-KIRANA- “Bisa gak sih kalian gak usah ganggu gue dulu!” Kataku kesal. Lima menit lalu aku baru menutup telepon dari Abidzar, sekarang malah Erfan yang menghubungiku. Lebih tepatnya menggangguku. “Apaan sih, Kak? Kenapa gue yang diomelin? Baru juga nelefon,” jawabnya. Aku tahu ini memang bukan salah siapa-siapa. Mungkin aku memang sedikit sensitif. Karena masih belum menemukan perusahaan yang cocok denganku. Hari ini, aku sudah masuk keluar ke 15 buah perusahaan yang berbeda. Sudah tak terbayang lagi penampilanku saat ini. Pasti sangat berantakan. “Ya udah, maafin gue, gue lagi capek aja!” ucapku. “Nggak... gue yang harusnya minta maaf, ganggu Kakak terus. Emang ini lagi di mana, Kak?” tanya Erfan terdengar penuh penyesalan. “Gue baru mau balik ke rumah, ini perusahaan terakhir yang

