Arya duduk di samping Sang Ibu, ia menyender lemah pada dinding. Sesekali airmatanya masih menetes hingga mengaliri lekukan hidung mancungnya. Kedua matanya merah karena ia menangis tadi. Arya sebenarnya bukan orang cengeng, terkesan pembangkang malah, tapi dia sungguh tak kuasa membendung tangisnya. Jika biasanya dia akan menjaga sikapnya agar tidak terlihat lemah, tidak untuk kali ini. Kinan sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana dan ini bukanlah hal main-main. Klik. Pintu ruang operasi terbuka. "Dengan keluarga pasien." seru seorang wanita yang memakai seragam operasi. "Iya, Dok." Pak Hadi adalah orang pertama yang menyadari jika Dokter sudah keluar dari ruang operasi. Beliau langsung berdiri dan diikuti oleh Dian, Ibu Ratri dan terakhir Arya yang mengusap wajahnya sebelum ber

