhirinya. Suhu tubuhnya yang masih terasa hangat malah membuatku begitu terlena. Rasanya seperti ada beban yang terlepas dari pikiranku, aku merasa sangat lega saat tangan Gara mengelus punggungku dengan perlahan. Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja Gara sudah membawaku ke pelukannya. Aku bersandar di dadanya dengan perasaan aneh yang nggak bisa kujelaskan. Ada rasa lega, grogi, dan nyaman. Saat tersadar aku kemudian menyembunyikan wajahku di dadanya. Kali ini wajahku pasti sudah memerah karena merasa sangat malu. Lagi-lagi aku nggak bisa mengontrol diriku saat sedang bersamanya. Aku mendorong tubuhku perlahan, agar tidak terjerumus lebih dalam lagi. Tapi Gara mengeratkan lengannya yang berada di punggungku. Dia selalu tahu kelemahanku. Dia saat aku sudah berjuang keras melawan pesonanya, dia akan mengacaukannya. Dia mungkin tahu jika aku sangat menyukai interaksi yang sedang terjadi saat ini. Wajah memerahku tidak mungkin bisa berbohong "Apa yang terjadi tadi?" tanyanya. Tidak ada nada memaksa dari pertanyaannya. Aku menengadah dan mendapatkan matanya menatapku penuh rasa khawatir. Aku menahan napasku dan berharap kali ini bisa berbohong padanya tentang keadaanku tapi melihat matanya yang penuh rasa khawatir, aku tidak yakin bisa melakukannya. "Sedikit kabar buruk," sahutku dengan suara serak khas orang baru selesai menangis. Itu kalimat yang aku temukan setelah lama mencari kata-kata yang pas. Apa yang aku dengar bisa dikatakan kabar buruk, kan? Karena saat ini apa pun yang berhubungan dengan lelaki itu adalah hal buruk buatku. "Sedikit?" tanyanya bingung. "Ada ya istilah sedikit buat kabar buruk?" Dia terkekeh seolah sedang mencairkan suasana yang terasa canggung. “Tentu aja cuma sedikit, jika banyak aku pasti akan menangis lebih parah dari ini,” sahutku sekenanya. Gara tertawa kecil sambil menatapku penuh perhatian. Dan jujur saja aku merasa sangat grogi kali ini. Perasaan marah dan kesalku berganti dengan rasa aneh yang menguasai seluruh pikiranku, rasa aneh karena lelaki yang berada di hadapanku saat ini. Aku menarik napas panjang sambil meyakinkan hati jika Gara pantas mendengar ceritaku. Sejujurnya aku tidak pernah berbagi tentang cerita di masa laluku dengan lelaki-lelaki yang dekat denganku. "Apa yang bakal kamu lakuin jika suatu hari nanti mantan istrimu... , maksudku mamanya Nala tiba-tiba muncul kembali di kehidupanmu," kataku tiba-tiba. Kening Gara semakin berkerut. Aku tahu perumpamaan seperti apa yang bisa aku katakan untuk memulai ceritaku. Mungkin nggak seharusnya aku bertanya hal sensitif seperti ini padanya. "Ya nggak gimana-gimana, biasa aja. Lagi pula dia cuma masa laluku," sahut Gara tenang. Aku menatap ke arahnya dengan wajah bingung, semudah itu dia mengatakannya? Sedangkan aku saja sampai saat ini masih merasakan sakit hati yang begitu dalam saat mengingat sosoknya. "Tapi ... apa hubungannya ini semua?" lanjutnya. Aku menarik napas panjang sehingga membuat wajah Gara semakin penasaran. Tentu saja tidak ada hubungannya,aku bahkan tidak mengenal siapa mantan istri Gara. Ini hanya perumpamaan agar Gara bisa mengerti apa yang aku rasakan. Aku menarik napas panjang saat mencoba memulai ceritaku pada Gara. "Kata Hans, papaku datang dan mencariku," ucapku dengan suara pelan, "Papamu? Bukannya kamu pernah cerita kalau orang tuamu sudah nggak ada?" tanya Gara bingung. "Mamaku meninggal saat umurku tujuh tahun dan di saat yang bersamaan papaku menghilang entah ke mana. Karena itu aku beranggapan jika dia juga sudah nggak ada lagi di dunia ini," kataku sambil menerawang. "Maaf," ucap Gara sambil mengelus punggung tanganku perlahan. "Apa aku juga harus menganggap kedatangannya kali ini biasa aja, karena dia cuma masa laluku?" tanyaku dengan suara bergetar. "Aruna, dia bukan masa lalumu. Mau sampai kapan pun, dia tetap papamu," timpal Gara. "Walaupun dialah yang menyebabkan kematian Mama?" Mataku mengerjap dan membuat satu titik air mata lolos dari kelopak mataku. "Mama mengakhiri hidupnya saat tahu Papa telah mengkhianatinya." Suaraku hampir tak terdengar saat menceritakan tentang orang tuaku. Aku sedih karena mengingat kembali kejadian puluhan tahun yang lalu, tapi juga merasa lega karena telah berbagi dengan Gara. Pelukannya terasa hangat dan membuat debar jantungku berpacu cepat. "Maaf, aku nggak tahu soal itu," ucapnya penuh penyesalan. Dia kemudian menatapku penuh perhatian seolah meyakinkan aku jika semuanya akan baik-baik saja. "Kamu beruntung karena aku berbagi cerita ini denganmu karena nggak biasanya aku seperti itu," kataku sambil berusaha tersenyum. "Aku pendengar yang baik jadi jangan sungkan untuk bercerita padaku," balasnya sambil menghapus sisa air mataku. "Tenangin dirimu dulu, aku bakal selalu ada kapan pun kamu mau berbagi," lanjutnya. "Aku tahu, semua ini pasti berat buatmu. Tapi aku yakin kamu pasti kuat lebih dari yang kamu kira." Gara mengecup keningku sekilas sampai seluruh wajahku terasa panas karena perbuatannya. Aku rasa kali ini demamnya telah berpindah ke tubuhku. "Apa kamu selalu begini dengan setiap wanita?" tanyaku sambil menengadah menatap matanya. Matanya mengernyit, selang beberapa detik kemudian dia menatapku tajam. "Maksudnya?" "Apa kamu seperhatian ini dengan setiap wanita?" tanyaku lagi. Gara mengangkat bahunya, seolah pertanyaanku nggak terlalu penting untuk dijawabnya. "Cuma wanita yang dekat aja," sahutnya. Aku tersenyum masam sambil membayangkan adegan Gara sedang memeluk wanita lain yang katanya dekat dengannya. Lelaki seperti Gara memang terlihat mudah untuk menaklukan wanita. Lihat saja apa yang dilakukannya padaku, awalnya aku bilang nggak akan tertarik tapi dalam waktu singkat dia berhasil membuatku salah tingkah seperti ini. Apalagi bertahun-tahun dia hidup dalam kebebasan, tanpa ada ikatan pernikahan lagi. Dia pasti perayu handal. "Banyak dong, ya," cetusku tanpa sadar. "Ng... , nggak ingat," sahutnya sambil menerawang seperti sedang memikirkan hal penting. Selang beberapa saat kemudian, dia terkekeh. Sial! Sepertinya aku lagi berhadapan dengan playboy kelas kakap. "Sepuluh? Dua puluh? Tiga puluh?" tanyaku mulai nggak sabaran. Gara tertawa sambil mengacak rambutku. "Sebanyak itu? Ya nggaklah. Paling masih bisa dihitung dengan jari." Dia tersenyum sambil menatapku. Aku memalingkan wajahku jengah. Sepertinya dia sedang menjebakku. Dia pasti merasa bangga karena aku terlihat begitu khawatir. Berpikirlah dengan jernih, Aruna. Nggak ada namanya saling cemburu antar tetangga. Nggak ada! "I hope you're jealous," bisiknya sambil tertawa pelan. Sial! "Setelah bercerai, aku memang pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita. Tapi ya, cuma sebatas teman dekat, nggak lebih," jelasnya. "Seperti hubungan kita saat ini?" Potongku sebelum dia melanjutkan bicaranya. "Kalau teman dekat, kan boleh punya lebih dari satu," lanjutku dan kali ini aku berhasil melepaskan diri dari pelukannya. Katakanlah kali ini aku sangat norak, seperti gadis remaja yang ngambek dan minta diperhatikan. Tapi jujur seperti itu yang kurasakan saat ini. Aku mengusap mataku yang masih terasa basah dengan perlahan. Sepertinya keadaanku sudah mulai membaik, nggak sesedih tadi lagi. Pikiranku tentang sosok Papa juga sudah perlahan menghilang. Setidaknya Gara berhasil membuatku merasa lebih baik. Walaupun sekarang dia mengacaukan sisi lain dari hatiku. "Siapa bilang kamu cuma teman dekat?" Gara mendekat dan menarikku mendekat. Apalagi kalau bukan teman dekat? Apa dia ingin mengatakan jika aku hanya tetangga dekatnya, seperti julukanku untuknya? Tuh, akhirnya dapat balasannya juga karena aku sering sekali menyakinkan diriku jika dia hanya sosok tetangga buatku, bukan siapa-siapa. "Sana pulang. Kayaknya kamu mesti tidur biar obatnya bekerja," kataku mengalihkan pembicaraan. Gara tertawa seperti ada yang lucu dari ucapanku. "Apa aku juga harus pulang kalau ternyata obatnya ada di sini?" Wajahku memanas setelah Gara menyelesaikan kalimatnya. Ini norak! Senorak ABG yang lagi nembak cewek. Tapi kenapa aku malah jadi salah tingkah? Aku jadi malu memikirkan berapa usiaku saat ini? Dan kenapa kenorakan Gara malah menjadi hal yang begitu aku tunggu-tunggu. "Aku khawatir kalau ada hal buruk yang terjadi sama kamu. Pikiranku nggak tenang kalau kamu sedih seperti ini. Kadang aku juga gelisah kalau sehari aja nggak bertemu denganmu. Apa ada teman dekat yang seperti itu?" Tentu saja ada, kadang aku juga bersikap seperti itu pada Sera. Kadang, nggak sering. Lebih sering aku nggak peduli dengan apa yang terjadi padanya, apalagi saat ini dia sudah memiliki suami yang bisa kapan saja mendengarkan keluh kesahnya. Jika dia mencariku karena sebuah masalah, besar kemungkinan jika dia sedang bertengkar dengan suaminya. "Kamu norak!" cetusku sambil mendorong tubuhnya. Gara tertawa lagi sambil berusaha menahan tubuhku yang menjauh. "Jadi, mulai saat ini jika ada yang membuatmu sedih, aku orang pertama yang harus tahu," katanya. Mataku memanas. Kali ini bukan karena sedih, tapi rasa haru yang begitu kuat membuatku nggak bisa mencegah air mataku. "Kalau lagi kayak gini, kamu mirip Nala." Dia mengusap air mataku perlahan dan kubalas dengan mencemberutkan wajahku. "Kamu menggemaskan," ujarnya sambil mendekatkan wajahnya padaku. Lagi-lagi aku nggak habis pikir dengan pemilihan kalimatnya. Menggemaskan? Memangnya dia pikir aku ini anak kecil? Sebelum aku sempat membalas ucapannya, dia mencium sudut bibirku perlahan. "I love you, Aruna," bisiknya kemudian. Aku mematung seperti orang linglung. Ucapan sarat akan cinta itu sudah lama nggak pernah tertangkap oleh indra pendengaranku. Hanya anak-anak remaja yang saat ini masih mengatakan perasaan mereka dengan cara yang lugas seperti itu. Atau apa aku yang salah karena selama ini tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki secara serius? Terakhir aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki, dia hanya mengatakan kalau aku ini tipenya dan kami pun memulai hubungan seperti layaknya orang pacaran. Sesederhana itu dan sama sekali nggak berkesan. Putus begitu saja tanpa ada drama apa pun. Aku memberanikan diri menatap matanya dan sorot matanya yang terlihat serius membuatku salah tingkah. Percayakah aku dengan apa yang diucapkannya padaku? (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN