Hans tersenyum puas saat Rifki telah beranjak pergi. Wajahnya menyiratkan kemenangan. Keningku berkerut, tidak mengerti kenapa Hans bersikap seperti itu. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyaku heran. "Senang aja. Biar dia nggak cari perhatian sama Mbak lagi," sahutnya sambil terkekeh. "Tapi nggak gitu juga caranya," timpalku. "Mas Gara pasti senang jika tahu apa yang kulakukan," ujarnya masih dengan wajah senangnya. "Terserah kamu deh," kataku menanggapi. Aku jadi merasa nggak enak dengan Rifki. Buat apa juga Hans mengatakan jika Gara adalah calon suamiku. Padahal ada banyak cara untuk mengenalkan Gara pada Rifki. Padahal Rifki sudah banyak membantuku. Mungkin nanti setelah keluar dari rumah sakit, aku akan membalas bantuan yang telah diberikan padaku. "Kok Mas Gara lama ya? Ak

