15. Apakah Sama?

1521 Kata
"Ini sudah malam banget," keluh Gara saat aku masuk ke dalam mobil. Aku memang nggak meminta Gara untuk menjemputku setelah pekerjaanku selesai. Tapi dia bersikeras jika aku nggak boleh pulang sendiri. Padahal sudah jelas ada Hayu dan Lian yang menemani. Berprofesi sebagai make up artist seperti ini sudah membuatku terbiasa pergi di pagi buta dan pulang saat malam telah larut. Nggak ada keluhan yang aku rasakan karena semuanya terasa menyenangkan buatku. "Baru jam sebelas malam," timpalku sambil menutup pintu mobil. Hayu dan Lian yang duduk di belakang juga melakukan hal yang sama. Wajah Hayu dan Lian terlihat kebingungan. Tidak biasanya ada lelaki yang mengantar dan menjemputku seperti ini. Aku yakin, dari tadi sore waktu dijemput Gara, mereka pasti berpikir dengan keras siapa sebenarnya sosok lelaki ini. Walaupun sebenarnya mereka pernah sekali bertemu saat acara pernikahan Bia yang lalu. "Kalian sudah biasa pulang jam segini?" Kali ini Gara menoleh ke belakang, mengajak Hayu dan Lian ngobrol. "Kadang aja, Om," sahut Lian dan disambut tawa kerasku. Rasain dipanggil Om! Aku menoleh sekilas pada Gara dan disambut senyum masamnya. "Mas, maksudnya." Lian mengoreksi ucapannya sambil nyengir. Sepertinya dia salah tingkah karena tiba-tiba diajak ngobrol oleh Gara. "Nggak apa-apa panggil Om juga. Biar kerasa tuanya," timpalku sambil mengerling ke arahnya. Gara tertawa pelan saat mendengar ucapanku. "Maaf, Mas. Tadi aku pikir Omnya Mbak Aruna yang jemput. Gelap sih," ucap Lian penuh sesal. Om Beni memang biasa menjemputku ditemani Tante Maika. Biasanya jika ada acara di rumah Tante Maika keesokan harinya. "Nggak pernah ada yang jemput Aruna lagi?" tanya Gara. Bicaranya seperti basa-basi, tapi aku tahu apa maksud pertanyaannya. Dia pasti ingin memastikan apa ada lelaki lain selain dirinya yang pernah menjemputku. "Nggak ada deh. Ya, kan Hayu?" tanyanya memastikan. Andaikan ada pun, mereka berdua pasti tidak akan mengatakannya pada Gara. Karena Hayu dan Lian selalu bisa kuajak bekerja sama jika menyangkut hal yang seperti ini. "Mbak Aruna lebih suka bawa mobil sendiri, jadi kami berdua juga bisa dijemput dan diantar," jelas Hayu. Aku bisa menangkap senyum samar di wajahnya. Dia pasti merasa bangga karena berhasil memaksaku agar diantar dan dijemput olehnya. Padahal aku sudah berkali-kali menolak tawarannya karena merasa kasihan padanya. Dia baru saja sembuh dari demamnya dan sudah mengantar dan menjemputku seperti ini. "Apa kalian sudah makan? Mau singgah makan dulu?" tanyanya kemudian. "Nggak usah, Mas. Kami sudah makan di resepsi tadi," sahut Lian. "Kalau gitu kita langsung pulang," ucapnya. Gara membawa mobilku membelah jalan Yogya dengan kecepatan sedang. Mobil Gara masih berada di bengkel dan sepertinya mengalami kerusakan yang lumayan parah sehingga butuh waktu yang lama untuk diperbaiki. "Mau ke mana lagi?" tanya Gara padaku. “Memang ke mana lagi?" tanyaku bingung setelah menurunkan Hayu dan Lian di kost mereka. Malam sudah sangat larut, dan aku tidak memiliki rencana ingin ke suatu tempat di malam yang sangat larut ini. "Mungkin sebaiknya aku cari rumah baru aja ya," cetusnya tiba-tiba. "Kenapa? Nggak betah?" "Betah banget malah," sahutnya sambil tersenyum menggoda. Aku buru-buru memalingkan wajah karena mendadak wajahku memanas menatap senyumnya. Tentu saja dia sangat betah karena mendapat tetangga yang seperti aku, butuh sesuatu tinggal ke sebelah aja. "Terus kenapa?" tanyaku penasaran "Nggak enak dilihatin tetangga tiap hari aku ke rumahmu terus," sahutnya. Aku tertawa geli setelah mendengar ucapannya. Harusnya dia sudah memikirkan hal ini di hari pertamanya pindah ke sebelah rumahku. "Lagian kamu ke rumahku kayak minum obat aja. Ada aja nanti waktunya kita digerebek sama warga," ujarku dengan wajah serius. "Ngaco." Dia mengacak rambutku perlahan. "Lain kali aku lewat pintu belakang aja ya kalau ke rumahmu." Aku menoleh ke arahnya dan dibalas dengan senyum usilnya. Kali ini aku yakin dia pasti sedang menggodaku. "Aku serius, Aruna. Kamu harus nyiapin jalur khusus buatku karena aku memang bakal sering banget ke rumahmu," lanjutnya. Aku tergelak sambil mencubit lengannya perlahan. "Demamnya sudah berkurang?" tanyaku sambil telapak tanganku menyentuh lengannya yang sedang memegang persneling mobil. Maksudku hanya ingin basa-basi bertanya, tapi anehnya tanganku tidak mau berkompromi dan malah menyentuh lengannya. Sebenarnya aku juga senang sih, cuma lagi-lagi aku ingin menertawakan diriku sendiri. Berdua dengan Gara seperti ini, rasanya aku menemukan sosok lain dari diriku, sosok manja dan malu-maluin. Entah hilang ke mana Aruna yang dingin dan cuek itu. "Sudah sembuh malah, tinggal lecet-lecetnya aja." Gara membalas sentuhan tanganku dengan menggenggamnya erat. Oke, tenanglah hatiku yang lemah ini. Jangan berlaku norak dan membuat suasana yang terasa romantis ini jadi rusak. Aku berusaha bernafas dengan normal agar Gara tahu jika aku sudah biasa dengan genggaman tangannya, bahwa genggaman tangannya nggak berpengaruh apa pun buatku. "Kita mutar Yogya sebentar ya," pinta Gara. Permintaannya terdengar membingungkan, seperti ada maksud terselubung. “Mutarnya sampai mana dulu?” ledekku. Jika dia benar-benar memutar jalan Yogya, mungkin kami akan bermalam di jalan. “Mutar yang dekat-dekat aja, siapa tahu ada hal menarik,” sahutnya. Hening beberapa saat dan tidak ada pembicaraan di antara kami. Dalam suasana diam itu, aku masih berusaha mencuri pandang ke arahnya. Walaupun hanya dengan cahaya yang remang-remang, tapi wajah seriusnya membuatku berdebar. Aku tidak suka dengan apa yang aku lakukan ini karena entah kenapa aku merasa jika kali ini akulah yang terlalu berambisi pada Gara. Dan lagi-lagi aku membandingkannya dengan hubunganku sebelumnya. Aku tidak pernah mengejar lelaki, kadang aku malah merasa bisa hidup tanpa lelaki. Pengalaman buruk masa laluku membuatku tidak begitu percaya pada sosok lelaki. Jika ada seorang lelaki yang menawarkan hubungan padaku, aku akan menanggapinya dengan dingin seolah memang sudah seperti itu seharusnya. Ketakutan selalu menghampiriku saat berhubungan dengan seorang lelaki. Apa semua lelaki sama? Apa mereka akan seperti papa, meninggalkan mama demi wanita lain? Apa mereka akan menyakitiku dengan cara yang sama, seperti yang papa lakukan pada mama? Apa mereka akan membohongiku, seperti halnya papa yang membuat mama mengakhiri hidup karena kebohongannya? Aku menarik napas panjang dan sekali lagi menoleh pada lelaki di sebelahku ini. Ada yang berbeda di setiap interaksi kami. Dia lelaki baik, tapi entahlah untuk saat ini aku belum berani memastikan apa dia tidak sama seperti anggapanku pada semua lelaki semua ini? "Aku masih kangen sama kamu. Pengennya mampir ke rumahmu, tapi hari sudah larut," lanjutnya dan kontan membuat wajahku memanas karena perkataannya. Untuk hal ini saja aku sudah berkali-kali menahan diri agar tidak membuat diriku terlihat memalukan. Tahan Aruna dan tanggapi perkataannya dengan dingin. "Besok juga masih ketemu," ujarku pura-pura nggak peduli dan memalingkan wajahku agar dia tidak bisa melihat wajahku yang terasa memanas. "Besok lain lagi ceritanya," ujarnya terkekeh. "Singgah aja sambil minum jahe hangat kayaknya enak," usulku saat melihat angkringan di tepi jalan. Gara menghentikan mobil tidak jauh dari angkringan yang kumaksud. Beberapa orang anak muda terlihat berbicara dengan seru sambil menikmati makanan mereka. "Aku pesankan minumannya ya. Mau makanannya juga?" tawarnya. "Sate-satean aja, jangan dibakar. Nasi kucingnya juga boleh, tapi satu aja" pintaku. "Masih lapar ya?" ledeknya sambil beranjak dari duduknya. Aku tersenyum masam dan dibalas dengan sentuhan tangannya di kepalaku. Sambil menunggu Gara yang masih memesan makanan, aku mengambil ponselku dan mulai membukanya. Beberapa panggilan tak terjawab dari Tante Maika membuat keningku berkerut. Aku melirik jam di ponselku dan membatalkan niatku untuk meneleponnya balik. Sudah terlalu malam, mungkin Tante Maika sudah tidur. Mendadak perasaanku menjadi tidak tenang. Nggak biasanya Tante Maika menghubungiku berkali-kali seperti ini. Dia tahu jika sekali aku nggak menjawab teleponnya, artinya aku masih ada pekerjaan. Akhirnya aku menekan nomor Tante Maika dan menunggu dia menjawab teleponku. Aku takut terjadi apa-apa dengan Tante Maika atau Om Beni. "Belum tidur, Nak?" Suara keibuan itu akhirnya bisa menenangkanku. Aku menarik membuang napas panjang, ternyata aku yang terlalu berpikiran buruk. "Baru pulang, Tante. Ada kerjaan tadi," sahutku. "Tante sehat, kan? Om juga? Aruna kaget aja tadi lihat panggilan berulang-ulang dari Tante. Kirain ada apa," kataku. "Nggak ada apa-apa. Tante kangen aja," sahutnya. "Padahal baru minggu lalu Aruna mampir," timpalku sambil terkekeh. "Di rumah sepi. Cuma Om sama Tante, Hans dinas malam lagi. Kamu tinggal di sini aja lagi," ujar Tante Maika. "Nanti deh kapan-kapan Aruna menginap di sana," sahutku. "Kamu sudah ziarah ke makam Mamamu?" tanya Tante Maika tiba-tiba. "Oh iya! Untung Tante ingatkan. Aruna lupa, besok mungkin Tante." Aku menerawang, memikirkan jika aku benar-benar lupa dengan hari kelahiran Mama dan melupakan kebiasaanku untuk ziarah ke makamnya di hari kelahirannya. "Loh, Tante kira kamu sudah ke sana. Soalnya makamnya bersih banget, mungkin dibersihkan sama penjaga makam kali ya." "Tante, sudah dulu ya. Besok Aruna telepon lagi. Masih di jalan nih," kataku saat melihat Gara berjalan mendekat. Setelah Tante Maika menasehatiku panjang lebar untuk jangan sering-sering pulang malam dan berbagai hal lainnya, aku baru bisa menutup pembicaraan di telepon. "Telepon siapa?" tanya Gara sambil menyerahkan segelas jahe hangat padaku. Sedangkan sepiring makanan pesananku diletakkannya di dashboard mobil. "Tante Maika," sahutku sambil menyeruput minumanku. Wangi jahenya benar-benar membuatku rileks. "Besok pulang dari kantor jam berapa?" tanyaku tiba-tiba. Gara menoleh ke arahku, seperti bingung dengan pertanyaanku. "Kenapa? Mau jemput?" tanyanya. "Boleh deh kalau mau dijemput, mobilku juga masih di bengkel," katanya lagi. "Malah ngelunjak," balasku kesal. "Tergantung, kalau kamu memang mau jemput, mungkin sekitar jam empat atau setengah lima sudah bisa pulang. Tapi kalau nggak kayaknya aku lebih milih bermalam di kantor," godanya. Aku mencibir dan kemudian merubah wajahku menjadi lebih serius. "Kamu keberatan nggak besok temanin aku ziarah ke makam Mama?" (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN